“MY COLOUR ONLY JUST FOR YOU” FF Freelance

MY COLOUR ONLY JUST FOR YOU

 

 

Author            : Nalin Lee

Tittle   : My colour only just for you

Genre  : romance (?)

Tags     : Lee Sung Min dan Park Chan Mi (OC)

Length            : Oneshot

Rating : All age

Note    : ff ini juga ada di mitwins.wordpress.com :: )

 

Summary        : Aku hanya akan memberikan tujuh warnaku hanya untukmu.

.

.

.

“kau gila?” sudah berulang kali seorang pria dengan hoodie soft pink-nya itu menanyakan hal serupa kepada seorang gadis cantik yang duduk tepat dihadapannya yang masih terlihat sibuk dengan ice cream coklat dan sendok kecilnya. Mata pria itu memandang tajam kearah gadis dihadapannya seolah meminta penjelasan lebih lanjut akan rasa penasarannya sedari tadi.

 

“sudah berulang kali aku mengatakannya, aku tidak berbohong. Aku ini benar-benar pelangi. Jika kau masih mengataiku gila, terserah kau saja” decak gadis itu kesal, ia menekankan setiap perkataanya dengan bibir yang mengerucut sebal, kembali mencoba meyakinkan pria dihadapannya yang masih tak percaya dengan apa yang ia katakan.

 

Dapat terlihat dengan jelas gadis itu terlihat memasukkan sisa suapan ice cream terakhirnya dengan cepat, seolah ice cream itu mampu mendinginkan kekesalannya akan pertanyaan yang sudah sering pria itu lontarkan sejak beberapa menit yang lalu, pertanyaan yang menurutnya sangat konyol dan sangat tidak sopan kepada orang yang baru saja ia temui.

 

Hanya pertemuan disebuah café ice cream, pertemuan yang tanpa diduga sebelumnya oleh sang pria. Dan sebuah pertemuan yang tanpa sengaja terjadi karena hujan yang tiba-tiba mengguyur kota Seoul disaat perkiraan cuaca hari ini cerah.

 

Walaupun pria imut itu sudah sering bertemu dengan ribuan orang yang merupakan fans fanatiknya hampir diseluruh belahan dunia, namun baru kali ini dan belum pernah ia menduga sebelumnya bahwa ia bisa bertemu dengan seorang gadis cantik yang kesehatan jiwanya sepertinya patut dipertanyakan.

 

Bukan tanpa alasan pria itu mengasumsikan hal seperti itu, hanya saja apa yang dikatakan gadis itu benar-benar tidak bisa diterima oleh logikanya saat ini.

 

“sudahlah, terserah kau saja, aku tidak punya waktu untuk berdebat dengan anak kecil sepertimu” menyerah dengan perdebatan tak berujung mereka, pria itu dengan cepat meraih topi dan kacamata hitamnya, dan segera beranjak keluar café bertuliskan ‘La Vogoila’ yang menjadi titik awal pertemuan mereka.

 

“kau mau kemana?” pertanyaan lugu itu terlontar manis dari bibir mungil gadis itu, ia segera ikut beranjak dari duduknya dan segera berlari berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah panjang-panjang pria didepannya yang sudah pergi menjauhinya “yhaa, bisakah kau berjalan tidak terlalu cepat seperti itu? Aku lelah” gadis itu mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah, namun ia masih berusaha untuk menyeimbangkan langkah kaki mereka.

 

“jika kau lelah, berhentilah mengikutiku” cetus pria itu dengan nada dingin, ia masih berusaha mengayunkan langkahnya dengan cepat agar gadis itu menyerah dan berhenti untuk mengikutinya.

 

“aku hanya diberi waktu sehari saja untuk bersamamu” jawab gadis itu masih dengan nafas yang terengah, sekarang ia lebih memilih untuk menghentikan langkahnya sebentar untuk mengatur kembali nafasnya.

 

“aishhh, seharusnya kau tak perlu mengarang cerita tidak masuk akal seperti itu sejak awal” mendadak pria itu ikut menghentikan langkahnya, dengan cepat ia membalikkan badannya dan menatap tajam gadis yang telah tertinggal beberapa langkah dibelakangnya.

 

Namun setajam apapun tatapan mata itu, dan sedingin apapun sikap pria dihadapannya namun hal itu seolah tak sedikitpun menyurutkan niat sang gadis, gadis itu hanya tersenyum polos memandang lurus-lurus pria didepannya.

 

Berulang kali pria itu kembali menarik panjang nafasnya dan menghembuskannya cepat, mencoba untuk tetap mempertahankan emosinya yang bisa saja meledak dihadapan gadis yang menurutnya tidak waras dihadapannya saat ini.

 

“aku sungguh-sungguh” pekik gadis itu cepat sebelum pria itu kembali melontarkan pertanyaan yang sempat tertahan diujung lidahnya.

 

“baiklah, katakan satu hal apa yang bisa membuatku untuk mempercayai perkataanmu” pria itu masih berusaha untuk mencari alasan apa yang bisa membuatnya untuk mempercayai segala perkataan yang gadis itu lontarkan.

 

Gadis itu terdiam sejenak, wajahnya terlihat sedang berfikir. Diam-diam pria itu memperhatikan gadis didepannya.  Gadis dengan gaun putih selututnya yang membingkai manis postur tubuhnya yang mungil, mata coklatnya yang sendu, bibir mungilnya, hidung yang mancung, rahangnya yang tirus, dan rambut panjang bergelombangnya yang ia biarkan tergerai tertiup angin  yang membingkai wajah manisnya. Cantik? Tentu saja, bahkan kata cantik pun tak mampu mewakili sosok sempurna yang saat ini berdiri dihadapannya, walaupun dengan jarak beberapa meter yang menghambatnya untuk melihat dengan jelas sosok gadis bermata Aquamarine itu.

 

Gadis itu terdiam sebentar, menimbang nimbang apa yang bisa ia ucapkan untuk mengumpulkan fakta-fakta yang sekiranya cukup untuk meyakinkan pria dihadapannya itu  yang kini masih menatapnya dengan pandangan menuntut, menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir gadis itu “entahlah, sulit untukku membuktikan jika aku ini benar-benar sebuah visualisasi nyata dari pelangi, tapi yang pasti aku sudah membuktikan satu hal, kau bisa lihat diatas sana?” gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap lazuardi langit yang tersenyum setelah hujan mulai mereda.

 

“Ada sebuah warna awal pelangi, dan itu adalah merah. Merah dalam pelangi merupakan lambang keberanian dan cinta yang membara. Aku sudah menunjukkan keberanianku untuk hadir dihadapanmu saat ini, menentang segala ketentuan hukum langit hanya untuk bisa bertemu denganmu dan itulah buktinya” gadis itu kembali menghadapkan pandangannya, menatap lurus-lurus wajah pria itu yang kini juga ikut mendongakkan kepalanya, menatap sebuah objek yang gadis itu maksudkan.

 

Pria itu memperhatikan objek diatasnya lekat-lekat, matanya sedikit menyipit akibat terpaan cahaya sang mentari yang mulai kembali menampakkan cahayanya. Benar. Diatas sana ada sebuah lengkungan spektrum berwarna merah yang menghiasi langit.

 

Pria itu masih sibuk dengan fikirannya saat ini, namun selang beberapa detik kemudian ia segera menggelengkan kepalanya cepat, menolak berbagai spekulasi yang bermunculan di otaknya. Bisa saja kan itu hanya sebuah warna yang tercipta karena adanya pembiasan cahaya pantulan warna dari matahari. Dan itu hanya sebuah warna merah yang tentunya belum bisa dikatakan sebagai pelangi jika belum memiliki tujuh warna.

 

Tersadar dengan fikiran konyol untuk mempercayai gadis itu, kini pria itu kembali mengalihkan pandangannya menatap gadis yang masih berdiri beberapa meter dihadapannya “kau mencintaiku? Benarkah? Bahkan kita baru pertama kali ini bertemu, aku tidak sebaik yang kau kira aggashi” Tanya pria itu mencoba mematahkan pemikiran tentang apa yang dirasakan gadis itu.

 

Sekali lagi gadis itu mengulas senyum penuh artinya, dapat terlihat dengan jelas lesung pipi dikedua pipinya putih pualamnya, membuat senyuman itu terlihat berkali-kali lebih cantik dari yang pernah pria itu lihat sebelumnya “Aku selalu memperhatikanmu dari atas sana, aku mengenalmu sudah sangat lama, bahkan sebelum kau seterkenal seperti sekarang ini, sebelum kau menjadi salah satu anggota boyband Super Junior yang banyak digilai gadis-gadis. Dan aku mengetahui segala hal tetangmu dengan pasti, bahkan para fans fanatik ataupun orang-orang terdekatmu yang belum mengetahuinya sekalipun aku sudah tau” jawabnya mantap.

 

Dengan langkah pelan, gadis itu mulai berjalan kedepan, mencoba untuk memangkas jarak yang menghalangi diantara mereka, pria itu masih bergeming ditempatnya dengan pandangan terkejutnya, menunggu apa yang akan gadis itu kembali katakan.

 

“Kau bernama Lee Sung Min, seorang member Super Junior yang bagi semua orang tau bahwa kau menyukai warna pink, aku tau awalnya kau hanya terpaksa untuk menyukai warna feminime seperti itu, tapi lama-lama kau akhirnya terbiasa dengan warna itu hanya untuk tuntutan dari agensimu saja, tapi sekarang aku tau kau sangat menyukai warna itu karena warna itu adalah warna keberuntungan untukmu”

 

“aku tau kau pernah menangis ketakutan sendirian saat mengingat bagaimana kau harus dipaksa untuk menampakkan wajah ceria saat bermain Roller Coaster saat pembuatan video Super Show berlangsung”

 

“aku juga tau kalau kau pernah menyatakan perasaanmu pada partner kerjamu di acara WGM saat itu, dan kau hanya bisa tersenyum kecewa saat gadis itu mengira kau hanya bercanda. Aku bisa menyebutkannya lebih banyak jika kau mau,” gadis itu mengakhiri penjelasannya dengan senyum manisnya. Entah sejak kapan sekarang gadis itu kini telah berdiri tepat beberapa centi dihadapan Sung Min yang masih terpaku dengan wajah syoknya mendengar penjelasan panjang lebar gadis itu yang membuatnya tidak menyadari sedikitpun bahwa gadis itu kini tengah berdiri dihadapannya.

 

Melihat betapa fasihnya gadis itu mengatakan hal-hal yang belum pernah diketahui oleh siapapun termasuk keluarga maupun teman-teman terdekatnya membuat Sung Min terperangah heran, kentara sekali dengan wajahnya yang saat ini terlihat frustasi. Gadis ini, bagaimana ia bisa mengetahui semua hal itu? Hanya itu yang sekarang ada dalam fikirannya saat ini.

 

“Sung Min hyung, cepatlah naik. Kita sudah terlambat”

 

Deru suara mesin mobil dan suara seseorang yang memanggilnya membuat pria itu tersadar akan lamunannya, dengan cepat matanya mencari sumber suara, sebuah mobil van putih dengan seseorang yang melongokkan kepalanya dari dalam mobil membuat Sung Min tersadar dan segera berlari menghampiri orang yang baru saja memanggilnya dan masuk kedalam van.

 

“Dia siapa hyung?” Tanya seseorang didalam sana, dengan nada suara yang kentara sekali terlihat menggoda saat Sung Min sudah duduk dibalik kursi penumpang dan menutup pintunya kembali.

 

“dia kekasihmu eoh? Aigoo, gadis itu cantik hyung” tambah suara lainnya.

 

Sung Min hanya tersenyum kikuk mendengar pertanyaan dongsaeng-dongsaeng satu grupnya itu yang tanpa ia menolehkan kepala nya pun ia sudah tau bahwa suara-suara itu adalah milik Hyuk Jae dan Dong Hae “dia hanya seorang ELF” jawab Sung Min sekenanya.

.

.

.

.

Sudah hampir satu jam berlalu, namun Sung Min masih terlihat gusar sedari tadi, fikirannya berusaha untuk tetap tenang, namun karena suatu hal membuat itu semua tak sinkron dengan semestinya. Ia kembali mengalihkan pandangannya kearah kaca transparant yang menghubungkan ruang tempat siarannya berlangsung dengan jalanan utama yang memang selalu ramai oleh para pejalan kaki yang melintas tepat disebelahnya, memandang tetesan ribuan air yang kembali turun dari langit setelah sebelumnya hujan sempat mereda beberapa saat dengan tatapan kosong. Berulang kali ia melakukan hal serupa membuat konsentrasi siarannya buyar begitu saja, berulang kali pula partner DJ siarannya di Sukira, Ryeowook sang dongsaeng hanya berceloteh sendiri agar acara masih tetap berlangsung sebagaimana mestinya.

 

Fikirannya saat ini hanya terfokuskan pada sebuah siluet yang berdiri diluar jendela, membiarkan tubuh mungilnya itu diguyur oleh ribuan tetes air dari atas sana, saat orang-orang lainnya sibuk mencari tempat berteduh ataupun sibuk dengan payung beraneka warna mereka, gadis itu hanya berdiri ditengah hujan, membiarkan tubuhnya basah, seolah ia berteman baik dengan tetesan-tetesan air di atas sana.

 

Seorang gadis yang tiba-tiba mendatanginya, dan menyatakan cinta padanya mungkin adalah hal yang sering ia temui mengingat ia adalah lelaki tampan yang baik hati yang hampir dipuja gadis-gadis se antero Seoul bahkan diseluruh belahan dunia, yang orang-orang mengenalnya dari sebuah boygrup tersohor Super Junior. Namun baru kali ini ada seorang gadis yang menurutnya memiliki sesuatu yang sulit ia deskripsikan saat matanya menatap gadis itu lekat-lekat, saat suara merdu itu menggaung ditelinganya. Entahlah seperti sebuah tetes-tetes hujan yang bisa mendamaikan hatinya saat gadis itu berada dalam jarak pandangnya.

 

Saat ini Sung Min merasa akal sehatnya entah hilang kemana, ia segera beranjak dari duduknya dan berlari keluar gedung siarannya, menghiraukan teriakan-teriakan dari dongsaeng maupun dari pihak PD-nim yang menanyakan apa yang dilakukannya, yang pasti saat ini ia harus menemui gadis itu, gadis yang beberapa jam lalu ditemuinya di sebuah café itu seolah membuatnya hilang akal sehat untuk sekarang ini.

 

Sung Min masih terus berlari, melewati desakan para fansnya yang memang sering untuk menemaninya siaran, kembali menghiraukan teriakan kagum mereka saat seorang Lee Sung Min begitu saja melewatinya, ia terus berlari melewati jutaan tetes-tetes air hujan yang mencoba menghalanginya. Dengan cepat ia menarik lengan gadis yang menjadi alasannya berlari untuk tiba sampai ditempat ini, membawanya untuk mencari tempat yang lebih baik yang tentunya menghindari mereka dari terpaan lemparan tetesan-tetesan air yang masih setia menghujani bumi maupun dari para netizen yang bisa saja akan cepat menyebarkan skandal dengan aksi nekatnya ini.

 

“untuk apa kau berdiri disana untuk menungguku? Diluar hujan sangat deras, kau bisa sakit nanti” raut wajah khawatir pria itu terlihat jelas dari wajah tampannya saat ini. Ia lalu mendudukkan pantatnya disebuah kursi bermaterial kayu tak jauh dari taman yang memang memiliki atap yang menaungi disekelilingnya sekiranya bisa membuat mereka berteduh untuk sementara.

 

Gadis yang sudah basah kuyup itu masih berdiri, memandang Sung Min lurus-lurus dengan kepala yang setengah menunduk “kau mengkhawatirkanku?” Tanya gadis itu antusias, kepalanya semakin menunduk memandang pria dihadapannya yang duduk dikursi taman sembari membersihkan hoodie yang melekat dibadannya dari sisa tetes-tetes air dengan  binar mata Aquamarine-nya seolah memperlihatkan bahwa tatapan itu sangat mengharapkan agar pria itu segera mengangguk dan mengatakan ‘Ya’

 

Sung Min menghentikan kegiatannya sejenak hanya demi melihat ekspresi menggemaskan dari gadis didepannya saat ini, ia mencoba untuk menahan kekehannya melihat wajah cantik itu  sepertinya tengah mengharapkannya untuk berkata seperti apa yang gadis itu inginkan “tidak” Sung Min menggeleng sekali sebelum ia melanjukan ucapannya hanya sekedar menikmati perubahan air muka gadis itu yang berubah sendu “aku hanya tidak suka melihat ada orang yang melakukan hal kekanakan seperti itu, kau tau kau terlihat seperti anak kecil jika melakukan hal konyol seperti itu. lebih baik kau pulang. Dan jangan mengikutiku lagi”

 

“Gwaenchana. Kau tidak usah khawatir Sung Min-sshi, aku ini gadis yang kuat” gadis itu kini menepuk-nepuk dadanya sendiri, seolah terlihat tengah membanggakan dirinya sendiri.

 

Gadis itu lalu berjalan kesisi sebelah kanan Sung Min, memilih untuk mengistirahatkan kakinya yang terasa kram setelah berdiri berjam-jam untuk menunggu pria itu menyelesaikan pekerjaannya, ia mendongakkan kepalanya, memandang langit diatas sana yang masih menyisakan rintik-rintik hujan, sepertinya hujan akan kembali segera reda “Kau tau makna warna jingga dalam pelangi itu Sung Min-sshi?” gadis itu terdiam sebentar hanya sekedar untuk mengulas senyum manis dibibir mungilnya  “Jingga itu merupakan lambang kekuatan cinta”

 

“Cintaku  padamu yang membuatku agar tetap kuat, dan seharian ini aku menantikanmu ditengah guyuran hujan deras, aku masih tetap kuat untuk tetap mempertahankan hatiku agar tidak mudah terseret begitu saja oleh ribuan tetas air itu” seru gadis itu riang, ia mengalihkan pandangannya menatap pria disebelahnya yang juga memperhatikannya. Senyum manis tak pernah luput dari wajah cantiknya, sepertinya tak ada lelahnya gadis itu tersenyum hari ini.

 

Sung Min segera mengalihkan wajahnya dari tatapan gadis itu yang kini masih memperhatikannya dengan tatapan intens, mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang sekarang terlihat memerah “aish, berhentilah merayuku seperti itu, seharusnya seorang pria yang harus berkata seperti itu untuk merayu seorang gadis”

 

Gadis itu hanya terkekeh mendengar celotehan kesal Sung Min, ia tau buka kekesalan seperti yang pria itu tunjukkan sejak pertama kali mereka bertemu, tapi kali ini hanya kekesalan yang menurutnya terlihat lucu. Sung Min, pria itu sekarang terlihat malu-malu dihadapannya. hihihi.

 

Sung Min memang belum mempercayai sepenuhnya perkataan gadis itu, hanya saja tak ada salahnya untuk mengenal gadis ini seutuhnya bukan?

 

“Bajumu basah” Sung Min melirik gaun gadis itu yang kini telah sepenuhnya basah melekat sempurna dibadan langsingnya, memperlihatkan lekukan tubuh gadis itu dengan sangat nyata, membuat insting pria itu tergugah begitu saja agar melepas jaket yang ia kenakan untuk melindungi tubuh gadis itu dari dinginnya angin yang telah menyatu dengan hujan yang membuat gadis itu menggigil karenanya “sebaiknya kau ikut denganku untuk menghangatkan badan di coffee shop seberang sana” sontak Sung Min menarik pergelangan gadis itu sesaat setelah ia memakaikan jaketnya kebadan mungil gadis itu yang masih terlihat bergetar kedinginan untuk mengikutinya kesebuah coffee shop tak jauh dari gedung Sukira.

.

.

.

.

“Sung Min-sshi, gwaenchana? aku yang basah terkena hujan, kenapa hatimu yang seolah terasa dingin membeku sepeti itu huh?” suara lembut itu berhasil menarik Sung Min dari lamunannya.

 

Pria itu terlihat menghembuskan nafasnya berat, seolah membuang beban yang mendera fikirannya saat ini, Sung Min mengedarkan pandangannya keseluruh sudut café, Sepi, hanya ada 2 pasangan yang juga tengah menghangatkan tubuhnya dengan Latte pesanan mereka, ia lalu kembali menatap Latte miliknya yang telah mendingin kemudian menyesapnya perlahan. Setelah cairan coklat pekat itu mengalir ditenggorokannya Sung Min mencoba untuk kembali membuka suaranya setelah sepuluh menit berlalu diantara mereka dalam keadaan diam “entahlah, hari ini pekerjaanku tidak konsentrasi, dan itu semua karena ..”

 

“Karena kau memikirkanku?” potong gadis itu cepat sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya.

 

Sung Min menggaruk tengkuknya, salah satu kebiasaan yang sering ia lakukan saat ia merasa salah tingkah seperti sekarang ini “Aish, bukan begitu, tentu saja aku memikirkanmu hanya saja..”

 

“aku senang kau memikirkanku, tapi sebaiknya kau tersenyum, seberat apapun masalah yang kau fikirkan. Kau akan terlihat tampan dengan senyum manismu Sung Min-sshi”

 

Seketika itu juga pria itu menarik kedua sudut bibirnya, mengukir sebuah senyuman saat ia mendengar penuturan sederhana namun mampu membuat hatinya kembali menghangat. Entah apa yang membuatnya tersenyum seperti ini, yang ia tahu ia hanya ingin tersenyum saat ini. Seakan kalimat yang gadis itu ucapkan seperti sihir yang mampu menghipnotisnya untuk ikut menemani gadis itu tersenyum.

 

“Kau lihat? Sekarang warna kuning yang nampak mengiringi warna-warna sebelumnya” gadis itu mengarahkan telunjuknya keatas langit yang masih menjatuhkan tetesan-tetesan kecil air dari atas sana, beruntung posisi duduk mereka saat ini menghadap jendela besar yang menghubungkan pemandangan diluar café dengan tempat mereka menghabiskan waktu bersantai mereka saat ini “Kuning merupakan symbol keceriaan, kegembiraan, kesenangan abadi serta pembawa suasana hangat. Jika kau merasa sedih, aku juga merasakan kesedihan, kau tau? warna kuning itu muncul saat bertepatan kau tersenyum tadi”

 

Sung Min sedikit mendongakkan kepalanya, menatap semburat garis merah, jingga, dan kuning diatas sana yang ikut menghiasi panorama langit dalam lembayung sang mentari yang telah siap untuk kembali keperaduannya, perpaduan yang benar-benar cantik. Sekarang ini hanya nampak 3 macam warna, namun sudah sangat terlihat indah ditengah polarisasi sang mentari diufuk sebelah barat yang sedikit tersamar karena gerimis yang tak kunjung berhenti.

 

“siapa namamu?’ pertanyaan yang sedari tadi mengganjal dalam hati pria itu akhirnya terlontar juga setelah menarik pandangannya dari spectrum warna-warni yang menghiasi langit senja untuk menatap gadis dihadapannya yang masih mengagumi cahaya yang berpendar diatas sana.

 

“Park Chan Mi”

 

“Chan Mi?”

 

“Ne. ‘Chan’ yang berarti warna, dan ‘Mi’ yang berarti kecantikan, jika diartikan namaku menjadi kecantikan warna, seperti itulah”

 

Sung Min hanya menganggukkan kepalanya, ia sangat menyetujui kenapa gadis ini bernama Chan Mi, sesuai namanya gadis itu memang cantik dengan segala warna-warni aura yang ia rasakan jika bersama gadis ini, beraneka macam warna, seperti pelangi.

 

Sung Min, pria itu memang belum mempercayai sepenuhnya akan apa yang dikatakan Chan Mi, gadis yang ditemuinya di sebuah café La Vogoila beberapa jam yang lalu. Siapapun yang mendengar penuturan tak berdasar gadis cantik itu tentu tak akan mempercayainya begitu saja dengan mudahnya. Gadis itu mengatakan padanya kalau ia adalah pelangi? Jika kalian mendengar seperti itu apa kalian juga akan mempercayainya? Aku rasa tidak.

 

“Kenapa kau mengikutiku? Kau bisa mengikuti orang yang lebih baik daripada aku” Sung Min kembali menyesap lattenya yang tersisa setengahnya, mata foxy-nya menatap lurus-lurus manik mata Chan Mi, seolah tidak ingin melepaskan pemandangan indah bola mata berwarna Aquamarine dihadapannya saat ini.

 

“warna keempat dari pelangi adalah hijau. Hijau merupakan lambang dari sumber kehidupan, dan symbol pengharapan yang tulus. Karena itulah kau sudah seperti sumber kehidupanku” gadis itu mengarahkan pandangannya menatap orang-orang yang sibuk berlalu lalang disepanjang area taman. Kemerlip lampu yang sudah mulai dinyalakan diarea sekitar pertokoan disepanjang jalan membuat detik-detik menjelang malam menjadi semakin semarak.

 

“Aku selalu yakin bahwa kaulah sumber kehidupanku, aku akan tetap ada karena kau selalu memberikan harapan cinta yang tulus kepadaku agar aku bisa bersamamu, walaupun hanya satu hari ini saja” kali ini suara gadis itu terdengar parau diujung kalimatnya, kesan ceria yang sedari tadi ia tampilkan seolah hanya topeng penutup kegamangan hatinya selama ini.

 

“Lihat warna hijau diatas sana sudah menampakkan dirinya, menandakan bahwa hanya kaulah sumber kehidupan dalam hidupku” lanjutnya cepat, ia mencoba kembali tersenyum tak ingin terlihat begitu menyedihkan dengan rasa cinta yang ia rasakan selama ini didepan pria yang ia cintai.

 

Sung Min sedari tadi hanya diam mendengarkan tanpa berniat untuk menyela setiap apa yang gadis itu coba sampaikan, ia hanya terpaku menatap gadis dihadapanya, suara Chan Mi yang terkesan dibuat seceria itu mungkin tak mampu menutupi raut kesedihan diwajahnya. Kali ini ia membiarkan warna hijau disana ikut menghiasi langit dari atas sana tanpa berniat untuk menatap cahaya kehijauan itu ikut menyatu bersama dengan ketiga warna sebelumnya, baginya sosok gadis dihadapannya lebih menarik daripada hanya sekedar kumpulan warna seperti itu.

 

“Kenapa aku bisa menjadi sumber kehidupan untukmu? Bukankah semua warna yang dihasilkan pelangi berawal dari cahaya matahari?”

 

“Kau tau makna warna biru bukan? Aku tadi sepertinya melihat banyak fasns mu yang menunggu diluar gedung tadi itu membawa berbagai macam benda dengan didominasi oleh warna biru” Chan Mi menjawab dengan memeberikan pertanyaan balik kepada Sung Min, ia yakin pria itu pasti mengetahuinya.

 

Sung Min mengangguk “ne, warna biru kami pilih karena biru merupakan symbol dari kedamaian, kami Super Junior ingin selalu membawa kedamaian didunia ini”

 

Chan Mi mengangguk menyetujui “kau benar, biru merupakan lambang kedamaian. Semua warna yang dihasilkan pelangi memang berasal dari cahaya matahari, tapi aku bisa saja tak muncul saat terjadinya pertemuan antar tetes air dan cahaya matahari itu bertemu”

 

“kenapa bisa seperti itu?”

 

“karena aku hanya akan nampak saat hatiku terasa damai, dan hanya kaulah yang mampu mendamaikan hatiku”

 

Kini bulan dan bintang yang mengerlip centil mempunyai teman baru yang turut menghiasi langit kota Seoul malam ini. spectrum warna merah, jingga, kuning, hijau, dan sekarang biru? Spectrum warna pelangi bisa menghiasi langit pada malam hari? Apa kalian pernah melihat hal menakjubkan seperti ini sebelumnya? Sebuah keajaiban mungkin yang hanya bisa menjelaskannya dan itu ada karena adanya sebuah kedamaian hati.

 

“Lihat, bahkan pelangi masih bisa terlihat di malam hari walaupun tanpa adanya matahari, karena kau lah yang menjadi alasanku untuk masih terlihat didunia ini” jari telunjuk Chan Mi mengacung keatas, mengarah kepada objek yang melengkung membentuk lima warna diatas sana yang terlihat seperti pelangi.

 

Wowww, menakjubkan? Tentu saja. Baru kali ini Sung Min mendapati lengkungan warna-warni sehabis hujan itu diantara tirai gelapnya malam. Sebuah keajaiban cinta sepertinya.

 

“Cinta itu bukan dilihat dari betapa sempurnanya orang yang kau pilih untuk kau sukai, tapi dari kesederhanaannya itulah arti cinta yang sebenarnya menjadikan sebuah kesederhanaannya untuk menjadi sempurna” gadis itu kembali membuka suaranya, matanya masih menatap lurus keatas, tapi dari sorot matanya sepertinya ia menerawang sesuatu akan apa yang ia ceritakan.

 

“Jadi arti warna nila itu adalah kesederhanaan?” Sung Min sepertinya sudah bisa menyimpulakan sendiri akan makna dua warna yang tersisa yang belum disebutkan Chan Mi.

 

“Ne, nila merupakan lambang kesederhanaan seperti cintaku untukmu, sederhana ditengah segala hal yang membuatku terpesona oleh orang yang bahkan lebih bersinar daripadamu. Hanya sesederhana seperti itu”

 

Hening.

 

Tak ada lagi yang mencoba untuk memecah kesunyian diantara mereka sesaat setelah Chan Mi menjelaskan perihal warna keenam dari sang pelangi, keduanya terlarut dalam fikiran mereka masing-masing.

 

Chan Mi yang sibuk dengan fikiran akan apa yang terjadi setelah ini mulai diliputi oleh ketakutannya akan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi tujuan hidupnya jauh sebelum lelaki yang tengah menatapnya dengan tatapan intens dihadapannya saat ini belum terlahir kedunia. Pelangi memang tidak sesempurna manusia yang memiliki hati untuk mencintai, namun bukankan semua makhluk ciptaan Tuhan mempunyai cinta? Apa ia salah jika mencintai dan menjadikan Sung Min sebagai cinta dalam sepanjang hidupnya?

 

Sung Min berdehem sebentar, memecah atmosfir kecanggungan diantara mereka. Entah sudah berapa jam mereka menghabiskan waktu ditempat yang sama saat mereka bertandang kecafe ini, bahkan baju yang dikenakannya dan gadis itu sudah terlihat nampak mengering “warna terakhir pelangi adalah ungu, apa arti warna itu?” Tanya Sung Min. Dari ketujuh warna pelangi, semuanya sudah ia mengerti dengan jelas, dan ia masih belum mengerti dari arti warna terakhir yang menyusun kombinasi warna pelangi diatas sana.

 

“Arti warna ungu adalah kemewahan atau merasa cukup”

 

“Aku tidak perlu apapun didunia ini, cukup kau lah alasan ku untuk tetap berada dibumi ini, dengan segala kepedihanku menjadi pelangi yang tak disadari keberadaannya. Karena cintaku untukmu, aku telah merasa cukup akan segala kekurangan yang aku miliki” Chan Mi menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang tergenang dipelupuk mata cantiknya. Semua warna indah dan ceria dari sang pelangi sudah ia tampakkan untuk membuat pria itu mempercayainya, ia tak ingin menampakkan sisi gelap dari imej pelangi yang telah ia bangun selama ini, namun seperti itulah yang selama ini ia rasakan. Kepedihan sang pelangi yang memang selalu tak disadari keberadaannya.

 

“Jadi ketujuh warna pelangi itu mempunyai makna tersendiri seperti cinta, seperti itu kan?” Tanya Sung Min lagi, seolah ia tak ingin melepaskan sedikitpun sesuatu dari sang pelangi yang tidak ia mengerti. Sekarang pria itu sudah meyakini seutuhnya kalau gadis ini memang tidak sedang menipunya.

 

“Ne. tapi yang lebih penting apa kau tau akan menjadi apa jika ketujuh warna itu digabungkan?”

 

Sung Min hanya menggeleng, ia lalu menarik nafasnya panjang, menunggu apa yang gadis itu katakan.

 

“Sebenarnya warna pelangi jika digabungkan menjadi satu kesatuan akan menjadi putih”

 

“Putih?”

 

“Ne, Semuaya bermuara pada satu warna yaitu putih. Putih merupakan lambang dari kesucian. Dari semua warna yang pernah aku rasakan sebenarnya hanya ada satu warna yang mewakili hatiku, yaitu putih. Tapi berkat kau pelangi yang terlihat dari bumi menjadi lebih berwarna”

 

Sung Min terlihat ingin membuka suaranya, namun gadis itu kembali bersuara, membuat Sung Min mengurungkan niatnya hanya sekedar untuk mendengarkan perkataan gadis itu yang sepertinya belum selesai ia ucapkan “Gomawo” ucap gadis itu tulus, senyumnya kali ini kembali terkembang diwajah cantiknya.

 

“Sudah seharian ini aku berada dibumi, sebelum aku mendapat hukuman dari langit lebih baik aku pulang sekarang” Chan Mi segera beranjak dari duduknya setelah mengucapkan kata-kata perpisahan yang memang tidak diinginkannya, namun ia harus segera kembali sebelum pelangi tak bisa lagi mewarnai bumi akibat kecerobohannya sendiri, mata Aquamarinenya terlihat berkilauan saat menatap Sung Min, dalam hati ia sedikit berharap pria itu memintanya untuk tetap bertahan disisinya.

 

“Pulanglah !” Sung Min mencoba untuk mempertahankan suaranya senormal mungkin. Suaranya yang akan terdengar bergetar sedikitpun bisa membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk pulang, walau bagaimanapun pria itu mengerti bahwa mereka berada diantara tempat yang berbeda, langit dan bumi.

 

“Kenapa kau tidak mencegahku? Apa kau tidak pernah menaruh sedikitun rasa seperti yang aku rasakan kepadamu untukku?” lirih Chan Mi pelan, ia masih tetap berdiri, kali ini ia lebih memilih untuk berbalik memunggungi Sung Min, ia tak ingin air mata kepiluannya terlihat oleh lelaki itu.

 

“sepertinya ketujuh warna itu belum cukup untukmu memaknai apa arti cinta yang sesungguhnya. Kau harus menambahkan warna pink dalam kombinasi warnamu Channie”

 

Pink?

 

Gadis itu berbalik setelah menghapus gumpalan air mata dipelupuk matanya saat Sung Min mengatakan warna pink, warna yang memang benar-benar tidak ada dalam system kehidupan pelangi selama berabad-abad lamanya, dan sekarang pria itu memintanya ingin menambahkan warna favorite pria itu kedalam susunan warna pelangi? Apakah ada yang lebih konyol daripada hal ini? “Yha. Kau jangan menipuku Sung Min-sshi, aku sudah tau kau menyukai warna pink, kau tidak usah membohongiku untuk menyukai pink sepertimu juga. Pelangi hanya memiliki 7 warna dan itu sudah cukup membuatku terlihat mengagumkan”

 

Sung Min hanya bisa memberikan cengiran bocahnya saat gadis itu menatapnya kesal “Hehe, entahlah, aku tidak tau warna lainnya, hanya warna pink yang terlintas difikiranku saat ini”

 

“Tapi bagiku pink bukan hanya sebatas warna yang memang selalu terlihat cantik. Seperti warna-warna lainnya, Pink juga memiliki makna tersendiri” sambung Sung Min, kali ini wajahnya kembali terlihat serius, membuat Chan Mi terdiam untuk menyimak akan apa yang akan dikatak pria itu selanjutnya.

 

“Karena yang aku rasakan cinta itu seperti warna pink, pink yang terlihat lemah diluar namun memiliki ketegaran hati yang sangat kokoh, seperti itulah rasa yang aku rasakan untukmu, karena cinta itu pada hakikatnya adalah disaat kita merasa puas hanya dengan melihatnya tanpa bisa memilikinya seutuhnya

 

..Aku ingin memvisualisasikan warna Pink untuk mencintaimu, karena walau bagaimanapun tidak mungkin bagiku untuk menahanmu pergi, menjadikanmu hanya miliku seorang, karena kau adalah pelangi yang dicintai oleh seluruh makhluk hidup, apa jadinya nanti jika bumi tanpa adanya pelangi? Pulanglah! Aku berjanji untuk selalu mewarnai hatiku dengan warna pink dan warna-warni pelangi lainnya” Sung Min ikut beranjak dari duduknya setelah menyelesaikan penjelasannya, dan memilih untuk melangkahkan kakinya pelan agar jarak yang menghalangi mereka terpapas begitu saja dengan segala ketulusan yang baru saja ia ungkapkan kepada pelangi yang berhasil mewarnai hatinya.

 

Tangan Sung Min terulur, menyentuhkan jemari tangannya kesudut pipi Chan Mi, merasakan setiap kelembutan yang ia rasakan dari pipi gadis itu “Tapi sebaiknya kau jangan mengikuti saran konyolku untuk menambahkan warna Pink kedalam susunan spectrum warna-warni pelangi, karena seluruh dunia pasti akan digemparkan dengan warna barumu itu”

 

Sung Min tertawa kecil berharap keceriaan gadis itu kembali lagi menghiasi wajah cantiknya, dengan tangannya yang besar kemudian dengan pastinya tangannya yang melalui jari jemariya itu mulai menghapus jejak air mata yang mengalir dari pelupuk mata sendu Chan Mi, seolah rasa sakit itu kini juga ia rasakan dihatinya. Entah kenapa hatinya menjadi terasa sakit saat membiarkan orang yang disukainya pergi begitu saja, entah ini rasa cinta atau apa entahlah yang ia rasaka hatinya merasa sakit. Hitam pekat seolah seolah ikut menyelimuti atmosfir kehangatan diantara mereka.

 

“Pulanglah” suara Sung Min memang terdengar nyata dalam getaran isakannya sendiri, walaupun hatinya tidak menginginkan perpisahan disaat ia baru menyadari hatinya terarah pasti kepada Chan Mi, namun Sung Min tentu tidak akan egois, ia juga ingin mengajarkan banyak warna-warni lagi dalam hidup ini kepada orang-orang yang juga mencintai Pelangi-nya untuk mewarnai cerita cinta dalam keindahan warna yang berpendar indah diatas lembayung langit yang mulai tersenyum setelah berhenti menangis.

 

“Aku hanya ingin mencintaimu dari tempatku berpijak saat ini, akan terlalu egois bagiku untuk menahanmu disini, kau akan lebih bahagia dilangit sana, masih banyak orang lain yang ingin menikmati indahnya warna-warnimu..

 

Kelak suatu saat nanti, jika kau menemukanku sebagai cintamu dikehidupan kita selanjutnya, kau harus beritau aku warna-warna yang lebih indah yang pernah kau rasakan”

 

Dalam sekali sentak Sung Min menarik pinggang gadis itu agar mendekat kepadanya, memberikan dekapan protektifnya sebelum gadis yang membuat harinya ini begitu terasa berwarna pergi menjadi wujud nyatanya sebagai pelangi.

 

“Ne, aku berjanji”

 

Dapat Sung Min rasakan tubuh gadis itu semakin memudar dalam dekapannya, menjadi sebuah cahaya menyilaukan saat gadis dalam pelukaannya itu mengucapkan janji cinta mereka. Sebelum semuanya benar-benar berakhir, Sung Min melonggarkan pelukannya hanya untuk sekedar melihat wajah cantik itu yang entah kapan akan kembali bisa ia kagumi dari setiap sudut paras cantik gadis yang telah meraih hatinya hanya dalam hitungan beberapa detik saat ia mendapati wajah cantik itu yang selalu mengganggunya seharian ini, dengan cahaya yang semakin menyilaukan retina matanya Sung Min memajukan wajahnya sesaat setelah kelopak matanya tertutup, mempersatukan warna-warni cinta yang telah mereka pahami bersama dengan segala keindahan dan kepiluannya itu menyatu diantara kedua bibir lembut mereka yang saling menyatu, meresapi dan memberikan kekuatan satu sama lain sebelum sosok gadis itu menghilang seutuhnya dalam dekapannya.

.

.

.

.

Pelangi,

 

Kombinasi ketujuh macam warna cinta yang mengajarkan kita agar bisa lebih belajar dalam mengerti dan memahami akan makna cinta itu sebenarnya.

 

Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, dan Ungu dalam pelangi merupakan lambang akan kesempurnaan cinta yang sudah menyebarkan keceriaan warna mereka setelah membiaskan diri dari warna dasar mereka yaitu Putih.

 

Sebuah kesucian cinta memang akan selalu terasa indah jika kita menikmati warna-warni lainnya dalam cinta itu sendiri.

 

Namun dibalik semua polarisasi warna itu pelangi masih belajar untuk memaknai warna-warna lainnya dalam cinta, karena pada dasarnya cinta itu tak mesti harus memiliki warna cerah yang mampu menghangatkan siapa saja yang merasakan getarannya, masih ada warna gelap yang tentunya juga akan menghiasi rajutan dari benang-benang cinta dan kasih sayang yang tidak bisa begitu saja kita hiraukan.

 

Dan hari ini, baru saja pelangi mendapatkan satu warna baru dihidupnya.

 

Pink.

 

Sebuah makna cinta yang telah diajarkan oleh lelaki yang mampu membuat hatinya hanya tertaut dengan sepasang mata foxy itu, seorang lelaki yang mengajarkannya bahwa cinta itu pada hakikatnya adalah disaat kita merasa puas hanya dengan melihatnya tanpa bisa memilikinya seutuhnya

 

Dan pelangi harus terus belajar dalam sepanjang hidupnya sebelum sang pemilik kehidupan menakdirkan takdir hidup yang sesungguhnya untuknya kedepannya nanti setelah selesai menjalankan masa tugasnya untuk mewarnai bumi setelah hujan reda.

 

Dan jika saat itu telah tiba, ia akan kembali lagi setelah mengerti segala macam wujud spectrum warna itu sendiri untuk memaknai setiap cinta yang ia rasakan. Karena cinta itu warna-warni, memiliki jutaan rasa didalamnya.

 

Karena cinta adalah suatu hal yang bersifat absolute, tidak hanya terbatas dengan tujuh warna, namun memiliki jutaan warna yang masih harus dipelajari oleh sang pelangi.

 

END

 

Note: akhir-akhir ini mood lagi kurang baik, jadi harap maklum kalo ffnya kali ini memang selalu ngebosenin. Dan kemungkinan juga aku bakalan berenti buat menulis entah sampai kapan kedepannya nanti, atau aku memang benar-benar berenti seutuhnya : ( *EFEKGALAU. Dan para reader yang udah mau mampir aku ngucapin terima kasih banget, aku harap kita bisa bertemu diff selanjutnya jika memang hal itu memungkinkan. T.T

One thought on ““MY COLOUR ONLY JUST FOR YOU” FF Freelance

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s