“The Reason I Live” 1shoot FF Freelance

Fanfiction

Title: The Reason I Live

Author: hellovirus (http://twitter.com/chikamps)

Staring: Park Chanyeol (EXO-K) || Lee Jaekyung (OC) || Xi Luhan (EXO-M) || Choi Euncha (OC) || Do Kyungsoo (EXO-K)

Genre: Sad Romance

Length: Oneshoot

Rating: General

Disclaimer: The casts are belong to God. The story is mine. Inspired by Ailee’s Music Video, Heaven.

Summary: Ada banyak alasan untuk terus menjalani hidup ini setelah dunia membuatmu merasa kamulah yang paling malang. Cukup membuka mata sedikit lebih lebar, dan kau akan menemukan alasan itu..

***

Jaekyung POV

 

Malam ini aku berjalan sendiri menuju apartemenku. Tidak hanya malam ini sebenarnya. Semenjak calon suamiku mengalami kecelakaan satu bulan yang lalu dan meninggal di tempat, aku harus terbiasa pulang sendiri karena tidak akan ada lagi orang yang mengantarku pulang setelah bekerja. Lagi dan lagi, aku memikirkan tentang dirinya. Park Chanyeol. Kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi. Bisa dipastikan kini aku sudah tinggal satu atap dengannya. Rasanya aku ingin mati saja dan menyusulnya jika aku mengingat tentang ini. Mungkin saja di surga nanti kita akan bertemu dan menikah dan hidup bahagia selamanya.

 

Aku memasuki apartemenku dengan malas. Betapa terkejutnya aku mendapati lampu sudah menyala. Mungkin aku lupa mematikannya, batinku dalam hati berusaha untuk tidak merasa takut. Aku berjalan menuju kulkas dan mengambil satu botol air mineral dan menenggaknya habis saat itu juga. Ketika aku membalikan badan, aku melihat siluet seorang pria tengah duduk di sofaku. Aku dengan hati-hati mengambil pisau yang ada di dekatku dan berjalan mendekati pria asing itu. Aku mengacungkan pisau itu ke arah pria yang dengan seenaknya masuk ke dalam apartemenku ini. Betapa terkejutnya aku ketika aku sampai di hadapan pria itu. Aku langsung menjatuhkan pisau yang aku pegang.

 

“Jaekyung-ah, apa kau ingin membunuhku?” kata pria yang ternyata aku mengenalnya itu dengan suara beratnya. Aku merasa mataku memanas saat ini dan ingin menangis.

 

“Chanyeol-ah. Park Chanyeol. Apakah benar ini kau?” tanyaku mengabaikan pertanyaannya yang tadi dan berjalan mendekatinya dengan langkah perlahan. Pria itu -yang ternyata adalah Chanyeol- bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahku juga.

 

Mata kami saling berpandangan saat ini. Aku melihat ia tersenyum dengan sangat manisnya seperti malaikat. Atau jangan-jangan pria ini memang malaikat yang menyamar menjadi Chanyeol dan berusaha menghantuiku mengingat Chanyeol kini sudah tenang di surga.

 

“Chanyeol-ah, aku tidak percaya. Ini bukan mimpi, kan?” kataku lagi dan masih belum percaya 100% dengan apa yang aku alami sekarang. Chanyeol meletakkan tangannya di pipiku dan mengelusnya lembut dengan ibu jarinya. Bahkan aku bisa merasakan sentuhannya. Benarkah ini semua nyata?

 

“Ne, Jaekyung-ah. Aku datang kemari untukmu. Aku tidak tega melihatmu yang seperti mayat hidup selama ini. Aku memohon kepada Tuhan supaya mengizinkanku kembali ke bumi untuk menemanimu. Tapi, aku hanya bisa dilihat olehmu. Aku harap kau bisa menjaga rahasia ini,” jelasnya sambil masih menangkup pipiku.

 

Perasaanku campur aduk saat ini. Haruskah aku merasa senang karena aku bisa merasakan kehadiran Chanyeol lagi? Atau aku harus takut karena makhluk di hadapanku ini bukan manusia? Dengan satu gerakan cepat, aku berjingkat dan memeluk Chanyeol. Aku dapat merasakan ia membalas pelukanku. Rasanya sangat nyaman bisa kembali merasakan pelukannya meski tidak sehangat yang dulu.

 

***

 

Setiap hari Chanyeol datang ke apartemenku. Kini, aku sudah tidak seperti saat Chanyeol meninggalkanku. Aku bisa kembali tersenyum dan tertawa ketika bersama teman-teman di kantorku. Euncha, teman dekatku di kantor, pernah bertanya mengapa aku bisa berubah secepat ini.

 

“Lee Jaekyung, apa yang terjadi padamu? Akhir-akhir ini kau kelihatan sangat senang? Apa kau mendapat pengganti kekasihmu?” tanyanya di sela-sela pekerjaan kami.

 

“Ya! Chanyeol itu tak tergantikan!” seruku. “Euncha-ya, apa kau percaya keajaiban?” tanyaku kepadanya. Ia hanya mengangkat alisnya.

 

“Eung.. Aku mungkin sedikit percaya. Karena sudah banyak orang yang bilang bahwa mereka mendapat keajaiban. Tapi, aku sendiri belum pernah merasakannya. Hey, atau jangan-jangan kau mendapat sebuah keajaiban? Apa itu?” cecarnya sambil mengguncang-guncangkan bahuku. Aku hanya tertawa melihat wajah ingin tahunya.

 

“Sini mendekat,” kataku kepadanya. Ia memajukan tubuhnya dan aku mulai membisikkan sesuatu. “Ini keajaiban yang sangat istimewa. Aku tidak ingin ada orang yang tahu,” bisikku dan langsung meninggalkan Euncha. Ia kesal dan melemparkan gumpalan kertas ke arahku. Aku hanya tertawa melihat wajah kesalnya.

 

***

 

Jam sudah menunjukkan tepat pukul 17.30. Saatnya aku kembali ke apartemenku. Aku sedang duduk menunggu bis yang biasa aku tumpangi untuk mengantarku pulang di halte. Tiba-tiba mobil Audi berwarna hitam berhenti di halte ini. Aku lantas berdiri untuk melihat siapa pengendara mobil mewah itu. Karena di halte ini tidak ada siapa-siapa selain aku, jadi aku rasa si pemilik mobil ada maksud denganku. Pintu mobil itu terbuka dan dari sana terlihat seorang pria berbadan tegap. Ternyata pria itu adalah atasanku, Xi Luhan.

 

“Jaekyung-ssi, kau ingin pulang?” tanyanya dengan nada sedikit gugup. Tidak biasanya ia seperti ini. Ia selalu terlihat tegas dan berwibawa ketika di kantor.

 

“Ne, tentu saja,” jawabku sambil tersenyum.

 

“Mau kuantar pulang?” tanyanya lagi dan kali ini ia sudah tidak segugup tadi.

 

Kali ini aku yang gugup. Sebelumnya, atasanku ini tidak pernah mengajakku untuk pulang bersama. Aku hanya mengangguk kecil mengiyakan ajakannya. Ia tersenyum dan senyumnya sangat manis. Aku baru sadar kalau atasanku ini ternyata tampan juga. Pantas saja banyak pegawai wanita di kantor yang menyukainya.

 

***

Chanyeol POV

 

Sudah dua minggu aku berada di bumi untuk menemani Jaekyung. Gadisku ini semakin hari semakin ceria. Tapi, aku malah merasa kasihan dengannya. Dia butuh seseorang yang mampu memberinya keceriaan yang lebih. Aku hanyalah hantu yang tidak bisa melakukan apapun untuknya. Seperti mengantarnya bekerja atau bahkan sekedar mencicipi makanan buatannya.

 

Hari libur ini ia gunakan untuk di apartemen saja. ‘Aku ingin hanya bersamamu hari ini,’ katanya tadi kepadaku. Ia masak banyak hari ini. Tidak hanya makanan Korea, tapi juga masakan luar negeri. Ada sedikit raut kecewa di wajahnya begitu ia tahu aku tidak bisa memakan makanan manusia. Aku baru memberitahunya barusan. Tapi ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Sangat terlihat jelas di wajahnya.

 

Di sela-sela makannya, bel pintu apartemen Jaekyung berbunyi. Ia melirik ke arahku dan aku membalas dengan isyarat supaya ia membukanya. Aku sedikit terkejut melihat siapa yang datang.

 

Jaekyung POV

 

Luhan datang ke apartemenku hari ini. Aku sedikit gugup karena ini adalah kali pertamanya datang ke apartemenku.

 

“Luhan-ssi. Annyeong,” sapaku ketika aku membuka pintu untuknya.

 

“Annyeong. Boleh aku masuk?” katanya sambil tersenyum. Aku memberinya sedikit jalan untuk masuk dan ia langsung masuk dan duduk di sofaku. Aku melihat sekeliling untuk mencari Chanyeol tapi ia tidak ada dimana-mana. Apa ia bersembunyi? Untuk apa ia sembunyi? Bukankah hanya aku yang bisa melihatnya?

 

“Ada apa Anda datang kemari, Luhan-ssi?” tanyaku sopan kepadanya. Luhan langsung berdiri dan melihat sekeliling apartemenku.

 

“Jangan bicara formal denganku ketika sedang di luar kantor. Ya. Apa kau tidak bosan menghabiskan hari libur hanya disini saja? Aku ingin mengajakmu keluar,” aku sedikit terkejut. Belum sempat aku menjawabnya, ia sudah kembali bicara. “Kau sepertinya masak banyak makanan hari ini. Bagaimana kalau kita piknik?”

 

Aku melihat ke arah meja makan yang penuh dengan masakanku. Idenya benar juga. Lagi pula supaya makanan ini juga cepat habis. “Ah, boleh. Sebentar, Luhan-ssi. Eh. Maaf. Luhan. Aku ganti pakaian sebentar,” kataku dengan gugup. Aku langsung masuk kamar untuk mengganti pakaianku.

 

Aku mendapati Chanyeol duduk di pinggir kasurku. Aku mengampirinya.

 

“Chanyeol-ah, kau kemana? Tidak mau melihat tamuku?” tanyaku kepadanya ketika aku sudah ada di depannya. Ia sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat wajahku.

 

“Ah, iya nanti aku akan melihatnya,” jawabnya setengah gelagapan.

 

“Baiklah. Oh iya, dia atasanku di kantor. Ia mengajakku piknik. Lumayan, kan, aku bisa menghabiskan makanan ini semua,” jelasku kepadanya. Chanyeol hanya menganggukan kepalanya. Apa ia cemburu?

 

Aku memegang pipinya dengan kedua tanganku. “Park Chanyeol, apa kau cemburu?” godaku.

 

“Wae? Apa aku terlihat seperti cemburu?” jawabnya sambil mengerutkan dahi. Aku suka melihat ekspresi wajahnya. “Lebih baik kau cepat ganti pakaianmu. Kasihan tamumu sudah menunggu,” lanjutnya. Chanyeol benar juga.

 

Aku mengenakan terusan tanpa lengan bercorak kotak-kotak selutut. Aku juga membiarkan rambut sebahuku ini tergerai. Setelah semuanya siap, aku langsung menemui Luhan. Ia hanya mengenakan kaos putih dan celana jeans panjang. Ini merupakan pemandangan baru untukku karena selama ini aku hanya melihatnya dalam balutan jas yang formal.

 

“Apa sudah siap semua?” tanya Luhan ketika aku memasukkan lunch box yang terakhir.

 

“Ne, kajja,” jawabku kepadanya. Aku membukakan pintu supaya Luhan keluar duluan. Di dalam, aku berpamitan dengan Chanyeol. Pria itu hanya tersenyum ke arahku.

 

***

Luhan POV

 

Hari ini adalah hari pertamaku jalan berdua bersama Jaekyung. Kencan mungkin? Meskipun aku belum menyatakan perasaanku kepadanya, tapi aku tetap menyebut ini adalah kencan pertamaku.

 

Aku sudah jatuh cinta dengan karyawanku ini sejak pertama ia menginjakkan kaki di perusahaanku. Wajah manisnya yang selalu tersenyum kepada semua orang -termasuk aku- mampu membuatku jatuh cinta setiap hari. Namun sayang, ia sudah punya kekasih. Sempat aku berfikir untuk merebut Jaekyung dari pacarnya. Tapi apa kata dunia nanti jika seorang Xi Luhan merebut kekasih orang? Perbuatan yang sangat memalukan. Hingga aku memutuskan untuk menunggu gadis itu. Jahat memang. Aku mengambil kesempatan dari kematian pacarnya itu untuk merebut hati Jaekyung. Sepertinya aku salah. Gadis itu terlihat menyeramkan ketika ditinggal oleh pacarnya. Aku hampir saja menyerah. Namun keajaiban berpihak padaku. Entah angin apa yang mampu membawa gadis pujaanku ini kembali ceria seperti dulu.

 

***

Jaekyung POV

 

Luhan mengajakku ke sebuah taman. Kami melakukan piknik disana, bermain, serta menghabiskan makanan yang kubuat tadi pagi. Aku juga bertemu dengan teman kerjaku, Choi Euncha, bersama kekasihnya, Do Kyungsoo, yang juga bekerja di tempat yang sama denganku. Tak jarang kami membuat tantangan dan bagi yang  kalah harus memakan semua makanan ini. Tidak kusangka ternyata Luhan bisa seceria ini di luar kantor. Bahkan aku, Euncha, dan Kyungsoo yang jabatannya di bawah dia, bisa dengan leluasa menggunakan bahasa informal. Benar-benar berbeda dengan Luhan yang aku temui di kantor!

 

Setelah acara piknik selesai, Luhan mengantarku sampai apartemenku. Setelah aku membungkuk sopan kepadanya, aku membuka pintu apartmenku. Tiba-tiba tangan Luhan menarik tanganku dan masuk ke dalam apartemen kemudian menutup pintunya dengan sekali banting. Aku cukup terkejut melihat tingkah Luhan saat ini. Sedetik kemudian ia menarikku ke dalam pelukannya dan makin membuat aku bingung. Aku ingin melawan tapi pelukannya tidak menyakitiku sama sekali. Ia seperti hanya menginginkanku untuk merasakan dadanya yang bidang itu. Aku melihat ke arah sekeliling dan melihat Chanyeol yang sedang duduk di sofa sambil memandang kami berdua. Sontak aku melepaskan pelukan Luhan. Tapi Chanyeol hanya menatapku tak bergeming dan kemudian tersenyum. Senyum yang memiliki banyak arti itu cukup membuatku membeku di tempatku saat ini.

 

***

Luhan POV

 

Sudah lima hari Jaekyung bersikap dingin kepadaku sejak hari dimana aku memeluknya. Bodoh! Mengapa aku bisa melakukan semacam itu? Yang lebih bodoh lagi adalah aku langsung keluar begitu saja setelah Jaekyung melepaskan pelukannya.

 

Siang ini aku melihat Jaekyung sedang makan siang bersama teman-temannya yang waktu itu kami bertemu ketika sedang piknik. Aku memberanikan diri untuk menghampirinya. Ketika aku sampai di mejanya, ia memberikanku tatapannya yang tidak biasa -dingin tapi takut. Aku lantas menarik tangannya. Aku bisa merasakan ia mencoba untuk melepas cengkramanku.

 

“Mau kemana?” tanyanya ketika kami sudah sampai di taman belakang gedung kantor.

 

“Kemari,” jawabku dan langsung mengambil kedua tangannya. Aku menatap matanya lekat namun ia berusaha menghindar.

 

Mungkin ini adalah saatnya, batinku dalam hati.

 

“Jaekyung-ah,” panggilku lembut. Ia menoleh untuk menatapku namun sedetik kemudian ia kembali menghindari tatapanku.

 

Aku mengumpulkan keberanianku. Bagaimanapun nantinya, aku harus mengungkapkan perasaan ini. Sekarang juga.

 

“Jaekyung-ah, saranghae..”

 

***

Jaekyung POV

 

“Chanyeol-ah, eottohke???” tanyaku setengah berteriak kepada Chanyeol perihal pernyataan cinta Luhan tadi siang. Chanyeol hanya bisa menggedikkan bahunya pertanda ia tidak tahu harus berbuat apa.

 

“Jaekyung-ah,” panggil Chanyeol tiba-tiba yang mampu memecah keheningan yang baru saja tercipta.

 

Aku hanya memutar kepalaku untuk melihatnya. Beberapa detik kemudian, ia berjalan menghampiriku. Aku mematung ketika ia menarikku untuk berdiri dan aku dibawa ke dalam pelukannya. Sesaat kami membeku dan membiarkan pelukan dingin itu. Namun tak lama ia melepaskan pelukannya.

 

“Jaekyung-ah, kau harus menerima Luhan,” ujarnya dengan nada datar. Aku lantas memundurkan tubuhku satu langkah dan menatap wajahnya lekat-lekat.

 

“Ya! Park Chanyeol! Kau bicara apa? Bagaimana bisa aku menerima pria lain sementara kau masih disini?” jawabku dengan nada sedikit kesal.

 

“Lee Jaekyung! Sadarlah! Apa kau sudah gila?! Aku ini tidak nyata!” bentaknya tiba-tiba. Aku merasa mataku memanas dan seperti akan mengeluarkan cairan beningnya.

 

“Memang aku sudah gila sejak hari dimana kau mengalami kecelakaan! Aku tidak bisa sendiri tanpamu, Chanyeol-ah!” tangisku mulai pecah. Tidak kusangka ia akan berkata seperti ini.

 

“Mian. Tapi kau benar-benar harus menemukan penggantiku, Jaekyung-ah. Kau tidak mungkin selamanya begeni, Lee Jaekyung” ujarnya sambil menatap mataku yang sembab ini.

 

Chanyeol menangkup wajahku dan mengecup bibirku sekilas. Aku sudah tidak bisa berfikir dengan waras kali ini. Aku tarik wajahnya dan menciumnya dengan kasar. Mana mungkin aku bisa melepaskannya.

 

“Jaekyung-ah, hajima!” serunya sambil mendorongku dan aku nyaris terjatuh.

 

“Baiklah kalau itu yang kau inginkan,”

 

***

 

2 minggu kemudian..

 

Aku duduk di sofa apartemenku bersama Chanyeol. Ia tiduran di atas pahaku. Kami sedang membuka album-album foto kenangan kami berdua. Tak jarang kami tertawa karena menemukan beberapa foto dengan ekspresi yang aneh.

 

‘Ting tong..’

 

Suara bel apartemenku berbunyi. Chanyeol segera bangkit dari tidurnya dan aku dengan cepat merapikan album-album foto ini. Aku membuka pintu apartemenku dan mendapati seorang pria yang aku kencani dalam dunia nyata sedang berdiri membawa setangkai mawar merah.

 

“Surprise!” serunya tepat ketika aku menampakkan wajahku. Aku mengambil mawar itu dan mencium aromanya sekilas. Tiba-tiba pria itu mencium pipiku.

 

“Kau tidak perlu serepot ini, Luhan-ah,” kataku kepada Luhan -pria yang datang ke apartemenku. “Aku akan menaruh ini di dalam,” lanjutku sambil masuk ke kamar dan menaruhnya di tempatnya.

 

Aku berjalan melewati Chanyeol yang masih berdiri di dekat sofa. Ia membisikkan sesuatu kepadaku.

 

“Selamat bersenang-senang,” katanya tepat di telingaku. Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya.

 

Kini aku sudah berdiri di hadapan Luhan. Hari ini ia terlihat sangat tampan -tetapi masih lebih tampan Chanyeol. Ia lantas melingkarkan tangannya di pinggangku.

 

“Ayo, kajja,” serunya dengan ceria sambil menarikku keluar.

 

Aku menengok ke belakang sekilas. Melihat wajah Chanyeol yang kini tersenyum ke arahku. Ia lalu melambaikan tangannya. Aku balas tersenyum kepadanya.

 

‘The reason I live is you. You’re my only one way. Only for you – I am thankful that I am next to you. You’re the only one. You taught me love in this harsh world. I am happy with you alone,’

 

FIN

2 July 2013

22:45

One thought on ““The Reason I Live” 1shoot FF Freelance

  1. tatta

    Kukira chanyeol bakal balik ke alamnya(?) setelah jaekyung dapat pengganti dia, tapi ternyata endingnya dibuat mirip sama mv heaven ya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s