“Cockroach” FF Freelance

Author  : Nalin Lee

Tittle     : Cockroach

Genre   : romance (?)

Tags       : Lee Sung Min dan Park Chan Mi (OC)

Length  : Ficlet

Rating   : All age

Note      : FF jelek yang berusaha untuk nyempil disini T.T .. jangan lupa kunjungin blog aku yah, kekkeee*numpang promosi www.mitwins.wordpress.com

 

COCKROACH

 

 

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa”

 

Suara teriakan melengking itu sukses membuat Sung Min berlari dengan tergopoh-gopoh kearah dapur, menghampiri sumber suara keributan dari seorang gadis didalam dapur apartemennya yang entah berteriak karena apa saat ini.

 

“Oppaaaa” suara gadis itu terdengar ketakutan, menatap sumber pembuat onar dibawah kursi meja makan yang kini sedang ia jadikan pijakannya untuk menghindari sesuatu yang menurutnya menakutkan dibawah sana.

 

“ada apa Channie?” sontak Sung Min segera menghambur menuju sumber keributan dan mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru dapur minimalisnya, namun tidak ada sesuatu yang janggal yang dilihatnya saat ini, hanya kekasihnya saja yang terlihat tengah berdiri dikursi meja makan dengan wajah ketakutannya.

 

Merasa ada sesuatu menakutkan yang ditatap gadisnya sedari tadi dari atas kursi yang masih enggan ia turuni, Sung Min pun mengalihkan pandangannya menatap sesuatu dibawah kursi Chan Mi yang sedari tadi gadis itu tatap dengan tatapan takut dan jijik secara bersamaan.

 

“Aigoooo, ternyata hanya seekor kecoak” Sung Min akhirnya bisa bernafas lega setelah beberapa detik yang lalu kekhawatiran yang menyelimutinya saat mendapati seekor kecoak yang masih setia berdiri dibawah kursi tempat gadisnya itu menghindari makhluk yang masih menggoyang-goyangkan antena dikepalanya.

 

Sung Min kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Chan Mi yang masih terlihat ketakutan, sontak sang kecoak nista itu pun akhirnya berlari saat kaki Sung Min mendekat kearahnya, berusaha untuk melindungi dirinya dari manusia-manusia yang berusaha menyiksanya dan segera bersembunyi dibawah meja pantry.

 

“Aisshhh, seharusnya kau membunuh makhluk menyebalkan itu Oppa” Chan Mi mendengus sebal saat melihat kekasihnya itu membiarkan makhluk penghuni gelap apartemennya itu kabur begitu saja tanpa perlawanan yang berarti.

 

Namun Sung Min yang merasa disalahkan hanya terkekeh pelan “sudahlah, nanti jika aku melihatnya lagi aku akan segera mengusirnya dari apartemenmu” jawab Sung Min santai, ia lalu ikut mendudukkan badannya dikursi yang masih dijadikan tempat berpijak Chan Mi tanpa menunggu gadis itu turun dari kursinya “mana Lemon Tea yang ingin kau buatkan untukku tadi?” Sung Min bertanya sembari menatap cangkir disudut meja yang hanya terisi gula didalamnya.

 

Chan Mi sedikit berjongkok, berniat turun dari kursinya. Namun ia mengurungkan niatnya saat tangan Sung Min menariknya dan mendudukkannya diatas meja. Dan dengan kedua lengan besarnya yang sengaja ia letakkan dikedua sisi meja tempat yang Chan Mi duduki, seolah memagari gadis itu dengan lengannya.

 

“Oppa turunkan aku” seru Chan Mi dengan menahan rona merah yang ia yakini telah memenuhi hampir diseluruh wajahnya, posisi seperti ini membuatnya canggung. Bahkan ia bisa melihat wajah Sung Min yang masih duduk dikursi meja makan yang sebelumnya ia tempati dihadapannya dengan sangat jelas dengan posisi seperti ini, kedua bola mata kekasihnya itu menatapnya secara intens, mau tak mau membuat Chan Mi harus menutup wajanya dengan telapak tangannya, berharap kekasihnya itu tidak melihat rona-rona merah dipipinya yang kini menjalarinya. Jika saja dengan posisi berdiri Chan Mi mungkin bisa saja menundukkan kepalanya tanpa harus menutupi wajahnya dengan telapak tangannya, namun dengan posisi seperti ini jikalaupun ia menundukkan kepalanya bukankah wajahnya semakin terlihat lebih jelas dengan posisi seperti ini.

 

“biarkan seperti ini dulu” Sung Min meraih telapak tangan gadisnya dan menjauhkannya dari wajah cantiknya yang menghalanginya “kau terlihat lucu, seperti kecoak itu” Sung Min kembali terkekeh saat memandang wajah malu-malu Chan Mi, sebelah tangannya terulur kemudian mencubit pipi gadis itu dengan gemas.

 

Namun bukannya ikut tertawa Chan Mi justru membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya “Mwo? Kau menyamakanku dengan kecoak menjijikan itu Oppa?”

 

Dan dibalas dengan anggukan santai dan penuh keyakinan oleh Sung Min yang membuat Chan Mi semakin menatapnya heran sekaligus kesal, mata gadis itu kenudian menatap lurus-lurus kemanik mata Sung Min seolah meminta penjelasan lebih lanjut.

 

Dengan posisi mereka seperti ini membuat Sung Min harus mendongakkan kepalanya untuk menatap kekasihnya yang lebih tinggi beberapa centi darinya saat ini “kau jangan menyepelekan makhluk ciptaan Allah seperti itu Channie” Sung Min mencoba menasehati sekaligus meralat ucapan Chan Mi yang mengatakan bahwa kecoak adalah hewan yang menjijikan dimuka bumi ini “semua makhluk yang diciptakan Allah itu indah Channie, kau juga harus menyayanginya” lanjut Sung Min lagi, ia menekankan setiap kata-kata yang diucapkannya dengan penuh penghayatan didalamnya.

 

Mendengar hal itu Chan Mi memutar bola matanya jengah, sejak kapan kekasihnya itu bersikap layaknya Siwon Oppa yang selalu menceramahinya seperti ini? Terlebih Sung Min-nya itu juga mengatakan bahwa aku harus menyayangi kecoak? Ck! Konyol “apakah aku harus memutuskan hubunganku denganmu supaya aku bisa berkencan dengan kecoak itu Oppa?” Chan Mi memasang wajah seriusnya yang terlalu dibuat-buat seraya memajukan wajahnya lebih dekat untuk menatap wajah Sung Min.

 

Walaupun gadisnya tengah memasang wajah seriusnya seperti itu, Sung Min sangat mengetahui dengan pasti ada nada yang kentara sekali bahwa kekasihnya itu sedang bergurau dengannya, membuat Sung Min kembali terkekeh dan mengacak poni gadis itu pelan, ia kemudian menumpukan wajahnya disebelah telapak tangannya yang ia letakkan diatas meja setelah mengecup kilat bibir gadis hadapannya “aku yakin kau tidak bisa melepaskan makhluk tampan sepertiku begitu saja”

 

Chan Mi yang melihat seringaian penuh percaya diri itu kembali mendecakkan lidahnya, saat beberapa menit yang lalu seolah sosok Siwon Oppa bersemayan ditubuh namja aegyo ini sekarang berubah menjadi sosok menyebalkan Seperti Kyuhyun, ia lalu memutar sedikit duduknya kekanan agar bisa memandang Sung Min lebih jelas “aku rasa kecoak itu lebih tampan darimu oppa”

 

Gadis itu ternyata memang tidak mau kalah, justru sekarang Sung Min lah yang berbalik berdecak sebal mendengar penurutan Chan Mi , membuat senyum penuh kemenangan terkembang begitu saja dari bibir gadis itu.

 

“bodoh” Sung Min mengeluarkan umpatannya saat mengetahui fakta dirinya dibandingkan dengan orang lain oleh kekasihnya sendiri. Jika saja gadis yang masih menampakkan senyum kemenangannya itu membandingkannya dengan Choi Siwon mungkin ia tak akan merasa tersinggung, namun faktanya gadisnya itu membandingkannya dengan seekor kecoak? Cih! Menggelikan.

 

“kau bilang aku harus menyayangi kecoak itu” Chan mi memasang tampang seinnocent mungkin dihadapan Sung Min, entah ia berpura-pura bertingkah bodoh atau memang benar-benar bodoh dengan membalikkan pertanyaan seperti itu yang bahkan anak kecilpun tidak akan menanyakan hal sekonyol itu.

 

“aishh, bukan begitu maksudku Channie” Sung Min kembali menegakkan posisi duduknya dan punggungnya ia letakkan begitu saja disandaran kursi, dengan sedikit pandangan yang mendongak keatas menatap wajah kekasihnya yang memang lebih tinggi dengan posisi gadis itu masih terduduk diatas meja.

 

“lantas?” Chan Mi ikut memutar badannya kembali menghadap Sung min dengan masih mempertahankan wajah bodohnya yang terlalu dibuat-buat.

 

Sejenak Sung Min memejamkan matanya, mencoba untuk menarik oksigen yang sekiranya diperlukan untuk memulai penjelasannya. Kemudian ia kembali membuka matanya, menatap lurus-lurus gadis yang masih memperhatikannya dengan antusias “walaupun kecoak itu adalah makhluk yang sering tidak diharapkan oleh manusia, namun kau bisa banyak belajar dari sosok kecil itu Channie”

 

Chan Mi mengerjapkan matanya berkali-kali, bingung akan perkataan kekasihnya itu “belajar dari kecoak untuk menakuti orang lain dengan sosok menggelikannya itu oppa?” Tanya Chan Mi asal, ia bersiap untuk menurunkan badannya dari atas meja, namun niatan itu kembali diurungkannya saat Sung Min kembali mendekatkan badannya untuk menghimpitnya agar tidak bisa pergi begitu saja.

 

“bukan seperti itu maksudku, aishh berhentilah bergurau, dan bersikap seriuslah”

 

Chan Mi hanya menganggukkan kepalanya tanpa minat, bagi Sung Min kekasihnya itu hanya akan terlihat serius dalam diamnya, biarpun sesulit apapun gadis itu mencoba untuk terlihat serius namun pastinya apapun kalimat yang terlontar dibibirnya hanya akan dianggap Sung Min sebagai candaan saja, walaupun sebenarnya saat itu Chan Mi sudah sangat serius menanggapinya.

 

“banyak pembelajaran hidup yang bisa kita petik dari hewan yang sering kita remehkan itu, ia makhluk yang kuat dan tegar, seolah apapun yang ia hadapi ia akan selalu bersikap kuat dan tegar untuk melanjutkan hidupnya”

Chan Mi berusaha menggigit bibir bawahnya berusaha untuk meredam tawanya sendiri mendengar celotehan khas ibu-ibu yang Sung Min ucapkan, bagaimana bisa makhluk kecil itu bersikap tegar? Yang ada makhluk itu tidak tau malu, sudah tau ia tidak diharapkan dalam kehidupan manusia, untuk apa makhluk itu masih berkeliaran disekelilingnya. Bukankah itu bisa dikatakan tidak tau malu.

 

“hidupnya memang tidak diharapkan oleh manusia, bahkan ia sering ditindas dengan sapu berkali-kali, tapi nyatanya berulang kali kecoak itu berhasil kabur dari pukulan menyakitkan dipunggungnya bukan?”

 

Otak Chan Mi kembali menjalankan fungsinya untuk memproses tentang apa yang berusaha dijelaskan Sung Min, fikirannya sempat menerawang kembali mengingat Hae Mi yang memang sering memukul kecoak perusuh apartemen mereka dengan sapu, bahkan dapat terdengar jelas bunyi debuman yang cukup keras saat ujung bawah sapu itu berbenturan dengan keramiknya, namun tetap saja kecoak itu selalu bisa kabur dari pukulan yang menurutnya sangat menyakitkan seperti itu dengan tubuh kecil seolah tak berdayanya.

 

“benarkah Oppa?” sebenarnya Chan Mi tidak berniat untuk bertanya seperti itu, bahkan ia sudah tau dengan jelas jawabannya adalah sudah pasti benar, bahkan ia pernah melihat kejadian seperti yang dijelaskan Sung Min secara langsung, namun kenapa ia masih menanyakan kebenarannya? Entahlah, yang jelas gadis itu hanya tidak mengerti harus berkata apa untuk memberikan respon yang terbaik.

 

“tentu saja benar” Sung Min mengangguk-anggukan kepalanya berkali-kali dengan penuh semangat pada setiap anggukannya “kecoak bahkan bisa bertahan hidup walaupun kepalanya sudah tidak menyatu lagi dengan tubuhnya selama hampir 10 hari. Ia akan mati dihari kesepuluh, bukan karena ia tidak kuat lagi, hanya saja ia mati karena tak ada asupan makanan yang diperlukan tubuhnya. Bukankah kecoak itu lebih kuat dari manusia Channie?” Sung Min mengehentikan penjelasan pertamanya dengan memberikan sebuah pertanyaan untuk mendapatkan persetujuan dari gadis itu tentang penjelasannya, ia lalu meletakkan kedua tangannya yang terlipat tepat diatas paha Chan Mi untuk menjadi alasnya meletakkan kepalanya sendiri dengan tatapan mata yang masih mendongak menatap gadisnya itu yang masih terlihat berfikir.

 

Tak berapa lama Chan Mi kemudian mengangguk yakin setelah mengerti dari segala macam penjabaran yang Sung Min jelaskan padanya tentang filosofi makhluk yang selama ini dibencinya “kau benar oppa, bahkan aku pernah melihatnya sendiri. Kecoak itu benar-benar kuat yah oppa”

 

Sung Min membalas dengan senyuman manis yang terukir diwajahnya “bukan hanya itu saja Channie, kau tau kecoak juga mempunyai kehidupan sosial yang baik dan dalam sepanjang hidupnya, kecoak tidak memiliki musuh?”

 

Setelah satu hal yang baru saja Chan Mi mengerti, kini otaknya kembali bekerja untuk berfikir, matanya menatap lurus wajah manis Sung Min dihadapannya, namun pandangannya menerawang mengingat tentang kecoak yang memang tidak pernah terlihat olehnya terlibat perkelahian apapun dengan makhluk lainnya.

 

Masih dengan focus mata yang mengarah kepada gadis didepannya Sung Min berusaha untuk menyembunyikan senyumnya saat mendapati wajah cantik kekasihnya itu terlihat serius memikirkan apa yang ia katakan, wajah cantik itu terlihat semakin cantik dengan ekspresi seriusnya yang sedang berfikir, membuat Sung Min tak bisa menahan lagi hasratnya untuk hanya sekedar menikmati bagian yang sangat ia sukai diwajah cantik itu.

 

Cup~

 

Sung Min mengecup sekilas bibir menggemaskan dihadapannya, membuat sang pemilik bibir terhenyak dan memundurkan wajahnya dengan refleks yang benar-benar cepat.

 

“menyerahlah jika kau tidak bisa menemukan jawabannya Channie” Sung Min kembali terkekeh melihat gadisnya kembali berdecak sebal akibat ulahnya beberapa detik yang lalu yang dengan tiba-tibanya melakukan aksi ‘cium mencium’ itu tanpa seizinnya, bahkan gadis itu terlihat sibuk untuk memikirkan penjabaran Sung Min namun dengan gampangnya pria itu mengacaukan konsentrasinya. Ckckck!

 

“baiklah aku menyerah oppa” dengan enggan gadis itu menghembuskan nafasnya berat saat tak ada satu hal pun yang bisa terlintas diotaknya dengan kehidupan si kecoak dan memilih untuk menyandarkan bahunya pada udara dengan bertopang pada kedua lengannya. Kecoak, makhluk itu memang tidak asing lagi untuknya, selama hampir 21 tahun ia hidup dibumi yang sama dengan para kecoak-kecoak itu, ia bahkan sering menemukan makhluk itu dimanapun, dan ia memang baru menyadari bahwa kecoak memang tidak pernah terlibat perkelahian dengan serangga lainnya, namun ia tak memiliki alasan kenapa kecoak bisa tidak memiliki musuh? Padahalkan kecoak itu tipe makhluk pengganggu yang memang menyebalkan, seharusnya berjuta makhluk membencinya bukan?

 

Sung Min kembali menghempaskan tubuhnya dikursinya setelah mengacak poni gadis itu sekilas “selama ini kecoak memang tidak pernah menjadi predator makhluk lainnya, kecuali cicak yang mungkin ada dendam pribadi atau dengan keterpaksaan untuk mengganjal perutnya yang tidak ada makhluk lain yang bisa menjadi santapannya, namun pada akhirnya cicak itu juga mati karena kesulitan menelan kecoak yang badannya bahkan lebih besar daripada sang cicak” Sung Min terdiam sebentar, memberikan kesempatan agar gadis itu bisa memproses apa yang dikatakannya “Kecoak juga tidak menampilkan kesan makhluk yang lezat untuk menjadi santapan, oleh karena itulah. Mungkin makhluk satu-satunya yang menjadi musuh kecoak adalah manusia, bukankah manusia itu musuh seluruh makhluk hidup”

 

Kepala Chan Mi mengangguk-angguk seiring dengan penjelasan Sung Min yang sudah mulai bisa dicernanya. Beberapa saat setelah Sung Min selesai menjelaskan penjelasan panjang lebarnya terdengar tepukan riang dari gadis itu “apakah sebaiknya kita sebagai manusia juga harus berdamai dengan para kecoak-kecoak itu oppa?”

 

Satu lagi pertanyaan konyol yang Sung Min dapati membuatnya kembali menarik nafasnya panjang, setelah pertanyaan gadis itu untuk memacari kecoak sekarang apakah ia juga harus mengibarkan bendera perdamaian pada kecoak? Gadis ini sudah hampir 21 tahun kenapa pemikirannya bisa lebih konyol dari anak TK?

 

Sung Min memilih untuk beranjak dari kursinya dan berjalan gontai menuju kulkas disudut pantry apartemen Chan Mi, sejak pagi ia belum makan seharusnya ia mendatangi gadisnya itu agar bisa dibuatkan sarapan? Kenapa justru kepalanya semakin mendadak berat saat ia menjelaskan sesuatu pada Chan Mi? Gadisnya itu jika dilihat sekilas memang terlihat hanyalah gadis dengan tingkat kebodohan yang bahkan sudah tercetak jelas didahinya dengan kata bodoh, namun yang membuat Sung Min heran dengan gelar gadis bodoh itu bagaimana bisa kekasihnya itu selalu mencapai nilai IP diatas 3 pada setiap semester perkuliahannya?

 

Oh ayolah, sebagai mantan mahasiswa ia memang banyak mengetahui kalau mendapatkan nilai dengan IP diatas 3 itu adalah hal yang sangat sulit diraih, tapi bagaimana bisa gadis dengan predikat bodoh itu selalu mendapatkan nilai diatas rata-rata seperti itu pada setiap semester?

 

“tetap disitu Chan Mi” dengan cepat Sung Min kembali berjalan kearah meja makannya, dengan sebotol air mineral yang ia ambil dari kulkas, membuat Chan Mi harus mengurungkan niatnya untuk turun dari atas meja hanya sekedar untuk duduk ditempat yang memang layak untuk dijadikannya sebagai tempat duduk, dan tentu saja meja adalah bukan pilihan yang baik.

 

“kau siang ini tidak kuliah Channie?” Sung Min kembali menghempaskan tubuhnya dikursi yang beberapa saat lalu ditinggalkannya, seraya meletakkan botol air mineralnya disebelah Chan Mi, mencoba untuk mengabaikan pertanyaan Chan Mi sebelumnya yang memang terlalu malas untuk dijawabnya. Menjawab pertanyaan sekonyol itu bisa-bisa membuatnya ikut menyandang predikat orang tolol seantero Seoul.

 

“memang ini sudah jam berapa oppa?” jawab Chan Mi yang kembali memberikan pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan Sung Min, ia mengedarkan pandangannya menyusuri setiap sudut dapurnya hanya untuk sekedar mengetahui waktu didetik ini, melupakan fakta bahwa didapur ini memang tidak tergantung jam dinding sekecil apapun.

 

“sudah hampir jam 3” jawab Sung Min singkat seraya meraih botol mineralnya dan meneguknya hingga habis sepertiganya.

 

Gadis itu kemudian hanya menghembuskan nafasnya panjang saat mengetahui jam yang ditunjukkan saat ini di Jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan Sung Min “padahal aku ada kuliah jam 2 tadi oppa, tapi biarlah sudah hampir satu jam aku terlambat. Tidak mungkin juga Kim seongsaengnim sang dosen killer berkacamata itu mengizinkan aku mengikuti kelasnya jika aku berangkat sekarang oppa” jawab Chan Mi seadanya, membuat Sung Min mendecak sebal mendengar dengan tanpa bersalahnya gadis itu membolos lagi haari ini.

 

Mungkin ini juga sedikit kesalahannya yang meminta gadis itu untuk tidak pergi kemana-mana dari apartemennya siang tadi, bukan apa-apa sebenarnya, hanya saja ia ingin membunuh waktunya bersama gadis itu ditengah waktu senggangnya disela-sela aktivitas Super Juniornya, namun itu juga bukan sepenuhnya kesalahannya, bukankah sejak awal ia menanyakan apakah siang ini ada jadwal perkuliahan dan gadis itu dengan sok yakinnya malah mengatakan tidak ada jadwal. Ck!

 

“kau harus lebih berfokus pada kuliahmu Channie, berhentiah menganggap kuliahmu itu seolah adalah hal biasa yang bisa kau remehkan begitu saja. Ini demi masa depanmu Channie. Aku tidak akan menikahimu jika nilaimu merosot gara-gara kecerobohanmu seperti itu. Kau..”

 

Cup.

 

Kali ini Chan Mi yang memulai terlebih dahulu aksinya untuk mengecup bibir Sung Min yang sedang sibuk mengoceh tentang nasehat-nasehatnya yang memang terdengar seperti seorang nenek yang tengah memarahi cucunya, hanya dengan kecupan ringan kurang dari lima detik itu membuat wajah kesal Sung Min berubah dengan senyuman dibibirnya “berhentilah merayuku Channie” dengan senyum yang masih mengembang diwajahnya Sung Min menyenderkan punggungnya disandaran kursi, membuat Chan Mi menyunggingkan sebuah senyuman kemenangan. Begitu mudahnya membuat kekasihnya berhenti mengomel itu dengan sebuah ciuman.

 

“kau seharusnya malu dengan para kecoak itu Channie, bahkan serangga itu saja lebih memiliki sistem manajemen yang baik daripadamu” Seolah tak pernah lelah memuji kehidupan sang kecoak, Sung Min kembali mengaitkan hidup kecoak itu dengan kehidupan gadisnya yang memang tidak pandai mengatur jadwalnya sendiri, ini bukan pertama kalinya gadis itu membolos kuliah, seharusnya gadis itu berubah sebelum menjadi istrinya kelak.

 

“apa kecoak juga kuliah Oppa?”

 

“jika memang didunia serangga memiliki kampus kemungkinan kecoak adalah makhluk yang paling rajin dan pintar”

 

Chan Mi mengernyitkan dahinya bingung. Benarkah kecoak juga bersekolah?

 

“kecoak pandai untuk mengatur jalur perburuan, memperlajari ancaman dan mengorganisasikan manajemennya lebih baik dari serangga lain.

 

“tidak sepertimu yang biasanya bangun kesiangan, mepet pergi kekampus, lupa sarapan, tidak bertenaga, akhirnya tidak konsentrasi dalam memproses materi perkuliahan. Seharusnya kau malu sama kecoak-kecoak itu Channie”

 

“Terus saja memuji ‘calon selingkuhanmu’ itu dihadapanku Oppa” gumam Chan Mi dengan suara pelannya. Dengan bibir yang mengerucut sebalnya Sung Min tau bahwa kekasihya itu sedang kesal kepadanya, membuat pria itu harus berusaha susah payah menahan tawanya melihat ekspresi yang ditunjukkan Chan Mi.

 

Gadis itu dengan gamblangnya mengatakan bahwa dirinya akan lebih memilih kecoak itu dibandingkan dirinya. Aigoo, bagaimana bisa gadis yang sebentar lagi akan menyandang marga Lee darinya itu bisa berfikiran sebodoh itu? Secantik apapun kecoak itu mungkin tidak akan berpengaruh apapun pada hatinya untuk memilih makhluk menjijikan itu sebagai pendamping hidupnya. Ckck!

 

“Apa yang kau katakan hm?” sebuah pertanyaan klise yang Sung Min lontarkan sukses membuat gadis itu kembali berdecak sebal untuk kesekian kalinya, sebuah raut wajah kesal dari gadis itu entah kenapa membuat Sung Min semakin menyukai aktivitasnya untuk menggoda gadis itu lebih lanjut.

 

“aku mengatakan akan memusnahkan makhluk menyebalkan itu nantinya. Apa kau akan marah padaku Oppa?” Tanya Chan Mi retoris, matanya mendelik kearah Sung Min dengan kekesalan yang kentara sekali dari wajah manisnya.

 

Sung Min yang ditatap seperti itu kini turut memasang wajah seriusnya agar semakin meyakinkan dihadapan gadisnya itu, kini dari kilatan mata mereka yang saling bertemu terlihat seakan akan terjadi peperangan besar sebentar lagi. Peperangan karena adanya pihak ketiga yang merusak hubungan mereka, seandainya pihak ketiga itu adalah Sunny SNSD mungkin Chan Mi akan berbesar hati untuk menerimanya, bukankah couple Aegyo itu memang terlihat serasi, namun nyatanya hubungan mereka terganjal karena kasus kecoak? KECOAK? Oh Ayolah, apakah ada hal yang lebih konyol lagi daripada ‘kasus perselingkuhan’ ini?

 

“seberapa seringpun manusia untuk memusnahkan populasi kecoak sampai bersih, dengan tingkat reproduksi yang sangat cepat darinya, kecoak tidak akan bisa dimusnahkan dengan pestisida apapun, walaupun seluruh dunia disemprotkan pestisida aku yakin kecoak masih akan tetap ada, mungkin saja nanti jumlah populasi manusianya yang akan berkurang daripada populasi kecoaknya”

 

“Memangnya anak yang dihasilkan dalam sekali proses melahirkan seorang kecoak wanita ada berapa Oppa?” gadis itu bertanya seraya mengangkat kedua telapak tangannya keudara, melupakan kekesalannya sejenak akan kekasihnya yang menurutnya sangat menyebalkan hari ini “apakah 3? 4? 5? Atau mungkin 10?” lanjut gadis itu dengan berspekulasi sendiri akan jumlah telur yang dihasilkan kecoak dalam sekali masa reproduksinya seraya menunjukkan jari jemari mungilnya yang terlipat sesuai dengan jumlah yang ia sebutkan.

 

Sung Min terdiam beberapa saat sebelum ia melontarkan protesannya sesaat setelah mendengar pertanyaan yang terdengar ‘abstrak’ yang pernah didengarnya selama ini “kalimat yang kau tanyakan salah Channie, gunakanlah kosa kata yang benar, kau mahasiswi jurusan sastra, seharusnya pemilihan kata didalam kalimat yang kau gunakan harus benar!” seolah tak menanggapi pertanyaan gadis itu Sung Min berusaha meralat kata dalam pertanyaan gadis itu terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaannya. Sudah sering gadisnya itu bahkan menggunakan kata yang sembarangan dalam bahasa kalimatnya dengan seenaknya sendiri, mungkin ia sendiri memang mengerti dengan pertanyaan dari kekasihnya itu, tapi tetap saja sebagai calon suami yang baik bukankah ia harus selalu memperingatkan ‘calon istrinya’ itu jika melakukan sebuah kesalahan?

 

“memang dari segi apa aku salah dalam membuat sebuah kalimat?”

 

Bukan sebuah pertanyaan yang tidak berdasar seperti ini yang diharapkan oleh Sung Min. ck! Orang awam saja tau bahwa kalimat pertanyaan Chan Mi yang menanyakan tentang anak yang dilahirkan kecoak itu memang sebuah kesalahan yang menjurus fatal? Memangnya sejak kapan ada serangga yang melahirkan? Dari zaman purba hingga sekarangpun juga masih sama, bahwa kecoak itu bertelur, bukan melahirkan.

 

“kecoak merupakan salah satu makhluk dizmana purba yang juga masih bertahan sampai saat ini dengan proses bertelur Chan Mi, bukan melahirkan” sahut Sung Min seraya menekankan kata terakhir dalam kalimatnya dengan mencoba untuk tetap menahan kesabarannya yang memang selalu terkuras hingga kedasar jika beragumen dengan kekasihnya seperti ini.

 

Seolah tak menghiraukan kekesalan diwajah namjachingunya itu, Chan Mi kembali bertepuk tangan riang dengan mulut yang membentuk huruf ‘O’ secara sempurna saat sebuah pengetahuan lagi yang ia dapatkan dari kekasihnya hari ini, membuat Sung Min hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, seolah sudah hafal betul dengan segala tingkah gadisnya itu yang gampang sekali merubah mood-nya. Seakan sosok Hee Chul, hyungnya benar-benar melekat sempurna pada jiwa kekasihnya itu. T.T

 

“kecoak is a better. Bahkan makhluk itu adalah makhluk purba yang masih bertahan hingga sekarang” gadis itu masih bertepuk tangan heboh, seolah ia baru saja mendapatkan harta karun berton-ton beratnya. Sekali lagi Sung Min menghembuskan nafasnya panjang, saat mendapati fakta gadis itu menggunakan bahasa versinya sendiri. Ck! Biarlah.

 

“memangnya sekali bertelur bisa menghasilkan berapa telur Oppa?” Tanya Chan Mi masih dengan keantusiasan yang sama, binar-binar dimata hitam gelap gadis itu seolah mengatakan rasanya keingin tahuannya yang besar, baru kali rasanya ini gadis itu merasakan proses belajar dengan cara semenyenangkan ini dan tentu saja itu membuatnya lebih antusias daripada pelajaran yang diajarkan oleh dosen-dosen tua dikampusnya. Sepertinya setelah menyelesaikan jenjang pendidikan S-2 nya nanti, Sung Min-nya itu bisa menjadi seorang dosen nantinya. Hihihi

 

Dengan tatapan mata menuntut dari gadisnya itu membuat Sung Min menjadi salah tingkah, gadisnya itu bahkan tidak pernah terlihat seantusias seperti ini sebelumnya, bahkan saat ia menceritakan kegiatannya dengan Sung Jong, magnae Infinite sang idola favorite dari gadisnya itu bahkan tak terlihat seantusias ini sebelumnya, bagaimana bisa hanya cerita tentang hewan yang bahkan dimusuhinya itu menarik perhatiannya terlalu dalam “kecoak betina bisa bertelur 7 sampai 8 kali” jawab Sung Min seadanya, ia sebenarnya tidak banyak mengetahui tentang filosofi hidup binatang berkaki enam itu, hanya saja ia ingin mencoba mentransfer sedikitt ilmu yang diketahuinya itu kepada Chan Mi.

 

“Itu sedikit oppa” protes gadis itu cepat, hanya 8? Bagaimana bisa jumlah 8 bisa dikatakan banyak? Bahkan gadis itu sempat mengira jumlah yang lebih banyak daripada itu sebelumnya.

 

“Eits tunggu dulu, 1 telur bisa menghasilkan 100 sampai 350 kecoak” ralat Sung Min cepat saat mendapati gadisnya itu terlihat kecewa, dan tentu saja jawabannya kali ini tidak mengada-ada. Jika kalian tidak percaya kalian bisa membuktikannya sendiri.

 

Chan Mi kembali mengaggukkan kepalanya tanda mengerti, pandangannya kembali menerawang untuk meresapi penjelasan yang entah sudah keberapa penjelasan yang kekasihnya itu jelaskan padanya tentang kehidupan kecoak yang bisa dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan manusia hari ini, namun ada sesuatu yang mengganjal seolah ada satu hal yang ia tidak mengerti “dari penjelasan oppa yang terakhir, memangnya apa yang bisa kita pelajari dari sistem reproduksi kecoak yang begitu pesat Oppa?”

 

Mata Sung Min mengerjap berkali-kali saat pertanyaan itu sukses gadisnya lontarkan. Benar juga, apa yang bisa diterapkan dan dipelajari dalam penjelasan terakhirnya tentang reproduksi yang begitu pesat dari  kecoak dalam kehidupan sehari-hari manusia? Namun, raut kebingungan itu perlahan berubah menjadi sebuah seringaian saat ide jahil itu muncul begitu saja dibibirnya yang mampu membuat Chan Mi sedikit merinding melihatnya, ditambah kerlingan nakal dari pria itu sontak gadis itu berinisiatif untuk memilih segera turun dari atas meja sebelum pria itu bertindak lebih konyol lagi diapartemennya.

 

Bukan Sung Min namanya jika ia melepaskan gadisnya itu begitu saja, sebelum gadis itu sempat melakukan niatannya dengan cepat Sung Min menarik tangan Chan Mi hingga tubuh mungil itu kini jatuh kepangkuannya, membuat gadis itu terhenyak untuk beberapa saat menyadari apa yang baru saja terjadi.

 

“kita bisa mempelajari hal itu, akan lebih baik jika nanti setelah kita menikah kita terus ‘bekerja keras’ agar mendapatkan anak yang banyak” Sung Min mendekatkan bibirnya ketelinga Chan Mi yang masih dalam posisi badan menegangnya dalam dekapan protektifnya, lelaki itu dengan sengaja berbisik mesra serta menghembuskan nafas hangatnya ketelinga gadisnya itu membuat tubuh Chan Mi seperti dialiri listrik saat Sung Min melakukannya.

 

Gadis itu masih menegang untuk beberapa saat karena tingkah lelakinya yang bertingkah tidak seperti biasanya saat ini, Chan Mi masih tak menyadari bahwa Sung Min kini telah melepaskan pelukannya dipinggang rampingnya.

 

“kenapa kau tidak turun Channie? Kau tau badanmu berat”

 

Namun lagi-lagi Chan Mi masih membeku ditempatnya, matanya mengerjap secara lebih intens, bingung akan apa yang akan ia lakukan dalam posisi seperti ini. Bahkan dengan posisi mereka tak berjarak seperti ini ia mampu mendengar helaan nafas dan debaran jantung Sung Min dengan amat sangat jelas.

 

Saat menyadari gadisnya masih tak bergeming dipangkuannya, membuat Sung Min semakin memperlebar senyumnya, dalam fikirannya yang sudah sedikit tercemar oleh dongsaeng yadongnya itu pria itu mengira bahwa Chan Mi-nya itu menyetujui usulannya barusan “baiklah, jika kau ingin mempercepat prosesnya kita lakukan sekarang”

 

Sebelum sempat Sung Min kembali menguncinya dengan lengan besarnya itu, buru-buru Chan Mi melompat dari pangkuan Sung Min saat melihat wajah namja itu hanya berjarak tak jauh darinya. Setelah kakinya benar-benar berpijak pada lantai keramik apertemennya, gadis itu kemudian kembali berbalik menatap Sung Min seraya memasang death glare andalannya “Oppaaaa, aku tidak ingin memiliki anak sebanyak itu. Lebih baik kau menikahi gadis lain saja”

 

Chan Mi kembali berbalik, meninggalkan Sung Min yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan olehnya menuju ruang tengah, menghiraukan Lemon tea-nya yang memang sempat terabaikan. Lebih baik sekarang ia mencoba untuk menormalkan kembali detak jantungnya akibat ulah namja mesum itu.

 

Lengkap sudah kecoak itu sukses mebuat kepribadian Sung Minnya berubah-ubah hari ini, awalnya kekasihnya itu bersikap layaknya Siwon Oppa yang menasehatinya dengan kata-kata bijaknya, lalu Sung Min-nya kemudian bertingkah menyebalkan seperti Kuhyun, tak berapa lama kemudian namja itu seolah bertingkah layaknya Leeteuk Oppa yang memberikannya sebuah pandangan yang berbeda dari makhluk yang selama ini begitu dibenci dan dimusuhinya dan beberapa menit setelahnya kekasihnya itu terlihat seperti Dong Hae Oppa secara bersamaan dengan sikap dan suasana romantis yang ia ciptakan didapur minimalis apartemennya. Dan yang terakhir Sung Minnya itu kembali berubah menjadi namja penuh fikiran yadong seperti Eunhyuk Oppa! Aisshhh, sepertinya Super Junior sudah mengubah Sung Minnya seperti ini terlalu dalam.

 

“Channie kau mau kemana? Bukankah kau tadi bilang ingin belajar seperti kecoak itu, kenapa sekarang kau berubah fifiran eoh?” Sung Min sedikit menaikkan suaranya, masih berusaha menahan tawanya agar gadis yang masih menggerutu tidak jelas itu mendengarnya.

 

“DIAM KAU OPPA…”

 

END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s