[FREELANCE] THE THIRD OPPORTUNITY

FF-THE THIRD OPPORTUNITY

THE THIRD OPPORTUNITY


Judul Cerita : The Third Opportunity | Author : @yenyen_32 | Cast : Cho Kyuhyun , Shin Hyeonmi (OC) | Rating : General | Genre : Romance | Length : Oneshoot

 

Happy reading all ^^

 

 

10 Februari

11.45 am

“Hyun-ah, kau tau, akhir bulan ini aku akan berulang tahun?” tanyaku pada Kyuhyun yang kini tengah bergelut dengan menu makan siangnya di kantin kampusku.

Jika kalian bertanya siapa dia, mungkin aku takkan menjawabnya, karena memang akupun tak tahu sebagai apa dan siapa diriku baginya? Kekasih? Bukan. Teman dekat? Bahkan hubungan kami lebih dari pada itu. Tapi kami berjalan sesuai alur yang ada, saling cemburu bahkan sudah menjadi sebuah kewajaran dalam hubungan kami. Meski tak pernah ada ikatan apapun dalam hubungan yang kami jalani, bahkan tak akan pernah ada. Kenapa aku mengatakan hal itu? Setidaknya aku cukup realistis, bahwa aku dan Kyuhyun tak akan pernah menjadi sepasang kekasih, karena pada kenyataannya Kyu telah memiliki kekasih yang berada di daerah asal kami, Busan.

“Aku tau. Apa yang kau inginkan?” tawarnya.

“Tak ada, aku hanya ingin bersamamu hingga hari itu.” ucapku terhenti sejenak, sulit bagiku untuk melanjutkan kata-kataku, tapi ini semua harus segera kuungkapkan padanya, kukumpulkan seluruh keberanian untuk melanjutkan ucapanku yang terhenti. “Setelah itu, kita akhiri semua yang pernah terjadi diantara kita.”

Mungkin kalian akan mengira bahwa aku adalah orang ketiga di hubungan antara Kyuhyun dan yeojachingunya, bahkan aku tak bisa memungkiri anggapan itu. Tapi yang perlu kalian ketahui pula, aku telah mengenal Kyuhyun sebelum dia menjalin hubungan dengan yeoja yang kini berstatus sebagai kekasihnya itu. Kyuhyun adalah salah satu sunbae-ku semasa kami masih di High School. Sewaktu itu, banyak yang mengira dari kedekatan kami terjalin sebuah hubungan, tapi itu salah. Layaknya seorang wanita lain aku menunggu Kyu menyatakan perasaannya padaku. Tapi hal itu tak pernah terjadi, hingga Kyu lulus dan melanjutkan kuliahnya di Seoul.

“Mengakhiri hubungan kita? Andwe. Jika kau memintaku untuk memberikan apapun hal termahal di dunia ini, aku akan mengabulkannya, tapi tidak untuk hal itu, tidak akan pernah.” bantahnya.

“Mwoya? Atau aku harus memberimu pilihan, untuk memilih aku atau dia, yeoja yang kini statusnya lebih jelas daripada aku.” Sengaja aku menekankan kalimatku padanya.

“Hyeonmi-ah, berapa kali harus ku katakan lagi padamu, kau lebih berharga dari apapun yang kumiliki.” Berharga. Seperti itukah kau menilaiku hyun-ah? Entahlah, tapi aku merasa justru kau hanya menganggapku layaknya benda. Benda yang sangat ingin kau mainkan, tapi kau lupa untuk menghentikan permainanmu yang lain.

“Aku juga menginginkan kepastian.” Nadaku meninggi. Amarahku memuncak. Tapi sungguh, aku sama sekali tak berniat untuk marah padamu hyun-ah. Sungguh. Aku hanya ingin kau memberikanku sebuah kepastian.

Diam. Tak ada jawaban darinya. Bahkan kini ia hanya tertunduk lemas karena kalimat yang kuucapkan. Salahkah jika aku menginginkan kejelasan itu? Bukankah posisiku yang seperti sekarang ini jauh lebih salah? Bayangkan saja, bagaimana perasaan yeoja itu jika mengetahui namjachingunya yang berada jauh darinya itu kini dengan asyiknya berjalan bersama dengan yeoja lain, bahkan bukan hanya sebatas itu saja, tapi bahkan kami melakukan hal-hal yang sewajarnya dilakukan antara sepasang kekasih.

“Tak bisakah kau menjawab? Baiklah, kuanggap kau menyetujui permintaanku sebelumnya bahwa hubungan kita akan berakhir hingga akhir bulan ini. Maka dari itu, hingga saat itu tiba, bukankah sebaiknya kita buat kenangan terindah diantara kita? Setelah itu kita lupakan semua seakan tak pernah terjadi apapun, bahkan jika kau bertemu denganku anggaplah kau tak pernah mengenalku.”

Masa-masa awal Kyuhyun menjadi mahasiswa aku masih berhubungan baik dengannya, hingga suatu hari aku tau bahwa ia kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya semasa dia belum mengenalku. Sakit hati, itu pasti. Aku marah, bukankah itu wajar? Setelah semua yang terjadi diantara kami, bukannya mengikatku dalam sebuah hubungan yang baru, tapi ia justru meninggalkanku. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menghilang dari kehidupannya sejak detik itu. Meninggalkan semua kenangan yang pernah kujalani bersamanya, dan memilih berfokus pada tugas utamaku sebagai pelajar.

Lulus dari sekolah, ternyata aku masuk di Universitas yang berada di Seoul juga. Asal kalian tau, satu kota lagi dengan namja itu bukanlah target utamaku. Bahkan aku sama sekali tak berniat untuk mencari kembali sosok Kyuhyun yang masih berstatus ‘berpacaran’ dengan wanita itu, yah walaupun aku memiliki kesempatan karena toh ‘wanita’ itu tak berada di tempat yang sama dengan kami. So kesempatanku bersama Kyu lebih banyak bukan? Tapi aku tak ingin menjadi wanita sepicik itu.

Hingga kanyataan berkata lain, moment tahun baru mempertemukanku kembali dengan sosok itu. Sebuah pesta kecil yang kupersiapkan dengan teman-temanku di kawasan Sungai Han menjadi awal mula kisah ini dimulai. Aku tak bisa menyalahkan tempat itu, bukankah keindahan sungai han tak perlu diragukan lagi, bahkan tempat itu telah menjadi sebuah tempat umum dimana siapapun berhak untuk menikmati tempat itu, termasuk dia yang pernah menyakitiku.

 

31 Desember

11.30 pm

Bertemu untuk pertama kalinya setelah menghilang untuk waktu yang lama ternyata hampir tak memberikan banyak kesan perubahan pada sosoknya. Hanya rambutnya yang kini telah berubah warna menjadi kecoklatan tapi masih saja menutupi dahinya dan lagi, sepasang mata itu masih saja membuatku begitu terpesona.

“Aku sengaja datang kesini, karena aku tau kau mengadakan pesta tahun baru disini.” Kalimat pertama yang keluar dari bibirnya ketika aku menyadari dia yang kini telah berada tepat di depanku.

“Dari mana kau tahu aku disini?” kataku, berusaha bertingkah sedingin mungkin padanya.

“Meskipun kau menyembunyikan semua hal tentangmu, tapi banyak sumber yang akan tetap menginformasikan kau untukku.”

Menghindar, bahkan secepat mungkin aku ingin menghindar dari tempat ini. aku bukan orang yang tergolong pandai menyembunyikan perasaanku, apalagi dihadapan pria ini. Tapi bahkan sepasang kaki ini tak mau menuruti kata hatiku.

“Aku tahu, aku salah, silahkan tampar aku jika kau menginginkannya. Aku tau kau sakit, karena keputusanku saat itu, maka dari itu pukul aku sesuka hatimu, tapi hanya untuk hari ini dan saat ini. Selanjutnya, jangan pernah menghilang lagi.”

*

Terdiam. Tak ada satupun kata yang dapat kukatakan atas semua penjelasannya. Duduk berdua di salah satu tempat terindah yang ada di Seoul, menatap menatap gemerlapnya lampu yang ikut menghiasi keindahan tempat ini, seolah tak ada lagi semua kenangan buruk atas pengkhianatan yang telah terlakukan. Bahkan kini meskipun logikaku berkata bahwa aku membencinya, namun kenyataan hatiku berkata bahwa aku begitu merindukannya. Apa-apaan ini? Bahkan disaat seperti inipun semua perjuanganku untuk menghapus seluruh perasaan cintaku kepadanya seolah gagal, runtuh oleh begitu besarnya kekuatan cinta yang tersimpan jauh di dalam lubuk hatiku.

“Kau trauma?” ucapnya memecahkan keheningan yang terjadi sejak beberapa menit yang lalu. Aku mengerutkan keningku mendengar pernyataan yang baru saja terlontar di hadapannya mengisyaratkan bahwa aku tak mengerti maksud ucapannya.

“Kau tak sadar bahwa dirimu trauma dengan cinta, hingga belum pernah berani membuka hatimu untuk pria lain?” ucapnya lagi. Kali ini seungguh menusukku, tapi aku tak bisa mengelak dari apa yang ia katakan, hal itu cukup membenarkan semua.

“Yak, tuan Cho. Hari ini kita baru saja bertemu. Apa kau berniat membuatku marah padamu lagi hah?” ucapku tak terima dengan perkataanya tadi.

“Tunggu, tunggu. Apa kau bilang marah padaku lagi? Jadi kau sudah memaafkanku?” Hah, apa aku telah mengatakan sesuatu hal yang salah, hingga sukses membuat namja yang memiliki tingkat kepercayaan diri luar biasa ini kembali kepedean.

Ani. Aku belum memutuskan untuk memaafkanmu.” Kataku buru-buru mematahkan anggapannya.

“Hyeonmi-ah. Tadi kau mengatakan hal itu, jadi kuanggap kau sudah memaafkanku”

“Ahh, kau menyebalkan Cho Kyuhyun.” Jengkel, aku memukulnya berkali-kali dengan kedua tanganku. Dan selalu saja, dari dulu namja ini selalu berusaha menghindari pukulanku dengan memegang kedua tanganku dan mencengkeramnya kuat-kuat. Aku berusaha melepaskan cengkeramannya kali ini hingga kedua bola mata kami secara tak sengaja bertatapan langsung dalam jarak yang begitu dekat.

Kututup kedua mataku ketika kurasakan tangan Kyu kemudian menarik tengkukku. Aku tau apa yang selanjutnya akan ia lakukan kali ini, dan benar saja dugaanku bahwa ia menciumku. Ini memang bukan ciuman pertama antara aku dan Kyu, dulu kami memang sering melakukan hal ini, tapi kali ini aku salah menebak. Ku kira kali ini ia akan melakukan sebuah ciuman biasa karena kami telah lama tak bertemu, tapi ternyata ia melumat bibirku. Kubuka perlahan kedua mataku dan berusaha memberanikan diri menatap matanya, beberapa detik aku terhanyut pada kegilaan yang ia lakukan, tapi bunyi meriahnya kembang api yang menandakan pergantian tahun seakan menyadarkanku untuk segera menghentikan hal ini. Kutarik tubuhku dan melepaskan ciumannya.

 

28 Februari

09.00 pm

Sungai Han. Tepat di tempat yang sama dengan ketika pertama kali aku memutuskan untuk kembali pada Kyuhyun, dan kini aku juga memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya lagi di tempat ini. Memandang keindahan aliran air yang sangat bersih, bahkan menjadi andalan wisata pemerintah Korea. Indah bukan? Terlebih hari ini adalah hari ulang tahunku, tepat yang keduapuluh tahun. Antara sedih dan bahagia. Satu sisi aku bahagia karena telah sampai pada usia ini, tapi satu sisi lagi, tepatnya di dalam hatiku menangis. Menangis pada sebuah keputusan yang akan segera kujalani. Berpisah dengan lelaki ini. Namja yang dulu pernah singgah dihatiku, namun kemudian ia pergi, dan kini tepatnya dua buan terakhir dia datang lagi menghiasi hidupku.

Meskipun kedua mata ini menatap lurus kearah aliran sungai yang sukses menangkap kerlipan lampu yang menjadi objek pemandangan kami kali ini, tapi tak dapat kuenyahkan betapa pergolakan di dalam hati ini terasa begitu menyiksa. Panas, itu yang terasa di kedua bola mata ini, sedetik kemudian air mata jatuh menetes, membuat goresan di kedua pipi ini.

Cho Kyuhyun. Entah mengapa begitu sulit bagiku untuk menumbuhkan perasaan benci padanya. Bukankah seorang wanita itu harusnya merasakan sakit hati jika berada dalam posisiku saat ini? Bayangkan saja, aku adalah sosok yang secara terang-terangan menyadari posisiku saat ini adalah sebagai orang ketiga yang artinya adalah seorang selingkuhan. Tapi bahkan hatiku tak mampu untuk menolak posisi ini.

“Boleh aku memohon satu hal padamu?” ucapnya sambil memegang erat kedua pipiku.

“Suatu saat nanti, jika kita bertemu lagi, ijinkan aku memperbaiki semua kesalahan yang telah kubuat untukmu.” lanjutnya.

“Dan satu hal yang kuminta, jangan biarkan kita terpisah lagi untuk yang ketiga kalinya.”

Dadaku berdetak dengan liarnya ketika kurasakan salah satu bagian tubuh itu menyentuh bibirku lagi. Lembut, kesan pertama yang kudapat ketika kini bibirnya mulai menempel pada bibirku. Sebuah ciuman pelan nan hangat berbeda dari apa yang biasanya kuterima dari lelaki ini. Tak ada nafsu yang kami lakukan seperti biasanya, namun semuanya terasa berbeda. Tak ada gerakan liar yang seakan menjadi sebuah candu, melainkan hanya tak adanya jarak antara bibir kami. Sedetik kemudian, pertahananku seolah telah hancur, ditandai dengan kembali mengalirnya air mataku. Perlahan ia melepaskan ciuman itu, dan kini kedua tangannya menggenggam erat wajahku. Menatapnya dalam-dalam tepat di dalam bola mataku hingga membuatku kembali meneteskan air mata.

“Menangislah, untuk hari ini, selanjutnya bukankah kita telah berjanji akan melupakan semua.” Ucapnya ketika jari-jari lembut itu mulai menyusuri pipiku, menghapus aliran air mata yang bersumber dari kedua sudut mataku.

Kutarik seluruh tubuh itu kedalam pelukanku. Erat bahkan sangat erat kukaitkan kedua tanganku pada tubuhnya, seakan tak ingin mengakhiri segala yang telah kulalui bersamanya. Namun kenyataannya berbeda, janji adalah janji, janji tetaplah harus dijalani.

Gomawo” ucapku pelan di antara isakan tangis yang terus menerus menjadi satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang ini. Berat, bahkan terasa begitu berat untuk meninggalkan semua kenangan yang kujalani bersamanya.

*

Satu kesalahan yang kulakukan diawal, mengapa aku tak segera mengikatnya ke dalam hidupku ketika ia benar-benar berada disampingku dulu? Lalu kesalahan kedua yang kulakukan adalah ketika ia datang lagi dihidupku, mengapa harus kulepaskan begitu saja? Tapi inilah jalan hidupku. Mungkin benar katanya, jika kami bertemu lagi untuk yang ketiga kalinya, tak akan kubiarkan dia lepas dari hidupku lagi

 

END

________________

 

P.S: Adakah yang punya kisah hampir sama kayak gini. Saya salah satunya. Yess this is one part of my love story. ^^

Anyway, I have the sequel of this fiction, but I don’t know, must I published the sequel in this page???? How?? But don’t worry I’ve even published this sequel on my personal blog

Thank u for reading and I’ll be waiting the comment. ^^ If you all have a quality time, please visit my personal blog >> http://eunhaewife.wordpress.com/

2 thoughts on “[FREELANCE] THE THIRD OPPORTUNITY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s