[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang

Title: My Jjang vs. Your Jjang

Author: caizhe serenade

Cast: Jessica Jung (SNSD), Kris Wu (EXO), Lee Dong Hae (Super Junior) and other

Genre: romance

Length: chapter

Rating: general

Summary: Kenapa kau menyukainya?/ apa aku harus punya alasan untuk menyukai seseorang?/ jadi kau akan tetap menyukainya?/ sepertinya begitu/kapan kau akan berhenti?/ sampai aku lelah mengejarnya, mungkin.

Jessica Jung dan Kris Wu adalah ketua geng di sekolah. Mereka dijodohkan, tapi Jessica menyukai Dong Hae, sahabatnya. Dan tak seorang pun boleh tahu mereka menikah!

 

Indonesia

“Facial foam, check. Sabun, check. Sikat gigi check, apa lagi ya? Oh…right! T-shirt-nya.”

Jessica Jung memasukan barang-barangnya kembali ke dalam koper biru besarnya, tak lupa t-shirt biru bergambar bendera swiss dengan tanda tangan Bryan McFadden personil Westlife kesayangannya. Dia akan pergi ke Perancis untuk mengunjungi adiknya besok. Panas yang cukup terik menembus jendela kamarnya. Indonesia memang panas, padahal sekarang sudah bulan Oktober yang artinya cuaca akan semakin sejuk. Seseorang mengetuk pintu kamarnya, ibunya bersandar pada pintu sambil menyilangkan tangan.

“Kamu udah mau pergi? Cepat banget, baru juga kamu nyampe.”

“Eomma, aku sudah dua minggu disini. Apa itu kurang lama?”

Jessica masih memakai bahasa Indonesia yang baku, belum terbiasa dengan bahasa Indonesia yang santai. Berbeda dengan adiknya yang sudah terbiasa dengan semua bahasa yang dia bisa, termasuk bahasa Indonesia.

“Kamu tuh ya, dua minggu itu kurang kalau kamu ngunjungin keluarga kamu. Masa kamu udah mau pergi lagi!” ibunya menghela napas panjang.

“Eomma kan tahu kalau liburanku hanya sebentar, aku tidak bisa berlama-lama disini. Lagipula eomma juga akan pergi bersamaku, appa juga.” Jessica kembali membereskan pakaiannya.

“Oke, mama nyerah. Kamu udah kasih tau Krystal kalau kamu mau ke Perancis?”

“Belum sih, tapi dia pasti tahu kalau keluarga kita akan berkumpul disana.”

“Oh ya, kamu inget sama sahabat mama yang di Perancis kan? Om Joe? Kamu inget anaknya?”

“Maksud eomma, Kris?”

“Iya, mama pengen kamu ketemu sama dia. Dulu kan dia pemalu baget, gimana ya dia sekarang?”

“Jangan katakan kalau eomma akan mengenalkanku pada anaknya LAGI! Aigoo, aku baru kelas tiga SMA!”

Ibunya masuk ke kamar Jessica sambil membantunya memasukkan pakaian ke koper. Walaupun ibunya sudah berumur setengah abad lebih tapi dia masih sehat, tidak kalah dengan anak-anaknya. Ibunya juga sering menelepon anak-anaknya yang tinggal di dua Negara berbeda hanya untuk mengingatkan mereka untuk sarapan atau membangunkan mereka. Jessica yang saat ini menetap di Korea Selatan, tanah ayahnya, kadang merindukan saat keluarga besarnya berkumpul, dan dia pikir Krystal, adiknya yang ada di Perancis juga begitu.

Besok Jessica dan orang tuanya akan mengunjungi keluarga dari ibunya yang tinggal di Paris. Ibunya memang berdarah Perancis – Indonesia sedangkan ayahnya asli Korea. Rencananya besok Jessica juga akan mengunjungi adiknya yang sedang sekolah disana.

Ibunya berdeham sedikit, “Mama hanya mau kamu ketemu lagi sama dia. Emang salah kalau kamu reuni sama temen lama?” ibunya memang pantang menyerah.

“Tidak masalah sih eomma mau mengenalkanku pada siapa, tapi ini sudah yang kesekian kalinya. Kalau begini terus aku jadi lelah sendiri, eomma!”

Ibunya memang sering membuatnya berkenalan dengan beberapa anak dari temannya. Kadang hal itu membuat Jessica kesal. Tapi Jessica tidak bisa berbuat apapun, baginya kebahagiaan ibunya adalah nomor satu.

Jessica melirik ponselnya, tapi ponsel biru dengan hiasan boneka itu masih bergeming. Dia meraih ponselnya dan memeriksa pesan, hasilnya nihil. Belum ada pesan yang masuk, Jessica mendenggus kesal. Dia belum menelepon atau mengiriminya pesan, padahal dia sudah berjanji. Bahkan Jessica sudah mengiriminya pesan lebih dulu saat dia baru tiba di bandara Soekarno-Hatta, tapi dia belum membalasnya sampai saat ini.

Lee Dong Hae, teman masa kecilnya, teman sekelasnya, teman sebangkunya, dan sahabatnya, berjanji akan meneleponnya saat Jessica sudah sampai di Indonesia. Mungkin dia terlalu sibuk untuk membalas pesanku atau mengangkat teleponku, bagus sekali! Pikir Jessica dalam hati. Jessica menggigit bibir bawahnya dengan jengkel. “Hebat sekali! Kemana saja kau?”

“Dong Hae belum nelepon kamu?” ibunya bertanya.

“Tepat! Dan dia berjanji akan meneleponku saat aku tiba disini.”

“Kamu udah nelepon dia?”

“Sudah tapi dia tidak menjawab.”

“Dia sibuk, tunggu aja dulu.”

“Lupakan saja.” Katanya tegas. “Duduk seperti orang sakit begini tidak akan membuahkan hasil. Eomma punya minuman dingin?” ia melemparkan ponselnya ke tempat tidur dan beranjak dari situ.

_*_

Sorenya Jessica sudah duduk didepan laptop sambil membaca manhwa online. Kegiatan yang disukainya saat ada waktu luang selain berkelahi. Ya, Jessica Jung adalah seorang Jjang atau ketua geng di sekolahnya, Super Generation High School. Geng bernama Dead Eye yang hampir seluruh anggotanya laki-laki, termasuk Dong Hae.

Awalnya Jessica dan Dong Hae hanya berkelahi mengalahkan  salah satu anggota dari geng tersebut, lalu orang itu melapor pada ketuanya, Jessica dan Dong Hae terpaksa melawan mereka. Dengan bantuan dua orang dari dojo, Jessica dan Dong Hae yang saat itu baru saja pulang dari latihan taekwondo mengalahkan sepuluh orang dari geng itu beserta ketuanya. Keesokan harinya saat hari kelulusan, ketua geng itu meminta Jessica untuk menggantikannya sebagai Jjang yang baru. Selain itu, karena ketangguhannya Jessica dijuluki Ice Queen, karena dia sulit dikalahkan seperti balok es.

Jessica meminum jus alpukatnya dengan santai, terlalu sibuk dengan dunia manhwanya. Ia sudah selesai membereskan pakaiannya hanya tinggal menunggu sampai besok. Ponselnya mengalunkan lagu Season In The Sun milik Westlife, tanda ada telepon masuk. Tanpa melihat siapa yang menelepon Jessica mengangkatnya.

“Halo?” jawabnya dalam bahasa Indonesia.

“Yeoboseo? Sica?” orang di ujung sana bicara dalam bahasa Korea.

Jessica merubah bahasanya, hanya satu orang yang memanggilnya Sicca.

“Mau apa kau?”

“Aku hanya bertanya kabarmu.”

“Jangan sok akrab denganku.”

“Ayolah, apa susahnya untuk menjawab ‘aku baik’ atau ‘aku tidak baik’?”

Jessica tidak tahan lagi, dia kesal. “Lee Dong Hae, you jerk! Kemana saja kau? Sesibuk itukah kau sampai tidak bisa menjawab teleponku?”

“Mianhae, aku baru saja selesai dari memakan anak-anak Kwon Jin High School.”

“Kau serius? Hebat, sebenarnya aku sudah gatal ingin menghabisi mereka sendiri, sayangnya aku harus mengunjungi orang tuaku.”

Dong Hae terkekeh pelan diseberang sana. “Kau jangan khawatir, aku masih bisa mengatasinya disini. Kau sudah jadi Hyungnim yang hebat. Liburan saja dulu.”

“Kadang terlalu banyak liburan membuatku kaku dan lelah. Kau tahu sendiri bagaimana mamaku.”

“Arayo, sudah dulu ya, aku masih harus latihan taekwondo.”

Klik! Telepon ditutup. Jessica memandang ponselnya, senyum mengembang dibibirnya. Dong Hae sudah menelepon, beres sudah.

_*_

Perancis

Udara yang dingin dibulan Oktober, musim gugur, membuat semua orang merapatkan mantelnya, termasuk Kris Wu. Ia sedang berjalan menikmati segelas coklat hangat dan crepes khas Perancis yang baru saja dibelinya dipinggir jalan. Rambut pirang dan poninya yang cukup panjang dibiarkan berantakan tertiup angin. Ia berjalan ke arah taman dan duduk disalah satu bangkunya, terlalu malas untuk kembali ke rumah neneknya dan mengikuti acara keluarga. Ayahnya berdarah Perancis asli, selalu mengadakan acara keluarga tiap tahunnya.

Sebenarnya Kris lebih suka di Seoul, setidaknya dia tidak sendirian disini. Angin kembali bertiup membuat daun kembali berjatuhan. Kris tidak mau ketinggalan momen itu, dengan cepat dia memotretnya dengan kamera yang dia bawa. Orang-orang berlalu lalang didepannya, tapi ia tak peduli. Yang ada dipikirannya hanya satu, bagaimana cara menghindar dari pesta keluarganya, dari perjodohannya.

“Unnie, aku mau beli crepes dulu. Kau mau?” seseorang berteriak didekatnya.

Kris mencari asal suara itu, dua orang gadis dengan wajah yang hampir mirip sedang berbicara. Satu dari mereka berambut pirang bergelombang dan satunya hitam. Yang berambut pirang menoleh ke kanan dan kiri, lalu dia mendesah sebentar. Kemudian matanya tertuju pada Kris, gadis itu berjalan ke arahnya.

“Pourrait déplacer un peu?” tanya gadis itu dalam bahasa perancis yang artinya ‘bisa geser sedikit?’

Kris mengangguk tanpa mengucapkan apa-apa, dia menggeser duduknya ke kanan. Gadis itu duduk dengan melipat kakinya diatas bangku, hal yang tidak biasa dilakukan seorang gadis. Gadis itu mendengus kesal. Kris menoleh heran, dan sepertinya gadis itu sadar kalau Kris melihat ke arahnya.

“Désolé.” Gadis itu meminta maaf.

Kris tersenyum sopan, “Kau orang korea?” tanyanya dalam bahasa Korea.

Gadis itu mengangguk pelan. “Kau juga? Aku kira kau orang Perancis.” Dia menjawab dalam bahasa Korea.

“Tidak, aku orang Korea. Hanya mampir kesini untuk acara keluarga.”

“Jeongmal? Aku juga. Membosankan sekali harus menghadiri acara itu.”

Kris terkekeh pelan. Dalam hati dia menyetujui ucapan gadis ini, senang rasanya ada yang sependapat dengannya mengenai acara keluarga yang konyol ini.

“Sorry, aku harus pergi. Adikku sudah menunggu.” Gadis berambut hitam tadi melambai ke arahnya dan gadis itu beranjak pergi.

Kris mengehembuskan napas panjang. Dia tak ingin tahu sekarang jam berapa, dia hanya ingin sendiri saat ini, dia menutup matanya. Angin berhembus lagi, kali ini cukup kencang, membuat rambut Kris semakin berantakan. Beberapa remaja yang lewat menatapnya dengan tatapan menggoda, Kris mengabaikan mereka. Tiba-tiba tiba ponselnya berbunyi. Damn, acaranya pasti sudah akan mulai! Batin Kris.

“Yeoboseo, ne abeoji? Acaranya sudah mulai?… huh! baik, aku kesana sekarang.”

_*_

Jessica datang tiga menit sebelum acaranya dimulai. Kali ini acaranya bukan pesta keluarga biasa, acara kali ini seperti reuni SMA ibunya. Hampir semua teman ibunya datang ke pesta, beruntung Jessica datang beberapa menit sebelum acaranya dimulai, kalau tidak dia pasti menunggu kebosanan.

Ibunya melambaikan tangan padanya. Dengan berat hati Jessica harus meninggalkan mangkuk sup yang baru saja dia makan setengahnya. Dia melihat ibunya dan beberapa temannya sedang mengobrol, termasuk Om Joe, sahabat ibunya.

“Ini anakku yang pertama, Jessica Jung dan itu adiknya Krystal.” Kata ibunya sambil menunjuk krystal yang sedang asik mengambil gambar. Jessica membungkuk sedikit.

“Kamu inget Om Joe kan?” kali ini ibunya menunjuk seorang pria tinggi besar yang sudah taka sing lagi bagi Jessica. “Kata Om Joe, dia bawa anaknya kesini. Mama pengen kamu nemuin anaknya.”

Jessica tersenyum. “Hai Om!” Om Joe yang asli Indonesia hanya mengangkat tangannya.

“Kamu udah besar ya! Gak nyangka kalian cepat banget tumbuhnya. Kayaknya Kris bakal suka deh sama kamu!”

“Maksud Om?”

“Begini Jessica,” ibunya angkat bicara. “mama sama Om Joe emang udah lama pengen ngejodohin kamu sama Kris. Bahkan dari kamu kecil kami emang udah sepakat, kalau kalian berdua udah besar, kami mau ngejodohin kalian.”

Jessica terkejut mendengarnya. “Mengapa eomma tidak membicarakan hal ini padaku terlebih dahulu?”

“Mama tau ini mendadak sayang, tapi mama gak bisa ngebatalin janji ini. Gak enak sama Om Joe!”

Jessica tahu ibunya sangat ingin menjodohkannya dengan Kris. Jessica tidak berdaya, ia ingin ibunya bahagia, tapi hal ini terlalu jauh dari pikirannya. Jessica mengepalkan tangannya.

“Apa eomma yakin ingin menjodohkanku? Bagaimana kalau Kris tidak suka dengan tingkahku? Denganku? Apa eomma tidak menyesal?”

“Semua itu pasti bisa diselesaikan sama kalian berdua. Lagian dulu kalian sering main bareng, kan?” ibunya mencubit pipi Jessica dengan gemas.

“Baik. Kalau itu keputusan eomma, aku angkat tangan. Terserah eomma saja!”

Tiba-tiba Om Joe angkat bicara. “Tadi Om ajak Kris kesini, tapi kayaknya dia lagi ngambil minum deh. Nah, itu dia anaknya!” Om Joe berseru sambil menatap seorang pria dengan dua gelas minuman ditangannya.

Pria itu masih muda, mungkin lebih muda setahun darinya. Tubuhnya tinggi, tidak terlalu kurus. Rambutnya pirang dengan poni yang menutupi keningnya. Kulitnya putih, mancung, wajahnya berbentuk oval, cukup menarik. Kalau diperhatikan gaya berpakaiannya keren, Jessica paling tidak suka pria yang gayanya buruk. Jessica tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria itu. Entah apa yang membuatnya begitu, tapi Jessica berpikir pria itu punya wajah yang khas, campuran antara wajah yang tampan, imut, dan berwibawa. Menarik untuk dilihat. Pria itu memakai kemeja putih santai dengan celana jins hitam dan sebuah syal putih yang dililitkan di lehernya. Ada apa dengan pikiranku? Aneh sekali! Batin Jessica.

“Nah Jessica, ini Kris. Kamu masih inget kan?” tanya Om Joe sambil menepuk punggung anaknya yang ternyata adalah Kris.

Jessica bingung, panik, terlalu pusing untuk mengeluarkan kata-kata. Semua kalimat yang tadi sudah ia susun rapi di kepalanya sekarang hancur berantakan.

“Oh…” hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

Dengan cepat dia memutar otaknya. “Kau itu yang ditaman kan?”

“Well, kita bertemu lagi.” Jawab Kris santai.

Ibunya menatap mereka berdua, heran. “Jadi kalian udah ketemu duluan? Bagus dong kalau begitu!”

“Jadi kau Kris? Kukira kau masih seperti dulu. Kukira kau…” jessica tidak bisa melanjutkannya.

“Waktu bergulir Jessica, semua orang berubah dengan cepat.”

“Jadi kau menerima pertunangannya?” kini Kris menaruh minumannya.

“Pertunangan apa? Kukira ini acara perjodohan biasa yang bisa kubatalkan!”

“Kau tidak tahu? Kukira ajumma sudah mengatakannya padamu.”

Jessica menatap ibunya tajam, “Eomma, ada apa sebenarnya ini? mengapa aku harus bertunangan dengan Kris? Kami bahkan baru bertemu!” serunya kesal.

“Tenang sayang, kan mama udah bilang kalau kalian kami jodohin, bahkan dari kalian masih kecil. Lagian kamu juga udah setuju kok tadi.” Kata ibunya sambil memutar matanya.

“Tapi eomma tidak bisa begitu! Aku punya kehidupan sendiri, eomma.”

“Mama tahu sayang, ini buat kebaikan kamu juga kok. Kamu coba jalanin aja, pesta pertunangannya bakal diselenggarain besok. Kamu siap-siap ya.”

Rasanya Jessica ingin lenyap saja dari tempat itu sekarang juga. Dia bahkan berharap tidak mengenal Kris. Apa-apaan ini? mengapa hidupnya diatur begini? Apa maksud semua ini? seseorang tolong katakan ini hanya lelucon! Siapa saja, tolong!

“Pernikahan kalian sebaiknya bulan depan saja. Om mau kalian saling mengenal dulu.”

Jessica menatap Om Joe seakan dia mahluk asing yang tiba-tiba ikut dalam pesta ini. dia melirik Kris sekilas, sepertinya Kris punya pikiran yang sama dengannya.

Jessica mengerutkan keningnya. “Pernikahan? Kami baru bertemu hari ini Om!”

“Mengapa bulan depan?” tanya Jessica dan Kris bersamaan.

_*_

Pernikahan? Yang benar saja! Kris baru bertemu dengannya ditaman tadi dan sekarang! Oke mereka memang saling mengenal waktu kecil tapi ini berbeda. Dulu bahkan mereka tidak bermain bersama! Kris terlalu malu untuk mengajak Jessica bermain, atau takut.

Minggu lalu ayahnya memberitahu Kris tentang pertunangan itu. Tak masalah, hanya tunangan. Dia bisa membiarkannya setelah itu membatalkannya. Kris tidak peduli dengan pertunangan konyol ini, pada awalnya. Sekarang, mau tidak mau dia harus peduli, dia akan menikah bulan depan, dengan gadis yang hanya bertemu dengannya beberapa kali dalam hidupnya. Ini tidak mungkin terjadi. Ayahnya pasti gila, mereka pasti bercanda.

“Mengapa bulan depan?” Kris menyerukan semua teriakan dikepalanya. Rupanya gadis itu juga mengatakan hal yang sama.

Kris menghembuskan napas berat. “Abeoji, mengapa harus menikah? Apa pertunangan saja tidak cukup?”

“Kau ini, benar-benar! Kalau kau menikah paling tidak masih ada yang mengurusmu!” kata ayahnya sambil menggelengkan kepala.

“Aku sudah besar, tidak perlu diurus lagi. Lagipula kami masih sekolah, masih kelas tiga!”

“Tapi sebentar lagi kalian akan lulus. Coba saja dulu, lama kelamaan kalian akan terbiasa.” Kali ini ajumma mengatakan pendapatnya, yang langsung disetujui oleh ayahnya.

“Mengapa kami harus menikah, abeoji?”

“Sudahlah Kris, ayah sudah membicarakannya denganmu minggu lalu, dan kau tahu sendiri, kalau ayah sudah membuat keputusan maka ayah tidak akan menariknya lagi dan itu tidak bisa diganggu gugat!” jawab ayahnya tegas.

Ya, keputusan ayahnya memang tidak bisa diganggu. Salah satu kelebihan dan salah satu kekurangan ayahnya.

“Eomma, bisa tidak aku menolaknya? Aku tidak yakin dengan ini.” mohon gadis itu pada ibunya, sayangnya ibunya sependapat dengan ayah Kris.

“Kalian berdua gak bisa nolak lagi. Semua keluarga udah setuju dengan pernikahan kalian.” Ajumma tersenyum simpul.

“Selain itu ayah akan berikan salah satu rumah ayah di Korea untuk kalian berdua. Tenang saja, kalian bisa pindah kamar sesuka hati kalian!”

Oh damn! Sebenarnya apa yang mereka pikirkan? Rumah? Yang benar saja! Ide gila siapa ini?

Smartphone Samsung Kris berbunyi, dengan cepat dia mengeluarkannya. Sebuah pesan dari Tao sahabatnya, mengatakan selamat berjuang untuknya. Kris tersenyum sekilas, Tao memang tahu kalau Kris paling tidak suka pergi ke Perancis. Dalam hati Kris berterima kasih pada Tao karena bisa mengalihkan pikirannya sejenak dari percakapan gila ini.

“Mianhae, abeoji. Aku tidak bisa ikut pernikahan ini!” kata Kris tegas.

Ayahnya meneleh terkejut. “Apa maksudmu?”

“Abeoji tahu kami masih muda. Aku tidak mau dikekang dengan pernikahan ini, abeoji.”

“Ini bukan masalah kekang-mengekang, Kris!”

“Tentu saja, abeoji!” kini Kris berseru kesal. “baik, aku mau ikut pernikahan ini, tapi dengan satu syarat.”

Ayahnya dan ibu Jessica menatapnya heran.

Kris menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. “Aku ingin pernikahan kontrak saja!”

Kris bisa merasakan tatapan empat mata, termasuk adik Jessica, menatap terkejut ke arahnya. Dia tak peduli, ini hidupnya, dia yang menentukan.

Dia melihat ke arah Jessica. Ekspresi gadis itu sulit ditebak. Bingung, terkejut, puas, dan bahagia, bercampur jadi satu. Ya, menurutnya ini keputusan yang tepat. Hanya satu tahun. Ini bukan hal yang sulit, Kris meyakinkan dirinya sendiri. Kris kembali menatap Jessica, meminta pendapatnya.

“Y…ya…ya itu usul yang bagus. Lagipula aku juga tidak mau terkekang dengan semua ini.” Jessica menatapnya, sekelebat rasa kagum terlintas pada wajah gadis itu.

“Bagus kalau begitu. Aku dan Jessica sudah setuju kalau kami ingin pernikahan kontrak.” Kata Kris puas.

Ayahnya mendesah keras. “Dasar anak muda. Bagaimana ini sekarang?” dia meminta tanggapan ibu Jessica.

“Baik. Mama akan ikuti syarat Kris.” Jessica tersenyum senang. “Tapi kalian harus tinggal bersama di rumah yang ayah Kris berikan!”

Jessica dan Kris saling berpandangan. “Mwo?”

Oh tidak. Kalau mereka tinggal serumah, bagaimana dengan teman-temannya? Kris memutar otak, sepertinya Jessica begitu juga. Kris mulai gelisah, dia anak yang cerdas, tapi mengapa saat genting seperti ini tidak ada yang muncul dari kepalanya?

“Oke…oke. Tapi aku tidak mau teman-temanku tahu kalau aku serumah dengan Kris. “

Bisa dibilang Jessica puny aide yang bagus, kawin kontrak, sekarang teman-teman kami tidak boleh tahu kalau kami serumah. Setelah itu apa lagi?

2 thoughts on “[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang

  1. tatta

    Kemaren2 belum minat baca soalnya genrenya romance,tapi karena ketiga main castnya aku suka semua aku coba baca & ternyata seru juga🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s