“I’m Not want to be Princess” FF Freelance

Author  : Nalin Lee

Tittle     : I’m Not want to be Princess

Genre   : family

Tags       : Lee SungMin, Park Chan Mi (OC), and Lee Ji Yoon (OC)

Length  : Oneshoot

Rating   : All age

Note      : kalau mau jalan-jalan ke blog aku juga boleh. jangan lupa kunjungin blog aku yah, kekkeee*numpang promosi www.mitwins.wordpress.com

 

 

I’M NOT WANT TO BE PRINCESS

 

 

“Appaaaa. Coba lihat ini” seorang gadis kecil setengah berlari menghampiri seorang namja yang dipanggilnya Appa saat namja itu memasuki pintu apartemen, bahkan ayahnya itu saja belum melepaskan sepatu kerjanya saat gadis itu memperlihatkan sesuatu ditangan mungilnya kepada ayahnya dengan ekspresi cemberutnya yang menggemaskan, pipi chubbynya yang sengaja ia kembungkan saat ia sedang kesal.

“Aigoo, puteri cantik Appa kenapa cemberut seperti ini eoh? Ada apa Yoon?” namja itu berjongkok dihadapan puteri kecilnya yang masih terlihat kesal, tangannya terulur mencubit pipi chubby itu dengan lembut.

“Eomma tidak sayang padaku Appa” gadis kecil bernama Ji Yoon itu melirik sekilas kearah eommanya yang berdiri dibelakangnya dengan tatapan yang jelas terlihat kesal diwajah imutnya “lihat Appa, aku hanya dibelikan buku cerita dongeng oleh eomma, padahal Appakan tau aku tidak suka membaca, apalagi jika cerita dongeng tentang seorang puteri dan pangerannya, padahal aku ingin membeli PSP seperti Kyuhyun Ahjussi, tapi eomma tak membelikannya untukku” gadis itu kembali merajuk sambil memperlihatkan buku dengan warna pink yang mendominasinya dan dengan judul besar Snow White disampulnya yang masih digenggamnya.

Namja itu kemudian beralih menatap wanita dengan wajah yang terlihat serupa dengan gadis kecil dihadapannya dengan tatapan bertanya, namun hanya dijawab dengan gedikan bahu dari wanita itu.

“Sudahlah Ji Yoon. Appamu lelah, sebaiknya biarkan Appa beristirahat dulu” Chan Mi, eomma dari gadis kecil itu berjalan menghampiri Ji Yoon dan suaminya dengan perlahan “Ji Yoon main sama Eomma yah” bujuk Chan Mi dengan suara lembutnya, tangannya terulur ingin menggendong Ji Yoon, namun gerakannya tak kalah gesit dari gadis kecil 3 tahun itu. Dengan sigapnya gadis kecil itu berlari menghindar dan bersembunyi dibalik punggung Ayahnya.

“Shireo! Aku tidak mau main sama Eomma” gadis kecil itu menjulurkan lidahnya kearah Chan Mi, membuat Chan Mi hanya bisa menghela nafasnya, mencoba untuk tetap mempertahankan kesabarannya. Ia kemudian kembali menarik nafasnya dalam sebelum ia kembali membujuk puteri kecilnya yang memang sedikit susah diatur.

“Eomma pelit” lanjut gadis kecil itu sebelum Chan Mi sempat mengeluarkan suaranya lagi, membuat Sung Min –sang Ayah- seketika itu juga berusaha menahan tawanya yang ingin meledak saat puteri kecilnya kini sudah bisa menunjukkan ekspresinya, membuat Chan Mi yang melihatnya semakin bertambah kesal. Ayah dan Anak sama saja!

Ini memang bukan pertama kalinya Chan Mi merasa kesal dengan puteri satu-satunya itu. Gadis kecil yang kini hampir menginjak usianya yang ke4 tahun itu memang sudah sangat sering menguji kesabarannya, 3 tahun lebih waktu yang ia habiskan untuk membesarkan gadis kecil itu dengan suaminya membuat ia bisa mengetahui perkembangan gadis kecilnya sepenuhnya.

Gadis kecil yang memiliki wajah yang mewarisi keimutan Sung Min, suaminya itu awalnya membuat Chan Mi mengira tingkah anaknya itu juga akan terlihat manis, menggemaskan ataupun aegyo seperti Appanya. Bukankah anak perempuan biasanya mengikuti gen dari ayahnya, dan ia sedikit mensyukuri fakta bahwa malaikat kecilnya memiliki wajah yang hampir serupa dengan Sung Min. imut, tentu saja Lee Ji Yoon-nya itu juga terlihat amat sangat menggemaskan.

.

Namun entah dari mana asalanya sikap menyebalkan gadis kecilnya itu membuatnya harus meminum obat sakit kepala setiap harinya, Ji Yoon nya itu tidak nakal, hanya sedikit hyperaktif. Dengan umur yang hampir menginjak 4 tahun ternyata gadis itu sudah bisa berfikir tidak seperti anak seusianya. Daya fikirnya lebih rasional.

Disaat anak-anak seusianya menyukai tontonan kartun, berbeda dengan puteri kecil-nya, Ji Yoon-nya itu justru menyukai drama kolosal seperti Jumong yang bahkan ia sendiripun akan mengantuk saat itu juga hanya dengan melihat intro pembukanya.

Disaat gadis kecil seusia Ji Yoon-nya menyukai boneka, lagi-lagi berbeda dengan Ji Yoon, gadis kecilnya itu justru menyukai Starcraft? Gadis seusia Ji Yoon menyukai permainan dengan mengusung tema peperangan seperti itu? Jika anaknya itu adalah anak lelaki, mungkin Chan Mi sedikit memakluminya, namun nyatanya Ji Yoon-nya itu adalah anak perempuan.

Awalnya Chan Mi mengira itu adalah hal yang wajar, dimasa kecilnya dulu ia juga bertingkah sedikit tomboy seperti anak laki-laki, bahkan saat itu ia juga ikut memotong cepak rambutnya. Beruntung Ji Yoon-nya itu masih mempertahankan rambut panjang tergerainya. Namun disaat gadis kecil itu mulai bisa mengucapkan celutukan-celutukan menyebalkan dari bibirnya polosnya itu, perlahan membuat Chan Mi sedikit yakin bahwa anaknya itu sudah dipengaruhi oleh seseorang.

Diawali dari drama Jumong, kemudian Starcraft dan yang membuat keyakinan Chan Mi semakin bertambah adalah dengan adanya celutukan dari ‘mulut pedasnya’ itu, siapa lagi kalau bukan Kyuhyun yang mengajarkan hal-hal seperti itu kepada anaknya?

Kyuhyun memang sering hanya untuk sekedar berkunjung ke apartemen mereka disaat jadwal mereka sedang free, bukan hanya Kyuhyun tentu saja, ada oppadeul yang lain juga yang ikut berkunjung, hanya saja intensitas kedatangan Kyuhyun lebih sering daripada oppadeul yang lainnya. Ditambah sedikit fakta yang membuatnya semakin yakin adalah saat Kyuhyun dan Ji Yoon sering bermain bersama bahkan melupakan Sung Min sebagai Appa-nya saat sudah bertemu dengan Kyuhyun.

“Oppa, berhenti menertawaiku. Aishh. Kalian sama saja! Sudahlah. Lebih baik eomma tidur” kali ini Chan Mi lah yang berbalik melakukan aksi ngambeknya. Masa bodoh ia terlihat seperti anak kecil dihadapan anaknya sendiri, yang jelas ia sedang kesal saat ini.

Chan Mi berjalan cepat sembari menghentakkan kakinya berulang kali kelantai, meninggalkan serta menghiraukan Sung Min dan Ji Yoon yang saat ini entah menatapnya dengan tatapan seperti apa. Yang jelas ia hanya ingin segera menjauh dari sana secepatnya. Memarahi Ji Yoon tentunya tak akan berhasil. Ia tak suka jika harus memarahi malaikat kecilnya itu, lebih baik ia yang mengalah.

“Eomma” suara kecil Ji Yoon yang mencoba untuk memanggilnya tak ia gubris sedikitpun, Chan Mi semakin mempercepat langkahnya dan segera menutup pintu kamarnya pelan. Tentu saja ia tak mungkin membanting pintu itu dihadapan anaknya hanya untuk masalah sepele seperti ini kan? Ia sangat ingat tentang status ibu dari seorang anak yang disandangnya dan tentu saja ia harus bisa menjaga sikapnya dihadapan puterinya.

“kau seharusnya tidak seperti itu sayang” Sung Min memutar tubuhnya menghadap Ji Yoon yang masih bersembunyi dibalik punggungnya “kau seharusnya harus bisa lebih sopan terhadap eommamu” Sung Min mengelus lembut pipi chubby puterinya.

“Mian Appa, aku tak bermaksud seperti itu” Gadis kecil itu kemudian menundukkan kepalanya dalam-dalam “aku hanya tak suka eomma membelikanku Buku dongeng ini. Appa tau kan kalau aku tak suka cerita tentang puteri dan pangerannya yang terlalu berlebihan seperti itu”

Suara lirih penuh penyesalan itu membuat Sung Min tersenyum tipis. Puteri kecilnya sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, dan gadis kecilnya itu sudah bisa mengakui kesalahannya sendiri. Disaat gadis seusianya bersikap egois jika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, berbeda dengan anaknya, Ji Yoon malah menyesal telah membuat eommanya kecewa dengan sikapnya.

“Mian Appa. Aku membuat Eomma kecewa” dari suaranya yang kini terdengar bergetar Sung Min yakin gadis kecilnya itu tengah menangis. Satu lagi fakta yang membuat Sung Min yakin bahwa gadis kecil dihadapnya yang tengah menyembunyikan wajahnya itu adalah percampuran dari gen mereka berdua. Dari fisik mungkin orang sudah bisa mengenali bahwa Ji Yoon adalah puterinya, namun jika diperhatikan lebih lanjut, sikap keras kepala dan sedikit menyebalkan yang sebenarnya hanyalah sosok yang mudah menangis itu mewarisi sikap eommanya, membuatnya merasa yakin bahwa gadis itu adalah sebuah jelmaan dari diri mereka yang telah menyatu.

“Eomma tidak akan marah padamu sayang. Eomma hanya ingin beristirhat” Sung Min mencoba untuk menenangkan puterinya. Dengan badan tegapnya Sung Min menarik Ji Yoon kedalam dekapan hangatnya, tangannya sesekali mengelus rambut panjang Ji Yoon dengan lembut. Membiarkan gadis kecilnya itu sesegukan didekapannya. Sung Min bahkan sangat mengetahui Gadis kecilnya itu memang tidak suka jika terlihat rapuh seperti ini dihadapan orang lain sekalipun itu Appanya, oleh sebab itulah Ji Yoon sekuat tenaga menyembunyikan isakannya. Benar-benar terlihat seperti istrinya.

“sudahlah, kau tidak usah menangis Yoon” lagi-lagi Sung Min mengelus lembut rambut Ji Yoon, mencoba untuk membuat puterinya itu senyaman mungkin berada didekapannya.

“aku tidak menangis Appa” potong Ji Yoon itu cepat, membuat Sung Min lagi-lagi terkekeh pelan mendengar penolakan gadis kecilnya itu, ia sedikit melonggarkan pelukannya hanya untuk sekedar melihat wajah cantik puterinya.

“sudahlah, kau tak perlu terlihat tegar dihadapan Appa, jika kau ingin menangis, menangislah” jemari Sung Min terulur menyentuh pipi Ji Yoon yang masih tertinggal sisa jejak air mata disana.

“Appa, apa pangeran itu benar-benar ada?” pertanyaan itu sontak membuat Sung min mengernyitkan dahinya, tangannya terhenti diudara saat mendengar gadis itu melontarkan pertanyaannya. Hanya sebuah pertanyaaan seorang gadis kecil yang sebenarnya terdengar wajar, namun pertanyaan itu sedikit terdengar kurang wajar saat pertanyaan itu ditanyakan oleh puterinya yang bahkan tak menyukai cerita dongeng semenjak ia kecil.

“Appa, Apa pangeran itu benar-benar ada didunia nyata?” merasa tak mendapat respon dari Appanya gadis itu kembali mengulang pertanyaannya, kali ini Sung Min sudah bisa menguasai keterkejutannya, ia mengulas senyumnya dan tangannya kembali terulur menyusuri pipi chubby itu dengan jemarinya.

“tentu saja. Pangeran itu benar-benar ada” Sung Min kemudian menggendong Ji Yoon dengan sebelah tangannya dan berdiri secara perlahan setelah menyelesaikan ucapannya “Pangeran itu memang ada di dunia nyata” lanjut Sung Min seraya berjalan menyusuri ruang tengah menuju dapurnya.

“kenapa Appa bisa yakin bahwa pangeran itu ada? Apa Appa pernah melihatnya?” tanya Ji Yoon lagi dengan wajah yang terlihat antusias, ia mengalungkan lengannya dileher Sung Min, membuat tubuhnya bisa senyaman mungkin dalam gendongan Sung Min, mata bulatnya menatap Sung Min dengan tatapan keinginan tahuannya yang sangat mendalam.

“kau tau seperti apa pangeran itu sebenarnya?” Tanya Sung Min sembari mengambil apel dari dalam kulkas, menggigitnya pelan sebelum melanjutkan ucapannya “pangeran itu adalah seseorang pria yang bisa diandalkan oleh orang-orang terdekatnya”

“apa pangeran itu memang benar-benar tampan?” potong Ji Yoon sebelum Sung Min sempat melanjutkan ceritanya “tentu saja pangeran itu tampan. Ketampanan seorang pangeran itu terlihat jika ia memiliki hati yang tulus untuk mencintai orang-orang disekelilingnya.”

“Apakah seorang puteri akan mendapatkan pangeran dan hanya selalu mencintai pangerannya?”

Sung Min kembali terkekeh saat mendapati puterinya tak sedikitpun untuk membiarkannya hanya untuk meneguk sekaleng kola ditangannya, pertanyaan beruntun itu membuatnya sedikit bingung “Tidak”

“kenapa bisa begitu Appa? Bukankah Cinderella, Snow White, dan Belle yang diceritakan dalam buku dongeng selalu hidup bahagia hanya dengan pangeran mereka masing-masing” ekspresi Ji Yoon yang terlihat bingung itu semakin membuat Sung Min merasa bahwa dia telah menjadi sosok ayah sebenarnya.

Belum pernah terbayang sedikitpun saat ini yang lebih membahagiakan dari status ayah yang kini disandangnya. Dalam 27 tahun lamanya ia mengarungi fase kehidupan, fase inilah yang membuatnya merasa sangat berarti, menjadi sosok ayah yang bisa mengajarkan anak-anaknya tentang kehidupan. Menjadi ayah yang bisa diandalkan untuk selalu melindungi anak-anaknya. Memiliki satu Ji Yoon saja membuatnya bisa sebahagia ini. Bagaimana jika nantinya ia bisa menimang adik Ji Yoon mungkin akan lebih membahagiakan untuk Sung Min.

“Appaaa” cubitan kecil tangan Ji Yoon dipipinya membuat Sung Min kembali tersadar dari imajinasinya akan sosok ‘Adik Ji Yoon’ yang entah kapan akan hadir ditengah-tengah kebahagian keluarga kecilnya, yang jelas ia harus lebih giat berusaha untuk membuatkan Ji Yoon seorang adik.

“seorang puteri memang pada dasarnya hanya mencintai seorang pangeran. Tapi ada orang yang harus lebih dicintai oleh seorang puteri” Sung Min kembali menjelaskan, ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dengan buah apel ditangan satunya yang terlihat bebas.

“siapa Appa?” Ji Yoon bertanya setelah ia selesai menguap, mata bulatnya terlihat mengantuk, namun dari nada suaranya gadis kecil itu terlihat masih sangat antusias dengan cerita Appanya.

Sung Min masih terus melangkahkan kakinya menyusuri ruang tengah dan sedikit berbelok kearah kanan, menuju sebuah pintu bercat putih didekatnya. Sung Min melirik Ji Yoon melalui ekor matanya, gadis kecilnya itu sepertinya sudah mengantuk “Raja dan Ratu. Seorang puteri cantik kerajaan DextruLv bahkan rela meninggalkan pangeran tampan berkuda putihnya hanya untuk merawat kedua orang tuanya yang sedang sakit”

“kau ingin menjadi seorang puteri Yoon?” lanjut Sung Min dengan sebuah pertanyaan yang sempat terlintas difikrannya saat pintu itu dengan susah payah akhirnya terbuka, ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan minimalis yang dihiasi boneka Panda dan Sapi itu. Kamar puterinya itu memang selalu terlihat bersih dan rapi, dengan warna hitam dan putih yang lebih mendominasi didalamnya.

Ji Yoon menggeleng cepat “Shireo! Seorang puteri pasti hanya akan selalu disiksa oleh ibu tirinya”

“Cinderella, Belle, bahkan Snow White selalu mendapatkan siksaan dari ibu tirinya sebelum ia bertemu dengan pangerannya” lanjut Ji Yoon seraya menggeliatkan badannya digendongan Sung Min.

Merasa mengerti dengan gesture yang diberikann Ji Yoon, Sung Min segera mempercepat langkahnya menuju kearah ranjang Ji Yoon, dengan hati-hati Sung Min menurunkan badan mungil Ji Yoon diatas kasurnya “tapi kau puteri yng berbeda”

“aku berbeda Appa?”

Sung Min mengangguk cepat “kau puteri yang mempunyai ibu yang sangat menyangangimu” tangan Sung Min mengelus puncak kepala puterinya dengan sayang sebelum ia mendaratkan kecupan selamat malamnya kepada Ji Yoon dan segera menarik selimut bermotif Sapi imut itu untuk membalut tubuh mungil puterinya.

Raut wajah Ji Yoon berubah drastis saat mendengar pernyataan ayahnya, ia terdiam sejenak tentang apa yang baru saja diperbuatnya sehingga eommanya mendiamkannya seperti ini. Ia tau eommanya tidak marah, hanya saja ada sedikit rasa penyesalan yang terbersit saat melihat raut wajah eommanya yang terlihat kecewa saat Ji Yoon menyatakan ketidak sukaannya terhadap hadiah yang baru saja eommanya belikan saat mereka berjalan-jalan di daerah Myeong Dong tadi siang.

Eommanya membelikannya sebuah buku cerita dongeng dengan bergambar snow white sebagai cover depannya, puteri salju itu terlihat cantik dengan gaun yang terlihat berbeda dari biasanya, gambar puteri salju yang menghiasi halaman depan buku dongeng yang diberikan eommanya jauh lebih cantik dari puteri salju milik teman-temannya, dengan gaun putih panjang hampir sebatas betis puteri salju itu membuatnya terlihat lebih elegan. Tentu saja semua gadis yang mengenakan gaun pengantin akan terlihat jauh lebih cantik dari pada gaun-gaun mahal lainnya sekalipun, begitupun juga dengan puteri salju yang menghiasi cover depan buku dongengnya yang masih berada digenggamannya.

“Ahh, eomma” gadis itu kembali tertunduk lesu saat mengingat eommanya, ia bahkan melupakan PSP yang diminatinya saat melihat PSP seri terbaru terpampang dietalase pertokoan siang tadi itu terlupakan begitu saja.

Senyum Sung Min terekembang saat melihat raut wajah gadis itu menampakkan penyesalannya. Puterinya memang sedikit berbeda, bahkan gadis seusianya yang biasanya akan lebih egois, berbeda dengan Ji Yoon yang justru terlihat lebih dewasa  jika dibandingkan dengan istrinya sendiri yang terkadang lebih bersifat kekanak-kanakkan “ayo kita datangi eomma, dan minta maaflah padanya” Sung Min menawarkan pada Ji Yoon.

Tak berapa lama raut gadis itu kembali berubah, wajah menggemaskannya kembali terlihat lebih ceria, wajah murung Ji Yoon membuat Sung Min tak tega jika gadis kecilnya itu tidur dalam penyesalan. Gadis itu mengangguk cepat “baiklah, sebelum Appa pinta pun aku sudah akan minta maaf” sahut gadis itu dengan cepat, ia segera menyibak selimutnya dan dengan lompatan kecil ia segera turun dari ranjangnya.

Dengan langkah yang sedikit terburu gadis kecil Itu berlari cepat kekamar Eommanya, kamar yang hanya berjarak beberapa meter dari kamarnya itu tak perlu membuang waktunya. Diiringi dengan Sung Min dibelakanngnya yang hanya tersenyum penuh makna melihat puterinya. Inilah nikmatnya menjadi seorang ayah, kau bisa melihat hasil darah dagingmu sendiri tumbuh dewasa. Terkadang Sung Min menerapkan dalam hidupnya bagaimana cara menjadi ayah yang baik dengan selalu berada di sisi Ji Yoon dalam keadaan apapun, ia tak ingin meninggalkan tumbuh kembang Ji Yoon begitu saja, sekalipun jadwal-jadwalnya di Super Junior yang terlalu banyak menguras tenaganya, ia akan merasa semangatnya kembali lagi jika melihat puteri kecilnya selalu menyambut kepulangannya dengan segala tingkah menggemaskannya.

Ji Yoon melompat-lompat kecil untuk meraih gagang pintu yang memang lebih tinnggi dari badan mungilnya “Appa kau tak mau membantuku?” gadis itu berbalik dan menatap Sung Min yang berdiri dibelakangnya dengan kesal. Bagaimana tidak kesal jika sedari tadi Appanya hanya berdiri dibelakangnya yang terus memperhatikan dirinya kerepotan saat membuka pintu tanpa berniat membantunya sedikitpun.

Sung Min terkekeh pelan, dan mengacak rambut Ji Yoon sekilas sebelum membuka pintu kamarnya, tentu saja tidak terkunci. Sung Min ingat betul Chan Mi tak akan mengunci pintunya semarah apapun dirinya “kenapa Yoon tidak mau digendong Appa?” Tanya Sung Min sebeum ia mendorong pintu itu untuk terbuka sepenuhnya.

“Aku sudah besar Appa” tanpa banyak bicara lagi, Ji Yoon segera mendorong pintu dan menghambur menghampiri eommanya yang terlihat sibuk dengan berkas-berkas diatas meja kerjanya. Earphone yang terpasang dikedua telinganya membuatnya tak sadar akan kehadiran Ji Yoon dan suaminya di kamarnnya.

“Eommaaa” Ji Yoon memanggil eommanya dengan ragu.

Untuk beberapa detik tak ada jawaban dari sosok yang masih sibuk mengetik beberapa lembar berkas pekerjaannya yang sempat tertunda dikantornya tadi siang di laptop Apple kuning miliknya.

Merasa tak mendapat respon Ji Yoon semakin beringsut mendekati Chan Mi dan menarik-narik ujung lengan piyama yang Chan Mi kenakan.

“Ah, Yoon, kau disini?” Chan Mi segera melepas earphone ditelinganya dan segera mengangkat Ji Yoon untuk duduk dipangkuannya saat menyadari sosok gadis kecilnya itu berdiri dengan wajah menggemaskan dan tatapan berbinarnya saat menatapnya, mengabaikan sejenak laptopnya yang masih menyala untuk memperhatikan Ji Yoon sepertinya tidak salah.

“Eomma, Ji Yoon mau minta maaf sama eomma” Ji Yoon menundukkan kepalanya dalam-dalam saat mengucapkan penyesalan, kentara sekali dari nada suaranya dapat Chan Mi tangkap jika gadis kecilnya itu tengah merasa bersalah padanya “Eomma, aku..”

Sebelum Ji Yoon melanjutkan kata-katanya yang terdengar bergetar, Chan Mi segera menarik tubuh mungil Ji Yoon kedalam pelukannya, mendekapnya hangat, membiarkan bahu itu sedikit bergetar. Chan Mi dapat tersenyum lega, dalam hati ia sedikit menyesal jika telah melakukan tingkah kekanak-kanakkan seperti itu didepan Ji Yoon “Eomma tidak marah pada Yoon, eomma hanya tidak suka jika Yoon bertingkah tidak sopan seperti itu. Itu tidak baik sayang. Bagaimana nanti jika ada seorang namja yang mendengarnya? Mana ada namja yang menyukai gadis seperti itu” tangan Chan Mi mengelus lembut rambut panjang Ji Yoon, matanya menerawang jauh mengingat sekarang gadis kecilnya tu sudah menjadi dewasa, dan sepertinya ada banyak hal lagi yang harus ia ajarkan pada gadis kecilnya.

“tentu saja ada” Sung Min yang sedari tadi terdiam diambang pintu memperhatikan istri dan anaknya yang larut dalam harmonisasi yang manis itu kini mencoba untuk membuka suaranya, membuat Chan Mi dan Ji Yoon menoleh kearah Sung Min yang secara bersamaan yang sedang melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua.

“siapa Appa?” Ji Yoon sedikit melonggarkan pelukannya ditubuh Chan Mi, kepanyanya sedikit mendongak menatap Appanya yang tengah berdiri dengan memamerkan senyum lebar tepat dihadapannya.

“Lee Sung Min. Appa-mu yang tertampan ini akan selalu mencintai Lee Ji Yoon. Tak boleh ada seorang namja pun yang menyukai Yoon selain Appa” jawab Sung Min dengan nada menggodanya seraya sedikit membungkukkan badannya untuk menatap lurus-lurus wajah Ji Yoon yang kini terlihat mendengus tidak suka saat mendengar penuturan Sung Min, membuat Sung Min dan Chan Mi yang melihat tingkah menggemaskan Yoon terkekeh melihatnya.

“aku tidak suka namja cantik seperti Appa, aku lebih menyukai namja seperti Dong Hae Ahjussi yang jauh lebih tampan dari Appa” Ji Yoon mencibir kearah Appanya yang kini membut tawa Sung Min terhenti saat itu juga, tapi berbeda dengan Chan Mi, istrinya itu justru tertawa semakin lebar saat mendengar celotehan Ji Yoon yang terdengar amat sangat polos.

Sung Min mengegakkan badannya, ia berdecak sebal memandang kedua wanita yang kini tengah berhigh five ria melihatnya yang menjadi objek tertawaan kali ini. Sung Min mendengus kesal dan segera menjauh dari sana sebeum diledek lebih lanjut, ia menghempaskan tubuhnya keranjang kamarnya dan menghela nafas pasrah. Bahkan anaknya sendiri pun menganggapnya ‘cantik’. Ji Yoon tak menghargai usahanya sedikitpun tentang kerja kerasnya saat ‘membuat’ Ji Yoon bisa terlahir kedunia ini, dan sepertinya itu cukup untuk membuktikan kejantanannya, apakah harus ada Ji Yoon lainnya untuk membuktikannya?

“Eomma, gomawo buat buku dongeng yang eomma belikan” Ji Yoon mengacungkan tangannya yang masih memegang buku dongeng miliknya, memperlihatkan buku pemberian eommanya dengan antusias “aku ingin menjadi seperti puteri dalam cerita dongeng ini eomma” lanjut Ji Yoon

Chan Mi ikut tersenyum melihat keceriaan Ji Yoon yang telah kembali. Ji Yoon nya itu memanglah mewarisi percampuran darahnya yang bergolongan B, dan Sung Min yang bergolongan A. dan Ji Yoon memang memiliki golongan darah AB yang tentu saja membuat kelakuannya membuat sedikit terihat berbeda. 4 Dimensi, mungkin bisa dikatakan demikian

“kenapa Yoon ingin menjadi seorang puteri?”

“aku kan cantik eomma” jawab Ji Yoon cepat dan dibalas Chan Mi dengan mengangguk mengiyakan.

“aku juga baik hati” Chan Mi terlihat sedikit ragu untuk mengangguk mendenagar penuturan Ji Yoon, namun akhirnya dengan sedikit terpaksa Chan Mi mengangguk juga. satu lagi fakta tentang Ji Yoon-nya, gadis kecil itu juga ternyata amat sangat percaya diri. Ckckck.

“walaupun dalam cerita dongeng, sang puteri adalah seorang gadis yang selalu disiksa ibu tirinya, tapi Appa bilang aku puteri yang sangat beruntung karena memiliki eomma yang menyayangiku, benarkan Appa?” suara Ji Yoon sedikit dinaikkan agar Appanya yang sibuk menatap langit-langit kamar dengan masih mempertahankan posisi berbaringnya itu bisa mendengarnya seraya menolehkan kepalanya menatap Appa-nya. Sung Min yang mendengarnya hanya berdehem pelan menanggapi ucapan Ji Yoon.

“banyak teman sekelasku yang ingin menjadi puteri dalam cerita negeri dongeng karena memiliki pangeran yang mencintainya, tapi aku merasa lebih bahagia dengan memiliki Appa dan Eomma yang mencintaiku, bukan pangeran berkuda putih itu eomma” Ji Yoon kembali berceloteh riang saat mengingat betapa teman-teman sekelasnya yang menurutnya terlalu aneh jika bercita-cita menjadi seorang puteri di negeri dongeng.

Namun ia juga sedikit berharap bisa menjadi puteri negeri dongeng yang cantik dan selalu di berikan kasih sayang berlimpah oleh raja dan ratu walaupun tak ada pangeran dalam kehidupannya, Ji Yoon merasa itu sudah lebih cukup dari pada menjadi Cinderella yang bahkan selalu disiksa oleh ibu tirinya. Cinderella terlalu miskin kasih sayang orang tua, dan ia tak ingin menjadi seperti Cinderella.

Ji Yoon kemudian memeluk Chan Mi dengan erat, menenggelamkan kepalanya kedada Chan Mi, Begitupun Chan Mi yang semakin mengeratkan pelukannya, senyumnya semakin terkembang saat mendengar penuturan dari bibir Ji Yoon. Gadis kecilnya itu ternyata sangat menyayanginya, dan ia sangat bersyukur akan hal itu. Tak ada yang lebih memebahagiakan lagi bagi Chan Mi selain ia bisa memiliki Sung Min dan Ji Yoon dalam hidupnya.

“Appa juga mau dipeluk” Suara Sung Min lagi-lagi menginterupsi kegiatan Chan Mi dan Ji Yoon. Entah sejak kapan Sung Min sudah berdiri dibelakang Chan Mi, dan ikut memeluk mereka, memeluk dua orang wanita yang begitu dikasihinya.

“ini urusan wanita Appa, dan Appa tidak boleh ikut” Ji Yoon mengerucutkan bibirnya melihat Appanya yang juga ikut memeluknya, ia tak suka jika ada orang lain yang mengganggu kegiatannya bersama Eommanya, walaupun itu adalah Appa-nya sendiri.

Sung Min yang mendengarnya lagi-lagi melototkan matanya, seolah tak percaya dengan apa yang puterinya itu katakan. Dalam hati ia mencoba mengutuk Cho Kyuhyun, dongsaeng kesayangannya itu yang telah membuat Ji Yoon-nya menjadi Evil sepertinya.

“sudahlah, ini sudah hampir jam sepuluh malam Yoon, sebaiknya kau kembai kekamarmu dan tidur. Besok kau juga harus sekolah kan Yoon?” Sung Min  melepaskan pelukannya dan berniat mengulurkan tangannya ingin mengangkat tubuh Ji Yoon dalam gendongannya namun dengan cepat gadis kecilnya itu menepisnya, membuat Sung Min menaikkan sebelah alisnya bingung.

“malam ini aku ngin tidur dengan Eomma” gadis itu kembali mendongakkan kepalanya menatap Eommanya yang juga tengah menatapnya “bolehkan eomma?”

Chan Mi melirik sekilas menatap Sung Min meminta persetujuan, namun hanya dibalas gelengan kepala dari Sung Min.

“bolehkan eomma, kali ini saja” Ji Yoon kembali bertanya dengan nada aegyonya, inilah keberuntungan yang bisa dimiliki Ji Yoon adalah bisa mewarisi tingkah Sung Min yang tak akan pernah bisa untuk ditolak kemauannya jika sudah memberikan tatapan berbinar seperti itu.

Mau tak mau, walaupun tak mendapat izin dari Sung Min akhinya Chan Mi mengangguk, bukankan kamar mereka cukup luas hanya hanya ditempati 3 orang.

“Yoon, sebaiknya kau tidur dikamarmu yah. bagaimana bisa Appa membuatkanmu adik jika kau tidur disini malam ini” Sung Min mencoba untuk membujuk Ji Yoon lagi, tak menghiraukan tatapan mata Chan Mi yang terlihat mengintimidasi saat ia mengucapkan kata-kata ‘semacam’ itu di depan Ji Yoon. Masa bodoh tentang hal itu, ia sudah tak mendapatkan ‘jatah’ selama hampir seminggu lamanya karena kesibukannya bersama Super Junior, dan ia harus mendapatkannya malam ini sebelum ia berangkat ke Amerika Selatan utuk melanjutkan Super Shownya lusa nanti.

“Shireooo” Ji Yoon menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak bujukan Appanya untuk kembali kekamarnya.

Sung Min yang melihat bantahan secara langsung dari puterinya itu hanya bisa mengacak rambutnya frustasi. Seharusnya ia tak membawa Ji Yoon kekamar ini jika hasilnya begini “Arghhhhh”

“Ayo Eomma, kita tidur, besok Ji Yoon harus bangun pagi-pagi untuk berangkat sekolah”

Chan Mi akhirnya hanya mengangguk dan kemudian berdiri dengan kedua tangannya menggendong tubuh mungil Ji Yoon, ini memang sudah hampir pukul sepuluh, tak biasanya Ji Yoon tidur selarut ini, dan sepertinya ia juga mengantuk.

Dari ekor matanya, Chan Mi melirik sekilas kearah Sung Min yang berdiri tak jauh darinya, dalam hati ia ingin tertawa saat itu juga saat melihat wajah suaminya itu yang sudah tak bisa dideskripsikan bagaimana frustasinya ia saat ini.

“Good Night Appa”

.

.

.

Seorang puteri dari negeri dongeng memang bisa membuat semua gadis merasa iri dengan kisah cinta sejati mereka, dicintai oleh pangeran tampan berkuda putih memang bisa membuat semua gadis gigit jari melihatnya.

Namun tak semua puteri dalam cerita dongeng itu akan bahagia hanya dengan pangeran yang mencintainya. Seorang puteri akan merasakan kebahagiaan yang jauh lebih sempurna jika ia memiliki Eomma yang mencintainya.

Berbeda dengan para puteri lainnya yang selalu mendapatkan siksaan dari ibu tirinya. Ji Yoon hanya ingin menjadi puteri yang selalu disayangi dan menyayangi  Eomma dan Appa-nya sampai kapanpun, tak ada pangeran manapun yang bisa membuatnya melupakan cinta terdalam yang Sung Min dan Chan Mi berikan selaku kedua orang tuanya.

Entah kapan Ji Yoon akan bertemu dengan pangeran impiannya yang akan selalu menemani sisa hidupnya di masa depan nanti, yang pasti ia ingin terus seperti ini, bersama Eomma yang mencintai dan menyayanginya.

Ia tak ingin menjadi Cinderella, Snow White, maupun Belle yang selalu mendapatkan siksaan kejam dari ibu tirinya sebelum menemukan pangeran hatinya, bagi Ji Yoon seperti ini sudah cukup, tanpa ada pangeran dalam kisah hidupnya sudah teramat sempurna hanya dengan memiliki Sung Min dan Chan Mi, Appa dan Eomma yang tak pernah lelah untuk memberikan kasih sayang sepanjang hidupnya.

END

One thought on ““I’m Not want to be Princess” FF Freelance

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s