[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 5

Title: My Jjang vs. Your Jjang

Author: caizhe serenade

Cast: Jessica Jung (SNSD), Kris Wu (EXO), Lee Dong Hae (Super Junior) and other

Genre: romance

Length: chapter

Rating: general

Summary: Kenapa kau menyukainya?/ apa aku harus punya alasan untuk menyukai seseorang?/ jadi kau akan tetap menyukainya?/ sepertinya begitu/kapan kau akan berhenti?/ sampai aku lelah mengejarnya, mungkin.

Jessica Jung dan Kris Wu adalah ketua geng di sekolah. Mereka dijodohkan, tapi Jessica menyukai Dong Hae, sahabatnya. Dan tak seorang pun boleh tahu mereka menikah!

Bel pulang sekolah berbunyi. Kris yang duduk dekat jendela menatap kosong ke bawah, memperhatikan kelas yang baru saja selesai. Hari ini dia dan teman-temannya akan berkelahi melawan Super Generation High. Entah mengapa Kris merasa kurang bersemangat. Mungkin itu karena perlakuan dingin Jessica padanya sejak awal menikah. Dia merasa kecewa. Dia sudah berusaha, tapi Jessica tidak menatapnya. Aish, apa yang dipikirkannya? Kenapa dia sentimental sekali? Pernikahan ini hanya kontrak. Dia juga tidak menyukai Jessica. Untuk apa dia menarik perhatiannya lagi.

“Hei, jjang. Ayo berangkat!” Tao membuyarkan lamunan Kris.

“Oh, ya, ya. Sudah pulang rupanya?” Kris bahkan tidak dengar bunyi bel.

Luhan menyikutnya pelan. “Kau ini, asyik sekali dengan lamunanmu sampai tidak dengar bunyi bel.”

Tao tersenyum jail. “Hayo, kau pasti melamun jorok ya? Kau pasti membayangkanku dalam lamunan jorokmu!”

“Aigoo, lamunan jorok apa? Lagipula, kau tidak masuk dalam lamunanku. Badan mirip papan begitu mana enak dilihat.”

Kris berjalan menghampiri motor putih besarnya. Motor itu menderu kencang saat Kris menyalakannya. Anggota mereka yang lain sudah siap dengan motor masing-masing. Tanpa buang waktu mereka segera menuju tempat pertemuan mereka dengan lawan. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, jadi mereka sampai dengan cepat. Kris membiarkan anggota lain jalan lebih dulu.

“Kau tidak penasaran dengan si Ice Princess itu?” tanya Tao yang berjalan disampingnya.

“Tidak, wae?”

“Kudengar dia cantik. Luhan pernah melihatnya sekilas. Aku jadi tidak sabar!”

“Lalu kau berniat mendekatinya? Kau pasti sudah dibanting duluan.”

“Aish, ya sudahlah kalau tidak percaya. Nah itu dia!”

Tao menunjuk satu-satunya gadis di geng Super Generation High. Rambut lurus dan pirang kecoklatan itu dikuncir kuda oleh pemiliknya. Kris melihat wajahnya. Kris tahu siapa dia. Sangat tahu. Bahkan jarak yang cukup jauh tidak menyulitkan Kris untuk langsung mengenali gadis itu. Tidak salah lagi, itu Jessica Jung.

Kris menahan napasnya. Dia akan melawan ‘istrinya’ sendiri? Dia bahkan tidak tahu kalau Jessica seorang Jjang. Ini bencana. Sesuatu mendorong Kris untuk menghentikan perkelahian ini, tapi dia yakin teman-temannya tidak mau, dan mereka pasti curiga. Tapi Kris HARUS melawan Jessica! Melihat Jessica menangis waktu itu saja hati Kris sudah sakit. Sekarang dia harus melawannya, suasana hatinya sudah tidak bisa dijelaskan lagi.

Kris menatap Jessica. Sepertinya dia juga sangat terkejut. Tao mengangkat tangannya, menyuruh mereka maju. Serentak semua orang didalam gedung itu bergerak. Pukulan dan hantaman tidak bisa dihindarkan lagi. Kris melihat Jessica sekilas, gadis itu hanya diam mematung, sepertinya belum pulih dari keterkejutannya. Kris masih harus melawan mereka. Beberapa memang mudah dikalahkan, tapi ada juga yang membutuhkan lebih dari beberapa pukulan.

Kris menatap Jessica lagi, kini gadis itu bergerak maju. Dia memukul, menendang, membanting siapa saja yang ada didepannya.  Kris juga melakukan hal yang sama. Dalam waktu singkat Jessica sudah ada didepannya. Dia merasa tidak enak karena merahasiakan keadaannya dari Jessica.

“Pukul aku.” Kata Jessica tiba-tiba.

“Shiro! Aku tidak akan pernah memukulmu.”

“Wae? Kalau kau tidak memukul duluan aku tidak bisa membalasmu.”

“Pukul aku, Kris!” kata Jessica lagi.

Kris menatapnya tajam. “Sudah kubilang aku tidak akan memukulmu.”

“Orang lain akan curiga.”

“Kalau begitu pukul aku.”

“Aku… aku…”

Kris mengalihkan pandangannya dari Jessica, tidak sanggup melihat wajah gadis itu. Tatapan Kris melewati punggung gadis itu. Seseorang mendekati mereka, seseorang dari gengnya. Dia berlari ke arah Jessica, dia akan memukul Jessica. Kris menarik gadis itu ke pelukannya dan memutar tubuhnya. Tinju anggota gengnya tepat mengenai pipinya. Kris tidak peduli, yang dia pikirkan hanya Jessica saat ini.

“Gwenchanayo?” tanyanya khawatir.

“Kau…kau…bibirmu…berdarah.”

Kris menyentuh sudut bibirnya. Sebuah cairan merah kental memang menetes. Kris menatap gadis itu, ternyata dia baik-baik saja. Jessica menyentuh sudut bibir Kris dan menyeka darahnya, ekspresi khawatir jelas tergambar di wajahnya. Kris membawanya ke pinggir supaya tidak menarik perhatian.

“Sica, kau tunggu apa? Hajar dia!” Kris menoleh ke arah suara itu. Dia kenal pemuda itu, dia yang bersama Jessica di toko perhiasan. Dia yang membuat Jessica menangis.

“Kau bisa memukulku.” Kata Kris pelan.

Jessica menggeleng. “Aku tidak mau. Kau bisa terluka.” Jawabnya lirih.

“Kau harus. Aku tidak bisa memukulmu, kau tahu?”

“Kau itu jjang, kenapa kau tidak bisa memukulku?” Jessica masih keras kepala.

Kris terdiam, dia harus membujuk Jessica. Tapi gadis ini keras kepala sekali. Kris menatap Jessica lagi, kini matanya berkaca-kaca seperti waktu itu.

“Kenapa kau menangis?” tanya Kris lembut.

Jessica menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “Aku kesal, aku bingung.”

“Wae? Kenapa kau bingung?”

“Kalau kita tidak berkelahi, orang lain akan curiga. Tapi aku tidak mau memukulmu duluan.”

“Kenapa kau tidak mau memukulku?”

Jessica masih menutupi wajahnya. “Aku…aku…tidak tahu. Sesuatu dalam diriku melarangnya.”

“Sica, cepat hajar dia!” pemuda itu berteriak lagi. rupanya dia sedang sibuk dengan teman-teman Kris.

Jessica mengangkat wajahnya. Kris tahu Jessica menangis. Kris mengusap kepala Jessica perlahan, berusaha menenangkannya.

“Kau tidak ingin pernikahan kita ketahuan kan?” Jessica menggeleng. “Cepat pukul aku.”

_*_

Jessica bingung, otaknya buntu. Disatu sisi dia harus melawan Kris, disisi lain dia tidak ingin melukainya. Suara Dong Hae menyuruhnya untuk menghajar Kris. Dia tahu itu. Demi Tuhan sangat tahu hal itu, tapi perasaannya menolak tindakannya. Jessica mengangkat wajahnya, Kris mengusap kepalanya lembut.

“Kau tidak ingin pernikahan kita ketahuan kan?”

Jessica menggeleng kuat-kuat. Bisa bahaya kalau sampai hal ini ketahuan.

“Cepat pukul aku.”

Jessica menatap Kris tidak mengerti. Dia tahu kalau Jessica tidak ingin memukulnya.

“Aku tidak akan apa-apa. Tapi kau harus menghajarku.”

“Kau yakin?” Kris mengangguk. Jessica menutup matanya. “Mianhae.”

Jessica masih menutup matanya. Dengan sekali hentakan Jessica mengambil tangan Kris dan membantingnya, berulang-ulang. Dia memukul Kris tepat di rahangnya. Kris tidak melawan, membiarkan dirinya dipukuli. Hati Jessica sakit sekali, dia tidak tega, dia tidak sanggup memukulnya lagi. Jessica menghentikan serangannya.

“Cukup. Aku tidak mau memukulmu lagi.”

“Lanjutkan, Jessica!”

Jessica menatap Kris tajam. “Kau sudah kubanting berkali-kali, kau sudah kupukul, apa itu kurang cukup? Lebih baik kita kembali. Katakan saja hasilnya seri.”

Kris mengangguk. Dia berjalan mendahuluinya, jalannya terhuyung. Dengan cepat Jessica menangkap Kris sebelum dia benar-benar jatuh. “Aku akan pulang denganmu. Tunggulah dibelakang gedung ini.”

Jessica memberitahu Dong Hae untuk mundur. Hasilnya seri jadi perkelahian ini pasti akan berlangsung lagi. Kedua geng mundur perlahan dan kembali. Dong Hae menawarkan dirinya untuk mengantar Jessica pulang, tapi Jessica menolaknya dengan alasan dia sedang ingin naik bus.

“Kau naik bus? Tumben sekali.” Dong Hae menatap Jessica curiga.

“Memang salah kalau aku naik bus?”

“Anio, tapi kau bilang kau paling malas naik bus.” Dia masih menatap Jessica curiga.

“Umm, sekarang aku sedang ingin naik bus, itu saja. Ah sudahlah, pulang sana!”

Setelah semua anggota gengnya pergi, Jessica kembali ke gedung tua itu. Dia mengambil jalan memutar untuk sampai ke belakangnya. Dan seperti dugaannya, Kris menunggunya. Kris duduk ditanah sambil bersandar pada motornya. Kelihatannya dia kesakitan setelah dibanting Jessica tadi. Walau begitu, Kris, yang entah kenapa, masih terlihat keren dimata Jessica.

Matanya pasti bermasalah! Batin Jessica dalam hati.

“Gwenchana?” tanya Jessica sambil menghampiri Kris.

“Not really. Kau?”

“Really fine.” Kris tersenyum mendengar jawaban Jessica.

Melihat senyum itu, ah, Jessica serasa meleleh. Entah mengapa dia merasa gugup. Ini pertama kalinya dia merasa seperti ini, bahkan tidak saat bersama Dong Hae. Jessica seperti terpesona saat melihat Kris tersenyum, rasanya seperti tersihir. Jessica menyeka darah disudut bibir Kris dengan tangannya. Perhatiannya tertuju pada bibir Kris. Merah. Membuat Jessica tidak tahan untuk tidak menempelkan bibirnya pada bibir itu.

Aish! Apa yang dipikirkannya? Dia pasti gila! Jangan berpikir yang aneh-aneh, Jessica! Sekarang jantungnya berdebar tak karuan. Sebenarnya ada apa dengan dirinya?

“Se…sebaiknya…kita pulang sekarang sebelum yang lain melihat. Aku akan membawa motormu.” Kata Jessica sambil membantu Kris berdiri.

Kris menahan Jessica sebelum menaiki motornya. “Biarkan aku yang menyetir.”

“Aku bisa menyetir motor, kau tenang saja.”

“Bukan karena itu. Aku hanya tidak ingin membiarkan istriku kesusahan.”

Jessica hanya bisa terkejut mendengar perkataan Kris barusan. Kris sudah naik ke motor dan menyuruh Jessica mengikutinya. Malam yang dingin itu malah membuat Jessica nyaman, karena Kris bersamanya.

_*_

Sesampainya dirumah, Jessica menyuruh Kris untuk duduk di sofa sementara dia mengobati luka Kris. Sesekali Kris mengernyit kesakitan saat lukanya dibersihkan. Dengan cepat Jessica mengobati luka Kris dan menempelkan plester padanya.

“Gomawo.” Kata Kris sambil mengelus rambut Jessica.

Hanya mendengar kata itu membuat wajah Jessica merah. “Ah, iya. Maaf kalau aku merepotkanmu selama ini.”

“Aku juga. Maaf sudah merepotkanmu.”

Jessica tersenyum sekilas. “Kalau begitu aku mau ke atas dulu cari udara.”

Jessica meninggalkan Kris sendirian di ruang tamu. Dia harus menjernihkan kepalanya. Jessica bersandar pada pagar beranda. Tiba-tiba dia teringat tentang hujan yang membuat Kris gelisah. Dia masih bertanya-tanya tentang hal itu.

“Kenapa kau ingin tahu sekali tentang hal itu?” terdengar suara kris tepat dibelakangnya.

Jessica tersentak kaget. “Sejak kapan kau ada disitu?”

“Entahlah, mungkin sejak kau bergumam tidak jelas tentang hujan dan diriku.”

Berarti sejak tadi Jessica menyuarakan pikirannya? Ah, dia malu sekai!

Kris berjalan mendekati Jessica. “Kenapa kau ingin tahu sekali?” Kris menyudutkan Jessica.

“Aku hanya penasaran, memangnya tidak boleh? Lagipula kau bilang akan memberitahuku.”

Kris menatapnya tajam. “Aku berbohong. Sekarang lupakan perkataanku waktu itu.”

Entah mengapa suasana ini membuat Jessica jadi emosional. Beberapa saat yang lalu mereka baru saja berbaikan. Tolong jangan mulai lagi.

“Kenapa kau suka sekali membuat orang lain khawatir? Apa sulitnya bercerita padaku?”

“Sudah kubilang lupakan saja.” Kris membuang mukanya. “Ini bukan urusanmu!”

“Jadi kau tidak mau bercerita padaku? Ternyata jujur itu sulit sekali untukmu.” Jessica mendengus.

Kris menghembuskan nafas berat. Sepertinya dia frustasi. Kris menutup matanya. Sesulit itukan bagi Kris untuk cerita pada Jessica?

“Kau khawatir padaku? Kuberitahu kau, saat itu hujan turun deras,” Kris mundur selangkah. “sebuah mobil melaju dengan cepat, menerobos lampu merah. Kau tahu kalau ibuku tidak ada mungkin aku sudah mati sekarang, hal yang kadang membuatku bersyukur sekaligus merasa bersalah.”

Kris mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Mobil brengsek itu, menabrak ibuku. Tapi mobil itu terus melaju tanpa berhenti. Ibuku, hanya berbaring tak bergerak di jalan. Orang –orang mulai berdatangan, mereka segera melarikan ibuku ke rumah sakit terdekat. Dan kau tahu apa kata dokter? Ibuku sudah pergi. Dokter bilang ada pendarahan di otaknya, kemungkinan dia sudah meninggal saat tabrakan itu.”

“Kris, maaf. Jangan diteruskan, aku mengerti.”

“Kau tahu, kadang aku berpikir untuk bunuh diri, kadang aku berharap aku saja yang meninggal. Kadang aku berpikir, kenapa bukan aku, kenapa harus ibuku. Kalau bisa, aku ingin sekali bertukar tempat dengan ibuku. Pergi dari dunia ini sepertinya jalan terbaik melepas rasa bosanku.”

“Bicara apa kau?” seru Jessica kesal. “orang lain sangat ingin untuk hidup, dan kau malah ingin mati. Kau gila?”

Kris mendekatkan wajahnya pada Jessica. “Tahu apa kau? Orang sepertimu tidak akan mengerti masalahku.”

“Ya, aku tidak mengerti. Aku bahkan tidak mau mengerti. Kau hidup menyiksa dirimu. Untuk apa?”

“Diamlah. Jangan bicara lagi!”

Jessica menggigit bibirnya. “Kau tidak perlu seperti ini, Kris!”

“Diam!”

“Jangan menyiksa dirimu begini!”

“Jangan bicara lagi, kau berisik sekali.”

“Kris, kumohon…”

Jessica tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Bibirnya sudah dikunci dengan bibir Kris. Dengan ganas kris menyerang bibir Jessica, membuat Jessica berdiri kaku ditempatnya. Nafas Kris membelai lembut wajah Jessica, wangi daun mint. Tangan Kris mencengkeram bahu Jessica dan yang satunya lagi menahan badannya agar sejajar dengan wajah Jessica.

Jessica membuka mulutnya berniat untuk protes, tapi sepertinya kesempatan itu digunakan Kris untuk menyerang Jessica lebih ganas lagi. Kini lidah Kris sibuk mengeksplorasi mulut Jessica. Bibirnya hangat, lembut, dan manis, membuat tubuh Jessica lemas saat itu juga. Kalau ini diteruskan pasti Jessica akan meleleh.

Jessica mendorong dada Kris dengan keras. Napas Jessica memburu, begitu juga Kris. Jessica menatap Kris tidak percaya. Ciumannya, ciuman pertamanya telah diambil Kris dengan paksa.

_*_

Kris menatap Jessica tajam. Napasnya memburu, pikirnya dia harus menutup mulut Jessica, Kris harus menghukum gadis itu karena terlalu ikut campur masalah pribadinya. Tapi sekarang, setelah Kris ‘menghukum’ gadis itu dengan bibirnya, Kris jadi ingin terus menghukumnya. Rasanya manis sekali, lembut, dan hangat.

“Kita bahas ini lain kali. Tidurlah!” setelah berkata begitu Kris meninggalkan Jessica menuju kamarnya.

Kris menutup pintu kamarnya pelan. Apa yang dia lakukan? Dia sudah melanggar perjanjian kawin kontraknya. Sambil berjalan ke tempat tidur, Kris memikirkan kejadian tadi. Bagaimana reaksi Jessica tadi, ekspresi gadis itu, bahkan tubuhnya kaku saat Kris menciumnya. Kris terkekeh geli, ini hal baru baginya.

Tapi bagaimana besok? Apa Jessica masih akan menatapnya seperti tadi? Ah, dia bodoh sekali! Kenapa dia harus jadi perusak suasana? Padahal Jessica sudah bersikap baik padanya.

Kris menggelengkan kepalanya. Lebih baik tidur untuk tahu bagaimana keadaannya besok, batin Kris.

Keesokan harinya saat Kris membuka pintu kamar, pintu kamar Jessica juga terbuka. Jessica mundur selangkah karena terkejut. Ini kesempatan yang tepat. Kris harus minta maaf pada Jessica tentang kejadian kemarin.

“Um, Jessica,”

“Kris…”

“Kau saja dulu.” Jessica membiarkan Kris.

“Um, sebenarnya aku ingin minta maaf soal kemarin. Maaf karena tiba-tiba marah padamu, karena  membentakmu, karena…menciummu. Lagipula that’s your first kiss, so mianhae.”

Kris melihat wajah Jessica memerah. Sepertinya perkataannya tadi tepat sasaran krena ekspresi Jessica langsung berubah.

“Da…dari mana kau tahu kalau itu my first kiss?” suara Jessica seperti orang menggerutu dibagian akhirnya.

“Mungkin karena rasanya. Kau tahu, aku sangat ahli soal wanita.” Jawab Kris dengan nada menggoda. “Jadi, apa yang ingin kau katakan?”

“Aku…maaf…karena…kemarin…” Jessica menggumam tidak jelas.

“Mwo? Katakan dengan jelas!”

“Aku minta maaf karena mencampuri urusanmu kemarin.” Seru Jessica dengan keras.

Kris terkekeh pelan. “Baik, permintaan maaf diterima.” Kris berjalan mendahului Jessica. “Kalau begitu kau bisa kan membantuku mengobati bibirku lagi? aku takut melakukannya sendiri.” Kris menunjuk sudut bibirnya.

Jessica mengangguk. “Aratso, kau ini jjang tapi mengobati luka sendiri takut. Bagaimana kau bisa jadi jjang?”

Kris sadar kalau dia harus menuruni tangga yang dipijaknya sekarang. Tapi entah kenapa wajah Jessica terlihat cantik sekali dimatanya, menyedot semua perhatiannya. Kris tidak mengalihkan pandangannya dari Jessica yang sekarang sedang mengikat rambutnya asal-asalan. Kris berbalik dan berjalan ke atas menuju kamarnya, atau menuju Jessica tepatnya.

Jessica menatapnya heran. “Wae?”

“Boleh aku memelukmu?”

Jessica memasang sikap waspada. “Mau apa kau?”

“Sekaliii saja! Sepertinya aku sakit.” Kata Kris berbohong.

Jessica menyerah. “Baik, sekali saja. Lain kali, kuhajar kau.”

 

2 thoughts on “[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 5

  1. tatta

    “Jessica seperti terpesona saat melihat Kris tersenyum,rasanya seperti tersihir”,aku juga,bahkan Kris gak senyumpun aku tersihir,kekeke (apalagi kalo liat suju oppadeul,langsung beku di tempat rasanya #curcol)
    Kris baik juga ya,gak mau liat istrinya kesusahan🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s