“Smiley of Rainbow” FF Freelance

Author  : Nalin Lee

Tittle     : Smiley of Rainbow

Genre   : Romance? entahlah😀

Tags       : Lee SungMin and Park Chan Mi (OC)

Length  : Oneshoot

Rating   : All age

Note      : note: Eaaaaaaaaaaaaaaaa,, ff macam apa ini? Hahaha jelek. Jelek. Jelek, jelek. Ini aku bikinnya waktu fikiran aku lagi kosong, pantesan aja ceritanya jadi kosong begini. Ini juga dipaksa ngepost..huwaaa,, ff yang memalukan. Lebih baik jangan dibaca😄 you cant visit my blog mitwins.wordpress.com

 

 

Smiley of Rainbow

 

 

Semilir angin bertiup perlahan, suara lembutnya mampu membisikkan melodi-melodi cinta disetiap hembusannya. Melodi yang mampu membuat siapa saja terbang melayang menyentuh indahnya cakrawala, dan menambah setiap keindahan yang telah Tuhan ciptakan untuk setiap makhluknya.

 

“Angin bisa membuatku terbang jauh, menembus segala keindahan Tuhan dialam semesta ini, namun pernahkah angin memberi tahukan kepadaku kembali bagaimana kemilau indahnya warna-warni pelangi yang selalu menampakkan senyumnya? Aku berharap kelak suatu saat nanti angin akan kembali membawaku untuk merasakan spectrum warna-warni indah itu melebur menjadi senyuman sang pelangi diatas langit yang telah berhenti menangis”

.

.

.

Gadis itu tersenyum, merasakan semilir angin lembut menerbangkan rambut panjangnya, matanya terpejam merasakan esensi dimensi yang terasa berbeda saat angin-angin lembut itu membelai wajahnya. Sudah empat puluh lima menit semenjak langit tak lagi menjatuhkan beribu-ribu tetes air kebumi, gadis itu tak kunjung berniat membuka matanya, cahaya spectrum pelangi yang sedari tadi dinantikannya ia biarkan begitu saja, seolah membiarkan pelangi itu tersenyum kepadanya, bukan ia yang tersenyum menatap sang pelangi.

 

“aku selalu melihatmu duduk ditaman ini saat hujan mulai reda,apa kau begitu menyukai pelangi?”

 

Suara lembut seorang pria membuat gadis itu tersentak, namun tak lama kemudian ia hanya tersenyum atas pertanyaan yang beberapa saat lalu pria yang ia yakini telah duduk tepat disebelahnya itu lontarkan

 

“bukankah semua orang menyukai indahnya warna-warni pelangi?” jawabnya membenarkan yang terkesan kembali bertanya kepada orang yang baru saja bertanya padanya.

 

“Ya, aku juga merasa seperti itu, pelangi memang cantik” suara itu membenarkan argument gadis yang sedari tadi masih memejamkan matanya tanpa berniat sedikitpun untuk memandang sang pembicara “jika kau menyukai pelangi, kenapa kau membiarkan kelopak mata indahmu tertutup seperti itu?” tanyanya lagi, kali ini nada suaranya terdengar penasaran, membuat sang gadis tersenyum pahit mendengarnya.

 

Gadis itu mencoba mengubah posisi duduknya senyaman mungkin, dengan mata yang masih terpejam ia menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan, angin saat setelah hujan reda seperti ini membuatnya harus kembali merapatkan jaketnya “jikalau aku membuka mata, aku rasa itu percuma. Karena walau bagaimanapun, pelangi tak pernah dan tak akan bisa aku lihat keindahannya lagi”

 

Sang lelaki yang sedari tadi memfokuskan pandangannya menatap gadis disebelahnya itu hanya mengerutkan keningnya. Ia memilih diam, membiarkan gadis itu melanjutkan pembicaraannya.

 

“mungkin semenjak kecelakan yang merenggut penglihatanku beberapa bulan yang lalu membuatku tak bisa merasakan lagi pancaran indahnya warna-warni pelangi” lanjutnya dengan senyum manis dibibirnya, seolah hal itu adalah sesuatu yang biasa baginya, walaupun raut wajah cantiknya menampakan sedikit gurat kepedihan dan kekecewaan.

.

.

.

Adakah didunia ini yang bisa kita dinikmati keindahannya dengan mata tertutup? Masih bisakah kita melihat keindahan jika kegelapanlah yang mendominasi segalanya, merenggut segala indahnya dunia.

.

.

.

“Chan Mi~ya…”

 

Dengan nafas yang memburu pria itu memanggil nama seseorang yang sedari tadi menunggunya, sebenarnya bukan keinginan gadis itu untuk menunggunya, hanya saja duduk ditaman saat hujan mulai mereda adalah kebiasaan rutin yang ia lakukan.

 

Sudah seminggu sejak mereka bertemu dibangku taman yang menjadi saksi  awal pertemuan mereka itu kini semakin lama, hampir setiap harinya mereka menghabiskan waktu satu sama lain berdua ditaman ini, ditemani sang pelangi yang menatap mereka dengan intrik keirian didalamnya.

 

“duduklah Sung Min Oppa” Gadis yang dipanggil Chan Mi itu menepuk-nepuk area kosong disebelahnya dan tak lupa ia mengulas senyum manisnya.

 

Merasa deru nafasnya telah normal kembali setelah aksi larinya melewati beberapa blok dari apartemennya untuk menuju taman ini, pria itu menghempaskan pantatnya kebangku taman bermaterial kayu itu. Dengan senyum manisnya ia menatap Chan Mi yang duduk tepat disebelahnya, ia tau bahkan sangat mengerti bahwa bagaimanapun gadis itu tak akan melihat senyumnya, namun ia meyakini kalau gadis itu bisa merasakannya.

 

“kenapa kau tersenyum seperti itu melihatku oppa? Apa wajahku terlihat aneh?” Tanya gadis itu yang merasa sedikit terganggu dengan senyum yang diberikan pria itu kepadanya. Sudah tiga bulan semenjak kecelakaan yang membuat retinanya tak berfungsi sebagaimana seharusnya, namun gadis itu merasa lebih peka dengan keadaan disekelilingnya.

 

Pria itu semakin melebarkan senyumnya melihat Chan Mi yang terlihat menjadi salah tingkah “heii, kau bisa melihatku tersenyum? Kalau begitu, apa menurutmu aku ini tampan?” tanyanya dengan nada suara yang terdengar lucu.

 

Chan Mi yakin pria itu kini tengah bertingkah aegyo disebelahnya, ia bersyukur walaupun Tuhan telah memberikan takdir tak pernah bisa melihat warna-warni keindahan alam lagi, namun setidaknya Tuhan masih memberikan kepekaan yang lebih kepadanya agar merasakan hal-hal yang tak bisa dilihat olehnya.

 

“jika aku menganggapmu jelek mungkin selain penglihatanku yang sudah tak berfungsi lagi, kemungkinan perasaanku juga tak berfungsi lagi. Kau memang tampan oppa, makanya banyak para ELF diluar sana yang menggilaimu”

 

Sung Min tercenung mendengar penuturan gambalang yang diucapkan gadis itu, bukan karena pujian yang baru saja diterimanya, sebagai seorang public figure yang telah merambat hampir seluruh kawasan Asia bahkan dunia pun sudah sering memuji ketampanannya, tapi yang bergelayut difikirannya saat ini adalah bagaimana bisa gadis buta itu mengetahui jika ia adalah salah satu member Super Junior?

 

Well, memang pernyataan gadis itu sedikit tersirat, namun Sung Min bisa menangkap dengan jelas apa dimaksudkan gadis itu.

 

“k..k..kau tau aku member Super Junior?”

 

Gadis itu mengerutkan keningnya, ekspresi mereka berdua terlihat serupa, namun dengan kebingungan yang berbeda, menyadari atmosfir diantara mereka telah berubah canggung, sedetik kemudian Chan Mi tertawa ringan “mataku memang tak bisa meihatmu oppa, tapi hatikulah yang bisa melihatmu, bahkan sekarang aku bisa melihatmu dengan ekspresi kagum yang kau berikan padaku kan?” gadis itu memalingkan wajahnya  menghadap Sung Min.

 

Merasa diperhatikan sedalam itu Sung Min membuang wajahnya, membuat Chan Mi kembali terkekeh merasakan tingkah Sung Min yang seperti salah tingkah disebelahnya.

 

“apa kau ELF?”

 

Chan Mi menganggukkan kepalanya cepat “Ne, aku memanglah ELF, terlebih aku juga seorang vitaMIN”

 

“jika para ELF lainnya akan berteriak kagum jika bertemu denganku, Lantas kenapa selama seminggu ini kau mengenalku kau tak menampakkan tanda-tanda kau seorang fangirl? Aku mengira kau tidak mengenalku sebelumnya” rentetan kalimat itu meluncur mulus dari bibir pria itu, ekspresi penasaran semakin tercetak jelas diwajahnya saat mengetahui fakta gadis yang seminggu belakangan ini menemaninya, tempatnya berbagi cerita, dan berkeluh kesah adalah seorang ELF.

 

Bahkan saat itu Sung Min tanpa ragu menceritakan segala apa yang ia rasakan kepada gadis itu karena merasa gadis itu hanya merasakan kehadirannya, mendengarkan suaranya, tanpa pernah melihat wajahnya tampannya sekalipun. Bukan karena ia bebas menceritakan semua keluh kesahnya dengan gadis buta karena ia mengira tak mengetahui identitasnya secara gamblang terlihat, Sung Min memang mengenalkan dirinya bernama Lee Sung Min, tapi sekali lagi ia tak menyangka gadis itu ternyata lebih peka daripada yang diperkirakannya selama ini.

 

“Cahaya sang bintang memang cantik, namun aku lebih menyukai pelangi oppa, aku hanya sebatas mengaguminya dari kejauhan tanpa harus bisa merengkuh kemilau indahnya sang bintang. Bintang dan pelangi memang berada dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda, tapi pelangi dengan mata warna-warninya bisa melihat kemilau sang bintang dari kejauhan”

 

Sung Min sekali lagi terdiam, mencoba mencerna kata-kata yang teruntai manis dari bibir Chan Mi. bintang dan pelangi memang sesuatu yang berbeda. Sung Min bahkan sangat mengerti perumpamaan yang diberikan gadis itu kepadanya.

 

Bintang, seperti itulah dirinya jika divisualisasikan, dengan kemerlip cahayanya, memberikan keindahan kepada siapa saja yang memandangnya, berbeda jauh dengan sang pelangi ia tak memberikan keindahan cahanyanya kepada orang banyak, ia khusus hanya memberikan indah warnanya kepada orang-orang yang mengaguminya setelah hujan berhenti turun, tidak seperti bintang yang selalu mendapatkan perhatian dari makhuk-makhluk bumi, terkadang kehadiran pelangi tak diindahkan oleh sebagian orang setelah tetes-tetes hujan itu berhenti, orang-orang akan lebih memilih melanjutkan kegiatannya yang tertunda daripada harus menatapnya. Jika kalian sadari itulah mengapa pelangi selalu menampakan  ekspresi sedihnya saat menampakkan diri dengan dianalogikan sebagai bibir seseorang yang tengah merenggut ataupun bersedih.

 

Chan Mi tau bahwa lelaki disebelahnya masih menaruh perhatian berlebih saat menatapnya, ia kembali melanjutkan perkataannya, walaupun tak mendapatkan respon apapun dari Sung Min “besok aku akan menjalani operasi, ada yang bersedia mendonorkan retina matanya untukku, aku harap saat aku bisa melihatmu, cahayamu tak terlalu terang agar aku bisa menikmati indah cahanyamu. Aku yakin suatu saat nanti pelangi akan bisa tersenyum saat kehadirannya diharapkan oleh seseorang yang memang menyayanginya”

.

.

.

Jika sesuatu di dunia ini bisa membuat pelangi tersenyum, mungkin itulah disaat sang pelangi merasakan kebahagiaan saat orang-orang mulai menyadari kehadirannya.Namun mungkinkah sesuatu itu terjadi?

 

Mustahil memang, pelangi memang tercipta untuk mengikuti lengkukan bumi, Tapi bukankah tak ada yang mustahil didunia ini?

.

.

.

Chan Mi menunduk lesu, memainkan ujung sepatunya ditanah berbatu, tepat dibawah bangku yang didudukinya sekarang ini. Retina matanya yang kini telah berfungsi kembali semenjak operasi yang dilaluinya berhasil sempurna kini hanya menatap kerikil-kerikil mungil yang dimainkan ujung sepatunya, tak berniat sedikitpun untuk memandang objek diatasnya yang lebih indah yang memanglah sangat disukainya.

 

“tebak siapa aku?”

 

Suara lembut pria itu membuyarkan lamunan Chan Mi, dengan kedua tangan besar menutupi kedua kelopak matanya. Chan Mi mendongakkan kepalanya, kedua tangannya meraba tangan lembut itu.

 

“kau bintang yang perlahan demi perlahan seiring dengan berjalanya takdir telah membuat pelangi akhirnya bisa tersenyum seperti ini” jawab Chan Mi dengan nada ceria.

 

Sontak tangan itu perlahan melonggar dan terlepas dari kelopak mata Chan Mi. pria itu bergeming ditempatnya dan membuka mulutnya tak percaya “M..mwoo?”

 

Chan Mi bangkit dari duduknya, berjalan memutari bangku, dan berdiri tepat dihadapan Sung Min yang masih berdiri mematung ditempatnya bergeming tepat dibelakang bangku taman favorite mereka. Kakinya sedikit berjinjit dan mengecup sekilas pipi Sung Min.

 

Kecupan kilat itu membuat Sung Min yang kali ini tersadar dari lamunannya, perlahan tangannya mengelus pipi kanannya yang beruntung mendapatkan kecupan dari gadis itu.

 

“Gomawo oppa, berkat keajaiban warna-warni kehidupan yang kau berikan, aku bisa kembali merasakan semangat yang kau berikan untukku, dan sekarang aku telah bisa melihat pelangi itu telah tersenyum“ ucap Chan Mi, telunjuk mungilnya menunjuk pelangi yang memang tengah menampakkan diri disenja hari ini.

 

Entah tersenyum seperti apa yang dimaksudkan gadis itu, tapi Sung Min juga merasa pelangi yang kini ditatapnya memanglah tersenyum.

 

“kau tau oppa? kenapa pelangi tak pernah tersenyum saat kehadirannya? Karena aku tahu pelangi selalu merasakan kesedihan saat kehadirannya merasa tak diperlukan, seperti yang aku rasakan, aku merasa tak ada seorangpun yang menginginkan kehadiranku dikehidupan mereka, bahkan kekasihku pun pergi setelah aku mengalami kebutaan,

 

Tapi kau berbeda oppa, kau memang selalu menjadi bintang yang paling terang yang hadir dalam kehidupanku, melebihi cahaya sang mentari sekalipun yang bisa membuat pelangi terkadang ingin menjadi bintang yang begitu dipuja oleh makhluk-makhluk bumi. Terima kasih atas segalanya, berkat kehangatan sinarmu kini aku bisa menjadi pelangi yang selalu tersenyum, karena aku yakin pasti akan ada orang yang menghargai kehadiranku”

 

dan selain itu, kau juga memberikan warna-warni dihidupku walaupun kegelapan itu tak mau beranjak dari sisiku,namun aku yakin perlahan demi perlahan kegelapan itu akan terganti dengan warna-warni indah, begitupun dengan pelangi yang akan selalu tersenyum untuk hari ini, besok, maupun seterusnya. Selamanya untuk sang bintang”

 

 

END?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s