Kataomoi Chiisana Koi (Tiny Little Crush)

ANNYEONG……..!!!!!!! Setelah sekian lama tidak publish FF, saia kembali dengan FF Oneshot…!! ENJOY…!!

 

 

 

Nemurenai hodo suki desu, kanawanai chiisana koi.

I love you too much to sleep, this tiny romance won’t come true.

 

Kimi nan desu, kimi no koto desu.

It’s you, it is you.

 

Futon no naka mogurikonda kedo.

I snuggled under the covers of my bed.

 

***

 

Lagi-lagi aku di sini. Memandangi foto-foto dirinya yang kutempelkan di langit-langit kamarku. Kenapa harus langit-langit…?? Agar aku bisa memandanginya sebelum tidur, agar aku bisa selalu mengingatnya sebelum tidurku. Bodoh mungkin, hal paling bodoh yang akan dilakukan oleh seorang pria sepertiku. Aku memandang wajahnya yang tidak membantuku untuk terlelap, malah membuatku semakin terbangun. Dia lah, hanya dia. Hanya dia yang bisa membuatku seperti ini. Hanya dia yang membuatku seperti orang bodoh. Aku memutar-mutar tubuhku sendiri di balik selimutku. Mencoba mengalihkan pandangan mataku dari fotonya dan berharap bisa memejamkan mata meski hanya sejenak. Tidak bisa. Mataku akan kembali memandangnya.

 

***

 

Mabushii sono yokogao, zenzen todokanai yo.

Your bright shining face doesn’t reach me.

 

Wasurenakya wasurerarenai kokoro no naka afureru.

I have to forget, i can’t forget, overflowing in my heart.

 

***

 

Jauh… itu yang kurasakan. Jarak yang memisahkan kami terlalu jauh. Bahkan terlampau jauh. Wajahnya bersinar cerah di pagi hari yang cerah seperti ini. Tapi aku tak bisa melihatnya. Sekali lagi salahkanlah jarak yang terlalu jauh. Hh… Melupakannya… Ya… Itu yang harus kulakukan. Melupakannya… Tapi tak pernah bisa untuk kulakukan… Aku tak pernah bisa melupakannya… Entah sudah berapa lama aku memendam rasa ini… Semakin lama… Semakin menumpuk di hatiku… Di hatiku… Di sini… Rasanya sakit….. Rasanya sudah ingin meledak…

 

***

 

Kono kataomoi ni owari ga aru no nara oshiete yo.

Please tell me if there is an end to this crush.

 

Kono kataomoi wo kizuite hoshii.

I want you to notice this crush i have on you.

 

Atomodori dekinai koi nan desu.

It’s a romance that we can’t come back to.

 

***

 

“Ya, neo babo ya..??” (kau bodoh ya…??)

 

Itu yang sering kudengar orang-orang katakan padaku. BABO. Satu kata yang selalu kudengar tapi tak ada efeknya dalam hidupku. Karna aku tetaplah si BABO. Aku tetaplah seorang bodoh yang tak akan pernah berubah. Aku hanya seorang bodoh yang akan tetap memandang seorang gadis yang sudah kusukai sejak lama. Hanya satu hal yang kuinginkan. Ia menyadarinya. Ia menyadari rasaku ini. Tapi ia tak pernah tahu. Ia bahkan tak pernah tahu kalau aku ada di sekelilingnya. Yang kulakukan selama ini hanyalah memasukkan selembar foto bunga dengan sebaris kalimat di baliknya ke dalam lokernya. Berharap ia membacanya walaupun akan berakhir di tong sampah. Maaf… Tapi sudah terlambat bagiku untuk mengakhiri rasa ini…

 

***

 

Kokuhaku nanka shitara egao sae mirenaku naru kara.

If i admit my feelings, i may not see your smiling face again.

 

Koko kara mitsumeru dake de kamawanai yo.

So i don’t mind just gazing upon you from here.

 

***

 

“Ya, babo, katakan saja perasaanmu padanya….!!”

 

Itu juga nasihat yang selalu kudengar. Tapi aku bisa apa…?? Aku yang berada begitu jauh darinya tiba-tiba menyatakan perasaanku padanya….?? Dianggap apa aku nanti…?? BABO..?? Ya, aku memang BABO…!! Lelaki paling BABO sedunia. Akulah orangnya. Tapi aku tak berani menyatakan perasaanku. Tak pernah berani. Tak berani hanya untuk menyatakan, “Saranghae…” ataupun “Johahae…”. Aku takut… Takut jika aku menyatakannya, aku tak akan bisa melihatnya tersenyum lagi. Takut kalau nantinya aku tak akan bisa melihatnya tertawa. Takut kalau nantinya aku tak akan bisa lagi memandangnya. Karena itu… Aku tak menyatakannya… Aku cukup puas hanya dengan keadaanku saat ini… Memandangnya dari kejauhan…

 

***

 

Kono kataomoi ni owari ga nai no nara sore demo ii.

If there’s no end to this crush, that’s fine too.

 

Kono kataomoi wo mamotte hoshii.

I want to protect this crush i have on you.


Mata nanimo dekinai.

Still, i can’t do anything about it.

 

***

 

“Ya, babo, menyatakan perasaan tak berani, mendekatinya tak berani, akhiri saja lah…”

 

Itu kalimat terakhir yang kudengar dari orang-orang. AKHIRI. Ya Tuhan… Aku tak akan bisa mengakhirinya… Meskipun pada akhirnya tak akan ada akhir untuk rasa ini, aku tak keberatan… Aku juga tak ingin rasa ini berakhir… Aku hanya ingin melindungi apa yang kulimiki saat ini… Aku ingin melindungi perasaan yang kumiliki saat ini… Aku ingin melindungi senyum yang selalu terukir di wajahnya… Aku ingin melindungi tawa riangnya yang selalu kudengar dari kejauhan… Tetap saja… Aku tak bisa melakukan apapun…

 

***

 

Kono kataomoi ni owari ga aru no nara oshiete yo.

Please tell me if there is an end to this crush.

 

Kono kataomoi wo kizuite hoshii.

I want you to notice this crush i have on you.

 

Atomodori dekinai koi nan desu.

It’s a romance that we can’t come back to.

 

***

 

Aku selalu tersenyum di pagi hari. Kalian tahu alasannya…?? Karena setiap pagi saat aku membuka lokerku, akan kutemukan selembar foto bunga dengan sebaris kalimat di baliknya. Kemudian aku akan tersenyum dan meletakannya di sebuah kotak yang kugunakan untuk mengumpulkan foto-foto itu. Bodoh mungkin. Karena aku bahkan tak tahu siapa pengirim foto-foto itu. Hanya saja, sebaris kalimatnya yang ia berikan padaku setiap pagi selalu memberikan kekuatan tersendiri bagiku.

 

“Yuhu… Secret admirer…”, godanya. Ia eonniku yang juga satu kampus denganku. Kemudian ia pergi begitu saja. Meninggalkanku dengan wajah malu yang memerah. Jujur, bohong besar kalau aku bilang aku tak penasaran dengan pengirim foto-foto ini. Kenapa…?? Karena foto-foto ini sudah aku terima sejak kelas 1 SMP. Dan aku yakin bahwa pengirimnya adalah orang  yang sama. Kenapa…?? Tulisan tangannya sama, dan itu kenyataan yang tak bisa berubah.

 

***

 

BRUUKK…!!

 

“Choesonghamnida…”, ujarnya membungkuk kemudian secepat kilat pergi dari hadapanku. Ung…?? Bukunya tertinggal…

 

“Chogi…”, terlambat, ia sudah lenyap dari jarak pandang mataku. Kulihat buku itu, cukup imut untuk ukuran seorang pria. Kulihat nama yang tertera di sana.

 

From Romeo To Julliet..???

 

Tidak mungkin ini namanya…

 

***

 

Sudah beberapa hari ini aku tidak bisa menemui si pemilik buku ini. Maaf, tapi rasa penasaranku untuk melihat isi buku ini jauh lebih besar dari pada kesopananku untuk tidak membuka-buka barang orang sembarangan. Aku membawa buku ini dan duduk di sebuah bangku di taman samping kampus. Sepi, tenang, tempat kesukaanku.

 

“Mianhamnida…”, ujarku pelan, kemudian mulai membuka buku itu.

 

DEG…

 

Isi buku ini sangat membuatku terkejut. Membuatku ternganga dan tidak bisa tenang.

 

Bunga matahari di pagi hari, mengingatkanku akan kemilau sinar wajahmu.

 

Bunga krisan yang putih bersih nan suci, mengingatkanku akan dirimu.

 

Bunga mawar yang elok nan rupawan, mengingatkanku akan dirimu yang cantik dan menawan.

 

Cinta di hati namun mata tak bernyawa, andaikan bisa kusampaikan rasa ini.

 

Cinta di jiwa raga bagai panutan, andaikan aku bisa berada di sampingmu.

 

Itulah beberapa baris kalimat yang terdapat di buku itu. Dan kalian tahu…?? Itu juga kalimat-kalimat yang selalu kuterima selama ini. Kalimat-kalimat yang selalu tertulis di balik selembar foto yang di masukkan ke dalam lokerku sejak aku SMP… Kalimat-kalimat yang selalu memberi kekuatan bagiku untuk menjalani hariku… Kubulatkan tekat. Aku harus bisa menemukannya.

 

***

 

“Oppa…!!!”, teriakku memanggil oppaku satu-satunya yang sudah lama tidak pulang ke rumah. Maklum, kegiatan idoling-nya membuatnya harus menginap di asrama… Segera kupeluk oppaku yang satu itu.

 

“Berat badanmu bertambah, ya…??”, ujar oppa sambil melepaskan pelukannya. Mataku membulat.

 

“Oppa, setelah hampir setahun tidak bertemu dengan adik bungsumu ini, apa harus berkata begitu…??”
, ujarku sambil memajukan bibirku sejauh mungkin. Kesal pada oppa.

 

“Aigoo…. uri aegi ngambek nie ceritanya…??? Wakakakaka….”, malah tertawa. Kupukul bahu oppa dan pergi meninggalkannya masuk ke kamarku.

 

TOK TOK TOK…

 

Pasti oppa….

 

“Aegi ya… Jangan ngambek dunk… Ntar ga oppa kasih hadiah nie….”, ujarnya di balik pintu. Mataku melebar mendengar kata hadiah. Oppa tahu apa hal yang kuinginkan. Selalu kuinginkan… INFORMASI TERBARU TENTANGNYA YANG TIDAK AKAN PERNAH DIJUMPAI DI MEDIA MASA… Sssttt…. Ini rahasia yah… Dengan enggan namun ingin, kubuka pintu kamarku. Oppa masuk sesaat kemudian, aku menutup pintu dan oppa pun memulai ceritanya.

 

*oke, demi menjaga keamanan bersama, bagian ini disensor… Media masa aja ga tw…*

*plak*

 

Selesai bercerita, oppa menghampiri meja belajarku. Entah apa tujuannya. Kemudian ia mengambil buku itu, buku berisikan kalimat-kalimat itu.

 

“Buku ini milikmu…??”

 

*aegi : baby/bayi

 

***

 

Entah ada apa, tapi kakiku membawaku melangkah mendekati meja belajarnya. Di atas sana aku melihat sebuah buku, buku yang dulu selalu kujumpai di dorm. Mulai dari cover, sampai dengan tulisan tangan yang tertera di sana, sama persis. Ku angkat buku itu.

 

“Buku ini milikmu…??”, tanyaku padanya. Ia menggeleng cepat.

 

“Aniyo. Aku menemukannya di kampus sewaktu menabrak seseorang. Tapi aku tak tahu siapa pemiliknya, jadi aku belum bisa mengembalikannya…”

 

Oh iya, setelah kuingat-ingat lagi… Mereka berdua memang satu kampus…

 

KLEK..!!

 

“Oppa…!!”, seru yeodongsaengku yang satu lagi. Dan langsung memelukku. Hahaha…. Tujuannya sudah sangat jelas… Manusia kuda…

 

***

 

Aish… Kini aku merasa bagai pencuri di rumahku sendiri… Aku mengendap-endap di tengah malam masuk ke kamar adik bungsuku hanya untuk mengambil sebuah buku yang kuyakini milik dongsaengku di Super Junior. Babo mungkin… Tapi kalau tidak kulakukan, selamanya hubungan mereka akan begini. Stabil, bahkan diam di tempat. Tidak akan ada kemajuan. Yang satu terlalu pemalu untuk berkata, yang satunya terlalu takut untuk mengungkapkan. Kalau mereka bener-bener jadi couple… jujur, hal itu belum terbayangkan…

 

***

 

Prakk…!!

 

Ku lempar buku itu ke depannya. Ia menatap buku itu dengan mata terbelalak.

 

“Hyung..!!! Di mana kau menemukannya…?? Aku sudah mencarinya begitu lama tetap saja tidak ketemu…”, ujarnya masih tidak percaya bahwa buku itu kini berada di hadapannya.

 

“Adik bungsuku yang menemukannya. Katanya, ia menemukannya setelah bertabrakan dengan seseorang di kampusnya…”

 

“HAH….??!!”

 

***

 

Tunggu… Aku perlu waktu untuk mengumpulkan semua kejadian ini dan menjadikannya satu rangkaian. Dengan langkah oleng aku memasuki kamarku. Merebahkan diriku di ranjang, dan memandang foto-foto dirinya.

 

“Jadi selama ini… Kau adalah adik bungsunya….”

 

***

 

Akh… Setelah hampir sebulan ini tidak ada foto itu, kini foto itu hadir kembali menghiasi lokerku. Namun ada yang berbeda kali ini.

 

Aku tak pernah tahu kenyataan, namun saat aku tahu, aku merasa sangat bodoh.

 

Ung…?? Apa maksudnya…?? Tidak biasanya kata-katanya seperti ini…

 

***

 

“Hyung….”, panggilku ragu…

 

“Mwo…??”

 

“Dia… benar-benar adik bungsumu…??”, tanyaku lagi. Ragu.

 

“He-hm…”, gumamnya menyertai jawabannya dengan sebuah anggukan mantap.

 

“Tak apa-apa..??”

 

“Apanya…??”

 

“Aku menyukainya…”

 

“2 orang bodoh yang saling menyukai kini ada di sekelilingku. Kenapa aku yang tak apa-apa…??”

 

“Maksud hyung…??”

 

“Ya, inma… Nyatakanlah perasaanmu secara gentle… Atau kalian akan sama-sama diam di tempat…”, ujarnya kemudian berlalu ke dapur. Meninggalkanku yang termenung. Menyatakan perasaanku sama saja dengan bunuh diri… Tapi… Apa maksud perkataan hyung yah…??

 

***

 

Foto itu kembali hadir dengan sesuatu yang membuatku terkejut, sangat terkejut.

 

Datanglah ke taman samping kampus yang sepi pukul 5 sore nanti, aku menunggumu.

 

From Romeo To Julliet

 

Taman samping kampus…?? Itu kan tempat favoritku… Apa ia juga tahu itu…??

 

***

 

Aku menunggunya dari kejauhan… Kulihat ia datang dengan wajah berseri. Melangkah ringan ke arah bangku taman, tempat favoritnya untuk duduk. Wajahnya nampak bahagia, menantikan pengagum rahasianya yang kini berniat untuk menampilkan wajahnya untuk pertama kalinya. Ia menundukkan wajahnya sejak tadi, entah apa yang dipikirkannya. Kuhampiri dia, perlahan, selangkah demi selangkah. Kusodorkan buku itu ke hadapannya.

 

“Kau…??”, ujarnya.

 

***

 

Aku tertunduk, bingung akan apa yanng harus kulakukan kalau berjumpa dengannya nanti. Tiba-tiba kurasakan sesosok pria hadir di hadapanku, dan kini buku itu terpampang di hadapanku. Aku mendongakkan kepalaku.

 

“Kau…??”, ujarku terkaget. Ia adalah salah satu wajah yang jarang sekali kutemui. Bahkan kini ia mengenakan topi, masker dan kaca mata hitam untuk menutupi wajahnya. Niat atau tidak sie sebenarnya…??

 

“Nuguseyo…??”

 

***

 

“Nuguseyo…??”, tanyanya polos dan tanpa rasa bersalah. Wajarlah, dengan penampilan seperti ini, semua orang hanya akan menganggapku orang gila dengan penyakit kulit yang menular dan berbahaya.

 

“Park Eunsoo-sshi…”

 

“Ne…”

 

“Kalau aku mengatakan aku menyukaimu… Apakah ada kemungkinan kau akan menerimaku…??”, tanyaku yang sukses membuat wajahnya kini pucat pasi.

 

“Mianhamnida…”

 

***

 

“Mianhamnida…”, hanya itu yang bisa kukatakan, walaupun jujur, aku merasa suaranya amat familiar di telingaku, tapi hanya itu yang keluar dari mulutku.

 

“Wae yo…??”

 

“Aku… Menyukai orang lain…”

 

“Kalau aku boleh tahu… Siapa…??”

“Ia sunbaeku sejak SMP, SMA, sampai sekarang… Orang yang selalu kuamati keberadaannya, namun ia tak pernah tahu keberadaanku, malah, aku mendapat seorang yang mengamati keberadaanku sejak SMP… mungkin kita impas… Cinta bertepuk sebelah tangan memang sama sekali tidak menyenangkan. Namun aku tak bisa melakukan apa-apa lagi… Kini orang itu terlalu jauh untuk kucapai… Jujur, aku bahkan masuk ke universitas ini agar aku bisa bertemu dengannya setiap hari… Namun pada kenyataannya ia jarang masuk ke kampus karena kegiatan idol-nya… Tapi aku cukup bersyukur bisa mendengar suaranya dan nendengarkan oppaku bercerita hal-hal tentang dirinya di dorm… Sekali lagi, mianhamnida…. Aku tidak bisa membalas perasaanmu…”

 

***

 

Wajahku mungkin kini sudah amat memerah saat mendengarnya mengatakan semua itu. Sudah jadi pengetahuan umum di dunia para ELF kalau aku adalah satu-satunya member yang kuliah di Kyunghee University.

“Eunsoo-sshi… Kau tahu….??”

 

“Apa…??”

 

“Kau tidak sepatutnya meminta maaf…”

 

“Kenapa..?? Tapi aku merasa bersalah padamu… karena itu…”

 

“Karena sunbae tercintamu itu juga memiliki perasaan yang sama denganmu…”, ujarku mantap. Ia memandangku bingung. Aku mulai membuka topi, kaca mata, dan masker yang kukenakan. Menyisakan wajahku yang biasa, tanpa make-up.

 

***

 

Ia melepaskan topi, kacamata, dan maskernya. Membuatku tercengang dengan apa yang ada di depanku saat ini. Aku terjatuh saat itu juga. Namun tangannya menangkapku. Hingga kini aku berada dalam pelukannya. Pelukan yang amat kudambakan. Aku yang sekarang sudah siap untuk menangis. Aku mencoba menahan tubuhku dengan bantuan seonbae. Kutatap wajahnya. Kutelusuri wajahnya dengan kedua tanganku.

 

“Seonbae… Apa aku sedang bermimpi…??”, tanyaku masih tak percaya. Seonbae memelukku erat.

 

“Ini bukan mimpi…”

 

“Jeongmal…??”, tanyaku sesenggukan. Seonbae menjauhkan tubuhku sedemikian rupa sehingga kini wajah kami saling berhadapan. Ia menghapus air mataku dengan kedua tangannya.

 

“Jeongmal. Bukan mimpi. Aku, Cho Kyuhyun, mencintaimu, Park Eunsoo…”, ujarnya mantap. Aku menghambur memeluknya kembali.

 

***

 

Ia menyandarkan kepalanya di pundakku. Kami duduk di bangku taman.

 

“Seonbae…”, panggilnya tiba-tiba.

 

“Ini benar-benar bukan mimpi kan…??”, tanyanya lagi.

 

“Wae…??”

 

“Aku takut…”

 

“Takut apa…??”

 

“Aku takut saat aku terbangun, seonbae sudah tidak ada di sampingku… Aku takut saat aku terbangun, akan sangat sakit rasanya mengetahui bahwa semua ini cuma mimpi… Aku takut kalau…”, ucapannya terputus saat kuraih wajahnya ke dalam tanganku.

 

“Biar kubuktikan kalau ini bukan mimpi…”, ujarku mantap kemudian meraih tangan kirinya dan menyematkan sebuah cincin di sana. Kemudian menyematkan cincin yang sama di tangan kiriku sendiri. Cincin yang sejak dulu sudah ingin kuserahkan padanya, namun tak pernah punya cukup keberanian untuk melakukannya.

 

“Seonbae…”, ujarnya terharu. Aku meraih wajahnya kembali.

 

“Kalau besok pagi cincin ini sudah tidak ada lagi di jarimu, barulah itu mengatakan bahwa ini mimpi…”, dan detik berikutnya aku sudah mengunci bibirnya dengan bibirku.

 

***

 

“Hyung…. Kau menyuruh kami semua ke mari untuk menemanimu jadi penguntit yah…??”, tanya Siwon pada Eeteuk. Yang lain hanya mengangguk-angguk setuju dengan apan yang dikatakan Siwon.

 

“Tunggu-tunggu… Lagi seru ini…”, ujar Eeteuk masi sibuk mengamati kisah cinta adik bungsunya itu.

 

“Ya sudahlah, kalau begitu aku pergi duluan, hyung…. Aku ada janji dengan Ririn…”, ujar Siwon kemudian berlalu dari tempat itu. Eeteuk memandangnya penuh amarah.

 

“Ya…!! MA SIWON….!!!!”, teriak Eeteuk penuh amarah. Disambut dengan tawa member lainnya.

 

“Adhu… Semua dongsaengku sudah punya pasangan masing-masing… Eunsoo sudah bersama Kyuhyun, Ririn dengan Siwon… Kapan giliranku yah….??”

 

~~~ THE END ~~~

Cr : Song “Kataomoi Chiisana Koi” by Tegomasu…^^

 

Komen please… ^^

Gamsahamnida… *bow*

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s