[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 2

Title: My Jjang vs. Your Jjang

Author: caizhe serenade

Cast: Jessica Jung (SNSD), Kris Wu (EXO), Lee Dong Hae (Super Junior) and other

Genre: romance

Length: chapter

Rating: general

Summary: Kenapa kau menyukainya?/ apa aku harus punya alasan untuk menyukai seseorang?/ jadi kau akan tetap menyukainya?/ sepertinya begitu/kapan kau akan berhenti?/ sampai aku lelah mengejarnya, mungkin.

Jessica Jung dan Kris Wu adalah ketua geng di sekolah. Mereka dijodohkan, tapi Jessica menyukai Dong Hae, sahabatnya. Dan tak seorang pun boleh tahu mereka menikah!

Pagi-pagi sekali Jessica sudah dikejutkan dengan suara nyaring adiknya. Pagi ini akan diadakan acara pertunangannya dengan Kris, mengingat hal itu Jessica semakin malas untuk bagun dari tempat tidurnya.

“Unnie, ayo bangun! Kau harus bersiap-siap!” Krystal menarik selimut yang menyelimuti tubuh Jessica.

Jessica menggeliat sebentar. “Kan sudah kubilang, pestanya yang biasa saja. Tidak perlu yang mewah!”

“Tapi tetap saja kau harus bangun. Sudah sana, pergi ke kamar mandi dan ganti bajumu!”

Dengan malas, Jessica beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Dengan cepat dia mandi dan mencuci mukanya. Setelah selesai dan membuka pintu, Jessica hanya menemukan sebuah kaus biru panjang dengan bintang-bintang sebagai hiasannya dan sebuah celana jins putih panjang, yang dia yakin baru kemarin dibeli adiknya.

Jessica mendesah kesal. Apa boleh buat, dia juga sudah setuju dengan rencana ini. Hanya saja, ternyata menjalaninya lebih sulit daripada menyetujuinya. Semua pemikiran aneh tentang pernikahan ini tiba-tiba saja terlintas dibenaknya. Anio, anio, anio! Jessica menepis pemikiran aneh itu.

“Unnie, sudah siap?” tanya Krystal yang tiba-tiba sudah ada didepan pintu kamarnya.

Jessica mengangguk. “Kuharap begitu!” dia berjalan mengikuti adiknya. “Jadi bagaimana susunan acaranya?”

“Mudah saja, tidak terlalu rumit.”

“Oh ayolah, jangan bermain dengan kata-katamu.”

“Aku serius, unnie. Kali ini pesta yang biasa saja sesuai keinginan Kris oppa.”

“Maksudmu?”

“Iya, kalian hanya harus menyapa tamu sebentar, mengumumkan kalian sudah bertunangan dan segala speech yang berkaitan dengan itu, lalu makan-makan, dan selesai. Hanya itu yang harus kalian lakukan.”

Jessica memiringkan kepalanya. “Terdengar rumit bagiku.”

“Oh ya satu lagi!” Krystal tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Jessica. “Kalian akan pulang besok lusa, untuk melihat rumah baru kalian. Pastikan jangan ada barang aneh yang kau bawa!”

Jessica mengangkat bahunya. “Well, beat me!”

Jessica menyusuri lorong yang cukup panjang untuk sampai ke halaman belakang rumah nenek Kris. Rumahnya memang besar jadi cocok untuk mengadakan pesta.

Saat Jessica sampai di halaman belakang, dia hanya bisa berdiri mematung dengan mata terkejut. Yang dia inginkan hanya pesta biasa tapi yang dia lihat sekarang adalah pesta yang meriah. Banyak sekali tamu yang berdatangan. Kebanyakan adalah teman dari orang tuanya dan Kris. Krystal tidak mengatakan apa pun soal ini, semua orang memakai gaun dan jas.

Jessica mencari Kris dengan matanya. Jangan katakan kalau hanya dia yang memakai baju santai ke pesta ini. Tidak. Kris juga memakai baju yang santai. Dia hanya memakai kaus putih dengan jaket army dan celana jins hitam. Sepertinya acara ini dirancang agar mereka terlihat stand out, atau terlalu stand out?

“Satu lagi, unnie.” Jessica menatap adiknya, sepertinya dia baru sadar kalau adiknya juga memakai dress biru selutut. “kau harus terlihat mesra dengan Kris oppa. Mereka pikir kalian sudah pacaran dan sangat akrab.”

Jessica mendesah. Satu lagi beban yang harus ditanggungnya. “Aratsoyo. Terlihat mesra, sudah pacaran!”

_*_

Kris mulai malas dengan semuanya. Kali ini dia harus terlihat mesra dengan Jessica, itu scenario yang disuruh ayahnya. Mereka harus terlihat seperti sepasang kekasih, sekarang pasangannya saja belum datang, bagaimana dia mau memainkan perannya.

Kris mengalihkan pandangannya menuju lorong. Dia meletakan tangannya di meja dan melamun. Tak lama kemudian, dua orang gadis keluar dari lorong itu. Seperti dalam buk cerita saja, dia mengharapkan Jessica datang dan PUFF! Orang yang ditunggunya sudah ada didepannya.

Kris menghampiri Jessica. Dia terlihat manis. Kris tersenyum sekilas, dia mulai memainkan perannya.

“Are you ok? Mengapa kau lama sekali?” Kris memegang bahu Jessica pelan.

Sepertinya dia terkejut dengan acting tiba-tiba ini. Jessica mundur selangkah.

“Bertingkahlah seperti kita memang sudah akrab!” bisik Kris sambil mendekatkan dirinya  pada Jessica.

“Oh, ya, maaf, aku lupa.” Jessica juga berbisik padanya.

“Maaf, tadi aku hanya bingung memilih baju.” Tambahnya lagi. Act mode On. “Kau sudah menunggu lama?”

“Tidak terlalu. Ayo, kita harus beri sambutan pada tamu kita!” Kris sengaja mengucapkannya dengan volume yang cukup keras.

Mereka berjalan menuju sebuah panggung kecil berhias bunga mawar merah di sekelilingnya. Kris menghembuskan nafasnya.

“Perhatian untuk semuanya! Kami,” Kris menatap Jessica sambil tersenyum. “hanya ingin mengumumkan pada kalian, bahwa kami sudah bertunangan. Kami juga meminta doa dari kalian semua supaya pernikahan kami bulan depan bisa berlangsung lancar. Gamsahabnida!”

Saat turun dari panggung itu Jessica terus saja menatapnya. Kris membawanya ke tempat yang lebih aman untuk mereka berdua.

“Apa? Mengapa kau menatapku seperti itu?”

“Anio, aku hanya… sudahlah lupakan saja. Kau tidak serius dengan kalimatmu ‘pernikahan bulan depan’ kan?”

“Jessica, kita sudah sepakat. Rencana orang tua kita tidak bisa diganggu lagi, ini hanya kawin kontrak!”

Jessica menatapnya kesal. “Hanya kawin kontrak katamu? Kau tidak tahu bagaimana perjuanganku pagi ini, hanya untuk hadir dalam acara tolol ini!”

Tidak, jangan sekarang. Kris sedang malas menanggapi kemarahan Jessica. Tapi bukannya menenangkannya, Kris malah terpancing.

“Kau kira hanya kau? Aku juga! Bahkan untuk berdiri dipanggung tadi sambil menggandeng tanganmu, rasanya itu hal terkonyol yang pernah kulakukan.”

“Jadi kau merasa konyol karena menggandeng tanganku?”

“Kau kenapa sih? Kenapa kau tiba-tiba jadi emosional begini?”

“Ini semua karena kau! Menurutmu ini ‘hanya’ kawin kontrak, tapi tidak menurutku. Aku tidak suka pernikahan seperti ini!”

“Sudahlah, berhenti mengoceh dengan semua keluhanmu.”

“Aku bukan mengoceh, aku protes, Kris.”

“Terserah apa maumu.”

“You know what, aku muak dengan semua ini.” setelah itu Jessica pergi, meninggalkan Kris sendirian.

_*_

Korea Selatan

Dua hari telah berlalu, sekarang Jessica dan Kris, serta keluarga mereka sudah mendarat di bandara Incheon, Korea Selatan. Rencananya hari ini ayah Kris akan menunjukkan rumah baru mereka. Jessica tidak memperhatikan mereka, dia masih kesal dengan ucapan Kris saat pesta pertunangannya.

‘Hanya pernikahan’ katanya? Huh. Jessica tidak bisa menerima itu. Baginya sebuah pernikahan adalah hal yang sacral, dia tidak ingin mempermainkan pernikahannya. Dan Kris, dengan mudahnya dia berkata kalau ini hanya pernikahan. Seakan dia mengatakan menikah sama mudahnya dengan memilih sabun cuci.

“Jessica…jessica… kau sakit?” tanya Om Joe padanya dalam bahasa Korea.

Jessica menggeleng, baru sadar dari lamunannya. “Anio, tadi Om tanya apa?”

“Apa kau suka rumah barumu?”

Jessica menatap lurus, tak terasa dia sudah sampai disebuah rumah putih besar. Menurut Jessica rumah itu seperti terbuat dari tiga buah balok. Bertingkat dua, dengan taman, dan garasi yang muat untuk dua mobil. Wow!

“Besar sekali. Jadi nanti aku akan tinggal disini?” Jessica menatap kagum rumah itu.

Kini ibunya terkekeh pelan. “Bukan nanti, tapi besok. Sekitar jam sebelas pagi truk pengangkut barangnya datang. Makanya kamu harus buru-buru.” Ibunya ikut memakai bahasa Korea.

“Selain itu, bukan hanya kamu yang tinggal disini, Kris juga akan tinggal sama kamu.” Tambah ibunya.

Jessica dibawa masuk oleh Om Joe untuk melihat isi rumah itu. Dua kamar tidur utama dengan toilet didalamnya, sebuah kamar tamu, sebuah dapur, sebuah ruang makan didekat dapur, sebuah ruang tamu yang cukup besar beserta ruang tv disampingnya, dan sebuah halaman belakang.

Terlalu besar untuk ditempati dua orang! Pikir Jessica dalam hati.

“Om yakin akan memberikan rumah ini pada kami?” tanya Jessica ragu.

“Sebenarnya rumah ini akan diwariskan pada Kris, tapi karena kalian akan menikah jadi rumah ini untuk kalian!”

Malamnya Jessica termenung di apartemennya. Barangnya sudah dimasukkan ke kardus dan dia tinggal menunggu truknya besok. Jam sudah menunjukkan tengah malam tapi Jessica tidak merasa ngantuk sama sekali. Otangnya terlalu sibuk untuk merasa lelah, dia memikirkan kegiatannya besok. Mulai besok dia harus menyewakan apartemennya selama setahun. Dia akan pindah ke ‘rumah barunya’ bersama Kris.

_*_

Hari ini secara resmi, Jessica dan Kris akan tinggal bersama. Semua barang sudah dipindahkan ke kamarnya, menunggu untuk dibereskan.

Jessica meminta seorang pembantu di rumah itu untuk membuatkannya sarapan. Dengan santai dia menunggu makanannya siap sambil membaca manhwa. Terdengar seseorang menuruni tangga dengan cepat. Pasti Kris. Pikir Jessica.

Kris datang dengan pakaian rapi. Sepertinya dia akan pergi. Dia memandang Jessica sebentar lalu berjalan mendekati meja makan.

“Hey, kau masih marah soal kemarin?” Jessica pura-pura tidak mendengarnya.

“Aku bicara padamu.”

“…”

“Listen, aku minta maaf soal perkataanku waktu itu. Aku menyesal!”

“…”

“Oh ayolah, katakan sesuatu. Jangan buat aku bicara sendiri!”

“…”

Kris menghembuskan napas keras, Jessica masih membisu. “Baiklah, Jessica Jung, aku minta maaf soal perkataanku kemarin dan aku tidak akan mengulanginya. Jadi tolong katakana sesuatu padaku.”

“Kau yakin? Are you really regret your words?”

“Yes. So you forgive me?”

Jessica memutar matanya. “Ya, tapi hanya kali ini saja.”

“Oke, kalau begitu aku akan sebutkan peraturan disini.”

“Peraturan? Kau gila? Aku sudah pusing dengan pertunangan ini, sekarang kau mau mengaturku?”

Jessica mengetuk-ngetuk jarinya pada meja dengan tak sabar. Mereka baru saja berbaikan, sekarang mereka akan bertengkar lagi? oh, yang benar saja!

“Terserah apa maumu, tapi ibumu menunjukku sebagai kepala keluarganya.”

“You must be kidding!”

Kris mengabaikannya. “Pertama, sebisa mungkin, kita sarapan bersama. Kedua, jangan beritahu alamat rumah ini pada siapa pun. Ketiga, rumah ini harus bersih dan rapi. Keempat, makan malam bersama pukul tujuh, dan itu wajib. Kelima, jika salah satu diantara kita ada yang pulang terlambat, maka harus memberitahu.” Kris selesai dengan peraturannya.

Jessica menatap Kris tajam. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi sarapannya datang, terpaksa dia menundanya dulu. Sebuah sereal dengan susu coklat tersaji didepannya. Jessica menepis rasa laparnya untuk sementara, dia harus mengatakan ini pada Kris.

“Whatever. Tapi aku ingin kita tidak mencampuri urusan masing-masing. Agree?”

Kris menjabat tangan Jessica yang terulur. “Setuju.”

_*_

Waktu cepat berlalu. Tak terasa sudah seminggu lebih Kris tinggal dengan Jessica. Menurutnya gadis itu menaati peraturan yang dia buat. Bagus. Hanya saja, walaupun mereka tinggal bersama, tapi mereka tidak pernah saling menyapa setiap bertemu. Hal yang aneh mengingat mereka sudah bertunangan, meskipun mereka dipaksa, tapi tetap saja ini aneh bagi Kris.

Sore itu, Kris sengaja tidak langsung pulang ke rumah. Dia hang-out bersama teman-temannya disebuah bar. Teman-temannya sedang membahas rencana mereka untuk menyerang salah satu sekolah yang sudah mereka incar beberapa hari ini. Saat itu, Chen tiba-tiba membahas seorang jjang perempuan yang sering disebut Ice Princess. Sebuah pesan masuk ke Smartphone-nya. Dari ayahnya. Pernikahannya dipercepat menjadi minggu depan karena mulai bulan depan ayahnya akan sibuk. Satu lagi bertambah masalah.

Sekarang ceritanya sudah sampai pada kehebatan Ice Princess itu. Chen masih semangat menceritakannya. Tidak, Kris terlalu bosan untuk mendengar Chen mendongeng. Kris menopang dagunya dengan malas, pandangannya menatap lurus ke jendela besar disampingnya.

Semua sama saja seperti terakhir dia disini. Hal yang sama setiap harinya. Orang menyeberang jalan, mobil menunggu lampu hijau, seseorang menunggu temannya. Terlalu datar.

“Hey, daripada kalian berceloteh seharian seperti nenek tua, lebih baik cari sesuatu untuk dipukul!”

Kris menatap teman-temannya tajam. Dia memang jjang disekolahnya. Walaupun dari luar dia terlihat dingin dan tidak peduli, saat berkelahi dia seperti mad dog.

Teman-temannya saling bertukar pandangan. Detik berikutnya mereka menyetujui usul Kris. Sore itu mereka berangkat ke salah satu sekolah target mereka. Hanya tinggal beberapa sekolah lagi dan mereka akan menjadi geng terkuat di Seoul.

Kris dan yang lainnya sampai disebuah lapangan luas, tempat mereka akan berkelahi. Hari ini awan mendung, Kris berharap semoga jangan hujan. Lapangan itu sepi saat mereka datang. Tak lama kemudian deru mesin motor terdengar dari kejauhan. Tidak perlu menunggu lama karena lawan mereka sudah sampai, murid-murid dari Mu-Joon High. Dengan cepat mereka turun dari motor masing-masing dan menyerang geng Kris tanpa aba-aba.

Hujan mulai turun, tapi pertarungan baru saja dimulai. Beberapa dari mereka meyerang Kris sekaligus, dia berhasil menghindar. Tapi sebuah tinju melayang ke pipinya tanpa bisa dia hindari. Darah segar menetes dari sudut bibirnya. Kris menyeka darah itu dengan kemejanya, napasnya sudah tidak teratur, hujan ini yang membuatnya resah. Entah apa yang membuatnya tidak suka hujan, dia tidak ingat.

Dua orang maju lagi menyerang Kris dengan pukulannya. Seorang dibelakang memegangi badan Kris agar dia tidak berkutik. Seorang dari mereka datang lagi, melancarkan tendangan pada perut Kris. Tidak, hujan ini membuatnya lemas. Rasanya Kris tak sanggup lagi berdiri, dalam hatinya dia tahu, dia harus menang. Kali ini dia harus bangkit.

“Brengsek kalian! Jangan membuatku marah!” seru Kris kesal sambil bangkit berdiri.

Kali ini dia berkelahi seperti mad dog. Sudah lama dia tidak seperti ini, lama sekali. Kris bisa merasakannya, seperti semua kekuatan mengalir pada tubuhnya. Dia menolak untuk menyerah pada hujan. Napasnya semakin tidak teratur, kalau begini terus Kris pasti pingsan. Dia maju beberapa langkah, menarik napas dalam-dalam, lalu membuka matanya.

Kris memukul siapa saja yang ada dihadapannya. Dia tidak bisa melihat dengan jelas, pandangannya kabur. Kris hanya mengandalkan pendengarannya. Seseorang berhasil jatuh karena tinjunya. Kris masih terus berjalan. Seseorang datang, Kris melayangkan tendangannya, cukup tinggi sampai sejajar dengan kepala orang itu. Dengan gerakan cepat, dia menendang lawannya tepat dirahangnya.

Hujan semakin deras, sebagian besar lawannya sudah dikalahkan. Oh ya, dia akan pulang terlambat hari ini, dia harus menelepon Jessica. Kris menekan angka dua, teleponnya belum tersambung, badan Kris menggigil. Angkat Jessica! Cepat angkat!

Pandangan Kris semakin kabur, lalu suara ceria Jessica terdengar. “Yeoboseo?”

Kris hendak mengatakan hal yang sama, tapi dia tidak bisa merasakan kakinya. Oh tidak, jangan sekarang. Dia harus memberitahu Jessica. Lalu semua memudar dan akhirnya gelap

_*_

“Yeoboseo?”

Jessica menatap iphone miliknya heran. Tidak biasanya Kris meneleponnya.

“Yeoboseo?” tidak ada jawaban.

“Apa-apaan ini? dia mencoba mempermainkanku?” maki Jessica pada iphone-nya.

Dong Hae melihat sahabatnya bingung. Seingatnya suasana hati Jessica saat ini sedang bagus. Dong Hae kembali menyendok es krimnya. Dia suka mendengar Jessica bicara. Suara Jessica yang ceria dan jernih bisa membuatnya nyaman.

“Seseorang meneleponmu?” Jessica mengangguk.

“Dia tidak menjawab?” Jessica mengangguk lagi.

“Jangan marahi ponselmu. Bukan salahnya kalau orang itu tidak menjawab.”

Jessica menatap Dong Hae. “Aku tahu bukan salahnya. Tapi dia mempermainkanku.”

“Apa yang membuatmu berpikir kalau orang itu mempermainkanmu?”

“Entahlah, tapi aku yakin dia mempermainkanku.”

“Jangan begitu, siapa tahu nanti dia memberitahu keadaannya dan minta maaf padamu.”

“Huh, yang benar saja. ‘Maaf’ selalu menjadi pemanis saat hal menyakitkan terulang.”

Jessica meletakkan ponselnya dengan kesal dan kembali melahap es krim pesanannya. Dia tidak ingin memikirkan Kris saat ini, dia sedang bersama Dong Hae.

“Jadi,” Jessica menyuapkan es krim ke mulutnya. “bagaimana liburanmu?”

Dong Hae tersenyum sekilas. “Tak banyak. Tapi aku berkenalan dengan seorang gadis. Namanya Yuri”

Please, Jessica hanya bertanya. Dia tidak ingin mendengar Dong Hae bercerita tentang gadis yang dekat dengannya. Dong Hae masih sempat berkenalan dengan gadis itu, tapi tidak sempat menelepon atau membalas pesannya.

“So, did you have fun?”

“Of course, yes!”

“Huh, hebat sekali!” Jessica mendengus kesal.

Dong Hae pikir Jessica masih marah soal orang yang tadi meneleponnya. “Kau marah?”

“Ah tidak. Hanya saja seseorang membuat darahku mendidih. Rasanya aku ingin merobek bagian tubuhnya sekarang!”

Dong Hae bingung. Dia tidak mau menebak pikiran wanita. Terlalu rumit, jadi dia diam saja.

“Ngomong-ngomong aku tidak bisa menemanimu minggu besok.”

Jessica menatap Dong Hae tak percaya. “Kenapa? Kau kan sudah janji!”

“Aku ada kencan dengan Yuri. Aku tidak bisa menolaknya.”

“Kenapa tidak lain hari saja?” tanya Jessica ketus.

Dong Hae menatap Jessica dengan tatapan memohon.

“Aish, dasar playboy. Baiklah, aku akan pergi sendiri saja minggu besok.”

Dong Hae tersenyum senang. “Mianhae, lain kali aku akan menemanimu.”

_*_

Jessica pulang ke rumah barunya lebih malam dari biasanya. Dia sudah mencoba menelepon Kris tapi ponselnya tidak aktif. Rumahnya kosong, sepertinya Kris belum pulang. Jessica berjalan ke kamarnya. Dia melewati ruang tamu, tapi ruangan itu gelap. Dia menyalakan lampunya.

Detik berikutnya Jessica terkejut menemukan Kris tergeletak lemas di sofa. Ada memar di pipi kirinya. Sepertinya Kris berkelahi. Diluar hujan masih turun dengan deras. Jessica kembali menatp Kris, dia sedang tidur. Aneh, Jessica merasa tidur Kris gelisah. Seperti ada yang mengganggu tidurnya.

“Kris, bangun!”

“…”

“Kris bangun!”

Kris mengerjapkan matanya. “Eh, kau sudah pulang?”

“Kenapa kau tidur disini?”

“Entahlah, aku tidak ingat.”

“Kau habis berkelahi? Wajahmu memar. Tunggu dulu, aku akan ambil obatnya.”

Tak berapa lama Jessica kembali dengan kotak P3K ditangannya.

“Mianhae.”

“Wae?”

“Karena menyusahkanmu.”

“Tak apa. Kau ini bodoh atau apa? Kenapa harus berkelahi segala?”

“Jadi kau mengkhawatirkanku?”

“Ten…tentu…tentu saja tidak!”

 

2 thoughts on “[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s