“Tiramisu” FF Freelance

Author            : Nalin Lee

Tittle               : Tiramisu

Genre              : romance

Tags                : Lee Sung Min dan Park Chan Mi (OC)

Length            : Oneshot

Rating             : All age

Note                : ff serupa juga pernah dipost diblog pribadi www.mitwins.wordpress.com

 

Tiramisu…

 

Tiramisu…

 

Kue khas italia yang telah menjelajahi hampir diseluruh pelosok belahan dunia yang mengenalnya. Sebuah hidangan dan berfungsi sebagai dessert atau makanan penutup dengan mempunyai ciri khas perpaduan antar teksture kue yang lembut dengan rasa kopi dan keju mascarpone yang kuat membentuk rasa manis, gurih dengan aroma kopi berbaur dengan coklat secara sempurna.

 

 

Tiramisu,

 

Kue yang disajikan sederhana tapi manis ini bukan hanya kue yang ‘tampak’ berwarna coklat, terdiri dari beberapa layer cake dan dipadu dengan cream. Namun bagi kami Tiramisu lebih dari itu..

 

 

 

Karena bagi kami Tiramisu itu memiliki cerita disetiap sendoknya.

.

.

.

.

.

Chan Mi, gadis cantik berdarah Korea-Indonesia itu memejamkan matanya, menyesap aroma musim gugur di kota ini dalam-dalam. Lebih tepatnya sekarang ia berada di Pisa. Sebuah kota Toscora, di Italia Tengah. Kota yang terkenal dengan Compo de Mira Cordi-nya dengan sejuta keindahan serta keromantisan didalamnya. Membiarkan angin dipenghujung musim gugur memainkan rambut panjangnya yang ia biarkan tergerai. Daun-daun kecoklatan dari pohon Mapple berjatuhan disekelilingnya di tiup angin memenuhi hampir sebagian jalan di kota ini. Benar-benar khas musim gugur.

 

 

Perlahan kelopak mata cantiknya itu terbuka, memperlihatkan sepasang mata coklat gelapnya yang kini mulai mengamati orang-orang yang sibuk berlalu lalang dengan langkah panjang-panjang mereka, mungkin mereka tengah terburu-buru karena sebentar lagi salju turun, dipenghujung musim gugur yang akan berganti musim dingin sebentar lagi.

 

 

Tapi berbeda dengan gadis cantik yang masih berdiri memperhatikan setiap sudut keindahan Pisa, gadis itu tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan seperti ini. Kesempatan disaat sebentar lagi salju akan secara langsung menyapa permukaan kulitnya. Gadis dengan mantel coklat tosca yang melekat sempurna untuk melindungi suhu minimum yang merangsak masuk pada badan mungilnya itu ingin menikmati salju pertama dalam hidupnya. Yah, karena sebelumnya Park Chan Mi memanglah gadis kturunan Korea-Indonesia yang lebih memilih untuk menetap di Negara tropis yang hanya memiliki dua musim, Indonesia.

 

 

Tentu saja kedatangan Chan Mi ke kota Pisa bukan hanya untuk sekedar menikmati butiran putih lembut itu, gadis itu memang sangat terobsesi dengan keindahan kota Pisa, terlebih Italia adalah salah satu Negara yang begitu difavoritekannya, tetapi ada satu alasan yang paling kuat dari hatinya saat menginjakkan kakinya disini, sebuah impian yang sederhana memang, gadis itu hanya ingin menggapai takdir hidupnya untuk terakhir kalinya.

 

 

Kaki yang dibalut semi Boots itu melangkah perlahan menuju bangku disudut barat taman kota, memilih untuk menunggu sambil menikmati keindahan sebagian dari kota Pisa dibangku bermaterial kayu yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Chan Mi kembali merapatkan mantel coklat toscanya saat angin semakin berhembus kencang, mencoba menghalau angin yang mencoba menusuk kulitnya. Terkadang senyum menghiasi bibir mungilnya, sambil memperdengarkan lagu yang didengarkan melalui earphone pink kesayangannya, ia bersenandung pelan. Tersirat dengan jelas rasa rindu yang sangat mendalam dari wajah cantiknya yang tak pernah berhenti menyunggingkan senyumannya.

 

 

“Kau menungguku Channie?” gadis itu sedikit tersentak saat mendengar suara seseorang dengan aksen Koreanya yang kental yang sangat ia kenal memanggil namanya.

 

 

“Tidak, aku menunggu Presiden Korea Selatan yang aku undang kesini. Memang menurutmu bagaimana?” jawab gadis yang disapa Chan Mi itu dengan ketus. Gadis itu memang tidak suka basa-basi tidak penting seperti itu, seharusnya pria itu juga memang sangat mengetahuinya dengan jelas.

 

 

 

Sesosok pria lumayan tinggi, berkulit putih, berambut coklat gelap dan dengan sorot mata teduhnya itu terkekeh pelan dan mengacak rambut Chan Mi gemas. Ia sudah mengenal Chan Mi melebihi siapapun. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa kekasihnya itu adalah ‘gadis angkuh’ karena sifatnya yang memang selalu terkesan dingin, namun jauh dari apa yang semua orang katakan tentang gadis itu, pria yang berstatus kekasih Chan Mi itu sangat mengenal bahwa gadis itu sebenarnya memiliki kepribadian lembut, pengertian dan sangat penyayang terhadap orang-orang disekelilingnya.

 

 

“Sung Min Oppa, kau tidak merindukanku?” tanya Chan Mi penuh harap, saat pria yang sedari tadi ditunggunya hanya terdiam dengan focus mata yang tak pernah lepas dari wajah pucatnya.

 

 

Pria yang dipanggil Sung Min itu sedikit tersentak saat mendengar pertanyaan dari gadisnya, dengan sorot mata yang semakin menatap Chan Mi lurus-lurus.  Beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepalanya “Eung.. Tidak”

 

 

Chan Mi hanya bisa menghela nafasnya panjang saat jawaban itu secara mulus meluncur begitu saja, ia sedikit mengerucutkan bibirnya, tergambar dengan jelas rasa kecewa di wajahnya, kecewa mendapati kenyataan bahwa sosok yang selama ini dirindukannya siang dan malam ternyata tidak merindukannya “Kau menyebalkan Oppa” Chan Mi melirik tajam kearah Sung Min sebelum ia bangkit dari duduknya.

 

 

“Dasar anak kecil” celutuk Sung Min santai, tak menghiraukan gadis yang sudah beberapa langkah menjauh darinya itu mengumpat kesal padanya.

 

 

Gadis itu segera memutar tubuhnya, berbalik menatap Sung Min dengan tatapan geramnya “Ya!! Apa yang kau bilang Oppa? Bukannya mencegahku pergi malah mengejekku” teriak Chan Mi kesal. Kekasih dari gadis itu tau pasti bahwa Chan Mi-nya itu sangat tidak suka disebut sebagai anak kecil, walaupun usia pria dengan wajah imutnya itu dengan gadis manja-nya itu terpaut 7 tahun. Hanya saja mengganggu gadis itu adalah salah satu hobi yang begitu disukainya.

 

 

“kau kan memang anak kecil yang hobi merajuk, apa aku salah?“ tanya Sung Min lagi dengan memperjelas kalimat yang ia lontarkan sebelumnya diiringi dengan seringaian menyebalkan dibibirnya, ia kemudian ikut beranjak dan menghampiri Chan Mi yang masih menatapnya geram, seolah tatapan seperti itu semakin membuatnya berniat menggoda gadisnya itu lebih jauh.

 

 

Sekali lagi gadis itu menghela nafasnya gusar, baru saja ia menantikan sebuah pelukan hangat yang ia impikan akan ia dapatkan dari kekasihnya saat ia telah tiba di Kota Pisa setengah jam yang lalu, justru sekarang harapannya itu terbang begitu saja terbawa hembusan angin musim gugur. Benar-benar menyedihkan “Terserah kau saja Oppa”

 

 

Chan Mi memutuskan untuk melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda, berlama-lama didekat Sung Min membuat emosinya menjadi tidak karuan. Sebenarnya lidah gadis itu sudah sangat gatal ingin mengatakan bahwa ia sangat merindukan pria yang sangat dicintainya itu, namun Chan Mi mengetahui dengan pasti bahwa Sung Min maupun dirinya sangat benci sesuatu yang terdengar romantis.

 

 

Mereka memang bukan seperti pasangan normal pada umumnya. Jenis cinta mereka berbeda dari yang lain. Cinta mereka adalah ‘Platonic Love’, cinta yang ditunjukkan dengan sepenuh rasa tanpa diucapkan berlebihan sebagaimana orang yang sedang jatuh cinta. Mereka lebih memilih mengungkapkan dengan cara mereka sendiri.

 

 

Lee Sung Min, pria yang menyandang status sebagai kekasih Park Chan Mi itu juga sebenarnya sangat merindukan ‘gadis angkuh’nya, namun pria itu memilih untuk tidak mencegah kepergian Chan Mi, karena ia tau Chan Mi baru saja tiba di Pisa. Negara yang sangat diimpikan oleh gadisnya. Chan Mi perlu istirahat. Pria itu tau bahwa Chan Mi pasti akan memintanya untuk mengajaknya jalan-jalan seharian mengelilingi kota ‘cantik’ ini, dan jika memang benar itu akan terjadi, bagaimana bisa gadis itu mengistirahatkan dirinya setelah melakukan perjalanan berjam-jam dari Indonesia “Biarlah ia beristirahat dulu” batin Sung Min.

 

 

Sung Min terus menatap kepergian Chan Mi dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya. Semua orang yang melihatnya pasti tau kalau tatapan Sung Min sangat berbeda ketika menatap punggung Chan Mi yang semakin menjauh pergi. Yah tergambar dengan jelas Sung Min sangat mencintai gadis berwajah pucat itu.

 

 

Sudah hampir setahun lamanya jarak memisahkan mereka berdua. Sung Min memilih meneruskan kuliah kedokterannya di Pisa, sedangkan Chan Mi memilih untuk tetap tinggal di negara kelahirannya. Walaupun jarak bermil-mil yang memisahkan keduanya. Tetapi tidak ada satu hal pun yang bisa memisahkan ikatan cinta diantara mereka, walaupun berjuta-juta mil jauhnya jarak yang memisahkan mereka.

 

 

Lee Sung Min dan Park Chan Mi tidak mudah berjalan sejauh ini. Mengorbankan perasaan, mencoba saling menyingkirkan ego masing-masing. Melewati hal yang paling menyedihkan didunia ‘perpisahan’, walaupun hanya perpisahan yang sementara. Namun waktu yang telah menjawabnya hingga satu tahun belakangan ini, bahwa jauh dalam lubuk hati mereka masing-masing rasa cinta itu tak pernah pupus termakan jarak dan waktu.

 

.

.

.

.

.

 

“Kau jauh-jauh datang ke Pisa hanya untuk belajar membuat Tiramisu?” seorang gadis terkejut mendengar pernyataan dari saudara kembarnya itu, sedangkan gadis di hadapannya itu menganggukkan kepalanya penuh semangat.

 

 

“Kau gila Chan Mi?” tanyanya lagi dengan suara yang tanpa sadar telah naik beberapa oktaf.

 

 

Gadis yang ditanya itu hanya menggelengkan kepalanya cepat “Ayolah Hae Mi-ya, kau tau kan aku tidak bisa memasak, apalagi membuat kue! Aku ingin membuatkan Tiramisu dengan tanganku sendiri special untuk Sung Min-ku. Aku ingin dia tau apa yang aku rasakan kepadanya selama ini sebelum aku pergi. Tolonglah Hae Mi-ya” pinta Chan Mi dengan wajah memelasnya dengan kedua tangannya yang sengaja ia tangkupkan didepan wajahnya, berusaha untuk memasang ekspresi memohon yang ia coba tunjukkan semurni mungkin.

 

 

Hae Mi, gadis yang terlihat memiliki paras wajah yang terlihat serupa dengan Chan Mi itupun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan saudara kembarnya yang lebih tua beberapa menit darinya itu.

 

 

Hae Mi dan Chan Mi memang saudara kembar identik yang semenjak mereka kecil telah terpisah oleh jutaan mil jauhnya jarak yang memisahkan mereka akibat perceraian kedua orang tuanya sejak mereka masih berumur 8 tahun, dengan Chan Mi yang memilih tinggal di Indonesia dengan Appa-nya sedangkan Hae Mi yang awalnya menetap di Seoul bersama Eommanya, namun sejak 2 tahun belakangan ini Hae Mi lebih memilih untuk hidup mandiri di Kota Pisa. Namun dibalik semua hal menyedihkan yang berusaha memisahkan mereka itu tak sedikitpun mengubah fakta bahwa mereka adalah saudara kembar.

 

 

Hae Mi yang melihat saudara kembarnya itu memasang wajah memohon yang memang jarang sekali ditunjukkan oleh Eonni-nya itu sedetik kemudian hanya bisa mengangguk pasrah, ia tentu saja tidak tega melihat saudara kembarnya itu terus menerus memohon dengan tatapan memelas seperti itu. “Baiklah..Aku akan mengajarimu” jawab Hae Mi yang segera disambut Chan Mi dengan pelukan eratnya sembari melompat-lompat kecil.

 

 

Hae Mi yang melihatnya Eonni-nya itu telah kembali ceria akhirnya juga ikut tersenyum melihat ekspresi kebahagiaan yang ditunjukkan oleh Eonni 12 menitnya itu “Jadi, kapan kau akan belajar membuatnya?” tanya Hae Mi.

 

 

Chan Mi melepaskan pelukannya, ia terdiam sebentar yang terlihat sedang berfikir. Beberapa saat kemudian senyum gadis itu kembali terlukis diwajah cantiknya “Hm..Mungkin besok pagi saja. Lebih cepat lebih baik kan?” jawab Chan Mi antusias yang segera dibalas Hae Mi hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.

 

.

.

.

.

.

.

Chan Mi menenteng dua buah plastik besar di tangannya. Ia baru saja keluar dari supermarket 24 jam dengan senyuman yang terus menghiasi wajah cantiknya. Ia melirik sekilas jam tangan Gucci yaang bertengger manis di pergelangan tangannya dengan sedikit susah payah “jam setengah tujuh” gumam Chan Mi. Walaupun masih terlalu pagi tetapi semangat Chan Mi sudah sangat menggebu-gebu.

 

Gadis dengan pakaian lengkap musim dingin yang membalut tubuh mungilnya itu kembali melangkahkan kakinya riang menuju sebuah rumah bercat hijau lumut diujung jalan yang tak jauh dari Supermarket yang baru saja disinggahinya. Dengan susah payah gadis itu mencoba untuk memencet bel rumah yang tertanam didinding sebelah pintu karena dua plastik besar yang menghalangi gerak tangannya. Setelah beberapa menit menunggu munculah seorang gadis dengan rambut acak-acakan dan matanya yang masih setengah terpejam, khas orang bangun tidur.

 

Chan Mi hanya terkekeh pelan melihat saudara kembarnya itu. Gadis itu mencoba mengumpulkan kembali setengah rohnya yang masih tertinggal dialam mimpi. Beberapa detik kemudian Hae Mi mendengus sebal setelah melihat siapa ‘tamu’  yang dengan senang hatinya mengganggu tidurnya pagi-pagi begini “jangan katakan kau lupa password rumahku Park Chan Mi?” tanya gadis itu dengan ekspresi rasa ingin tahunya yang sengaja didramatisir olehnya.

 

 

Chan Mi hanya mengangguk sekali untuk menjawab pertanyaan Hae Mi yang menurutnya sangat tidak penting untuk dijawab “Kau harus mandi sekarang Hae Mi-ya. Cepatlah! Kau kan sudah berjanji untuk mengajariku hari ini” lanjut Chan Mi.

 

 

Hae Mi hanya mengangguk pasrah dan segera menyeret kakinya dengan langkah berat menuju kamarnya. Chan Mi hanya terkekeh melihat kelakuan Hae Mi. Ia bahkan sudah terlalu sering melihat melihat segala macam tingkah saudara kembarnya itu.

 

Chan Mi melangkahkan kakinya masuk setelah menutup kembali pintu dengan tendangan ringannya, kakinya semakin melangkah kedalam seraya mengedarkan pandangannya keseluruh ruang tamu yang lumayan besar ini “tidak ada yang berubah” batin Chan Mi. Yah walaupun Hae Mi tinggal sendiri di rumah besarnya ini semenjak memutusakan hidup mandiri, rumah ini selalu terlihat bersih. Bahkan kemarin saat ia menginjakkan kakinya kerumah ditengah padatnya kota Pisa ini ia tidak benar-benar memperhatikan rumah yang sudah dianggapnya rumah keduanya karena efek lelah yang menderanya saat tiba disini.

 

 

Gadis itu kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda menuju dapur, meletakkan bahan-bahan yang baru saja dibelinya di Supermarket yang memang terasa sangat berat menggantung pada kedua tangannya. Dengan gerakan kecil, Chan Mi berusaha untuk merenggangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku sembari menunggu Hae Mi, sang guru dadakannya. Berulang kali ia terlihat menepuk-nepuk dadanya sendiri berharap rasa sakit yang semakin terasa nyata didadanya itu dapat sedikit berkurang.

 

“Channie, are you ok?” sontak Chan Mi segera berbalik menghadap kesumber suara dan menghentikan kegiatannya memukul-mukul dadanya sendiri seraya berusaha memasang senyum seperti biasanya walaupun rasa sakit itu semakin terasa berkali-kali lipat dari sebelumnya. Hanya berjalan beberapa meter dari rumah Hae Mi menuju Supermarket diujung jalan ternyata benar-benar melelahkan untuknya.

 

“Aku tidak apa-apa. Ayo kita mulai sekarang” jawab Chan Mi penuh semangat, walau bagaimanapun ia berusaha untuk bersikap normal seperti biasanya agar dongsaengnya itu tidak khawatir terlalu jauh padanya, ini memang bukan pertama kalinya rasa sakit itu membuatnya terasa sulit hanya untuk sekedar menarik nafas, dan sudah kesekian kalinya pula saudara kembarnya itu akan terlihat panik berlebihan dengan segera menyeretnya pergi ke Rumah Sakit saat mengetahui kondisinya tidak sedang baik-baik saja. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi lagi disaat ia akan mulai belajar membuat kue pertamanya.

 

Hae Mi kembali mengangguk, menyimpan rasa khawatirnya melihat wajah Eonninya yang semakin hari semakin terlihat memucat “apa aku harus memulai penjelasanku sekarang?” Tanya Hae Mi memastikan Eonninya itu telah siap, dan dijawab dengan anggukan cepat dari Chan Mi.

 

 

“Tiramisu itu kue keju khas Italia dengan taburan bubuk kakao diatasnya” Hae Mi mencoba menjelaskan. Tangannya sibuk mengeluarkan bahan-bahan yang baru saja dibeli Chan Mi. Chan Mi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan penjelasan Hae Mi.

 

“Ciri khas kue ini adalah perpaduan tekstur kue yang lembut dengan rasa kopi dan keju yang kuat. Biskuit yang disebut biskuit Savoiardi, telur ayam, gula, kopi, dan bubuk kakao adalah bahan utama bagi resep Tiramisu” lanjut Hae Mi.

 

Senyum terkembang dibibir Chan Mi. Ia sudah menyiapkan segala jenis bahan yang telah disebutkan Hae Mi tanpa kurang satupun bahan penunjang untuk membuat Tiramisu pertamanya. “Semua bahan sudah tersedia, ayo kita mulai” sahut Chan Mi dengan kedua tangannya yang mengepal diudara, kobaran semangatnya terasa nyata berpendar diseluruh sudut area dapur membuat suasana diawal musim dingin ini menjadi hangat.

 

“Dari sekian banyak kue. Kenapa jauh-jauh kesini kau hanya ingin belajar membuat Tiramisu?” Hae Mi menghentikan tawanya melihat Eonninya itu yang terlalu bersemangat saat sebuah pertanyaan yang sedari tadi mengganjal difikirannya terlintas begitu saja tanpa mengalihkan pandangannya pada sosok Chan Mi yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan penasarannya.

 

“Karena Tiramisu itu mempunyai sebuah makna, mungkin saatnya nanti kau akan mengerti Hae Mi-ya” jawab Chan Mi dengan diiringi senyuman lembutnya.

 

Hae Mi yang mendengar jawaban yang sepenuhnya tak bisa membunuh rasa penasarannya itu hanya bisa mengangkat bahunya. Bingung akan ucapan Chan Mi. Sebelum Hae Mi sempat melontarkan kebingungannya, Chan Mi segera memotong ucapan Hae Mi yang sudah diujung lidah. “Kalau begitu dengan semua bahan ini. Pertama-tama kita harus melakukan apa?” tanya Chan Mi antusias.

 

 

“Kau harus menjawab pertanyaanku dulu!” paksa Hae Mi, tangannya ia letakkan dipinggangnya dan menatap Eonni-nya itu dengan tatapan menuntut.

 

 

Chan Mi menghembuskan nafasnya lelah, bukannya ia tidak ingin menjawab, hanya saja gadis itu terlalu malas untuk menjawab sesuatu yang belum seharusnya ia jelaskan “Ayolah Hae Mi, kau harus segera membantuku. Aku tidak punya banyak waktu lagi” jawab Chan Mi putus asa.

 

 

Hae Mi hanya bisa menatap saudara kembarnya itu dengan tatapan pasrahnya, percuma memaksa gadis keras kepala itu untuk menurutinya, itu tidak akan pernah terjadi sekalipun dunia sudah berhenti berputar “Baiklah” jawab Hae Mi pasrah.

 

 

“Kue ini tidak dibuat dari adonan dan tidak dipanggang. Bahan dasarnya adalah biskuit yang direndam kedalam larutan kopi dan keju mascarpone” Hae Mi mencoba mengambil oksigen sebanyak-banyaknya sebelum melanjutkan penjelasannya. “Biskuit itu kemudian disusun dan dilapisi dengan krim kocok sebelum didinginkan didalam lemari es supaya bentuk kue tidak hancur sewaktu dihidangkan” lanjut Hae Mi.

 

 

Chan Mi mencoba mengikuti semua instruksi yang diberikan Hae Mi. Melihat Chan Mi yang dengan semangatnya mengikuti instruksi yang baru saja ia jelaskan membuat Hae Mi tersenyum senang. Ia senang bisa membantu saudara kembarnya itu, “Kau tau Channie? Membuat Tiramisu itu tidak harus dibuat oleh orang yang profesional. Jika kau membuatnya dengan segenap perasaanmu. Pasti kue yang kau buat bisa menjadi kue terlezat yang pernah kau rasakan” ucap Hae Mi tulus.

 

 

Chan Mi terhenti sebentar dari aktivitasnya bergulat dengan adonan Tiramisunya dan segera menolehkan kepalanya menghadap Hae Mi. “Yah, kau benar” jawab Chan Mi sambil menganggukan kepalanya dan tersenyum tulus.

 

.

.

.

.

.

 

Hampir tiga jam berlalu sejak Chan Mi sibuk dengan berbagai bahan pembuat Tiramisu yang sekarang sudah terlihat sangat berantakan diatas meja. Namun hal itu justru tidak menyurutkan semangat Chan Mi sedikitpun. Hae Mi yang sedari tadi memperhatikan Eonninya dari balik dinding yang memisahkan antara ruang makan dan dapurnya itu hanya tersenyum penuh makna tanpa mau repot-repot membantu Chan Mi membuat Tiramisu-nya, karena memang Chan Mi-lah yang memintanya seperti itu. Gadis itu benar-benar ingin membuat ‘kue Special’nya dengan tangannya sendiri.

 

 

“Ahhh. Akhirnya selesai. Aku tak percaya bisa membuat ini” seru Chan Mi gembira saat menatap dua buah Tiramisu yang belum sepenuhnya menjadi Tiramisu itu yang ia letakkan diatas meja.

 

 

“Syukurlah akhirnya kau berhasil” jawab Hae Mi yang sudah kembali menyeruak masuk kedalam dapurnya hanya untuk sekedar melihat hasil karya Chan Mi yang sudah hampir 5 jam lamanya akhirnya berhasil ia selesaikan, saat sebelumnya sudah hampir berpuluh-puluh sample Tiramisu berakhir ditempat sampah.

 

 

“Ini berkat kau Hae Mi-ya” saking senangnya Chan Mi segera memeluk saudara kembarnya itu, memberikan pelukan protektifnya yang entah kapan ia akan merasakannya kembali. Hae Mi ikut merasakan kebahagiaan yang seolah seperti telepati yang juga ia rasakan dan membalas pelukan Chan Mi dengan sama protektifnya.

 

 

“Kenapa kau membuat dua? Kau membuat Tiramisu ini kan hanya untuk Sung Min Oppa?”

 

 

Seketika itu juga Chan Mi melepaskan pelukannya dan ikut memperhatikan kedua Tiramisu yang tergeletak manis diatas meja, sedetik kemudian ia memamerkan senyumnya pada Hae Mi “2 Tiramisu ini untuk dua orang yang special dihidupku” jawab Chan Mi.

 

 

Hae Mi menautkan kedua alisnya tidak mengerti “Siapa?”

 

“Selain kedua orang tua kita yang sudah damai di surga sana. Aku hanya memiliki dua orang yang sangat berharga di hidupku. Tentu saja Sung Min dan kau sebagai dongsaengku” jawab Chan Mi tulus, binar di mata hitam kecoklatannya semakin terlihat samar karena air mata yang sudah menggumpal siap akan jatuh jika saja tidak ia tahan dengan susah payah.

 

“Aku juga menyayangimu Eonni” Hae Mi kembali merengkuh sosok yang berdiri disebelahnya dan memeluknya lebih erat, mencoba untuk menyalurkan rasa sayang untuk saudara satu-satunya yang ia punya saat ini, Appa dan Eomma kandung mereka memang sudah pergi, namun kesedihan akan fakta yang menyakitkan sekaligus menyedihkan itu perlahan terkikis dengan kasih sayang yang Eonninya itu berikan walaupun jarak yang memisahkan mereka. Seolah kasih sayang Eomma dan Appa sekarang dapat diambil alih oleh Chan Mi dan dapat tersalurkan dengan nyata pada Hae Mi sebagai dongsaengnya.

 

 

Chan Mi dan Hae Mi segera meletakkan kedua Tiramisu itu kedalam kulkas setelah melepaskan pelukan mereka satu sama lain “Jika besok aku tidak bisa memberikan Tiramisu itu langsung kepada Sung Min Oppa, tolong kau berikan Tiramisu itu kepadanya yah” ucap Chan Mi penuh harap saat kedua adonan Tiramisunya sudah masuk sepenuhnya kedalam kulkas.

 

Hae Mi hanya mengangguk menyetujuinya. Terlalu banyak fikiran yang berkecamuk tentang saudara kembarnya itu saat ini. Hari ini Chan Mi terlihat sangat berbeda dari biasanya. Wajah ceria itu semakin hari semakin memucat “Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja” batin Hae Mi.

 

“Channie, kau kenapa? Kau terlihat pucat” tanya Hae Mi mencoba mengurangi sedikit kekhawatiran yang semakin menjalari setiap persendiannya. Ketakutan akan kehilangan orang yang sangat berarti dihidupnya lagi semakin terasa nyata saat wajah yang biasanya selalu terlihat ceria semakin lama terlihat semakin pucat.

 

“Gwaenchana. Kau tenang saja. Aku yakin aku bisa bertahan di dunia ini seribu tahun lamanya. Asalkan aku mempunyai dongsaeng sepertimu dan Sung Min Oppa di hidupku” jawab Chan Mi mencoba meyakinkan.

 

Hae Mi tak kuasa menahan air matanya dan segera memeluk Chan Mi untuk untuk kesekian kalinya. Merasakan indahnya segala ketulusan persaudaraan diantara mereka. Yah, ikatan mereka adalah ikatan istimewa yang telah dipertautkan oleh yang maha istimewa dalam ikatan persaudaraan.

.

.

.

.

.

 

Chan Mi menatap jam weker mungil di sudut meja sebelah tempat tidurnya. Jarum jam sudah menunjukkan angka 2. Ini sudah terlalu larut malam untuknya masih berjaga disepanjang malam, Namun kelopak mata itu tak mau menutup untuk tertidur sejenak melepas lelahnya setelah seharian ini ia telah berusaha keras membuat Tiramisu, tak ada sedikitpun rasa lelah menghinggapinya saat ini.

 

 

Gadis itu kemudian mencoba beranjak menuju meja belajarnya, mencoba membunuh waktu yang terasa sangat panjang malam ini. Ia ingin melakukan apa yang ia ingin lakukan sekarang sebelum matanya benar-benar terpejam untuk waktu yang lama. Tangan kurusnya kini tengah menggenggam sebuah pulpen biru di tangan kanannya, mencoba menggerakkannya sesuai dengan apa yang ia ingin sampaikan dalam hatinya melalui sebuah tulisan pada selembar kertas putih diatas mejanya. Tentang segenap perasaannya.

 

 

“Psstt..Pssssstttttt” seorang pria mendesis, berharap suaranya mampu didengar oleh Chan Mi, gadis yang dipanggilnya sedari tadi.

 

 

Merasa dirinya dipanggil, Chan Mi yang sedari tadi sibuk berkutat dengan pulpen dan kertasnya itupun mendongakkan kepalanya. Bola matanya hampir keluar melihat siapa yang sekarang berada didepan pintu kamarnya yang memang sedikit terbuka. Secepat kilat ia bangkit dari duduknya dan keluar menuju pintu kamarnya yang hanya berjarak beberapa meter dari meja belajarnya. “Yhaa, Apa yang kau lakukan Oppa?”

 

 

Sung Min, Pria yang notabenenya adalah kekasih Chan Mi itu hanya menatap Chan Mi dengan cengiran khasnya “Tidak semudah itu untuk dapat mengendap-endap seperti ini dari dongsaeng cerewetmu itu bukan? Jadi maukah kau memberikan penawaran padaku untuk membawaku masuk kekamarmu sebelum dongsaengmu itu melihatku dan akhirnya mengusirku dari rumahnya?”

 

 

Chan Mi terkikik geli kemudian ia lalu membuka pintu kamarnya lebih lebar agar mempermudah Sung Min bisa masuk ke dalam kamarnya.

 

 

“Kenapa tertawa?” tanya Sung Min bingung.

 

“Kau lucu Oppa” jawab Chan Mi seraya melangkahkan kakinya ketempat tidurnya sambil terus tertawa.

 

 

“Aku mencoba untuk bersikap romantis dan kau malah menertawakanku Channie?” pria itu hanya mendengus sebal. Sudah 2 hari semenjak gadis itu mendatangi kota yang selama ini dijadikan Negara sebagai tempatnya menuntut ilmu, namun sudah 2 hari pula ia tak bisa mengunjungi gadisnya itu karena kesibukkan perkuliahannya, dan sekarang gadis itu malah menertawakannya. Ck! Menyebalkan, tidak adakah perasaan rindu itu untuknya?

 

 

Sung Min semakin memperpanjang langkahnya dan segera menghempaskan tubuhnya keatas kasur dengan kepala yang sengaja ia letakkan diatas paha gadisnya yang terlebih dahulu duduk diatas kasur dengan kepala yang menyandar pada sandaran tempat tidur.

 

 

Chan Mi memilih untuk mengacuhkan gerutuan Sung Min dan fokus pada apa yang mengganjal perasaannya “Ada apa kesini Oppa? Ini sudah larut”

 

“Hanya ingin saja” Sung Min menjawab santai.

 

 

Chan Mi menundukkan kepalanya, memandang wajah Sung Min dengan tatapan herannya, sedetik kemudian tatapan bingungnya berubah menjadi dengan wajah cerianya dihiasi dengan senyuman manisnya, ia semakin menundukkan kepalanya mendaratkan sekilas bibirnya kebibir Sung Min, mengecupnya dengan hangat “terima kasih Oppa” tutur Chan Mi tulus. Kini ia senyumnya semakin terkembang sembari mengelus lembut rambut Sung Min dipangkuannya. Merasakan kehangatan yang merengkuh hatinya yang menjalari setiap ruas tubuhnya saat setiap jar jemarinya bersentuhan dengan permukaan kulit kekasihnya.

 

 

Sung Min mengerjapkan matanya berkali-kali saat adegan tak terduga itu dirasakannya, kedua sudut bibirnya ikut tertarik membalas senyuman Chan Mi, tanpa aba-aba ia lalu menarik pelan tangan Chan Mi yang sibuk mengelus rambutnya dan meletakkannya diatas dadanya, membiarkan gadis itu merasakan debaran jantungnya yang memang selalu berdetak dengan tidak normalnya jika berdekatan dengan gadisnya itu “kau berterima kasih untuk apa Channie?”

 

 

“Terima kasih untuk  datang kemari” Chan Mi tersenyum, ia kembali membungkukan sedikit tubuhnya mendekatkan wajahnya kewajah Sung Min dan mengecup kening namja yang sudah memejamkan matanya itu dengan sangat lembut “Terima kasih juga untuk selalu bersamaku Oppa” kali ini kecupannya beralih pada hidung mancung itu, membuatnya bisa merasakan hembusan nafas hangat Sung Min menerpa permukaan wajahnya “Terima kasih untuk terus mencintaiku Oppa” tujuan terakhir Chan Mi adalah bibir pria itu yang entah sejak kapan mengembangkan senyum lebarnya, bibir itu sepertinya menjadi tempat yang special karena Chan Mi mengecupnya dengan lebih lama dan lebih dalam.

 

 

“Tentu semua ini tidak gratis” Sung Min membuka matanya saat secara sepihak gadisnya itu melepaskan ciumannya begitu saja, kemudian lebih memilih untuk bangkit dari posisinya menjadi duduk menatap manik mata gadis itu dalam-dalam disertai seringaian dibibirnya.

 

 

“Mwo?” Chan Mi mengerutkan dahinya.

 

 

“aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk membatalkan perjodohan dari orang tuaku dengan orang tuamu yang secara terang-terangan menjodohkanku dengan saudara kembarmu itu, aku juga sudah berusaha meyakinkan Appa, Eomma dan juga Sung Jin agar merestui hubungan kita, aku juga telah banyak mematahkan hati para wanita yang menyukaiku secara terang-terangan di seluruh penjuru kota ini, banyak gadis yang patah hati gara-gara mengetahui aku sudah memiikimu, jadi kau harus membayar mahal untuk rasa cintaku padamu” Sung Min menatap kekasihnya itu dengan tatapan seriusnya.

 

 

“Jadi, kau harus berjanji membayar semuanya” lanjut Sung Min, ia ikut membaringkan tubuhnya kembali saat gadis itu juga mengubah posisi duduknya menjadi berbaring, ia berbaring menyamping agar bisa melihat wajah cantik Chan Mi yang semakin hari semakin memucat jauh sebelum ia meninggalkan gadis ini setahun yang lalu.

 

 

Gadis itu menghela nafasnya, “Baiklah, dengan apa aku harus membayarnya oh my Sung Min prince?” Tanya Chan Mi, ia ikut menyampingkan badannya menatap Sung Min sepertinya lebih menarik daripada menatap langit-langit kamarnya.

 

 

“Berjanjilah” Sung Min mengerlingkan matanya, semburat merah tampak jelas di kedua pipinya “Untuk selalu berada disampingku saat aku tertidur nanti, sampai aku menutup mata untuk waktu yang panjang nantinya”

 

 

“Oppa” Gadis itu menganga. Kehilangan kata-kata atas pernyataan Sung Min yang sengaja pria itu ucapkan dengan makna yang tersirat. Sung Min selalu mempunyai seribu cara untuk bisa membuat hatinya meleleh, meski tidak mengatakan secara gamblang, gadis itu bisa mengetahui dengan jelas apa yang dimaksud Sung Min padanya. Sebagai seorang mahasiswi dalam jurusan sastra tentu saja Chan Mi mengerti akan kiasan dari menutup mata dan tertidur seperti apa yang kekasihnya itu maksudkan.

 

 

Sung Min memintanya untuk selalu ada disisinya, menemaninya untuk selamanya hingga namja itu benar-benar menutup matanya dalam damai. Perlahan kristal bening jatuh membasahi pipi mulus Chan Mi. Air mata kegembiraan yang tak bisa terlukiskan oleh apapun di dunia ini. Chan Mi kemudian merangsak masuk kedada bidang Sung Min, menenggelamkan wajahnya didada itu, menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang akan sangat ia rindukan nantinya saat ia benar-benar pergi dari kota ini “Yah, aku berharap aku bisa menepati janjiku Oppa” batin Chan Mi.

 

.

.

.

.

.

 

Seorang pria dengan pakaian serba hitamnya mencoba menyeretkan langkah kakinya dengan berat seolah ada batu besar ribuan ton yang menahan kakinya, dadanya terlihat naik turun seolah pria itu terlalu sulit hanya untuk sekedar menarik nafasnya sendiri, terasa sangat menyesakkan baginya menerima kenyataan pagi-pagi buta seperti ini, dengan susah payah ia kembali mencoba untuk menarik oksigen sebanyak paru-parunya membutuhkannya, namun semuanya terasa percuma saat ia sendiripun sudah tidak ingin membuat paru-parunya itu berfungsi dengan semestinya. Penampilan pria itu kini terlihat berantakan. Gurat kepedihan yang Nampak nyata diwajah tampannya semakin membuat pria itu semakin terlihat berantakan.

 

 

Tak berapa lama langkahnya kini terhenti didepan sebuah gundukan tanah yang masih merah, menandakan bahwa gundukan tanah itu masih baru saja menimbun sesuatu didalam sana, atau lebih tepatnya seseorang dibawah sana. Sudut bibirnya tersenyum getir saat retina matanya dengan sedikit mengabur karena gumpalan air matanya sendiri menangkap deretan huruf Hangeul yang tertulis apik disana.

 

 

Park Chan Mi.

 

 

Sebuah nama yang membuat dunianya terasa berhenti saat nama seseorang yang amat sangat ia cintai menghiasi nisan yang masih ia pandangi dengan tatapan tidak percayanya. Ini semua terasa begitu cepat baginya, seolah bumi mengalami perotasian tidak pada semestinya hari ini. Bahkan baru saja ia merasakan kembali pelukan hangat itu tadi malam, kenapa sekarang semuanya terasa begitu hampa untuknya saat ia baru saja membuka matanya pagi tadi, gadis yang dengan nyaman berada didekapannya itu ternyata telah tidur untuk jangka waktu yang sangat lama.

 

 

 

Pemakaman sudah bubar sejak sejam yang lalu, tidak banyak yang mengantar gadis itu dihari pemakamannya hari ini, kota ini memang terlalu asing dengan gadis itu, 2 hari di Pisa tak mampu membuat orang-orang berambut pirang itu mengenal gadis ini secara seutuhnya. Perlahan setetes butiran dingin mendarat diujung hidung mancung pria yang masih tak ingin melepas pandangannya pada sebuah foto seorang gadis yang tengah tersenyum hangat didalam foto nisan itu membuatnya tersadar pada kenyataan bahwa semua ini bukanlah mimpi.

 

 

Pria itu mendongakkan kepalanya mencoba menghalau air matanya yang akan jatuh, membiarkan tetesan salju yang semakin menjatuhi bumi dengan intensitas yang lebih cepat  kini menghujaninya. Seolah alam pun tau bahwa ia tengah merasa amat sangat kehilangan. Seolah butiran-butiran salju itu siap untuk membekukan kesedihannya saat itu juga.

 

 

“Chan Mi sudah terlalu lelah untuk menanggung penyakitnya sendiri Sung Min Oppa, biarkan Eonniku beristirahat dengan tenang disana”

 

 

Seseorang dengan suara feminimnya itu entah sudah sejak kapan telah berdiri disebelah pria itu, bahkan pria yang bernama Sung Min itu sendiri pun tidak menyadari sedikitpun seseorang yang sudah berdiri disampingnya “kenapa ia pergi begitu cepat Hae Mi-ya?” Sung Min bertanya dengan suaranya yang terdengar bergetar sarat akan kelirihan disetiap katanya, ia masih membiarkan kepalanya mendongak keatas dengan mata yang terpejam. Menatap sesuatu dibawah sana semakin membuat hatinya terkikis secara perlahan akhirnya hancur tak berbekas.

 

 

“Mungkin ini adalah takdir Tuhan yang terbaik untuknya Oppa” Hae Mi berjongkok meletakkan sekuntum bunga lili yang memang sengaja dibawanya.

 

 

“kedatangan Chan Mi ke Pisa sepertinya memang sudah direncanakan untuk bisa mengucapkan salam perpisahan untuk orang yang disayanginya Oppa” gadis itu kembali membuka suaranya diiringi dengan setetes Kristal bening meluncur bebas dari sudut matanya.

 

 

“apa kau sudah mengetahui sebelumnya bahwa jantung Chan Mi semakin hari semakin melemah?” Sung Min bertanya dengan suara yang dengan susah payah ia buat terdengar senormal mungkin.

 

 

Hae Mi hanya menggeleng lemah, ia lalu membuka matanya yang terasa buram karena air matanya “Eonni tidak pernah menceritakannya padaku Oppa”

 

 

Berbeda dengan Sung Min yang masih bisa terlihat tegar, Hae Mi hanyalah gadis rapuh yang dengan mudahnya meneteskan air mata, terlebih disaat-saat semuanya tidak seperti yang ia bayangkan selama ini “Istirahatlah yang tenang Eonni” sekali lagi gadis itu dengan susah payah berusaha menyunggingkan senyumnya, tangannya terulur mengelus nisan yang semakin terasa dingin karena jutaan tetes salju yang turut membuatnya semakin dingin “aku menyayangi Eonni”  lanjut Hae Mi sebelum ia beranjak dari posisi berjongkoknya dan segera berdiri kembali disebelah ‘calon kakak ipar’nya itu.

 

 

“Ini” tangan Hae Mi terulur menyerahkan sebuah kotak dengan ukuran sedang kehadapan Sung Min “Chan Mi memintaku untuk memberikan ini untukmu Oppa” gadis dengan wajah serupa dengan Chan Mi itu menyerahkan sebuah kotak serta sebuah amplop dengan warna senada yang membungkus manis kotak berukuran sedang itu.

 

 

“aku harap kau bisa merelakannya Oppa, biarkan Channie beristirahat dengan tenang” lanjut Hae Mi sebelum ia melangkahkan kakinya menjauh dari area pemakaman, meninggalkan Sung Min yang masih terpaku ditempatnya berdiri menatap sebuah kotak ditangannya.

.

.

.

.

.

 

Untukmu aku terus bertahan, untukmu aku terus mencoba hidup bahagia, untukmu dan hanya untukmu.

 

Kini Sung Min tengah berdiri dibalkon apartemennya, menikmati semilir angin kota Pisa malam ini yang terasa menusuk kulit, suhu memang hampir mencapai minus derajat celcius saat musim dingin seperti ini, namun pria itu seolah menghiraukan udara yang bisa membekukannya secara perlahan. Baginya kini hantinya terasa lebih membeku dari pada raganya. Ia mencoba tersenyum, mencoba untuk menerima semuanya dengan lapang dada, menerima kenyataan yang terasa menyakitkan sekaligus memilukan baginya disepanjang hidupnya.

 

 

Sung Min mengalihkan pandangannya dari langit bersalju kini beralih menatap sebuah kotak berukuran sedang berwarna biru langit, dengan sebuah amplop surat berwarna senada dengan kotak dibawahnya, warna kesukaan gadisnya. Perlahan namun pasti tangannya terulur meraih amplop dengan wangi khas Gladiovinu dan membuka amplop itu dengan penuh kehati-hatian.

 

 

Sesaat ia menghela nafas panjang, mencoba untuk meyakinkan hantinya sendiri. Tulisan tangan khas Chan Mi dengan tinta yang senada dengan amplop pembungkusnya sangat indah dimata Sung Min, walau hanya beberapa untaian kata yang tertulis disana.

 

 

“My Prince Lee Sung Min. Ti Amo. Ti Voglio”

 

 

Perlahan senyum dibibir Sung min mengembang yang terlihat kontras dengan air matanya yang semakin deras mengaliri pipinya, membentuk sebuah anak sungai di wajahnya. Kalimat itu, kalimat yang sengaja ditulis dalam kata-kata berbahasa Italia  yang sangat mudah dipelajari, namun Sung Min yakin, gadisnya itu, gadis yang pagi tadi menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukannya itu menuliskan kata-kata sederhana yang terasa manis itu dengan segenap perasaannya. Dengan segala ketulusan gadisnya itu untuk mencintai seorang Lee Sung Min.

 

 

“Ti Amo Anche io” balas Sung Min tak kalah tulusnya, walaupun Sung Min tau bahwa gadisnya itu tidak bisa mendengarnya secara langsung, namun Sung Min yakin jauh disurga sana gadisnya itu bisa mendengar dengan jelas jeritan hatinya yang mengatakan bahwa ia benar-benar mencintai gadisnya itu dengan setulus hatinya.

 

 

Ia meletakkan kembali suratnya yang sudah terselip rapi dalam amplop seperti sebelumnya dan beralih meraih kotak yang tak jauh dari tempatnya meletakkan amplopnya, sama seperti sebelumnya, Sung Min membuka kotak persegi itu secara perlahan penuh kehati-hatian.

 

“Tiramisu?” gumam Sung Min lebih kepada dirinya sendiri saat mendapati sebuah tiramisu berukuran sedang dengan potongan-potongan wafer disekelilingnya ditambah dengan sedikit lelehan coklat. Ditengahnya terdapat tulisan Ti Amo yang terselip didalam kotak yang baru saja dibukanya.

 

 

“pergilah Channie!” kali ini pria itu tidak mencoba untuk menahan air matanya yang telah siap merangsak keluar tanpa bisa dikendalikannya, membiarkan air matanya itu sebagai pelengkap kesedihannya hari ini.

 

 

“ Aku kini benar-benar telah mengizinkanmu pergi kesurga” suara itu terdengar bergetar, namun pria itu kembali berusaha melanjutkan kata-katanya.

 

 

“Aku tau kau sudah sangat lelah menanggung penderitaan dengan kondisi jantung yang semakin hari semakin melemah. Maaf aku baru mengetahuinya sekarang. Aku tau waktu tidak akan pernah berputar kembali, seandainya dari awal aku mengetahui jantungmu dengan kondisi yang tidak baik, aku akan lebih menjagamu”

 

 

Kata-kata itu terdengar semakin memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya, kali ini kesedihan yang begitu memuncak membuat lututnya terasa lemas tak mampu lagi menahan berat badannya, membiarkan tubuhnya merosot begitu saja dengan air mata yang juga terasa sulit untuk ia hentikan.

 

 

“Kepergianmu! Kepergianmu begitu menakutkan untukku, selama hampir setahun aku hidup tanpa kau disisiku mungkin aku bisa menahan hasratku untuk menemuimu jauh di seberang sana, tapi aku masih belum siap jika kau meninggalkanku untuk selamanya. Tanpamu..” Sung Min tidak sanggup lagi melanjutkan perkataannya, perlahan tetesan itu semakin menjadi saat Sung min mencoba untuk menutup matanya dengan erat, nafasnya tersenggal mengucapkan kalimatnya sendiri ditengah isak tangisnya yang tak kunjung terhenti. Ia memang pria yang jarang menangis, mungkin hal ini begitu terasa memukul hatinya sehingga jutaan tetes air matanya seolah tak dapat terkontrol lagi.

 

 

Sung Min kembali menarik nafasnya dalam, mencoba untuk tetap bernafas dengan benar sesuai dengan permintaan terakhir gadisnya, berharap saat nanti ia menghembuskan nafasnya sakit yang begitu menusuk seluruh sistem saraf tubuhnya itu bisa terbang terbawa hembusan nafasnya. Sung Min berusaha untuk kembali menarik kedua sudut bibirnya, walau bagaimanapun ia tidak ingin melihat gadisnya itu bersedih diatas sana “sekarang aku memahami kenapa kau bersikeras untuk memintaku mengajarimu membuat Tiramisu, maafkan aku karena aku tidak bisa mengajarimu saat itu”

 

 

“seharusnya aku sadar dari awal bahwa makna Tiramisu yang ingin kau buat untukku adalah sebuah symbol secara tersirat untuk memintaku agar mengizinkanmu pergi kesurga” Sung Min meraih sendok yang memang sudah tersedia bersama Tiramisu didalam kotak setelah mengeluarkan Tiramisu didalamnya terlebih dahulu.

 

 

Walaupun dengan bentuk yang terlihat sedikit berantakan Sung Min memotong tiramisunya dengan potongan yang lebih kecil, kemudian memasukkan kedalam mulutnya dengan ragu.

 

 

“Hambar..” kekeh Sung Min saat Tiramisu potongan pertamanya berhasil meluncur ketenggorokannya. Chan Mi-nya itu memang tidak pandai memasak, apalagi membuat Tiramisu, wajar saja rasanya hambar seperti ini.

 

 

“baiklah, aku sudah menerima Tiramisu hasil jerih payahmu. Walaupun kue ini terasa hambar, aku akan tetap memberikanmu izin untukmu terlebih dahulu bertemu dengan Tuhan dan melepas segala penderitaanmu selama didunia ini”

 

 

“Tunggulah aku disana, dan kelak kau harus menepati janjimu untuk selalu bersedia hidup bersamaku”

 

 

Setelah Sung Min selesai mengucapkan perkataannya, perlahan sebuah cahaya menyilaukan merangsak masuk kedalam retina mata Sung Min, membuat pria itu mau tak mau harus memejamkan matanya karena terlalu silau dengan cahaya yang memasuki indera pengelihatannya tepat dihadapannya.

 

 

“Oppa..”

 

 

Suara itu, suara seseorang yang begitu dinantikannya dapat didengarnya lagi. Mungkinkah?

 

 

Sung Min membuka matanya dengan cepat saat sebuah suara merdu berhasil menerobos indera pendengarannya, ia mencoba berkali-kali mengerjapkan matanya setelah cahaya menyilaukan itu hilang tergantikan dengan sosok semu yang kini tengah tersenyum manis dihadapannya, jarak yang hanya terpaut beberapa jengkal membuat Sung Min yakin sosok dihadapannya itu adalah Park Chan Mi-nya.

 

 

“aku mencintaimu Oppa. Saranghae” Chan Mi memajukan wajahnya setelah selesai mengucapkan kata-kata yang begitu indah didengar Sung Min, membiarkan matanya perlahan semakin tertutup saat bibirnya berhasil mendarat dibibir Sung Min.

 

 

Bibir Sung Min tersenyum ditengah kecupan yang diberikan gadisnya itu, Sung Min tau ini adalah momen terakhir ia bisa menyentuh gadisnya hingga detik ini, dan ia tak ingin membuang kesempatan manisnya begitu saja, Sung Min menarik tengkuk Chan Mi, berusaha memperdalam tautan bibir gadis itu dibibirnya, memberikan rasa hangat yang terasa berbeda ditengah semilir angin musim dingin.

 

 

Sung Min masih memejamkan matanya, membiarkan esensi dimensi ruang dan waktu yang terasa menyelimutinya, ia merasakan sosok gadisnya itu menghilang sejak beberapa menit yang lalu, namun pria itu masih enggan hanya untuk sekedar membuka matanya, seolah kehangatan gadisnya itu masih terasa menyentuh seluruh inderanya.

 

 

“Tiramisu. Ti Amo Anche io”

 

 

END

One thought on ““Tiramisu” FF Freelance

  1. tatta

    Sayang banget ya,baru aja ketemu chan minya udah meninggal
    Kukira sung min bakalan sama hae mi,ternyata enggak
    Tapi aku masih nggak ngerti apa hubungan tiramisu sama “kepergian” chan mi?Hehe mian ne author-nim🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s