“Because I’m weary” FF Freelance

Author  : Nalin_Lee

Tittle     : Because I’m weary

Genre   : Romance sad

Tags       : Lee Sung Min, Park Chan Mi (OC)

Length  : Oneshoot

Rating   : All age

 

 

BECAUSE I’M WEARY

 

 

“Kau tidak sedang bercanda kan Channie?” terhitung sejak satu jam sejak pertemuan mereka dicafe ini, tak henti-hentinya Sung Min menanyakan hal yang sama kepada gadis diseberang mejanya yang masih asyik memainkan sedotan jus melonnya tanpa berniat sedikitpun untuk mendongakkan kepalanya hanya untuk sekedar menatap pria yang memang sangat serius menanyakan hal itu kepadanya.

 

“Sudahlah Oppa, berhentilah menganggap aku hanya bergurau, aku tidak sedang membuat lelucon disaat seperti ini Oppa” dari nada gadis itu terdengar ketegasan yang terselip diantara suara lirihnya.

 

Sudah sekian kali pula gadis itu melemparkan jawaban yang nyaris serupa untuk kesekian kalinya pula saat Sung Min menanyakan hal yang sama, dan untuk kesekian kalinya pula rasa sesak menghimpit Sung Min sebegitu nyatanya menyesakkan sehingga rasanya oksigen disekitarnya tak dapat diraihnya lagi.

 

“jadi apakah hubungan kita berakhir seperti ini?” Sung Min kembali mendesah lesu, seolah tenaganya benar-benar tak tersisa sedikitpun, ia menelungkupkan kepalanya dari balik keduatangannya yang terlipat diatas meja, menghindari air mata yang tanpa komando darinya bisa saja merasngsak turun tanpa diinginkannya.

 

“mungkin ini memang pilihan yang terbaik Oppa” sama seperti sebelumnya suara Chan Mi masih terdengar lirih, kontras sekali perbedaannya dengan suara tepukan tangan maupun canda tawa diarea café dari sebuah meja yang ditempati tak jauh dari mereka yang sepertinya sedang merayakan sesuatu disana.

 

“kau bilang ini pilihan terbaik? Apa kau tidak memikirkan perasaanku?” kini kepala Sung Min kembali terangkat dengan kelesuan yang masih terlihat jelas, tangan kanannya kemudian bergerak meraih jemari tangan Chan Mi diatas meja dan meremasnya pelan, seolah memberi tahukan kepada gadis itu tentang rasa kesakitan hatinya dan berharap gadis itu mengurungkan niatnya untuk melepasnya begitu saja.

 

Tentu saja kesakitan hati Sung Min sangat amat teramat perih saat ini mengetahui fakta gadis yang selalu mencintainya dengan sepenuh hati rela melepasnya begitu saja tanpa ada alasan yang berarti yang bisa diterima oleh akal sehatnya.

 

Bahkan pria itu sedikit sangsi kalau akal sehatnya masih berfungsi, walau bagaimanapun kenyataan pahit gadis itu akan melepasnya membuat lubang yang teramat dalam disudut hatinya yang tak akan mampu tertutupi begitu saja oleh apapun kecuali sang pembuat lubang itu sendiri.

 

Seandainya ia adalah seekor burung, mungkin hari ini adalah hari kebebasan yang selalu diimpikan oleh makhluk terbang itu untuk kembali berbaur bersama teman-temannya dialam terbuka, namun tentu saja hal ini sangat kontras perbedaannya dengan Sung Min dan makhluk bersayap itu. Bukan dikarenakan lelaki manis itu tidak memiliki sayap, hanya saja perasaan mereka akan jauh berbeda rasanya. Bagi Sung Min hal ini sama saja ia akan dilempar paksa kedalam sebuah neraka yang paling dibencinya.

 

Bahkan Sung Min tidak pernah memikirkan tentang ini sebelumnya bahwa ia akan bebas dari sangkar nyamannya didalam hati gadis itu, dan apakah kebebasannya kali ini adalah sesuatu yang menggembirakan? Tentu saja jawabannya sudah pasti tidak! TIDAK!! Air mata itu bahkan sudah memberi tahukan bahwa perpisahan seperti ini benar-benar tidak diharapkan oleh Sung Min.

 

“jangan menangis Oppa. Aku mohon!” walaupun perkataan gadis itu seolah memberikan sedikit terpaan hawa nyaman agar pria itu berhenti menyuplai air matanya untuk mengalir kepipinya, namun pernyataan itu sukses membuat pertahanan yang sedari tadi dipertahankan gadis itu ikut terhanyut begitu saja. Ya, gadis itu menangis, ikut merasakan kepiluan Sung Min hampir seminggu belakangan ini ia acuhkan.

 

Masih dengan linangan air mata dikedua sudut mata sendunya, Sung Min beranjak pelan dari posisi nyaman disofanya, menghampiri gadis yang tengah menelungkupkan wajahnya dengan kedua telapak tangan mungilnya, memilih untuk memposisikan jiwa dan raganya sepenuhnya disisi gadis itu “apa jika aku berhenti menangis, kau akan menganggap semua ini tidak akan berakhir?”

 

Bisikan suara Sung Min tepat ditelinganya sontak membuat Chan Mi semakin terisak hebat, memberitahukan kepada dirinya sendiri dan juga pria itu bahwa juga ia ikut tersakiti dalam hal ini, ia yang jelas-jelas membawa pisau itu dan ternyata pisau itu juga ikut melukainya.

 

“I..i..itu tidak mungkin Oppa” masih dengan suara terisaknya yang begitu menyayat hati, secepat itu pula Sung Min segera membawa tubuh yang masih bergetar hebat itu kedalam dekapan hangatnya, ia tahu ini adalah pelukan terakhir yang dapat ia rasakan dari seseorang yang begitu berarti dihidupnya hampir 5 tahun belakangan ini, namun semuanya pupus begitu saja oleh rasa lelah. Ya, hanya karena rasa LELAH.

 

Mungkin dalam sebuah hubungan ada sebuah lika-liku perjalanan rajutan benang cinta mereka yang terkadang mengalami kusut saat berusaha untuk memilinnya, namun mereka berdua lebih memilih untuk tidak menyalahkan siapapun dalam hal seperti ini, Sung Min dan Chan Mi masih harus mengerti untuk lebih bersabar dan belajar untuk memaknai dan memahami cinta yang terjalin diantara mereka dengan pola fikir rasa cinta itu sendiri yang semakin tumbuh menjadi dewasa dengan sendirinya.

 

Menyadari Sung Min, lelaki hatinya itu adalah seorang public figure yang tentu saja menjadi hak milik orang banyak mengharuskan Chan Mi untuk lebih sabar dan mengerti tentang jalan hidup yang dipilih prianya itu, dengan segala keerbatasan waktu dan tempat untuk membuat mereka selalu bersama membuat Chan Mi bisa semakin dewasa untuk menempatkan pengertian dalam kerikil kecil yang bisa saja membuat tali yang selama ini mereka rajut putus begitu saja.

 

Dan lagi dengan status public figure yang disandang Sung Min semenjak ia menetapkan hatinya dengan kedua belas hyung dan dongsaengnya tentu saja membuatnya harus beradaptasi dengan lingkungan idol yang begitu glamour, berbagai skandal, rumor dan pemberitaan miring tentang lelakinya bersama dengan gadis-gadis cantik yang namanya turut bersinar itu tidak mematahkan cinta gadis itu begitu saja untuk Sung Min, diselipkan dengan rasa kepercayaan yang begitu luas membuat cinta itu terasa lebih terasa manis.

 

Manis? Tentu saja manis, dari sekian rasa yang menyelimuti dunia ini hanya sebuah rasa yang setiap hari mereka cecap dalam jalinan cinta tanpa seorang pun yang tau. Dengan status idol yang sampai kapan disandang Lee Sung Min mengharuskan Park Chan Mi harus ekstra memberikan kesabaran pada dirinya untuk selalu menyembunyikan kisah kasih mereka yang manis, walaupun itu dengan orang terdekatnya sekalipun. Bahkan gadis itu lebih memilih untuk memberanikan dirinya sendiri untuk sekedar mengapresiasikan kisah percintaan mereka kedalam sebuah fanfiction dimana semua itu sebenarnya adalah tuangan sebuah fikiran dari seorang fans terhadap idolanya, namun satu fakta nyata yang membuat cerita fanfic yang selalu ditorehkan Chan Mi berhasil membuat para pembacanya ikut terhayut kedalam suasana yang terasa nyata dalam setiap kisah yang ia tuliskan adalah karena kisah itu benar-benar terjadi dalam kehidupannya.

 

Dan mendapati fakta bahwa gadis manis dalam cerita fanfictionnya itu ternyata adalah gadis pilihan hati Sung Min yang sesungguhnya tanpa rekaan imajinasi membuat Chan Mi bersyukur mendapati fakta itu, dan sekarang fakta itu akan patah begitu saja didetik-detik bergulirnya setiap detakan jarum jam dengan memilih takdir hidupnya sendiri untuk melepas pria yang begitu dicintainya itu dari kisah perjalanan hidupnya.

 

“Aku bodoh Oppa, aku bodoh!” masih diiringi dengan linangan air matanya gadis itu terus menggerutukan dan mengumpat kebodohannya sendiri dengan rasa lelah dalam hubungan mereka dalam dekapan hangat Sung Min yang tidak begitu saja dilepasnya. Biarkan lah seperti ini untuk beberapa saat. Saat rasa lelah itu semakin mengoyak seluruh system rasa cintanya hingga kebagian dasar kata perpisahan.

 

“jika kau lelah, aku akan membiarkanmu beristirahat Channie. Bukan untuk pergi. Karena rasa lelah itu sebenarnya hanya bisa dimusnahkan dengan kita beritirahat. Memilih keputusan untuk pergi disaat kita sedang lelah itu bukan pilihan yang terbaik” Sung Min mengelus surai-surai rambut sebahu gadis itu dengan lembut, berusaha memberikan ketenangan walaupun hatinya sendiripun masih was-was dengan keputusan final yang akan diberikan gadis itu untuk hubungan mereka.

 

Hening.

 

Sekelompok orang yang memang tadinya asyik merayakan pesta disudut meja disisi barat café ini sudah sepuluh menit yang lalu meninggalkan café, dan kini suasana hening yang memang menyelimuti mereka dengan kebekuan yang begitu terasa ditengah isakan gadis itu yang masih belum berhenti untuk menyalurkan rasa sakit dan kepedihan hatinya.

 

Detik detik waktu terus berjalan sesuai dengan alur kehidupannya, begitu pula dengan deru nafas Chan Mi yang kini terasa lebih teratur dalam pelukan protektifnya, membuat Sung Min tersenyum merasakan detak jantung itu terasa nyata didadanya dan terpaan hangat dari deru nafas gadis itu menyeruak masuk tanpa izin kedalam sudut-sudut terdalam hatinya yang membuat suasana hatinya menghangat begitu saja.

 

Tidak ada lagi getaran tubuh gadis itu  saat menahan tangisnya, tidak ada lagi suara isakan yang begitu menyayat ulu hatinya dan seluruh persendiannya. Sudah hampir 5 tahun menjalin hubungan cinta dengan gadis pilihan hatinya tentu saja Sung Min tau dengan pasti gadisnya itu akan tertidur disaat ia merasa lelah untuk sekedar menangis “Tidurlah Channie..”

 

Sung Min semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Chan Mi saat suara hujan diluar sana terdengar merdu ditelinganya saat bersentuhan dengan bumi yang menjadi pijakannya, memilih untuk meletakkan dagunya dipuncak kepala gadis itu sembari menatap hujan diluar sana yang terlihat menari manis dari balik kaca trasnparant disebelah tempat duduknya.

 

“Aku tau kau lelah untuk terus bersembunyi seperti ini, berusaha menyembunyikan hubungan kita memang tidak mudah, aku tau itu” setetes Kristal itu meluncur begitu mudah dari pelupuk mata Sung Min yang kini terpejam, menikmati suasana romantis yang biasanya akan tercipta dengan sendirinya ditengah guyuran tetesan hujan seperti ini jika bersama Chan Mi-nya.

 

“jika kau lelah, seharusnya kau beristirahat Channie. Cobalah mengistirahatkan hubungan kita sejenak” Lagi-lagi Sung Min menarik nafas panjang sebelum kembali melanjutkan perkataannya yang ia yakin tidak akan didengar oleh gadis dalam pelukannya itu yang masih nyaman dalam posisi tidur menelungkup dibalik dada bidangnya.

 

“jangan memilih pergi disaat kau sedang lelah. Anggaplah seperti ini disaat kau sedang lelah menangis kau harus beristirahat sejenak dari tangismu dan tidurlah dengan nyenyak, memilih untuk pergi disaat kau lelah dalam tangismu akan semakin membuatmu merasakan lelah yang semakin menjadi”

 

Seulas senyum tipis kini terukir dibibir Sung Min sesaat setelah air mata yang entah keberapa kalinya menetas dari matanya itu meluncur bebas “Istirahatlah, aku harap setelah kau membuka mata nanti, kau akan mengerti dan tidak akan pergi begitu saja dari takdir cinta kita”

 

END

 

2 thoughts on ““Because I’m weary” FF Freelance

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s