[Oneshot] Still The Same

Author: SadJune

Cast: Cho Kyuhyun & [You]

Genre: Romance, Hurt

Rating: T

Disclaimer: I don’t own any of the characters, just story belong to me

Things change but some feelings stay the same

Seorang pria sibuk merapikan penampilannya di depan cermin, sedangkan aku hanya melipat kedua tanganku di dada sembari memperhatikan setiap gerak-geriknya, aku hanya bersandar di dinding ruangan.

“Apa aku sudah terlihat tampan?” tanyanya, ku lihat pantulan senyum terukir jelas dari cermin, bibir tipis berwarna merah muda itu tak pernah lekang untuk tersenyum. Aku membalasnya dengan senyum simpul.

“Ya, kau selalu tampan, Kyu,” ujarku, berjalan mendekat dan merapikan kemejanya agar sosoknya tampak sempurna. Matanya terus tertuju pada setiap tindakan yang ku lakukan padanya.

“Baiklah, aku pergi kencan dulu, doa’ kan semoga kencanku sukses! Sampai nanti malam!” tuturnya, kemudian memilih untuk berjalan menjauh dariku, dia sempat melambaikan tangannya sebelum berlalu dari pintu, aku membalas lambaian tangan itu dan terus menebarkan senyum padanya, menyatakan bahwa aku selalu mendukungnya dari jauh.

Setelah sosoknya menghilang dari penglihatanku, aku menghela nafas berat, belakangan ini terlalu sulit untuk bernafas, sesak itu terus menjalar lewat nadiku. Aku hanya seorang wanita biasa yang baru menikah dengan lelaki bernama Cho Kyuhyun tepat satu tahun lalu. Ya, kami memang merupakan pasangan baru, tetapi nampaknya keadaan mengubah jalan hidup rumah tangga kami. Semenjak penyakit itu, penyakit yang takkan seorang pun kira akan menyerang sosok lelaki yang menjadi teman hidupku, Kyuhyun. Ia mengidap penyakit Alzheimer atau hilang ingatan sejak enam bulan lalu, beberapa bulan setelah kami menikah.

Awalnya aku tak mengetahui gejala penyakit Kyuhyun, tetapi ketika enam bulan lalu, ia terkapar di ruang kerjanya dan di bawa ke rumah sakit oleh karyawan lain, aku pun baru mengetahui penyakit apa yang mengendap di otak Kyuhyun sejak setahun lalu, aku tak begitu menyadari gejalanya, dia hanya mengeluh bahwa dia sering mengalami sakit kepala dan melupakan sesuatu, mulai dari barang kepemilikannya, nama sahabatnya, bahkan sampai dia merasa bimbang kemana arah yang harus dia tuju untuk ke kantor dan pulang ke rumah.

Sebagai pasangannya, aku sangat terpukul dengan penyakit yang dideritanya, aku tak menyangka Tuhan menguji pernikahan kami secepat ini, dimana saat Kyuhyun sadar dan membuka matanya ketika di rumah sakit, hal yang dia katakan merupakan hal paling menyakitkan yang keluar dari mulutnya, mendengar sendiri kata-kata itu dari orang yang paling ku cintai, kata-kata yang tetap terngiang di benakku sampai detik ini, “Kau siapa?” tanyanya, dengan tatapan tak berdosa.

Aku hanya bisa menelan ludah, air mata yang tertahan di pelupuk mataku bertumpah ruah begitu saja mengalir di pipiku, merasa sangat miris. Aku memilih keluar dari ruangan saat itu, sementara orang tuanya menjelaskan arti hadirku untuknya, meskipun mereka tak memaparkan bahwa aku ialah pelabuhan terakhirnya.

Setelah pemeriksaan lebih lanjut, diketahui Kyuhyun hanya mengingat keluarganya, dia yang beranggapan baru berusia 20 masih berstatus lajang dan tidak memiliki kekasih, bahkan seorang istri, sehingga menjadi sebuah tamparan keras bagi kehidupan rumah tangga kami, kala itu kedekatan kami sebagai pasangan yang harmonis telah sirna tak bernoda.

Aku sendiri sempat tersentak mendengarnya langsung dari kedua orang tuanya, membuatku semakin mengalami kekecewaan, namun mereka meyakinkanku bahwa Kyuhyun akan segera kembali dalam pelukanku, meskipun butuh waktu untuk membiarkan Kyuhyun mengingat semuanya, aku pun memahami dan menerima dengan lapang dada bila Kyuhyun hanya akan menganggapku sebagai seorang sahabat yang tinggal lama bersamanya.

Di sisi lain, aku merasa terkejut bila dia tak mengingat sama sekali kenangan yang terajut di antara kami selama bertahun-tahun, bahkan dia tak mengingat nama panggilanku. Apakah ingatan tentang kita hanya sebatas ingatan sementara yang akan terhapus begitu saja dengan penyakit mematikan itu? Apakah cintanya untukku hanya bersifat semu? Hatiku bergejolak, tetapi rasa cintaku lebih besar dari keegoisanku sendiri, akhirnya aku memutuskan untuk tetap tinggal bersamanya, meskipun di satu atap kami harus terpisah ruang, tak lagi saling menghangatkan.

Aku hanya akan menangis dibelakangnya, berusaha tegar dan menutupi perasaanku sesungguhnya di hadapannya, aku tak ingin lagi dia yang berusaha mengingat setiap kepingan kenangan yang pernah terjadi di masa hidupnya bersamaku, karena itu hanya akan membuatnya lebih menderita dan mungkin mempersingkat hidupnya. Aku rela jika Kyuhyun hanya terus menganggapku sebatas sahabat, asal aku dapat melihatnya bahagia dengan senyuman yang terus terpancar dari wajah tampannya, hingga waktu itu tiba, hingga Kyuhyun tak lagi menginginkanku untuk berada di sisinya lagi.

Sejak penyakit Kyuhyun terus menjangkit otaknya, aku memutuskan membawa Kyuhyun untuk pindah dari tempat asalnya, aku ingin dia memiliki hidup baru, sehingga dia tak perlu lagi mengingat hal yang sulit untuk diingatnya secara sempurna. Kyuhyun pun menyetujuiku untuk pindah ke pulau Jeju, pulau yang cukup membawa udara segar bagi kami. Disinilah kami menulis lembaran baru kehidupan kami, meskipun dengan status yang berbeda, aku bekerja sebagai pelayan toko, sedangkan Kyuhyun sibuk mengejar gadis yang baru dikenalnya dua minggu lalu, saat ditemuinya tak sengaja ketika gadis itu mengunjungi toko tempat aku bekerja.

Namanya, Soora. Dia gadis manis dengan rambut sebahu, bentuk rupa wajahnya yang sempurna dengan bibirnya yang selalu merona, tersenyum lembut begitu ramah pada Kyuhyun, membuat Kyuhyun seolah terpana melihat sihir dari rupanya. Dia juga memahami kondisi Kyuhyun yang semakin hari kian menurun, dia berjanji padaku bahwa akan membantu mengawasi Kyuhyun jika diriku sedang sibuk bekerja.

Meskipun di depan Kyuhyun, aku merasa acuh terhadap hubungan mereka, tetapi di dasar hatiku, aku merasa terkhianati. Cinta yang terpupuk begitu lama, kini tak bisa tumbuh berkembang lagi, mungkin akan melayu seiring berjalannya waktu melihat kedekatan mereka. Mataku selalu memerah ketika melihat kemesraan mereka dari jauh, aku sering merenung mengapa Kyuhyun tidak kembali jatuh cinta padaku seperti sedia kala, seperti dulu yang menyatakan bahwa dia mencintaiku sejak pandangan pertama? Apakah itu tak berlaku lagi bagi wanita yang membosankan sepertiku?

Aku jadi mengingat ketika pertama kali Kyuhyun meminta untuk mengakhiri hubungan kami sebelum kami menikah, pertengkaran kecil hampir menjadi ujung perpisahan kami, dimana Kyuhyum mengatakan aku adalah wanita yang membosankan, hanya tersenyum palsu melihat kekasihnya akan direbut oleh gadis lain, aku memang wanita tanpa banyak ekspresi, wanita yang akan memalingkan wajah dari orang yang dicintainya, sehingga dia tak melihat sosokku yang terlarut dalam kesedihan, tak melihat buliran air mata yang jatuh dari ujung mataku, aku tak ingin melihatnya merasa bersalah karena melihat aku yang terluka. Simpulnya, aku hanya tak ingin mendapat simpatik darinya.

Mengingat hal tersebut membuatku seperti bernostalgia, aku merindukan masa-masa itu, dimana akhirnya Kyuhyun yang akan memelukku erat, menangis di dalam ceruk leherku, menyatakan penyesalannya yang pernah mengatakan bosan terhadap hubungan kami, sesungguhnya dia hanya ingin aku menunjukkan ekspresi rasa cintaku padanya, tetapi aku tak pernah berniat melakukannya, aku hanya akan membalas kata-kata cintanya, jika dia berkata “Aku mencintaimu,” dan dengan sedia hati aku menjawabnya kembali, “Aku pun begitu, Kyu.”

Ah, itu telah terjadi dua tahun lalu, dan kini kondisinya berbeda. Aku tak pernah mendengar lagi kata cinta dari bibirnya, terutama untukku. Apakah kehadiranku yang sekarang tak membawa perubahan apapun tentang perasaannya terhadapku? Benarkah bahwa tak ada lagi kesempatan sekecil apapun untuk menciptakan kembalinya kebersamaan kita, Kyu?

Aku melirik jarum jam di dinding yang terus berdetak seakan mempercepat waktu yang telah berlalu, dan tak ku sadari sudah menunjukkan pukul sembilan malam, padahal aku sudah menunggunya sejak tiga jam lalu, hanya terduduk di sofa ruang tamu, sampai bunyi bel terdengar di telingaku. Aku bergegas membuka pintu, berharap apa yang ku lihat sesuai dengan harapanku.

Saat aku membuka gagang pintu, ku lihat sosoknya berdiri kaku di depan mataku dengan wajah datarnya, tepatnya wajah yang kini memucat, bibirnya membiru dan matanya yang berair. Tanpa ku sadari tubuhnya terjatuh ke dalam pelukanku. Tak berselang lama, ku dengar isak tangis keluar dari mulutnya, aku pun mengalungkan tanganku ke pundaknya, mengelusnya pelan seakan menenangkan dirinya.

Hiks, dia menolakku! Soora menolakku, apakah aku lelaki yang buruk?” rengeknya sambil mengeratkan pelukan kami, aku merasakan basah pada lengan pakaianku, dan ku tahu dia menangis di bahuku. Aku mengulum bibirku sendiri, merasakan kesedihannya yang menjadi bagian dari kesedihanku.

Aku pun melepaskan pelukan kami, aku menangkupkan kedua tanganku di pipinya, mencoba menghapus jejak airmatanya dengan ibu jariku, “T-tidak, Soora pasti menyesal menolakmu, kau lelaki yang baik, Kyu. Percayalah!” Mata kami saling bertemu, mencoba meyakinkan dirinya, bahwa tak ada yang perlu ditangisi selama aku masih di sisinya, aku akan terus menjaga dan merawatnya, bahkan aku bersedia mati menggantikannya.

Kyuhyun tersenyum tipis mendengar ucapanku, tetapi setelah itu senyum itu terhempas begitu saja ketika tubuhnya goyah, matanya terpejam. Aku menopang tubuhnya yang lebih ringan dari sebelumnya, aku mengetahui bahwa dirinya mulai tak sadarkan diri. Dengan panik, aku membawanya ke rumah sakit. Di sepanjang perjalanan aku terus membatin, ‘Ku mohon jangan lagi terjadi, jangan lagi terjadi Tuhan, dimana dia melupakan aku lagi. Aku tak ingin mengulangi kenyataan yang menyakitkan untuk kedua kalinya. Ku mohon jangan tinggalkan aku sendiri di dunia yang sepi ini tanpa hadirmu, Kyu, ku mohon Tuhan!’

Hari demi hari pun berlalu, Kyu di rawat di rumah sakit dengan kondisi yang menyakitkan bagiku untuk melihatnya terlalu lama, dokter mengatakan bahwa kondisinya memburuk akibat guncangan di hidupnya. Pikiranku langsung tertuju padanya, apa benar ini karena ulahnya?

Aku pun memutuskan untuk menemui seseorang yang harus bertanggung jawab atas kondisi Kyuhyun saat ini, aku datang ke sebuah Café di sudut kota, dimana tempat Soora bekerja.

Aku mengepalkan tanganku saat melihat sosoknya yang tanpa rasa bersalah sedang melayani pelanggan. Aku berjalan menghampirinya dan menariknya keluar dari Café tersebut.

“Apa yang kau lakukan pada Kyuhyun, Soora? Apa kau gila telah menolaknya setelah kau mempermainkan perasaannya?” aku membentaknya, emosi di kepalaku sudah memuncak, sehingga aku tak tahu harus menumpahkannya dengan cara apa, hingga ujungnya aku berdiri di depan Soora, menyudutkannya sekarang.

Soora terlihat membulatkan matanya setelah aku menuduhnya, “Kau yang gila. Mana mungkin kau membiarkan suamimu direbut oleh wanita lain? Wanita macam apa kau? Seharusnya kau yang dicintainya, bukan aku!” elaknya, matanya berkilah marah. Ia yang mengetahui bahwa pernah ada cinta diantara kami, tak membuatnya merasa egois untuk memiliki Kyuhyun seutuhnya.

Ekspresi wajahku berubah seketika, ucapan Soora menghujam langsung tepat ke relung hatiku, aku hanya bisa tertunduk sejenak merasa ikut bersalah membiarkan Kyuhyun pernah mengenalnya, kemudian mendongak melihat awan yang mendung di langit sana, seolah mencari-cari jawaban yang tepat untuk membalas ucapan Soora barusan.

“Mengapa diam, eh? Kau tak perlu mengelaknya, bukan? Itu semua benar, dan kau tak perlu ragu dengan suamimu sendiri. Meskipun dia hilang ingatan sekali pun, dia tak pernah benar-benar melupakanmu,” Soora memegang kedua bahuku, ekspresi wajahnya melembut seketika, memberikanku kekuatan dengan tutur kata yang diucapkannya,

“Dia selalu berbicara tentangmu, mulai dari kebiasaanmu, pekerjaanmu, betapa perhatiannya dirimu padanya, bahkan dia berkata bahwa dia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya bila tak ada kamu disisinya.” Soora menekankan tiap katanya, meskipun ku lihat dia menelan kekecewaan terhadap dirinya sendiri.

“Tahu ‘kah kamu saat itu juga aku ingin berteriak bahwa aku iri padamu, aku iri padamu yang memiliki sosok suami seperti Kyu, dengan keterbatasan yang dia punya, dia tetap berusaha mengingat sosokmu, dia terus mengatakan bahwa kehadiranmu sangat bermakna bagi hidupnya, meskipun dia tak pernah mengingat kenangan bersamamu sekali pun, yang dia ketahui hanya satu, bahwa jika kau disisinya, maka dia akan baik-baik saja,” lanjut Soora yang tersenyum pahit menerima kenyataan bahwa sebenarnya dia mulai mencintai sosok Kyuhyun, tetapi Soora memilih berkorban demi kebahagiaanku. Soora tak ingin menghancurkan cinta yang sudah terekam lebih lama di hati Kyuhyun untukku, bukan ‘tuk dirinya. Soora bukan wanita egois yang melupakan kenyataan bahwa cinta tak bisa dipaksakan, cinta yang murni akan selalu menang pada akhirnya.

Aku pun terpaku mendengar semua penjelasan gamblang dari Soora, setelah menyatakan hal tersebut, Soora memilih untuk meninggalkanku sendiri, hanya sejenak meratapiku yang sedang merenungi kebimbanganku selama ini. Mengapa aku begitu bodoh sampai tak menyadari bahwa Kyuhyun masih menganggap eksistensiku penting di dalam hidupnya?

Aku berjalan gontai kembali ke rumah sakit, tempat Kyuhyun sedang terbaring lemah disana. Aku pun tak bisa berbuat banyak sampai detik ini.

Hingga aku membuka gagang pintu ruangannya, terlihat Kyuhyun yang terbaring, menoleh ke arahku, Kyuhyun telah membuka matanya lagi dan melontarkan senyum hangat padaku. Ku sadari ‘tuk pertama kalinya dia tersenyum padaku ketika dia sadar, menyiratkanku bahwa dia masih mengingatku, walaupun ingatannya tak pernah sama seperti dulu.

“Kau kemana saja? Aku bertanya pada suster dan dokter, tetapi mereka tidak tahu kau dimana?!” Kyuhyun mengerucutkan bibirnya, dia seperti kehilangan sesuatu semenjak aku tak berada di ruangan ini dari beberapa jam lalu semenjak dirinya tersadar.

Aku melangkah mendekat ke arah ranjang Kyuhyun, aku duduk di samping ranjang dan menggenggam tangannya. Setidaknya Kyuhyun tak pernah menolak sentuhanku terhadapnya, tak pernah sekali pun. Ketika mengingatnya, aku tersenyum kecil, meskipun terlihat raut lelah di wajahku, aku akan terus memakai topengku dimana aku terlihat baik-baik saja di hadapannya, namun saat itu juga tangannya meraih wajahku, mengelus pipiku berulang kali dan kami saling berpandangan. Tak ada kata yang terucap dari bibir kami, hanya matanya yang teduh membuatku tenang berada di sisinya, dapat melihatnya pun sudah cukup bagiku.

Asalkan Kyuhyun tetap hidup di dunia ini bersamaku, Kyu tetaplah sama, suamiku yang selalu akan kembali ke pelukanku. Meskipun hari-hari kebersamaan kami semakin sedikit, meskipun Kyu harus berjuang, bertahan dari penyakit mematikannya, meski tubuh Kyu makin kurus mengering, wajahnya kian memucat, hingga pada akhirnya kondisi mentalnya kelak akan melemah, bahkan tak lagi berfungsi untuk mengingat segalanya, Kyuhyun tetaplah sama. Satu-satunya orang yang paling ku cintai dan ku kasihi semasa hidupku.

Pada akhirnya, ku pahami rangkaian kata cinta takkan pernah terucap lagi di antara kami, karena sejujurnya di dalam hati kami masing-masing pun telah mengetahuinya, bahwa kami tak bisa membohongi diri kami yang saling membutuhkan dan menopang untuk terus mencoba mencintai di sepanjang sisa hidup kami.

Tamat

N.b: maaf jika ada kesalahan bertebaran di ff saya #bow

2 thoughts on “[Oneshot] Still The Same

  1. Yokyuwon

    Hiks….cintai sampai mati,ini jdulnya.
    。:゚(。ノω\。)゚・。

    miris jg yg jd istri kyu,gk diingat sm sekali.tp pd akhirnya kyu ttp membutuhkan istrinya untuk tetap disampingnya,sadar atau tidak sadar klu dia sdh punya ikatan dgn yeoja yg menjd istrinya.

    bolehkah aku berharap You disini adalah aku *dilemparsparkyu/lirikDika
    😉

    Huwaaaa…akhirnya setelah sekian lm bsa bc tulisan Dika lg…..*hugDika😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s