“Last Summer” FF Freelance

Author :               Kiddoyeoja

Tittle :                   Last Summer

Cast :                     Lee Minah

                                Kim Myungsoo

Genre :                 Romance

Length :                                oneshoot

Rated :                  General

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di antara celah-celah sinar matahari
Di antara awan putih mengalir
Di antara angin bertiup, Anda bersinar

 

 

 

 

 

Kugengggam novel terjemahan dalam dekapanku. Berjalan menuju kebawah pohon maple  yang teduh. Ini tempat favoritku di sekolah, Halaman belakang sekolah. Tidak ada seorang pun siswa yang kesini. Mungkin karena mereka tidak tahu. Dan karena tempat ini dibilang banyak penghuni gaib. Selain itu tempat ini agak jauh dari kantin dan ruang kelas. Tapi itu bagus karena rumor itu aku jadi punya tempat untuk membaca novel dan melukis dengan tenang. Aku mengubahnya menjadi taman. Dengan pijakan rumput. Bunga mugunghwa disekeliling pohon maple. Angin yang berhembus kencang. Disinilah istanaku.

Kupasang earphone ke telingaku lalu memutar lagu favoritku. Aku pun mulai membaca novelku. Sudah cukup lama aku berkutat pada novel itu. Aku berhenti sejenak. Mengalihkan pandanganku pada buku itu lalu merenggangkan otot punggungku. Tatapanku terpaku dengan dinding putih itu. Ada goresan disana. Aku berjalan menuju dinding itu. kulihat goresan kata-kata.

Haessari naerineun sa-i mada
Hyin gureum heureuneun sa-i mada
Barami seuchineun sa-i mada ni-ga bityeo’

‘Di antara celah-celah sinar matahari.
Di antara awan putih mengalir.
Di antara angin bertiup, Anda bersinar’

Goresan yang disertai not not balok. Mungkin seseorang hendak mengarang lagu didinding itu. dia merusak istanaku. Aku sedikit kesal. Tapi aku penasaran. Siapa orang itu?

 

 

 

 

 

 

 

***

Naik pada waktu, bahkan besok
Tebal menyebar, setiap hari
Dipenuhi dengan kerinduan

 

 

 

 

Bel pulang sekolah berbunyi. Aku tak segera pulang kerumah tapi aku akan ke istanaku. Biasanya setiap istirahat aku selalu menghabiskan waktukku disana. Tapi tadi Jang seongsaenim memintaku membantunya di ruang guru. Sesampai disana aku langsung duduk dibawah pohon maple. Aku menghernyitkan dahi. Sepertinya seseorang kembali kesini. Terbukti bahwa ia meninggalkan goresan lagi. Lanjutan dari lagu tersebut.

Shi-ganeul ta-goseo nae-i-redo
Jinha-ge beonjyeowah mae-i-redo
Keuri-um kadeukhi nae-ge tto

‘Naik pada waktu, bahkan besok.
Tebal menyebar, setiap hari.
Dipenuhi dengan kerinduan, lagi untuk saya’

Aku semakin penasaran. Sebenarnya siapa yang datang kesini. Kutatap sekelilingku sepi. Tak ada siapapun. Angin berhembus membelai wajahku. Aku duduk dibawah pohon maple. Lalu mengambil novel dari dalam tas ku. Aku melihat sebuah buku tergeletak disana. Kubuka isinya. Not not balok. Pemilik buku ini berusaha membuat lagu rupanya. Kulihat sampul depannya. Tak ada nama disana tapi ada inisial ‘L’.

“L?” gumamku pelan. Aku memasukan buku itu kedalam tas lalu mengeluarkan novel ku dan mulai membacanya.

 

 

 

 

 

***

Anda datang ke saya, samar-samar, malu-malu.
kau datang padaku.
lembut mengguncang saya.

 

 

 

 

 

 

“YAK LEE MINAH JANGAN LARI KAU!!”

Aku berlari dari kejaran Yoon seongsaenim. Bersembunyi dibalik pintu. Aku baru saja memecahkan kaca ruangannya. Tentu saja dengan tidak sengaja. Aku sedang dalam pelajaran olahgara. Aku berusaha memasukan bola basket kedalam ring dan bola itu meleset dan akhirnya memecahkan kaca ruangannya. Ruangan Yoon seongsaenim memang berada tepat dibelakang ring basket.

Setelah kuyakini suasana aman dan tidak terdengar makian Yoon seongsaenim lagi aku keluar dari tempat persembunyian. Aku berbalik dan oh Yoon seongsaenim ada tepat didepanku aku membekap mulut agar tidak teriak karena terkejut. Untung saja posisi Yoon seongsaenim membelakangiku. Aku berjalan mengendap-endap menuju istanaku.

Aku membungkuk memegang lututku. Nafasku tersenggal-senggal karena berlari. Aku sudah sampai di istanaku. Angin sejuk langsung menyapaku. Tapi kulihat ada seseorang disana. Seorang namja yang sedang tertidur pulas dibawah pohon maple. Perlahan aku berjalan mendekatinya. Hangatnya sinar matahari memantul ke wajahnya yang tampan. Hey pria ini tampan. Wajahnya yang bersinar karena sinar matahari membuatnya lebih tampan. Aku terduduk disampingnya memandangi wajahnya. Jadi dia yang mencoret-coret dinding di istanaku. Seketika matanya terbuka aku pun terkejut dan langsung bangkit dari dudukku. Aku benar benar memalukan. Dia menguap lalu merenggangkan otot punggungnya lalu menatapku. Tatapan kami bertemu. Kami bertatapan sejenak.

“ka-kau sedang apa disini?”tanyaku terbata.

“bukankah seharusnya aku yang bertanya?” ujarnya santai.

“yak! ini istanaku. Kau bahkan sudah mencoret-coret istanaku.” Aku menunjuk dinding yang dicoret dengan daguku.

“istanamu? Ini tempatku tidur”

“yak! kau tidak bisa seenaknya”

“kenapa kau marah-marah? Bukannya tadi kau terpesona padaku?”

“mwo? Cih! Aku tidak sudi terpesona padamu”

“cih berpura-pura. Bahkan kau tadi memandangku sangat lama”

“aniya!” ujarku ketus. Dia berjalan mendekatiku. Jarak kami sangatlah dekat. Hembusan nafasnya menyapa wajahku.  Mata elangnya menatap mataku tajam. Oh tuhan kenapa jantungku berdegup cepat sekali. Aku tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria. Kurasakan pipiku hangat. Pasti wajahku sudah merah.

“a-aku pergi saja”ujarku akhirnya. Aku tidak ingin berlama-lama disana. Jantungku bisa keluar dari tempatnya. Baru selangkah kulangkahkan kaki sebuah tangan menahanku.

“namamu?”tanyanya.

“N-ne?”

“siapa namamu?”

“namaku?”

“ya.”

“Minah. Lee Minah” dia mengangguk lalu tersenyum miring. Senyum yang mempesona. Aku mengerjapkan mataku mencoba tersadar. Dia melepaskan tangannya yang menahanku lalu aku pergi meninggalkannya.

 

 

***

 

Bel istirahat berbunyi. Aku segera menuju istanaku. Entah kenapa aku semangat sekali ingin kesana. Entah kenapa aku berharap pria itu ada disana. Kubawa bekal makanku sekalian. Aku akan makan siang disana. Sesampai disana kulihat seorang namja memejamkan mata dibawah pohon maple dengan earphone dikupingnya. Sepertinya dia tidak sadar aku ada disana. Kulihat dinding itu. ada sebuah goresan lagi.

‘Seumyeowah neon aryeonhi neon sujub-ge neon nal ta-gowah
Heundeu-reo nal janjanhi neon yeojeonhi neon giyeo-geuro iyeojye’

‘Anda datang ke saya, samar-samar, malu-malu, kau datang padaku
Anda lembut mengguncang saya, seperti biasa, terhubung melalui kenangan’

Aku tersenyum melihatnya. Aku penasaran dengan hasil lagunya. Kulirik lagi pria itu. dia masih memejamkan matanya. Aku mengeluarkan buku sketsaku dan melukisnya. Selain membaca novel aku juga suka melukis.

Aku memandang lukisanku. Tampan. Dia benar benar tampan. Dia seperti pangeran yang ada didalam dongeng. Aku tersenyum menatap lukisanku. Aku menyukai wajah damai nya saat tidur. Tiba tiba seseorang mengambil buku sketsa ku.

“kau melukisku? Wah ternyata aku memang tampan bahkan saat tertidur”

“cih percaya diri sekali kau! Sini kembalikan” ujarku ketus.

“ani. Kau harus membayar karena telah melukisku”

“memangnya kau siapa ha?”

“hey aku ini sunbae mu jadi kau harus sopan padaku”

“aish. Baiklah sunbaenim tolong kembalikan buku sketsa ku”

“kau harus membayar dulu nona Lee”

“sunbaenim aku tidak punya uang. Aku bukan gadis yang berasal dari keluarga kaya aku hanya-“

Chu~

Sesuatu yang lembut dan basah mengecup bibirku. Bibirnya. First kissku. Aku bahkan tak mengenalnya tapi jantungku berdegup dengan cepat. Wajahnya tak jauh dari wajahku. Hangat nafasnya membelai wajahku.

“dengan itu kau membayarnya.”bisiknya di telingaku. Membuat sekujur tubuhku merinding. Dia berjalan menjauh dariku terduduk dibawah pohon akasia. Tangannya terlipat kebelakang dan badannya bersender pada batang pohon. Aku masih terdiam ditempatku. Aku masih sangat terkejut seperti roh ku melayang entah kemana.

“kenapa masih disitu?”ujarnya sambil memejamkan mata. Menikmati perlindungan pohon dari teriknya sinar matahari.

“a- aku”

“cepat kesini”ujarnya lagi. Aku pun mengikuti perintahnya. Duduk disampingnya dengan wajah tertunduk. Astaga aku malu sekali. Wajahku pasti sudah merah seperti kepiting rebus. Dia membuka matanya lalu menatapku. Seketika dia tersenyum lalu mengacak-acak rambutku yang bergelombang.

“lucu sekali”katanya.

“apa yang kau bawa itu?” tanyannya menunjuk bekal yang kubawa. Aku membuka bekal makananku. Dia membuka mulutnya memintaku untuk menyuapinya. Dengan ragu aku memasukan makanan itu kemulutnya.

“mmm… enak sekali.”katanya dengan mulut penuh makanan.

“eish. Telan dulu makananmu sunbaenim”

Pria itu merebut sumpit dari tanganku lalau mengambil makanan dan hendak menyuapkannya kemulutku. Tapi aku menggeleng.

“kau saja yang makan sunbaenim.”tolakku secara halus.

“kau ingin mati kelaparan? Ayo buka mulutmu!” well. Terpaksa aku menurutinya.

“kau yang membuatnya?”tanyannya.

“ani. Eomma yang membuatnya. Aku tidak bisa memasak”

“lain kali aku yang akan membuatkanmu makanan”

“eh? Kau bisa memasak sunbae?”tanyaku tak percaya.

“jangan meremehkanku. Kemampuanku memasak sudah seperti chef profesional”ujarnya bangga. Pria ini percaya diri sekali.

Kudengar bunyi bel berdering. Itu artinya waktu istirahat berakhir.

“aku pergi” pamitnya padaku.

“aku juga”ujarku lalu sedikit membungkuk padanya. Bagaimana pun juga dia sunbaeku aku harus bersikap sopan. Dia sedikit berlari menuju kelasnya. Aku teringat sesuatu. Aku belum menanyakan namanya.

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

 

Lagi dan selalu, aku tinggal di kerinduan.
Sudah, aku dikurung dalam kenangan.

 

 

 

Semenjak kejadian itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Aku tak pernah melihatnya diistanaku saat istirahat ataupun saat pulang sekolah. aku juga tidak tau dimana kelasnya. Bahkan namanya saja aku tidak tau. Dan sialnya aku ingin sekali melihatnya. Kejadian saat kita bertemu , saat aku memandangnya yang tertidur, saat aku melukisnya, saat dia menyuapiku, goresan ditembok itu dan saat dia menciumku, semuanya terputar selalu diotakku. Bahkan akhir-akhir ini aku menjadi tidak fokus.

Aku berjalan dikoridor menuju kelasku saat beberapa yeoja berteriak histeris. Kulihat seorang pria dikelilingi yeoja-yeoja cantik. Yeoja itu mencoba merayunya tapi pria itu terlihat cuek dan dingin. Pria itu pria yang menciumku yang datang keistanaku.

“minah-ya!”teriak Sae Na sambil menepuk bahuku. Aku menoleh padanya.

“Aigoo.. Myungsoo sunbae memang selalu menjadi sorotan.”kata Sae Na sambil memperhatikan pria yang dikelilingi yeoja.

“Myungsoo?”tanyaku memastikan. Jadi namanya myungsoo?

Sae Na mengangguk. “yak! jangan bilang kau tidak tahu Kim Myungsoo sunbae?” tanyanya dengan nada menselidik. Aku menggeleng pelan.

“aigoo minah-ya kau harus sering ikut berkumpul dengan yang lain agar tidak ketinggalan berita”gerutunya.

“jadi- siapa dia?”

“dia adalah pria mempesona yang digilai banyak yeoja. Dan kuakui dia memang sangat tampan. Banyak sekali gadis yang menginginkannya. Dan kudengar dia juga playboy”jelas Sae Na padaku. jadi pria itu playboy? Lalu kemarin dia menciumku itu berarti ciuman itu tak berarti apa-apa untuknya? Perih sekali. Entah kenapa sakit sekali.

***

 

Aku sedang duduk dikelas sambil memandang buku berinisial ‘L’. Jadi ‘L’ itu myungsoo sunbae? Kenapa dia memakai nama ‘L’? seperti tokoh yang kusukai di film kartun death note..

“kau tahu Krystal Jung?” kata Sae Na yang sedang bergosip dengan yang lainnya. Diam diam aku mendengarkannya.

“Sunbae kita yang pindahan dari california itu kan?”

“ya. Dia sangat cantik aku iri sekali padanya.”

“kudengar dia dekat dengan Myungsoo sunbae.”

“lalu apa mereka berpacaran?”

“entahlah aku tidak tau”

“ah alangkah baiknya jika mereka berpacaran.”

“ya mereka sangat serasi!”

Aku berdiri dari dudukku. Membuat Sae Na dan yang lainnya memandangku.

“kau mau kemana?”tanya Sae Na.

“ke toilet”

 

 

 

 

***

 

 

Sudah seminggu berlalu aku tak pernah menemukannya mendatangi istanaku. Bahkan saat kita berada dalam satu ruangan kita tidak pernah saling menyapa. Jangankan menyapa saling bertatapan pun tidak. Dia selalu dikelilingi yeoja- yeoja. Ditambah Krystal sunbae yang selalu menempel padanya. Aku masuk kekelasku dan duduk dibangkuku.

“hey kau tahu? Myungsoo sunbae berpacaran dengan Krystal”

DEG. Apa yang mereka katakan? Kenapa perkataan mereka seperti pisau yang menyayat hatiku? Kenapa terasa sakit di dadaku? Kenapa rasanya perih sekali? Kenapa rasanya seperti orang bodoh? Aku menyesal. Kenapa aku diam saja saat dia menciumku? Kenapa aku tak memarahinya karena merusak istanaku? Kenapa dia bersikap baik padaku seolah-olah dia memberikanku harapan? Kenapa bisa aku terpesona dengan wajah tampannya? Dan kenapa aku berharap padanya? Aku menyukainya kah?

 

 

***

Aku berjalan dengan malas menuju istanaku. Tiba-tiba mataku menangkap sesuatu. Seorang pria sedang mencium seorang yeoja. Pria itu. Myungsoo sunbae mencium seorang yeoja? Aku tidak bisa melihat wajah yeoja itu karena posisinya membelakangiku. Sedangkan aku bisa melihat jelas Myungsoo sunbae. Dia memiringkan kepalanya menghadap yeoja itu. sesak. Sangat sesak.

Tubuhku mematung. Kulihat myungsoo menjauhkan wajahnya dari yeoja itu dan menatapku. Tatapan kami bertemu. Setelah sekian lama. Tapi saat ini aku sedang tak ingin melihatnya. Tak ingin menyaksikan dia yang mencium yeoja lain.

“kau?”ujarnya terkejut. Yeoja itu berbalik untuk melihatku. Dia Krystal jung? Jadi berita itu benar?

“maaf aku tidak sengaja melihatnya” ujarku lalu membungkuk. Aku berlari dengan cepat. Pandanganku kabur karena mataku berkaca-kaca. Aku sangat menyedihkan.

Aku berlutut di rumput yang empuk. Aku sudah berada diistanaku. Air mataku tumpah seketika. Aku merasa seperti orang yang bodoh. Aku mencintainya bahkan sebelum aku menyatakannya aku sudah dicampakan.

“kau bodoh sekali minah-ya mana mungkin dia menyukaiku. Dia pasti lebih memilih bersama Krystal sunbae yang jauh lebih cantik dibanding denganku.”ujarku pada diriku sendiri.

Kupandangi goresan ditembok itu. tak ada kelanjutannya. Lagu itu masih belum sempurna.

“aku ingin tahu kelanjutan dari lagumu sunbae” ujarku lalu memeluk lututku. Menundukan wajahku sambil terisak pelan.

“kalau begitu ayo kita lanjutkan bersama-sama” suara itu. Suara Myungsoo sunbae. Aku menoleh kesamping dan mendapatinya yang terduduk disampingku menatapku.

“sunbaenim”

“uljima”ujarnya lalu menghapus air mataku dengan lembut.

“kenapa kau bisa disini?”tanyaku.

“kau lupa? Hanya kita yang sering kesini”

“kita?”

“ya.”

“jadi kenapa kau kesini?”

“aku merindukanmu” mataku terbelalak tak percaya. Lalu aku mendengus. Tidak. Kali ini aku tidak akan percaya lagi padanya.

“kau tak percaya?” katanya.

Aku tersenyum kecut. “kau begitu populer sunbaenim mana mungkin aku percaya. Bisa saja kau hanya mempermainkanku” kataku.

“jadi seburuk itukah aku dimatamu minah-ya?” ujarnya. Kutemukan sedikit nada kecewa pada ucapannya.  Dia mengambil gitarnya. Dipetiknya gitar itu sambil bernyanyi.

Haessari naerineun sa-i mada. Hyin gureum heureuneun sa-i mada. Barami seuchineun sa-i mada ni-ga bityeo. Shi-ganeul ta-goseo nae-i-redo. Jinha-ge beonjyeowah mae-i-redo. Keuri-um kadeukhi nae-ge tto. Seumyeowah neon aryeonhi neon sujub-ge neon nal ta-gowah. Heundeu-reo nal janjanhi neon yeojeonhi neon giyeo-geuro iyeojyeo. Nan tto nan neul nan geuri-ume sara. Nan imi nan imi nan chu-eo-ge jamkyeoisseo”

Tiba-tiba petikan gitar itu berhenti sejenak. Dalam hati aku merasa kecewa. Aku sedang menikmatinya tadi.

“kau percaya tidak jika kukatakan lagu ini untukmu?” ujarnya.

“itu tidak mungkin sunbae”

“kenapa? Tapi lagu ini memang kuciptakan untukmu”

“sunbae kau ini bicara apa”

“aku serius minah-ya” mata elangnya menatap mataku tajam. Memberi arti bahwa dia serius akan ucapannya.

“minah-ya kau ingat bait pertama laguku?” tanyanya

“Di antara celah-celah sinar matahari. Di antara awan putih mengalir. Di antara angin bertiup, Anda bersinar.benarkan?”

Myungsoo mengangguk. “itulah saat pertama kali aku melihatmu. “ aku mengerutkan dahiku bingung.

“lalu kau ingat bait kedua?” tanyanya lagi.

“Naik pada waktu, bahkan besok. Tebal menyebar, setiap hari. Dipenuhi dengan kerinduan untuk saya”

“dan itu saat aku sangat merindukanmu tapi yang kubisa hanyalah menatapmu dari jauh yang asyik dengan duniamu sendiri. Dan apa kau ingat lirik selanjutnya?

“Anda datang padaku, samar-samar, malu-malu, kau datang padaku
lembut mengguncangku, seperti biasa, terhubung melalui kenangan”

“itu saat kau diam-diam memperhatikanku yang sedang tidur padahal aku menyadari kehadiranmu. Saat pertama kali kita bertemu dan berbicara” ujarnya yang kini wajahnya sudah berjarak tak sampai lima sentimeter dari wajahku.

“aku ingin kita menyelesaikan lagu ini bersama-sama.” Bisiknya.

Cup.

Dia mengecup bibirku kilat. Membuat roh ku melayang kembali. Kenapa dia suka sekali mencium orang tiba-tiba? Wajahku terasa panas. Oh bisa kupastikan wajahku seperti udang rebus.

“kenapa kau membuat lagu itu untukku?” tanyaku.

“karena aku mencintaimu”

Cup.

Dikecup lagi bibirku dengan lembut sejenak. Astaga kenapa dia suka sekali membuat jantungku berdebar kencang. Kuraba dada kiriku tepat dijantungku. Berdetak sangat cepat seperti akan melompat keluar. Kurasakan pipiku semakin panas. Pasti sudah merah seperti tomat. Omo pria ini benar-benar membuatku gila.

“kau sudah percaya?” tanyanya.

“molla.” Entahlah. Aku ingin sekali percaya tapi mengingat dia seorang playboy membuatku harus mempertimbangkannya. “kenapa kau menyukaiku sunbae?”

“karena kau Lee Minah” jawabnya sambil menatap mataku dalam. aku memalingkan wajahku. Aku bisa luluh jika dia menatapku seperti itu terus.

“kenapa bisa kau menyukaiku dalam waktu singkat?”

“minah-ya aku sudah memerhatikanmu sejak lama.”

“kau membohongiku sunbae. Mana mungkin kau menyukaiku kau kan berpacaran dengan krystal sunbae. Bahkan tadi aku- aku melihatmu menciumnya” ujarku sambil tersenyum kecut lalu menundukan kepala.

“mwo? Tidak aku tidak menciumnya. Kau hanya salah paham minah-ya”

“jadi itu tidak benar? Gosip itu tidak benar?” aku mengangkat wajahku sehingga bertatapan dengannya. Myungsoo mencubit hidungku gemas.

“bagaimana bisa kau percaya dengan gosip murahan itu. dengar aku hanya mencintaimu minah-ya. Tolong jangan dengarkan orang lain dan percaya padaku.” oh god. Mata elangnya membuatku berdebar dan seketika aku mempercayainya.

Dipetiknya lagi gitar itu. Dan dia mulai menyanyikan lagunya. Dia berhenti sejenak untuk berpikir kelanjutan dari lirik itu.

Bal-gili meomuneun jari mada. Songili seuchineun jari mada. Shiseoneul olmgineun jari mada ni-ga boyeo (Pada setiap tempat kaki saya berpijak. Pada setiap tempat tangan saya menyentuh. Pada setiap tempat saya menempatkan mata saya, saya melihat Anda)”lanjutnya.

Haruye cha-geun teum sa-iedo. Chomchomhi chaolla waeh irido. Seolle-im kadeukhi nae-ge tto. (Di antara setiap celah kecil dari hari. Kau perlahan-lahan bangkit untuk alasan yang saya tidak tahu. Dipenuhi dengan kegembiraan bagi saya.)” Aku ikut melanjutkan bagian dari lagu itu. Dia tersenyum padaku sambil terus memetik gitarnya. Menimbulkan alunan lagu yang indah.

Seumyeowah neon aryeonhi neon sujub-ge neon nal ta-gowah
Heundeu-reo nal janjanhi neon yeojeonhi neon giyeo-geuro iyeojyeo
Nan tto nan neul nan geuri-ume sara
Nan imi nan imi nan chu-eo-ge jamkyeoisseo
” kami bernyanyi bersama-sama. Hatiku terasa hangat. Aku bahagia. Sangat bahagia. Bahkan aku sendiri tidak bisa menjelaskan betapa bahagianya diriku.

Na neoreuraraseo neol manna-ge dwehseo eolmana kamsahanji. Nae-ga imankeum jara neul jikyeobol-ke. (Saya sangat bersyukur bahwa saya tahu, bahwa saya harus bertemu Anda. Aku akan tumbuh sebanyak ini untuk selalu melindungi Anda )” Lanjutnya lagi.

Kini lagu itu sempurna. Seperti ada kembang api yang membuncah diperutku. Aku senang bisa menyelesaikan lagu itu.

“sekarang kau sudah tidak penasaran bukan akhir dari lagunya?” tanyanya lembut. Aku mengangguk pelan. Kepalaku tertunduk. Entah kenapa aku malu sekali bertatapan dengannya.

Angin sejuk membelai rambutku. Membuat rambut gelombangku melambai-lambai. Musim panas akan segera berakhir. Musim panas akan segera berganti dengan musim gugur.  Di musim panas aku bertemu dengannya akankah pertemuan singkat ini berakhir saat musim panas berakhir?

“musim panas akan segera berakhir.” Ujarku pelan. Lebih seperti gumaman.

“sepertinya begitu” ucapnya lalu menatap langit yang cerah.

“di musim ini kita bertemu”

“entah itu musim gugur, salju, semi, kita akan selalu bersama. Menikmati setiap pergatian musim bersama. Menciptakan kenangan dan membuat lagu bersama. Kau janji?”

Aku menatap matanya. Mencari gurauan. Tapi nihil. Matanya memancarkan kesungguhan. Membuatku yakin bahwa dia memiliki perasaan yang sama denganku.

“ya. Aku berjanji”

“saranghae minah-ya”

“nado.” Tepat saat aku mengatakan itu sebuah daun jatuh ke rambutku. Membuatku tersadar. Inilah awal musim gugur dan akhir dari musim panas. Akhir musim panas yang indah bersamanya. Myungsoo mengambil daun yang jatuh di rambutku lalu mendekatkan wajahnya pada wajahku. Mataku terpejam merasakan nafas hangatnya membelai wajahku. Kurasakan bibirnya mengecup bibirku lembut. Bibirnya menghisap bibir atas dan bawahku bergantian.

Akhir musim panas yang manis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END.

One thought on ““Last Summer” FF Freelance

  1. tatta

    L emang tampan,tapi kenapa disini dia suka banget cium – cium yeoja sih?Tapi aku masih penasaran apa hubungan L&Krystal #abaikan
    Btw itu lirik lagu apa?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s