[FREELANCE] The Secret Chapter 18

TheSecretALLWAYSKPOP4EVERff

Author : Princess Kyunie from Fanfiction.net

Title : The Secret

Genre : Angst/Brothership

Rating : Fiction T

Cast : Kyuhyun, Leeteuk, Heechul, Hankyung, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Donghae, Siwon, Ryeowook, dan Kibum.

Disclaimer : FF ini beserta ide cerita dan segala yang ada di dalamnya semuanya milik author (maunya si semuanya, tapi pengecualian deh untuk castnya).

Warning : Typos, EYD agak longgar, tidak memenuhi standar cerita dengan alur yg baik dan benar, konflik yg rada complicated, n sedikit OOC.

Annyeong readers….

Gomawo atas comments and reviews dari kalian semua.

Selamat membaca…

The Secret PROLOG

The Secret CHAPTER 1  –  CHAPTER 2  –  CHAPTER 3  –  CHAPTER 4  –

                       CHAPTER 5  – CHAPTER 6  –  CHAPTER 7  –  CHAPTER 8  –

                       CHAPTER 9  –  CHAPTER 10  –  CHAPTER 11  –  CHAPTER 12  –

                       CHAPTER 13  –  CHAPTER 14  –  CHAPTER 15  –  CHAPTER 16  – CHAPTER 17

Previous story.

“Young Hwan-ah, kita harus segera memindahkan Kyuhyun ke Rumah Sakit Pusat. Sel kankernya sudah menyebar ke organ tubuh lainnya, ia harus segera menjalani operasi besar.” Uisa Park berbicara tanpa jeda. Ia terlihat sangat cemas.

Tuan Cho tampak bingung. Ia tidak ingin salah mengambil keputusan untuk yang kedua kalinya.

“Young Hwan-ah, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya.” Ucapan tegas dari uisa Park seketika meyakinkan Tuan Cho. Ia bisa merasakan keyakinan dari seorang namja yang saat ini berada dihadapannya setelah menatap matanya dalam-dalam.

Tuan Cho kemudian menghela nafas beratnya. “Aku mohon lakukan yang terbaik untuk anakku.” Pinta Tuan Cho dengan mata yang sudah berair. “Aku percaya sepenuhnya padamu, hyung.”

Mereka segera melarikan Kyuhyun ke Rumah Sakit.

Chapter 17

Seorang namja tersenyum penuh kemenangan sambil meladeni lawan bicaranya melalui ponsel genggamnya. “Bagus! Kerjakan dengan baik. Kali ini aku tidak mau mendengar kata gagal lagi. Arra!” Ia mengakhiri pembicaraannya dengan senyuman menyeringai.

“Sebentar lagi dunia akan ada di genggaman ku, hahaha!”

.

.

.

Angin malam ini begitu kencang. Hujan baru saja reda. Dua buah van hitam meluncur di jalan raya yang sudah sepi karena waktu sudah menunjukkan tengah malam.

Kyuhyun berada di salah satu van tersebut. Tak lupa dikawal dengan van yang berisikan orang-orang yang sudah dilengkapi persenjataan. Hyungdeul akan menyusul belakangan. Begitu juga dengan pengawalan untuk mereka. Namun sebelum pergi Sungmin meminta untuk ikut kedalam mobil yang membawa Kyuhyun. Tuan Cho pun tak kuasa untuk menolak permohonan tersebut.

Perjalanan terasa sangat jauh malam itu. Waktu seakan berjalan dengan sangat lambat. Tuan Cho menatap Kyuhyun dengan pandangan penuh rasa bersalah.

“Kyuhyun-ah, mianhae, appa tidak bisa menjadi appa yang baik untukmu.” Tuan Cho menggenggam tangan dingin milik Kyuhyun. Kemudian membawanya ke pipinya yang sudah basah oleh air mata.

“Ahjussi…” Ucap Sungmin lirih sambil merangkul pudak Tuan Cho yang duduk di sampingnya.

“Sungmin-ah…, Kyunie sudah berencana untuk meninggalkan kita.” Ucap Tuan Cho sambil terisak.

“M-mwo? A-apa maksud ahjussi? Aku tidak mengerti.” Sungmin mencoba untuk tenang, namun ia tahu Tuan Cho tak mungkin main-main dengan ucapannya.

Flashback

“Hyung apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan?” Tanya Tuan Cho yang baru saja masuk ke ruang kerja uisa Park.

“Duduklah dulu.” Uisa Park mencoba menarik nafas panjang dan menenangkan dirinya. Kemudian ia beranjak dari tempatnya kemudian duduk di kursi yang ada di samping Tuan Cho.

“Young-ah, aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semua ini padamu.” Lagi-lagi uisa Park menghembuskan nafas lelahnya.

“Apa ini semua ada kaitannya dengan Kyuhyun?” Tanya Tuan Cho dengan gusar.

“Aku mohon kau harus tetap tenang. Kyuhyun… dia, sel kankernya saat ini semakin berkembang. Aku sungguh tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi, karena Khyuhyun sudah rutin melakukan terapi dan aku juga sudah memberikan semua obat yang diperlukannya.” Uisa park berhenti sejenak, keningnya semakin berkerut.

“Aku hanya bisa menyimpulkan bahwa, Kyuhyun…, tidak meminum obatnya selama tiga pekan terakhir.” Uisa Park mengakhiri ucapannya dengan desahan cukup keras. Ia menatap Tuan Cho yang masih tak bergeming.

“Jangankan tiga pekan, tiga hari saja dia tidak mengkonsumsi obat-obatan itu kondisinya akan semakin parah. Kyuhyun pasti sangat menderita karena menyembunyikan rasa sakitnya selama tiga pekan ini.” Sambung uisa Park sambil menunjukkan hasil pemeriksaan terakhir milik Kyuhyun pada Tuan Cho.

Tuan Cho tak memberikan respon apapun, ia seperti mematung sesaat setelah mendengar semua penjelasan uisa Park tadi. Perlahan ia mencoba mengambil hasil pemeriksaan tersebut. Namun, belum sempat ia meraih kertas tersebut, tiba-tiba ponsel milik Tuan Cho berdering keras. Dilihatnya nama Jaejoong yang tertulis di layar ponselnya. Dengan cepat Tuan Cho menjawab panggilan tersebut.

Suasana hening sejenak. Wajah Tuan Cho semakin memucat setelah beberapa detik mendengarkan suara panik Jaejoong dari seberang sana.

“Young-ah, gwenchana?” Pertanyaan tersebut spontan keluar dari mulut uisa Park setelah melihat gelagat Tuan Cho yang semakin menghawatirkan.

“Hyung, Kyunie… ” Tanpa melanjutkan ucapannya Tuan Cho langsung melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan tergesa-gesa.

Uisa Park bisa memprediksi apa yang telah terjadi. Dengan cepat ia membereskan perlengkapannya, lalu berlari menyusul Tuan Cho.

End of Flashback

Sungmin menggelengkan kepalanya perlahan sesaat setelah Tuan Cho mengakhiri penjelasannya. “Kyunie…, dia tidak mungkin merencanakan semua ini! Andwe!” Sungmin tidak ingin mempercayai semua yang di ungkapkan Tuan Cho.

“Aku tahu kau hyung yang paling dekat dengannya, jadi kau pasti bisa mengerti Kyunie.” Lirih Tuan Cho. Suaranya semakin parau hingga tak begitu jelas terdengar.

“Kyu-,” Ucapan Sungmin tiba-tiba terhenti ketika ia merasakan van yang membawa mereka berhenti mendadak. Lalu terdengar suara tembakan beruntun yang memekakkan telinga.

Dalam kegelapan malam yang hanya di terangi oleh beberapa lampu jalan, segerombolan namja berpakaian serba hitam lengkap dengan senjata di tangan masing-masing menghentikan laju van yang hendak menuju ke Rumah Sakit.

Tuan Cho dengan cepat mengaktifkan kunci ganda yang memang sudah terpasang otomatis di van tersebut.

Changmin dan rekannya yang berada di van lain saat ini sedang sibuk menangani musuh yang mulai menembaki mereka dengan senapan. Suara peluru mendesing mengenai tembok-tembok. Beberapa bangunan di sebelah kiri jalan sudah tampak rusak.

Changmin memberikan aba-aba menembak sambil tiarap pada rekan yang masih mengekor dibelakangnya. Namun dia sendiri tetap berdiri, menembak api-api yang keluar dari moncong senjata musuh. Ia menembak cepat, kemudian dengan sangat cepat mengisi penuh magasin senapannya dan siap menembak. Namun musuh tak menembak lagi. Changmin mulai menduga kalau musuhnya sudah terkena tembakan dari mereka. Ia mencoba keluar dari balik tembok tempatnya bersembunyi sejak tadi.

Dugaannya tepat. Saat ini dapat terlihat beberapa tubuh tak bernyawa yang sudah tergeletak di aspal dengan tubuh mengucurkan darah. Ada pula yang dalam keadaan sekarat berjalan dengan sisa-sisa tenaganya hanya untuk melarikan diri. Tidak terdengar lagi keluhan dan rintihan. Namun jalannya terseret-seret menunjukkan bahwa ia masih ingin menyelamatkan diri dan membutuhkan pertolongan. Changmin segera memerintahkan kedua rekannya untuk menangkapnya sebelum ia berhasil melarikan diri. Mereka akan di jadikan tawanan.

Changmin sedikit meringis ketika menyadari beberapa rekannya yang juga sudah tewas di tempat. Hanya tiga dari sembilan orang yang selamat. Namun ia cukup puas karena pihak lawan yang masih hidup tak terlihat lagi batang hidungnya.

Tiba-tiba dari arah belakang seseorang menodongkan pistolnya tepat di belakang kepala Changmin. Changmin sempat bergidik setelah merasakan ujung pistol tersebut menyentuh kepalanya. Namun, Changmin tak semudah itu untuk dikalahkan. Ia segera mengambil ancang ancang, lalu dengan cepat dibantingnya tubuh namja tersebut ke aspal yang dingin itu.

Changmin masih bergelut dengan lawan mainya. Ia belum menyadari ternyata di belakang van yang letaknya agak jauh dari mereka, Jin Hoo sudah berada di sana.

Jin Hoo saat ini sedang menembaki kaca yang melapisi van tersebut. Namun, usahanya sia-sia. Tak satupun peluru dapat menembus kaca van yang membawa Kyuhyun, Tuan Cho dan Sungmin tersebut.

“Aiisshh… brengs*!” Umpat Jin Hoo dengan kesal.

Dia tahu tanpa dibukakan dari dalam, pintu tidak akan terbuka. Tapi ia memikirkan cara lain. Ia segera mengarahkan moncong pistolnya ke gagang pintu van tersebut dan menembakkinya berulang kali. Kemudian Jin Hoo dengan cepat menubrukkan tubuhnya kearah pintu van tersebut hingga terbuka.

Sungmin yang berada di dalam dengan sigap mengambil posisi untuk menembak ketika gagang pintu tersebut sudah di rusakkan dari luar. Ia sudah di bekali senjata oleh Changmin sebelum menaiki van tersebut.

Meskipun baru melakukan latihan menembak untuk pertama kalinya. Sungmin sangat yakin ia bisa menembak tepat sasaran. Namun ia juga tak bisa mengurangi reaksi tubuhnya yang menggigil ketakutan.

Ketika pintu tersebut terbuka, Sungmin dapat melihat sesosok namja dengan seringaian mengerikan sedang menatapnya.”Minggir kau!” Teriak Jin Hoo.

“Dor!” sebuah tembakan tiba-tiba melesat menembus perut Jinho. Ia meringis kesakitan sambil memegangi perutnya, namun tangan yang satunya lagi terlihat berusaha untuk menembak Sungmin.

“Dor!” Jin Hoo berhasil mengeluarkan sebuah peluru dari senjatanya. Peluru tersebut hampir saja mengenai kepala Sungmin jika ia tidak bergerak cepat. Namun sayangnya, Tuan Cho yang berada di belakang Sungmin terkena tembakan tersebut di bagian pundaknya.

“Dor!” Sekali lagi Jin Hoo menarik pelatuk pistolnya. Kali ini ia mengarahkannya pada Tuan Cho. Tuan Cho hanya bisa memejamkan matanya ketika tembakan tersebut dilancarkan. Namun ia tak merasakan rasa sakit selain di punggung kirinya yang memang sudah terkena tembakan tadi. Ia hanya merasakan seseorang seperti sedang memeluk tubuhnya erat.

Tuan Cho membuka matanya perlahan, ternyata anak satu-satunya yang amat disayanginya saat ini sedang memeluknya erat. Kyuhyun menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk Tuan Cho.

“Andwe! Kyuhyunie!” Tuan Cho yang tubuhnya sudah mulai lemah berusaha sekuat tenaga untuk mengguncangkan tubuh anaknya yang sudah rebah di pangkuannya. Mata Kyuhyun sudah hampir menutup sempurnya. Namun sebuah senyuman masih menghiasi wajah pucatnya, karena ia berhasil melindungi sang appa yang amat dicintainya.

Dengan keringat dingin yang sudah membasahi wajahnya, Sungmin yang sempat mematung sejenak, secepat kilat turun dari van lalu menendang Jin Hoo hingga ia terjungkal kebelakang. Jin Hoo tersungkur di aspal yang basah oleh genangan air hujan. Namun ia masih sempat mengarahkan pistolnya kearah Sungmin. Sungmin yang menyadari hal itu kembali menembak lengan Jin Hoo hingga pistonya terlepas dari tangannya.

Tangan Sungmin yang sudah bergetar hebat akhirnya menjatuhkan pistol yang di genggamnya. Pikirannya saat ini didominasi oleh kekhawatiran akan kondisi Kyuhyun. Namun ia tahu saat ini ada hal lain yang harus di bereskannya terlebih dahulu.

Perlahan Sungmin mencoba mengambil pistol yang jatuh di dekat tubuh Jin Hoo. Langkahnya takut-takut. Ia tak berani mendekati tubuh Jin Hoo. Setelah berada di dekat pistol Sungmin mengambilnya sambil berjongkok. Benda logam itu terasa dingin kala disentuh. Sungmin bergidik saat pistol itu sudah terpegang sepenuhnya. Ia sebenarnya tak ingin menggunakan benda itu lagi.

Tiba-tiba sesuatu menyentuh punggungnya. Sungmin menoleh. Ternyata tangan Jin Hoo yang menyentuhnya.

“Aaarrgghh!” Sungmin tiba-tiba berteriak dan mundur beberapa langkah.

Jin Hoo bangkit dengan perut dan lengan yang masih mengalirkan darah. Ia masih memamerkan seringaian mengerikan miliknya.

Jin Hoo maju dengan langkah gontai. Sungmin kembali mengacungkan pistolnya kearah Jin Hoo yang mulai mendekati van. Jin Hoo terus maju. Tidak ada pilihan lain bagi Sungmin selain menarik pelatuk pistolnya lagi.

“Dooooorrr!” Sebuah peluru meluncur kencang hanya memerlukan waktu sepersekian detik untuk menembus kepala Jin Hoo.

Sungmin tag sanggup menyaksikan pemandangan yang ada di hadapannya. Percikan darah yang mengenai tubuhnya sudah menjadi saksi.

“Aaarrrrgggghhhh.” Jeritan Jin Hoo membahana. Bruukk! Kemudian tubuhnya ambruk. Tangannya yang diciprati darah sempat bergerak lunglai. Kemudian diam sama sekali. Mata Jin Hoo masih terbelalak meski tubuhnya tak bergerak lagi.

Sungmin segera menghampiri Kyuhyun yang saat ini sudah terbujur kaku di pangkuan Tuan Cho.

Tiba-tiba muncul lagi dua buah van hitam dari arah selatan. Ketakutan kembali menguasai Sungmin. Namun, ketakutannya sirna dalam sekejap ketika melihat sang leader dan member lainnya berlarian kearah mereka.

“Minie, apa yang ter-?” Leeteuk menghentikan ucapannya setelah melihat kondisi magnae mereka.

Setetes cairan hangat dengan sangat mudah lolos dari pelupuk matanya. Namun dengan cepat ia segera berteriak. “Cepat pindahkan Kyunie ke van yang lain. Kita harus segera membawanya ke Rumah Sakit!” Teriak Leeteuk entah menyuruh siapa.

Kangin dan Siwon dengan sigap segera mengambil alih tubuh magnae mereka yang sudah lemah tak berdaya. Mereka tak menghiraukan darah Kyuhyun yang mengenai pakaian mereka ketika membopongnya ke van lain.

Heechul dan Kibum dengan cepat menghampiri Tuan Cho kemudian membantunya untuk berjalan. Tanpa berlama-lama lagi mereka segera melanjutkan perjalanan menuju Rumah sakit yang sempat tertunda.

.

.

.

Seperti biasa, acara menunggui magnae mereka di depan ruangan yang ada di Rumah Sakit adalah hal yang paling dibenci oleh semua member. Mereka sudah tak dapat menghitung sudah berapa kali keadaan yang persis sama seperti saat ini terjadi.

Cemas, takut, sedih, kesal, bingung, semua perasaan tersebut campur aduk menjadi satu. Selain menangis, hanya menunggu dan berdoa yang bisa mereka lakukan saat ini.

“Aku sudah lelah hyung…” Suara lirih milik Ryewook memecah kesunyian di lorong Rumah Sakit tersebut. “Sampai kapan semua ini akan berakhir? Hiks… jika saat ini kita sedang bermain game, aku pasti sudah sejak tadi menghentikan semua permainan ini. hiks..” Suara paraunya yang diiringi isakan tangis terdengar begitu menyayat hati.

Tidak ada satu pun member yang merespon ucapan Ryewook. Mereka juga menginginkan bahwa semua ini bukan kenyataan. Mereka sangat ingin siapa saja dengan segera dapat membangunkan mereka dari mimpi buruk ini.

Beberapa jam kemudian, lampu yang berada di depan pintu ruang operasi dipadamkan. Akhirnya, saat yang mereka tunggu tiba. Uisa Park keluar dari ruang operasi dengan wajah kusut dan mata yang sudah memerah. Nampak jelas bekas air mata di wajah tirusnya. Ia tak mengucapkan sepatah katapun. Semua member yang menatap uisa Park menunggu dengan cemas. Uisa Park hanya mampu menunduk dan menggelengkan kepalanya. Air matanya kembali tumpah.

“ANDWE! Sebuah teriakan keras milik Leeteuk memenuhi lorong Rumah Sakit.

“Hyung… relakan Kyunie!” Bujuk Kangin. Entah kekuatan dari mana yang bisa membuat Kangin dengan mudahnya mengucapkan kata-kata tersebut.

“Andwe! Aku tidak bisa! Aku sangat menyayanginya. Tidak, aku tidak akan pernah merelakannya!” Tangis Leeteuk pecah. Ia ingin menerobos masuk ke ruang operasi tadi, namun Kangin dengan cepat mencegahnya. Ia tak mau melihat sang leader semakin terluka.

“Biarkan dia pergi hyung! Jangan menangisinya lagi, dia terlalu lelah jika terus menjalani hidup seperti ini.” Kangin memeluk Leeteuk. Dia berusaha menahan tangisnya. “Ku mohon hyung jangan seperti ini. Relakan kepergian Kyunie, agar dia bisa pergi dengan tenang.”

Tangis Leeteuk semakin kuat. Ia menenggelamkan wajahnya di bahu Kangin.

Shindong duduk di samping Sungmin, ia genggam tangan Sungmin dengan erat. Shindong berusaha menguatkannya. Sungmin tak bisa tersenyum lagi. Dia tak bisa memakai topeng tegarnya lagi. Kini dia terluka seperti hyung pada umumnya yang kehilangan namsaengnya. Hanya saja mungkin lukanya lebih besar mengingat ia merupakan teman sekamar Kyuhyun selama kurang lebih lima tahun.

“Sudahlah Minie, jangan jadi lemah begini.” Shindong mencoba memberi semangat untuk sahabatnya. Sungmin hanya diam tak bergeming. Shindong tahu bahwa diamnya Sungmin saat ini bagaikan teriakannya yang paling keras.

Tak jauh berbeda dengan Leeteuk dan Sungmin, member lainya juga masih belum bisa menerima kepergian magnae mereka.

Ryewook masih menangis histeris di lantai Rumah Sakit. Yesung yang ada di samping Ryewook juga tak sanggup menahan air matanya.

Donghae segera berlari keluar Rumah Sakit sesaat setelah mendengar berita tersebut. Mungkin ia tidak ingin mengenang luka lama yang pernah digoreskan dihatinya saat appa-nya tiada. Namun ia tidak sendiri, Eunhyuk yang menyadari hal itu segera menyusul Donghae dengan air mata yang berjatuhan dari pipinya.

Heechul masih dengan amarahnya. Beberapa kali ia memukulkan tangannya ketembok hingga memar. Untungnya Hankyung berhasil membujuk sang Diva untuk menyudahi aksinya sebelum tangannya mengeluarkan darah. Saat ini ia sedang terisak di pelukan Hankyung. Sebuah pemandangan yang amat sangat jarang terlihat.

Siwon dan Kibum hanya bisa tertunduk lemas dan diam seribu bahasa. Tak sedikitpun dari mereka berniat menghapus air mata yang sejak tadi terus mengalir deras. Mereka menangis dalam diam.

Sementara itu, ada sesosok namja juga turut berduka atas kepergian Kyuhyun. Changmin duduk di atas balkon Rumah Sakit. Kini ia kehilangan sosok dongsaeng yang sudah menghiasi hari-harinya sejak satu bulan terakhir. Dongsaeng yang sangat ia sayangi walaupun ia sama sekali tidak memiliki hubungan darah denganya. Dongsaeng yang dengan segenap kemampuannya ingin ia lindungi.

“Selamat tinggal Kyuhyun-ah…, aku harap kau bahagia disana.” Air mata Changmin jatuh disudut matanya. Kini ia menundukkan kepala sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hanya suara isak tangisnya yang memecah keheningan di atas balkon Rumah Sakit.

 

Tbc

 

10 thoughts on “[FREELANCE] The Secret Chapter 18

  1. aci sri lestari

    huwaaaaaaaaaaaaaaa sedih bngt author…..
    fell dpt bngt,ikut tegang sendiri bacanya..
    andwaeeeeeeeeeeeeeee….in g bner kan thor,kyu g meninggalkan#goyang2 pundak author(ok,lebay dkit boleh y)
    kyaaaaaaa akhirnya dilanjut lg,sdh lm nungguin kelanjutannya..
    untuk author jeongmal gomawo
    dtguu part selanjutnya…

    Balas
  2. Ping balik: [FREELANCE] The Secret Chapter 19 – END | alwayskpop4ever ( All Kpop Fanfiction 2 )

  3. Cho Tian

    Aku nangis kejer…
    Author…… kenapa kau… hiks… hiks….
    my babe Kyu…. hiks…
    Sumpah ff ini asli bikin mataku gak tahan gak ngeluarin air mata…
    Authornya keren!

    Balas
  4. Chacha

    Wah aku ketinggalan, eonie… TT, nangis ampe sesegukn aku bacanya. Kata2 eoni manteb bgt eon, boleh d pertanyakan deh kalo emang ada yg kagak nangis bc ch ini. Hieks, udah deh aku mw lanjt baca ch trakhir. Duh gak sbr kejutan apa yg bakan muncul lg.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s