[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 3

Title: My Jjang vs. Your Jjang

Author: caizhe serenade

Cast: Jessica Jung (SNSD), Kris Wu (EXO), Lee Dong Hae (Super Junior) and other

Genre: romance

Length: chapter

Rating: general

Summary: Kenapa kau menyukainya?/ apa aku harus punya alasan untuk menyukai seseorang?/ jadi kau akan tetap menyukainya?/ sepertinya begitu/kapan kau akan berhenti?/ sampai aku lelah mengejarnya, mungkin.

Jessica Jung dan Kris Wu adalah ketua geng di sekolah. Mereka dijodohkan, tapi Jessica menyukai Dong Hae, sahabatnya. Dan tak seorang pun boleh tahu mereka menikah!

Sudah pagi lagi? yang benar saja! Umpat Kris dalam hati. Kris turun dari tempat tidurnya dengan malas dan menuju kamar mandi. Hari ini mereka akan tanda tangan perjanjian kawin kontrak mereka. Kris mencuci mukanya lalu menyikat gigi. Setiap kali mengingat hari ini, ingin sekali dia memukul ayahnya, apa yang dipikirkannya waktu itu sehingga menjodohkan Kris begini. Anio, anio, dia memang suka berkelahi tapi tidak sampai memukul ayahnya sendiri.

Selesai dengan rutinitas paginya, Kris keluar kamar menuju ruang tamu. Dibawah terdengar suara Jessica sedang bicara dengan seseorang. Kris menghentikan langkahnya, penasaran dengan siapa Jessica bicara.

“Tidak. Kau tidak perlu menjemputku… ya, apartemenku memang sedang kusewakan saat ini…tidak, aku tinggal dimana? Mm, di..dirumah bibiku… y, ya, aku memang punya saudara disini, kau saja yang tidak tahu…aigoo, Lee Dong Hae, sekarang kau terdengar seperti ibuku…baiklah, baiklah! Sudah dulu ya, sampai bertemu jam empat nanti.”

Sepertinya Jessica sedang menelepon. Lee Dong Hae? Siapa dia? Pacar Jessica? Kelihatannya mereka sangat akrab! Kris tidak pernah mendengar suara Jessica seceria itu.

Kris kembali menuruni tangga. Jessica sedang duduk menonton tv. Pandangannya bukan ke tv tapi iphone-nya, dan sebuah senyuman tersungging dibibirnya. Aneh, mengapa rasanya Kris kesal pada Jessica. Kesal yang tidak beralasan, seakan dia marah saat Jessica bicara dengan Lee… siapalah itu!

“Kelihatannya kau senang sekali.” Sebuah suara dingin keluar dari mulut Kris. Tidak dia tidak bermaksud dingin pada Jessica, suara itu keluar tanpa dia sadari.

Jessica menoleh padanya. “Oh, ya, aku memang sedang senang. Tapi itu bukan urusanmu.” Sahut Jessica tak kalah dingin.

“Siapa tadi? Pacarmu? Semoga dia beruntung punya pacar yang membosankan seperti kau!”

“Huh, Gomawo! Tapi tidak terima kasih! Itu bukan urusanmu, jadi pergi sajalah.” Jessica kembali menatap layar tv.

“Jangan lupa kau harus tanda tangan kontrak jam setengah tiga nanti.”

“Aku tidak akan lupa!”

“Kemarilah, sarapannya sudah siap.”

“Aku tidak lapar.”

“Hey, ini sarapanmu, cepat makan!”

Jessica bangkit dari sofa dan menatap Kris tajam. “Kau,” dia menunjuk Kris. “hentikan tingkahmu yang menjengkelkan itu. Aku tidak suka diatur olehmu, jadi jangan pernah mengaturku. Urus saja urusanmu sendiri!” Jessica meninggalkan Kris dan menuju kamarnya.

Oke, dia sudah bertengkar dengan Jessica pagi ini. apa lagi nanti? Bukan seperti ini yang Kris inginkan. Dia hanya ingin pagi yang tenang tanpa masalah. Semua ini karena mulut konyolnya ini.

Saat itu Smartphone miliknya berbunyi. Telepon dari sahabatnya Tao.

“Yeoboseo?”

“Hei man. Dimana kau?” tanya Tao dengan aksen uniknya.

“Dirumah. Ada apa?”

“Bagus, kudengar kau pindah. Aku ingin melihat rumahmu. Beritahu alamatnya!”

Tao asli Indonesia tapi lama menetap di Korea. Musik kesukaannya dangdut, dan dia sedang giat-giatnya menyanyikan ‘Alamat Palsu’ versi Korea. Kris bisa mendengar musik itu sekarang.

“Kau mau apa kesini?”

“Tentu saja main, man!”

“Tidak perlu. Kau dimana? Aku kesana sekarang.”

“Ayolah, man. Kenapa kau tidak mau aku main ke rumahmu?”

Kris mendengus. “Sudah kubilang tidak perlu. Dimana kau sekarang?”

_*_

Dikamarnya Jessica memutar salah satu lagu Westlife kesukaannya. My Love. Sesekali dia menyanyikan liriknya. Dia sedang menunggu telepon Dong Hae yang katanya akan menelepon Jessica lagi setelah selesai membantu ibunya.

So I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue
To see you once again, my love
Overseas from coast to coast
To find the place I love the most
Where the fields are green
To see you once again, my love

Selesai menyanyikan lirik itu, iphone-nya bordering. Telepon dari orang yang sejak tadi ditunggunya.

“Yeoboseo? Dong Hae?”

“Hai, Sica. Sedang apa?”

Mendengar suara Dong Hae membuat Jessica merasa nyaman.

“Itu yang keempat kalinya kau mengucapkan kata itu.”

“Jadi nanti mau nonton film apa?”

“Entahlah, yang baru saja. Iron Man mungkin?”

“Oke terserah kau saja. Aku yang beli tiket, kau yang beli popcorn.”

“Setuju.”

“By the way, setelah nonton, temani aku ke Myeongdong. Ada sesuatu yang harus kubeli!”

“Oh, oke… ah sudah hampir setengah tiga! Sudah dulu ya!”

Klik. Telepon ditutup. Jessica mengganti bajunya dengan cepat. Dia harus sampai disana tepat waktu. Dia sedang malas mendengar ejekkan Kris hari ini.

Jessica mengendarai motornya dengan cepat. Motor hitam besar itu menderu kencang, menembus jalan raya Seoul yang cukup ramai saat itu. Jessica sampai disebuah kantor. Dengan cepat Jessica masuk ke kantor itu, dia sempat menabrak beberapa orang di depannya. Dia meminta maaf sambil terus berlari. Jessica sampai di lift yang hampir tertutup, didalam lift itu sudah penuh. Jessica tidak peduli, dia tetap menyelipkan badannya diantara mereka.

Jessica sampailima menit sebelum pertemuannya. Disana sudah ada ayah Kris, ibunya, dan Kris sendiri. Kris menatap Jessica tajam. Dia duduk disebelah Kris, hanya itu kursi yang kosong.

“Makanya jangan terlalu lama flirt sama Lee… Lee, siapalah itu!” bisik Kris pada Jessica.

Jessica mengepal tinjunya kesal. “Dengar ya kambing! Aku tidak flirt dengannya, dan Dong Hae bukan pacarku!”

Belum. Batin Jessica lalu menghembuskan napas panjang.

Pertemuan itu berlangsung dengan mulus. Mereka hanya perlu menandatangani kontraknya dan menyetujui beberapa syarat. Pertama, keuangan mereka tidak ditanggung pihak laki-laki. Kedua, mereka tidak boleh menggugat cerai sebelum kontraknya habis. Ketiga, tidak ada kontak ‘fisik’ diantara mereka. (Kalian tahukan maksud kontak ‘fisik’ disini!) dan beberapa persyaratan lain yang harus mereka setujui.

Jessica mulai tidak sabar. Dia harus bertemu Dong Hae jam empat nanti. Sekarang sudah setengah empat, itu artinya dia harus balapan lagi dijalan melawan waktu. Tak berapa lama kemudian pertemuan itu selesai. Tinggal dua puluh menit lagi sebelum jam empat. Jessica menaiki motornya dengan tergesa-gesa. Dia memacu motornya dengan cepat, suara ibunya memanggil dibelakangnya tapi Jessica tidak peduli.

Dia sampai dibioskop jam empat lebih sepuluh menit. Wow! Rekor tercepatnya, mengingat jalan yang ramai dan jarak yang cukup jauh. Jessica turun dari motornya dan merapikan penampilannya. Dia ingin terlihat cantik didepan Dong Hae.

Dong Hae melambai ke arahnya. Dia terlihat tampan hari ini, sebuah kaus Polo biru dan celana jins selutut serta jaket, menempel pas ditubuhnya.

“Dong Hae, maaf. Kau sudah menunggu lama?”

Dong Hae tersenyum hangat. “Tidak apa-apa, Sica! Aku belum terlalu lama menunggu. Hanya lima belas menit.”

“Aigoo, mianhae! Ada urusan mendadak tadi.” Well, urusan tadi tidak mendadak, tapi Jessica memang sedang ada urusan. Jadi dia tidak sepenuhnya berbohong.

“It’s ok. Ayo, filmnya sudah mulai!

_*_

Disaat yang sama Kris dan Tao juga berencana untuk nonton bioskop. Kris menumpang mobil Tao karena Kris tidak bawa mobil. Seperti biasa, setiap masuk ke mobil Tao, aroma parfum menyembur hidung Kris.

“Kau ganti parfum mobilmu lagi? kali ini apa? Kemenyan?” tanya Kris sengit.

“Bukan kemenyan, dupa!” jawab Tao tenang.

Kris berpikir pasti sahabatnya jadi sakit karena kebanyakan mendengar musik dangdut. Masa bau dupa yng jelas-jelas untuk orang yang meninggal dibuat pengharum mobil.

“Sekian lama… aku menunggu, untuk kedatanganmu…” Tao mulai bernyanyi lagu Ku Menunggu-nya Ridho Rhoma. “T’lah lama… kedatanganmu kutunggu…”

“Bisa nyanyi lagu lain?” Kris mendesah kesal.

“Kesana, kemari, membawa alamat. Namun yang kutemui bukan dirinya… sayaaangggg… yang kuterimaaa alamat palsuuuu…”

Oh tidak. Jangan lagu ini lagi. seseorang, siapa saja! Tolong! Bantu dia keluar dari mobil ini!

Beruntung, tak berapa lama kemudian mereka sampai di bioskop. Tao menghentikan konsernya karena sibuk mencari tempat parkir. Dalam hati Kris bersyukur karena lagu dangdut sialan itu AKHIRNYA berhenti juga. Kris turun dari mobil berbau dupa itu dengan tidak sabar. Dia mulai menatap gedung bioskop itu, melihat orang lain yang baru keluar. Kris menangkap seseorang yang mirip Jessica. Dia memperhatikan dengan lebih cermat.

Orang itu bukan ‘mirip’ Jessica. Orang itu memang Jessica! Dan dia bersama seorang pemuda. Mereka sedang mengobrol, lalu Jessica tertawa. Ekspresi yang tidak pernah dilihatnya. Sekarang pemuda itu mencubit hidung Jessica. Jessica tidak marah, bahkan sekarang mereka bergandengan tangan. Kris tidak pernah melihat Jessica tersenyum, tertawa, dan bicara seperti itu.

Rasanya darah Kris mendidih. Entah kenapa dia merasa cemburu melihat Jessica dengan pria itu. Kris hendak mengejar mereka tapi tangan Tao menahannya.

“Kau mau kemana?”

“Umh, tidak. Tidak kemana-mana.” Tapi mata Kris mengikuti sosok Jessica pergi.

Tao mengaitkan tangannya pada lengan Kris. “Terserah. Ayo kita masuk!”

“Hei, apa-apaan ini? lepaskan tanganmu.”

“Aniooo…” seru Tao lebay. “kalau begini kita kan terlihat lebih mesra!”

“Mesra apanya? Kau membuatku malu tahu! Lepas!”

“Andwaeee…” Tao menggelayuti Kris manja.

Kris tidak sabar. “Heh kunyuk! Lepasin gak? Bener-bener lo ya! Gue gak mau dibilang jeruk makan jeruk sama elo, kalo elo sih gue gak peduli! Tapi jangan bikin gue ikutan kayak lo!” bentak Kris dalam bahasa Indonesia. Kalau dia sudah mengomel dalam bahasa Indonesia itu artinya Kris sudah sangat kesal.

_*_

Jessica dan Dong Hae sampai di Myeondong. Seperti biasa tempat itu selalu ramai, baik orang Korea maupun turis. Jessica hanya beberapa kali datang kesini, sekedar untuk jalan-jalan saja. Keramaian itu membuatnya harus berpegangan pada ujung jaket Dong Hae agar mereka tidak tersesat. Dong Hae menyadarinya dan mengambil tangan Jessica lalu memasukkannya ke kantong jaketnya.

“Dengan begini kau tidak akan tersesatkan?” Dong Hae menatap Jessica lembut.

Tatapan itu, Jessica selalu menyukainnya. Hangat dan lembut. Rasanya Jessica ingin waktu berhenti sekarang juga. Dia tidak ingin melepaskan momen ini.

“Sica? Kau baik-baik saja? Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Jessica kembali ke alam sadarnya. Dia mengalihkan perhatiannya . Rupanya Dong Hae belum mengetahui perasaannya. Jessica mendesah.

“Gwenchanayo. Mm, sekarang kau mau kemana?”

“Ke toko perhiasan. Aku ingin membeli cincin.”

“Kau memakai cincin?” tanya Jessica ragu.

Dong Hae menggeleng malu. “Bukan aku. Aku ingin memberikannya pada seseorang.”

Mereka sampai di toko perhiasan. Seorang pramuniaga melayani mereka. Dong Hae keliahatan sibuk memilih cincin. Jessica berpikir apakah cincin itu untuknya? Ulang tahunnya kan sudah lewat! Anio! Jessica menghentikan pikirannya sebelum dia melambung tinggi.

Dong Hae memilih cincin dengan hiasan bunga kecil diatasnya. Manis sekali. Pikir Jessica. Dong Hae memasangkan cincinnya pada jari manis Jessica, pas dengan jarinya.

“Sudah kuduga ternyata pas.”

Jessica tersenyum simpul. Dia berharap cincin itu untuknya.

“Memang cincin ini untuk siapa?”

“Untuk Yuri!”

Apa? Untuk siapa? Apa Jessica tidak salah dengar? Yuri? Orang yang baru Dong Hae kenal saat liburan? Ini konyol, sangat konyol. Jessica sudah kenal Dong Hae lebih lama, tapi kenapa orang yang baru kenal dengannya saat liburan yang Dong Hae berikan hadiah?

Jessica menatap Dong Hae tak percaya. Dia kecewa, sangat kecewa. Apa Dong Hae tidak bisa melihatnya? Apa Dong Hae tidak menyadari perasaannya? Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Rasanya hati Jessica hancur. Dadanya sesak, rasanya dia ingin menangis. Dia ingin berteriak pada dunia ini, dia ingin melampiaskan kekesalannya! Masalah apa lagi yang akan dihadapinya?

“Oh, begitu!” hanya kalimat itu yang berhasil keluar dari mulut Jessica.

“Kenapa? Kau tidak suka modelnya ya?” Jessica tertunduk. “Sica? Sica?”

“Mm? ada apa?”

“Kau sakit? Kelihatanya kau tidak fokus.” Dong Hae menatapnya khawatir.

“Ah, andwae . Gwenchana. Tadi kau tanya apa?”

“Kau suka modelnya?”

“Y, ya. Aku suka, lucu sekali.” Jessica memaksakan sebuah senyum.

Dadanya sesak sekali. Melihat Dong Hae tersenyum bahagia menatap cincin itu, Jessica merasa seperti orang bodoh. Cincin itu bukan untuknya, dia harus sadar tentang itu.

_*_

Kris berpikir pasti dia sudah gila karena dia malah membuntuti Jessica dan membatalkan acara nontonnya dengan Tao. Dan sekarang dia ada di Myeongdong, menjadi stalker, dengan mobil berbau dupa milik Tao. Sementara Tao dengan muka ditekuk terpaksa mengantarnya.

Kris mengikuti sosok Jessica dengan matanya. Dia melihat Jessica dengan pemuda itu masuk ke sebuah toko perhiasan. Kris turun dari mobil Tao, berusaha membaur dengan para pejalan kaki tapi tetap mengawasi gerak-gerik Jessica.

Kris melihat Jessica dan pemuda itu sedang membeli cincin. Pemuda itu memakaikan cincin itu pada Jessica, dia tersenyum senang. Tapi detik kemudian ekspresi Jessica berubah, dia terlihat terkejut, dan kecewa. Aneh, kenapa dia kecewa? Bukankah cincin itu untuk Jessica? Kris melihat Jessica tersenyum lagi, sebuah senyum yang dipaksakan.

Jessica menatap ponselnya, dia keluar dari toko itu. Seingatnya motor Jessica ada diparkiran, tapi dia berjalan ke arah sebaliknya. Kris mencoba mengejarnya diantara kerumunan orang itu. Jessica masih terus berjalan, sekarang dia menoleh ke kanan dan kiri seperti orang linglung. Sebelum Jessica berjalan lebih jauh lagi, Kris menangkap tangannya.

Jessica menoleh, berbalik menatap Kris.

“A…ap…apa yang kau lakukan disini?”

“Kau menangis?”

“Menangis? Yang benar saja! Lelucon apa lagi sekarang? Sama sekali tidak lucu!”

Kris melepaskan tangannya. “Terserah.”

Dia membiarkan Jessica pergi. Siapa pun yang melihatnya pasti tahu kalau Jessica menangis. Jessica berjalan pergi tapi semakin banyak orang dijalan itu. Dia pun berbalik. Dia terkejut, Kris masih ditempatnya.

“Kau…kau belum pergi?”

Kris memeluknya. Itu gerakan yang reflex. Dia bahkan tidak sadar. Tapi melihat Jessica menangis membuat Kris sesak napas. Rasanya hati Kris juga ikut sakit.

Kris masih memeluknya, membiarkan Jessica menangis dalam pelukannya. Sekarang dia sadar, sejak tadi Jessica mencari tempat yang sepi supaya dia bisa menangis sendirian. Tapi dia tidak berhasil. Kris melepaskan syalnya dan memberikannya pada Jessica.

“Pakai ini! tutupi kepalamu, ayo ikut aku.”

Kris membawa gadis itu ke tepi sungai Han. Mereka naik motor Jessica. Awalnya Kris heran karena motor besar itu lebih cocok untuk laki-laki, tapi Jessica memakainya.

Mereka duduk disebuah kursi taman. Sepertinya Jessica sudah lebih tenang.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kris pelan.

“Sekarang? Ya!”

Mereka berdua terdiam. Angin musim gugur yang cukup dingin berhembus diantara mereka.

“Tadi itu siapa? Pacarmu?”

“Kau mengikutiku? Sejak kapan?”

“Sejak aku melihatmu meninggalkan bioskop. Itu bukan rencana awalku. Cepat jawab aku!”

“Baiklah, tuan ‘tidak sabaran’… dia bukan pacarku. Kau puas?”

“Kenapa kau membuat wajah itu saat di toko tadi?”

“Wajah apa?” Jessica menatapnya heran.

“Frustasi, kesal, sedih.”

“Entahlah… aku tidak pernah memperhatikan wajahku saat aku bicara.”

“…”

“Tapi terima kasih.” Kini giliran Kris yang menatap Jessica. “Karena datang disaat yang tepat.”

“Kau menyukai pemuda itu?”

“Kenapa kau bertanya?”

“Hanya penasaran.”

“Jadi maksudmu kita masuk sesi tanya jawab?”

Kris menatap Jessica tidak sabaran. “Sudah jawab saja.”

“Bagaimana kalau iya?”

“Apa bagusnya pemuda itu?”

“Dia sahabatku sejak aku di Korea.” Jessica mengatur posisi duduknya.

“Jadi kalau orang lain jadi sahabatmu sejak kau di Korea, kau akan menyukai orang itu?”

“Bu…bukan itu saja! Dia juga baik, ramah, dia seperti kakakku.”

“Kalau begitu, kau tidak menyukainya dalam arti sebenarnya. Kau menyukainya karena dia seperti kakak bagimu!”

“Jangan sok tahu!” desis Jessica tajam.

“Kenapa kau menyukainya?”

“Apa aku harus punya alasan untuk menyukai seseorang?”

Kris terdiam. Jessica benar. Kita tidak butuh alasan untuk menyukai seseorang. Harusnya dia sadari itu.

“Jadi kau akan tetap menyukainya?”

“Sepertinya begitu!”

“Kapan kau akan berhenti?”

“Kalau aku sudah lelah mengejarnya, mungkin.”

3 thoughts on “[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 3

  1. tatta

    Ngakak kalo pas bagian ada tao,mulai dangdut sampe dupa,sampe kris marah pake bahasa indonesia lo gue juga,eh yang orang indonesia itu appanya kris ya?
    Sempet bayangin ‘alamat palsu’ korean version (apa liriknya jadi ‘eodiseo 3x…’ gitu)😀
    Kris emang mulai suka sama sica ya🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s