[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 4

Title: My Jjang vs. Your Jjang

Author: caizhe serenade

Cast: Jessica Jung (SNSD), Kris Wu (EXO), Lee Dong Hae (Super Junior) and other

Genre: romance

Length: chapter

Rating: general

Summary: Kenapa kau menyukainya?/ apa aku harus punya alasan untuk menyukai seseorang?/ jadi kau akan tetap menyukainya?/ sepertinya begitu/kapan kau akan berhenti?/ sampai aku lelah mengejarnya, mungkin.

Jessica Jung dan Kris Wu adalah ketua geng di sekolah. Mereka dijodohkan, tapi Jessica menyukai Dong Hae, sahabatnya. Dan tak seorang pun boleh tahu mereka menikah!

“Kenapa kau pergi begitu saja kemarin? Aku mencarimu!”

Dong Hae sedang kesal karena Jessica pulang tanpa memberitahunya. Akhirnya setelah membeli cincin itu, Dong Hae berkeliling Myeongdong untuk  mencarinya.

“Well, bisa dibilang aku lupa!” jawab Jessica santai.

“Kenapa kau tidak menjawab teleponku?”

Aku malas menjawabnya. “Baterainya habis.”

“Oh, yang benar saja!”

“Jadi, kapan kau akan memberi cincin itu, pada… siapa namanya?” Jessica sengaja mengalihkan pembicaraan. Dan berhasil!

“Yuri. Rencananya minggu depan, saat aku menyatakan perasaanku!”

“Hmph, manis sekali.” Sindir Jessica sinis.

“Memang!” Dong hae tidak menyadari nada sinis dari kalimat Jessica. “Ngomong-ngomong, lusa kita akan memakan murid dari EXO High School. Pastikan kau datang! Kudengar mereka geng yang tangguh, mereka sepertinya hampir setingkat dengan kita.”

“Aku pasti datang. Setingkat? Kau pasti bercanda. Mereka tidak mungkin menyamai kita, kau kenal ketuanya?”

“Aku lupa nama lengkapnya, yang kuingat dia punya marga Wu.”

“Aish, orang dengan marga Wu itu banyak. Bagaimana sih otakmu?” Jessica mendengus. “Siapa pun dia, aku akan mengalahkannya!”

Dong Hae terkekeh pelan. “Tentu saja, Noo-nim!”

Mereka berdua terdiam. Bahkan jangkrik pun ikut diam. Malam itu terlalu sunyi untuk mereka berdua. Jessica menyesap kopi ditangannya lalu menatap permukaan sungai Han yang tenang. Bulan sepertinya sedang bahagia karena dia bersinar terang malam ini. Sinarnya menerpa wajah Dong Hae, membuat Jessica betah berlama-lama menatapnya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Ada sesuatu diwajahku?” tanya Dong Hae sambil meraba wajahnya.

Jessica menggeleng. “Aku hanya baru sadar ternyata kau tampan sekali!” oops! Bicara apa dia? Astaga, mudah-mudahan Dong Hae tidak mempedulikannya.

“Huh, kau baru sadar sekarang? Berapa lama kau jadi sahabatku sampai baru menyadarinya?”

Jesica sudah lama menyadarinya. Sudah lama sekali. Karena hanya Dong Hae yang dilihatnya, yang dipikirkannya, yang disukainya. Jessica tersenyum sekilas, kenangannya bersama Dong Hae masih terekam jelas dikepalanya. Saat mereka pertama kali bertemu, Dong Hae yang pertama kali bicara dengannya saat dia baru masuk sekolah. Lalu saat mereka masuk dojo yang sama.

Tiba-tiba ingatannya tentang percakapan mereka tentang Yuri ada dikepalanya. Sangat jelas. Jessica menutup mata dan mengepalkan tangannya. Sangat erat sampai kuku jarinya memutih. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering, dia sulit bernapas, dadanya sakit.

“Sica, kau tidak apa-apa?”

Jessica mengangkat tangannya. Mencoba mengatakan dia baik-baik saja. Sepertinya Dong Hae mengerti. Dong Hae memberikan air putih yang sejak tadi dipegangnya pada Jessica.

“Kau ini kenapa, Sica?”

Jessica menegak air putih itu. “Anio, gwenchana!” Jessica mengatur napasnya.

“Kalau kau baik-baik saja, tidak mungkin kau seperti orang sesak napas begitu!”

Benarkah dia begitu? Separah itukah? Jessica memiringkan kepalanya, bingung.

“Sepertinya udaranya semakin dingin. Pakai ini!” Dong Hae memakaikan jaketnya pada Jessica. Seketika itu juga wajah Jessica semerah tomat.

“Kau saja yang pakai, nanti kau kedinginan.”

“Nan namja ya! Tugas kami melindungi yeoja sepertimu, aratso?”

Jessica tersenyum. “Kau tahu kalau kau tidak perlu melindungiku?” salah satu hal yang Jessica sukai dari Dong Hae, dia baik.

“Tapi kau tetap yeoja.”

_*_

“Kau yakin akan melawan Ice Princess itu?” tanya Luhan pada Kris.

Kris mengangkat bahunya. “Entahlah, kau duluan yang mengusulkan.”

Sore itu mereka memang berkumpul di rumah Luhan. Rencananya mereka akan membahas tentang rencana perkelahian mereka dengan sekolah Super Generation. Dan mereka masih membahas tentang cara menaklukkan Ice Princess itu.

“Aku kan hanya memberi usul. Kalau tidak diterima juga tidak masalah.”

Tao yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya bicara. “Ya sudahlah, kembali saja ke rencana awal.”

“Tapi kalau kita kalah bagaimana? Kau tidak tahu seberapa kuatnya Ice Princess itu? Dia pernah mengalahkan tujuh murid Song Il High, sendirian. Dia perempuan, tapi dia sekuat itu!” Luhan tetap takut.

“Maksudmu Song Il High yang kita lawan beberapa hari yang lalu?” Luhan mengangguk mendengar pertanyaan Tao. “Hebat juga dia. Murid Song Il High termasuk kuat. Dan yeoja itu mengalahkan tujuh orang hanya seorang diri, wow!” Tao berdecak kagum

“Katanya dia menguasai Judo dan taekwondo. Bela diri yang bagus untuk berkelahi, dia mahir dalam keduanya!” tambah Luhan semangat.

“Sudahlah, hadapi saja!” kata Kris yang mulai kesal. “Aku pulang dulu. Sudah sore.”

Luhan menatap Kris heran. “Kau kenapa akhir-akhir ini? kau pulang buru-buru sekali.”

“Kau sedang ada urusan? Atau ada yang menunggumu dirumah?” kini Tao ikut menatapnya.

“A…anio, aku hanya ingin pulang cepat saja.”

“Aish, rasanya kau menyembunyikan sesuatu dari kami.”

Kris jadi gugup karena Luhan menatapnya curiga. Dia harus cari cara agar rahasianya tidak ketahuan oleh mereka.

“Benar,” Tao jadi ikutan mencurigainya. “kau bahkan tidak mengijinkanku main ke rumahmu.”

Kris jadi salah tingkah. “Ah, sudahlah. Kalian berdua seperti perempuan saja. Aku pulang dulu!”

_*_

Kris mengendarai motornya dengan cepat, langit kelihatannya mendung. Kris tidak mau berbasah-basah ria, lagi pula dia benci hujan, jadi dia memacu motornya lebih cepat. tapi saat hampir mencapai rumahnya, hujan mulai turun dengan deras. Kris memasukkan motornya ke garasi.

Saat masuk rumah dia melihat Jessica tertidur di meja makan. Sepertinya gadis itu menunggunya. Diluar langit sudah gelap dan hujan semakin lebat, Kris jadi gelisah.

“Hei, Jessica, bangun.”

“…”

“Hei, kenapa kau tidur disini? Cepat bangun!”

Jessica mengerjapkan matanya. Dia menggumam tidak jelas.

“Kau bilang apa?”

Jessica menatap Kris jengkel. “Kubilang, kau lama sekali pulangnya!”

“Tapi aku tidak telat. Dan kau, kenapa kau tidur disini?”

“Menunggumu. Aku lapar jadi aku menunggumu.”

“…”

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan!” ucap mereka berdua bersamaan.

“Kau saja dulu.” Ujar Kris mengalah.

“Sepertinya besok lusa aku akan pulang terlambat.”

“Wae?”

“Kenapa kau ingin tahu?”

“Baiklah, kalau kau tidak mau memberitahu. Besok lusa aku juga akan pulang terlambat.”

“Oh. Ya sudah.”

“Kau tidak mau tahu kenapa?”

“Apa itu urusanku?”

“Bukan sih, hanya saja…”

Jessica menatapnya tajam. “Bukankah kita sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing?”

Kris tahu itu. Tapi dia hanya memancing Jessica, sepertinya dia gagal. Hujan masih belum berhenti, membuat Kris semakin gelisah. Dia berjalan ke ruang tamu, meninggalkan Jessica sendirian. Hujan ini membuatnya frustasi. Kris membaringkan tubuhnya di sofa.

“Gwenchanayo?” terdengar suara Jessica didekatnya.

“Bisa kau alihkan perhatianku?”

“Mwo?”

“Lakukan saja. Katakan hal yang kau pikirkan sekarang.”

“Mm… Rasanya aku ingin makan kimchi.”

Kris terkekeh pelan. “Hanya itu?”

“Apa lagi ya? Mm, sepertinya aku juga ingin makan gimbap, ddeokbokki, dan ramyeon. Oh, aku juga ingin minum soju.”

“Jadi di kepalamu hanya ada makanan saja?”

“Mwo? Tentu saja tidak!” Jessica protes.

“Kau ingin makan semua itu?”

“Tidak sih. Hanya membayangkan, sepertinya enak kalau makan semua itu sekaligus. Tapi pasti perutku tidak muat.”

Kris merasa lebih baik. Setidaknya perhatiannya teralihkan dan ini berkat Jessica. Dia senang mendengar Jessica bicara. Suaranya yang jernih dan ceria membuatnya tenang. Bahkan tanpa melihat pun, Kris bisa menebak ekspresi Jessica sekarang.

Kris bangkit dari sofa. Jessica duduk disamping sofanya. Dia baru sadar ternyata Jessica masih menggantung handuk di lehernya. Dan rambutnya panjang dan lurus, tidak ikal seperti yang biasa dilihatnya.

“Kau meluruskan rambutmu?”

Jessica menatap rambutnya, lalu tersenyum. “Ini rambut asliku. Kemarin aku hanya mengeritingnya.”

“Oh.”

“Kau ini kenapa sih? Kenapa setiap hujan turun kau selalu gelisah?”

Ternyata Jessica memperhatikannya. Suatu kemajuan yang baik.

“Aku juga tidak ingat. Tapi aku yakin ceritanya panjang.”

“Kalau kau sudah ingat, maukah kau memberitahuku?”

Kris tersenyum sekilas. “Aratso. Kau orang pertama yang akan kuberitahu.”

_*_

Waktu kembali berganti. Jessica dan Dong Hae sedang menikmati makan siang mereka di atap sekolah. Entah kenapa Jessica merasa sesuatu tidak beres. Dia bangkit dari duduknya dan menyandarkan badannya ke pagar pembatas. Jessica menlihat ke bawah, pemandangan yang biasa dilihat saat makan siang. Yang laki-laki bermain bola dan yang perempuan asik menggosip di bangku taman.

“Kau kenapa, Sica?”

Jessica menatap Dong Hae bingung. “Wae?”

“Kau terus mendesah sejak tadi.” Kini Dong Hae ikut bersandar didekatnya.

“Jeongmal? Aku tidak sadar. Hanya saja, ada sesuatu yang menggangguku.”

“Kau mau memberitahuku?”

Jessica mendesah lagi. “Lupakan saja. Tidak terlalu penting.”

Bel sekolahnya berbunyi. Jessica dan Dong Hae kembali ke kelas mereka. Di kelas, Jessica tidak terlalu memperhatikan sehingga dia ditegur beberapa kali oleh gurunya. Tetap saja, pikiran Jessica masih mencari penyebab kegelisahanya. Tanpa dia sadari, bel pulang seolah sudah berbunyi. Dong Hae menepuk bahu Jessica, menyadarkannya dari lamunan panjang itu.

“Kau mau pulang atau menginap disini?”

Jessica berjalan mengikuti Dong Hae keluar kelas. Hari ini mereka akan melawan EXO High. Jessica bisa melihat kalau Dong Hae sangat bersemangat. Setelah semua anggotanya siap, mereka mengendarai motor mereka ke sebuah gedung tua dipinggir kota. Rencananya tempat itu akan dijadikan tempat pertemuan mereka. Siang itu Jessica menumpang motor Dong hae, dia sengaja tidak membawa motornya, sedang malas untuk menyetir.

Mereka sampai di gedung tua itu. Hal pertama yang Jessica rasakan saat masuk gedung itu adalah dia semakin gelisah. Disaat seperti ini Jessica ingin sekali mengetahui apa yang akan terjadi. Dia tidak ingin gelisah tak beralasan ini mengganggunya.

Terdengar banyak suara langkah kaki. Sepertinya murid EXO High sudah datang. Jessica mengikat rambut panjangnya. Semua anggota sudah bersiap dibelakangnya. Didepan, Dong Hae sudah bersiap menyambut mereka. Jessica mundur selangkah, berusaha membaur dengan yang lain. Dia tidak suka jabatannya sebagai jjang diketahui begitu saja.

Satu persatu murid EXO High mulai terlihat. Jumlah mereka cukup banyak dibanding kelompok Jessica. Terakhir muncul dua orang pria. Yang satu berambut hitam dan satu lagi berambut pirang. Jessica memperhatikan pria berambut pirang itu lebih seksama, sepertinya dia mengenalinya. Tapi  jaraknya terlalu jauh untuk bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Waktu itu kau bertanya siapa jjang EXO High, kan?” Dong Hae berbisik padanya.

“Y…ya, kenapa?”

“Sekarang aku ingat namanya. Kris Wu.”

Pendengarannya pasti salah. Kris Wu? Yang tinggal bersamanya?

“Mustahil. Kris Wu?”

“Ya, kau kenal dia?”

“Ah, tidak, tidak mungkin aku mengenalnya. Hahaha…”

Tawa Jessica hambar, bahkan untuk telinganya sendiri. Kalau begini terus orang lain pasti akan mengetahui pernikahan mereka. Dong Hae tidak boleh mengetahuinya, jangan sampai dia curiga.

Sepertinya geng EXO High sudah siap. Jessica menyembunyikan wajahnya dibelakang Dong Hae, tapi sepertinya dia tidak sadar kalau Jessica berusaha untuk sembunyi. Dong Hae menarik Jessica dari belakangnya, membuat Jessica harus berada disampingnya.

Dengan gugup Jessica menatap lurus ke depan. Saat itu pandangannya bertemu dengan Kris. Sepertinya dia juga terkejut,  sangat terlihat dari ekspresinya. Jessica ingin menahan kelompoknya untuk menyerang, tapi orang disebelah Kris sudah mengisyaratkan  muris EXO High untuk maju. Jessica terdiam mematung menatap Kris yang sedang berkelahi melawan kelompoknya. Pikirannya kacau. Jessica tahu, dia harus menyerang Kris, tapi hati kecilnya berkata lain. Secara hukum Kris memang suaminya, dia tidak ingin memukulnya. Tapi kalau Jessica tidak melawan Kris orang lain akan curiga.

Pikiran Jessica melayang saat dia bersama Kris. Tidak sering. Tapi setiap Jessica ada kesulitan, Kris selalu ada disana. Bahkan saat dia ke Myeongdong bersama Dong Hae, Kris juga ada disana. Hanya bicara dengannya, tapi menurut Jessica itu sudah cukup untuk menghiburnya.

Beberapa murid datang untuk menyerangnya. Jessica menarik salah satu dari mereka dan membantingnya. Lalu dia mulai memukul dan menendang yang lain, cukup keras dan cepat sampai mereka tidak punya kesempatan untuk melawan.

Jangan sekarang! Jangan buat pikirannya tambah rumit! Jangan buat dia harus memukul Kris Juga!

Jessica menggigit bibir bawahnya. Muncul lagi tiga orang dan menghadangnya. Jessica memukul mereka dengan tinjunya. Melayangkan sebuah tendangan ke salah satu dari mereka. Lalu menghantam salah satu hidung mereka dengan tinjunya.

Kini Jessica berjalan mendekati Kris. Dia menendang siapa pun yang ada didepannya dengan keras. Membanting siapa pun yang menghalanginya. Jessica bingung. Dia merasa Kris telah berbuat curang padanya. Walau tidak secara langsung, tapi Kris selalu menolongnya. Jessica menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Sekarang Jessica sudah berada didepan Kris. Kris juga melihatnya. Kris terdiam, hanya berdiri mematung. Keadaan ini membuat Jessica serba salah. Paling tidak Kris harus memukulnya supaya dia punya alasan untuk menyerang balik. Tapi Kris hanya diam.

“Pukul aku.” Kata Jessica lirih.

“Shiro! Aku tidak akan pernah memukulmu.”

“Wae? Kalau kau tidak memukul duluan aku tidak bisa membalasmu.”

“Pukul aku, Kris!”

Kris menatapnya tajam. “Sudah kubilang aku tidak akan memukulmu.”

“Orang lain akan curiga.”

“Kalau begitu pukul aku.”

“Aku… aku…”

Jessica tidak menyelesaikan kalimatnya karena Kris tiba-tiba memeluknya. Sebuah pukulan mengahntam wajah Kris dengan keras. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Kris mentap Jessica dengan tatapan yang tidak pernah Jessica lihat sebelumnya. Hangat, lembut, menenangkan.

“Gwenchanayo?” Kris menatap Jessica khawatir.

“Kau…kau…bibirmu…berdarah.”

3 thoughts on “[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 4

  1. tatta

    Wow akhirnya mereka tahu jabatan(?) satu sama lain..
    Jessica kayaknya mulai ada ‘something’ sama kris,cuma belum sadar aja🙂
    Yang mukul kris,jessicakah?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s