[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 6

Title: My Jjang vs. Your Jjang

Author: caizhe serenade

Cast: Jessica Jung (SNSD), Kris Wu (EXO), Lee Dong Hae (Super Junior) and other

Genre: romance

Length: chapter

Rating: general

Summary: Kenapa kau menyukainya?/ apa aku harus punya alasan untuk menyukai seseorang?/ jadi kau akan tetap menyukainya?/ sepertinya begitu/kapan kau akan berhenti?/ sampai aku lelah mengejarnya, mungkin.

Jessica Jung dan Kris Wu adalah ketua geng di sekolah. Mereka dijodohkan, tapi Jessica menyukai Dong Hae, sahabatnya. Dan tak seorang pun boleh tahu mereka menikah!

Pagi itu lagu My Love milik Westlife masuk ke telinga Jessica, merusak mimpi yang sedang dialaminya. Jessica mengabaikannya, dia berpikir lagu itu adalah salah satu bagian dari mimpinya. Tapi lagu itu terus berputar seperti kaset rusak, membuat Jessica pusing. Dia membuka matanya perlahan, lagu itu masih terus mengalun, Jessica meraba meja lampunya menjari iphone miliknya. Setelah ketemu dia meletakkan ponsel itu ditelinganya, tapi lagu itu masih mengalun. Dia menyentuh tombol jawabnya dan kembali menaruhnya di telinga. Dia mendesah kesal.

“Yoboseo, Sica?”

“Dong Hae? Ada apa?” Jessica mengerjapkan matanya. “Ini masih pagi, kenapa kau membangunkanku pagi buta begini?”

“Ini sudah jam tujuh, SIca. Sekarang kan hari minggu, ayo olahraga!”

Jam tujuh? Menurut Jessica matahari baru bersinar jam sembilan di hari minggu. Ini masih pagi buta. “Mimpiku belum selesai.”

 “Aigoo, kau ini! aku akan menjemputmu, berikan alamatnya!”

“Alamat rumah ini? biar kuingat, jalan…” sadar hampir membuka rahasianya, Jessica tersadar dari tidurnya dan segera duduk tegak. Karena tubuhnya berada diujung tempat tidur, Jessica kehilangan keseimbangannya. “Alamatnya…aduhhh!”

“Aigoo, apa itu? Kau jatuh?” tanya Dong Hae khawatir.

Jessica meraih ponselnya yang ikut jatuh bersama dirinya dari tempat tidur. “Anio, anio.” Jessica berdeham sebentar. Kantuknya langsung hilang setelah jatuh. “Kau tidak perlu kesini. Aku akan ke sana, kau dimana?”

“Jessica, kau kenapa?” terdengar suara Kris dari luar.

“Kau dengan seseorang? Siapa?” Dong Hae sepertinya mendengar suara Kris.

Jessica langsung gugup. “Um, itu, ayahku, ya benar, ayahku. Anyway, kau ada dimana? Tidak perlu repot kesini!”

“Ayahmu? Suaranya muda sekali. Aku ada ditaman tempat kita biasa olahraga.” Dong Hae mulai curiga. “Temui aku dalam lima belas menit!”

“Lima belas menit?” Jessica buru-buru berdiri, lalu terjatuh lagi karena terpeleset.

Kali ini Kris langsung masuk ke kamar Jessica setelah mendengar bunyi gaduh dan sumpah serapah yang Jessica berikan pada lantainya. Kris menggendongnya dan menaruh Jessica di tempat tidur.

“Turunkan aku. Aku bisa sendiri!” tapi Kris mengabaikan Jessica.

“Itu ayahmu?” tanya Dong Hae lagi.

“Ya, ayahku. Tunggu aku disana. Dua puluh menit.”

“Kau bicara dalam bahasa santai pada ayahmu?”

“Um, eh, ah sudahlah. Tunggu dua puluh menit. Jangan pergi atau kuhajar kau!”

Jessica menatap Kris yang masih berdiri disampingnya. “Kenapa kau masuk kamarku tanpa ijin?”

“Siapa yang membuat kegaduhan lalu menyumpahi lantai pagi-pagi begini?” Kris bertanya balik.

“Aku tahu, gomawo.”

“Sekarang kau mau kemana?” Kris menyilangkan tangannya di dada. “Ada apa dengan dua puluh menit?”

Jessica mendecakkan lidahnya. “Aku harus sampai di taman dalam dua puluh menit.”

“Itu kan cukup jauh. Aku akan mengantarmu! Cepat ganti bajumu.”

“Hey, kalau kau mengantarku, rahasia kita terbongkar! Hey, Kris! Hey! Kris Wu!”

_*_

Sepuluh menit kemudian, Kris dan Jessica sudah berada di dalam mobil Kris. Hari ini Kris memakai jas biru dengan kaus U neck potongan leher rendah. Dan sebuah kacamata hitam bertengger manis di hidungnya. Jessica yang duduk disebelah Kris hanya diam sambil memandang keluar jendela.

“Kau kenapa?” tanya Kris tiba-tiba.

Jessica menggeleng lemah. “Aku hanya berpikir sampai kapan rahasia ini bisa bertahan.” Jawabnya lirih.

“Jangan terlalu dipikirkan. Kepalamu akan sakit nanti.”

“Aku khawatir, itu saja.”

“Makanya kubilang jangan terlalu dipikirkan. Ah, kita sampai tamannya.”

Jessica mengalihkan pandangannya ke depan. Taman ini cukup ramai oleh beberapa orang yang berolah raga. Kris memarkir mobilnya tidak jauh dari taman. Jessica keluar dari mobil itu, Kris menurunkan kaca mobilnya.

“Kau mau kujemput atau tidak?”

Jessica menggeleng pelan. “Ani, aku akan minta Dong Hae mengantar.”

“Baiklah, terserah kau saja. Sampai ketemu dirumah.”

“Ne, sampai bertemu dirumah.” Jessica melambai pada Kris sebelum dia pergi.

Jessica berjalan mencari Dong Hae, lalu seseorang menepuk bahunya. Jessica berbalik, senyuman hangat Dong Hae menyambutnya. Senyuman Dong Hae menyebar seperti virus dan membuat Jessica juga ikut tersenyum.

“Kau sudah lama menunggu?”

Dong Hae menggeleng. “Aku baru sampai. Kau tepat waktu.”

“Bisa kita mulai olahraganya sekarang?”

Dong Hae mengangguk. Jessica dan Dong Hae melakukan jogging seperti yang biasa mereka lakukan.

“Sepertinya kau diantar seseorang tadi.” Kata Dong Hae tiba-tiba.

Jessica menatapnya terkejut. Rupanya Dong Hae melihatnya. “Ah, ya, um, itu…itu ayahku.” Jessica memaksakan seulas senyum, menutupi kebohongannya.

“Kau ganti mobil?”

“Tidak, memangnya kenapa?”

“Lalu tadi ayahmu pakai BMW X6 siapa?” kini Dong Hae mengerutkan keningnya.

Jessica baru sadar. Seharusnya Kris memakai mobil biasa saja. Tentu saja mobil BMW X6 milik Kris akan menarik perhatian. Siapa yang tidak tertarik melihat mobil dengan harga sepuluh digit itu.

“Um, itu…itu milik saudaraku.” Jessica tahu itu jawaban yang konyol. “Jadi setelah ini kita kemana?” Jessica berusaha mengubah pembicaraan.

“Kau mau ke kedai es krim yang dulu sering kita kunjungi?”

Jessica mengangguk senang. Setidaknya Dong Hae berhenti menanyakan mobil itu.

Setelah lelah berjogging, Jessica dan Dong Hae ke kedai es krim langganan mereka. Dong Hae duduk didepannya sambil memakan es krimnya dengan tenang. Dong Hae memperhatikan Jessica. Merasa diperhatikan, Jessica pun mengangkat kepalanya.

“Mwo?”

Dong Hae menopang dagunya. “Andwae. Aku hanya merasa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu.”

“Apa maksudmu?” Jessica menghentikan makannya. Dong Hae selalu bisa membaca kelakuannya dengan cepat.

“Apa ada hal yang ingin kau ceritakan?”

Jessica pura-pura berpikir. “Sepertinya tidak ada. Kau ini kenapa sih?”

“Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Kau selalu menusuk-nusuk makananmu kalau kau gelisah.”

“Jeongmal? Aku tidak begitu.” Jessica menatap Dong Hae, dia harus mengalihkan pembicaraan. “By the way, bagaimana kabar Yuri?” ini bukan hal yang dia ingin tanyakan, tapi kalau Dong Hae bisa berhenti mencurigainya maka tidak ada pilihan lain.

Dong Hae mengerutkan kening. “DIa sedang sibuk dengan belajarnya, tapi kami berjanji akan bertemu besok.”

“Kau sudah memberikan cincin itu?”

Jessica menggigit bibir bawahnya. Untuk apa dia menanyakan hal ini yang jelas akan melukai hatinya!

“Belum, aku masih ragu.” Dong Hae mendesah. “Sudahlah, setelah ini kita pulang kan? Aku akan mengantarmu.”

_*_

Kris pulang mendapati dua motor besar bertengger didepan rumahnya. Dia kenal jelas motor ini. Tidak salah lagi, ini milik Tao dan Luhan. Mengapa mereka ada dirumahnya? Darimana mereka tahu alamatnya? Jangan bilang mereka sudah mengetahui pernikahannya!

Seseorang mengetuk kaca mobil Kris dari luar. Tao tersenyum lebar padanya, disebelahnya Luhan sedang memakan es krimnya. Kris menurunkan kaca mobilnya.

“Kenapa kalian disini?”

Luhan menatapnya. “Memangnya salah kalau kami ingin main? Dulu kau selalu membiarkan main di apartemnmu, kenapa sekarang tidak?”

“Luhan benar, lagi pula kau punya rumah yang bagus.”

Kris mencengkeram kemudinya kuat-kuat. “Darimana kalian tahu alamatku?”

“Kami mengikutimu, dude!” Tao nyengir pada Luhan. “setelah perkelahian di gedung tua itu kami mencarimu, tapi kau tidak ada dimana pun. Lalu yang lain pulang dan kami masih mencarimu. Saat kami kira tidak menemukanmu, kau muncul dan meninggalkan gedung itu.”

“Dan kau memboncengi seorang yeoja. Lalu kami mengikutimu sampai sini. Kami melihatmu dan yeoja itu masuk rumah ini.” tambah Luhan.

Kris tahu, cepat atau lambat rahasia ini akan ketahuan. Tapi dia tidak mengira akan secepat ini. Kris menghembuskan napas berat dan memarkirkan mobilnya di garasi. Tao dan Luhan ikut memarkirkan motornya disebelah mobil Kris dan masuk mendahului Kris.

“Siapa yang mengijinkan kalian masuk dan memarkir motor kalian disini?” seru Kris protes.

Tao berbalik menatapnya. “Wae? Kau takut kami menemukan yeoja itu?”

“Memangnya siapa dia?” Luhan ikut bertanya.

“Yeoja apa? Aku tidak pernah membawa yeoja ke rumahku!” seru Kris kesal.

Kris membuka pintu rumahnya dan segera naik ke kamarnya. Tao dan Luhan dengan santai duduk disofa sambil menyetel tv layaknya dirumah mereka sendiri. Kris tahu dia harus menghubungi Jessica, menyuruhnya untuk tidak pulang dahulu. Tapi ponsel Jessica tidak aktif. Pikiran Kris kacau, bagaimana kalau ini sampai terbongkar?

Kris kembali menemui Tao yang sedang menonton tv dan Luhan yang sedang mengobrak-abrik isi kulkasnya. Dengan wajah tenang Kris menghampiri mereka.  “Sampai kapan kalian akan disini?”

Tao mengganti saluran tv-nya. “Sampai kami bosan, dude!”

“Tidak bisakah kalian pulang lebih cepat?”

“Maksudmu kau mengusir kami?” tanya Luhan dari dapur.

“Ya, aku megusir kalian.”

“Itu dalam, dude!” Tao mengambil salah satu makanan yang dibawa Luhan. “Memangnya ada apa? Kenapa kau tiba-tiba mengusir kami?”

“Andwae, aku hanya tidak ingin diganggu saat ini.”

“Tingkahmu mencurigakan!” Luhan menatapnya sinis. “kau pasti menyembunyikan sesuatu dari kami!”

Baru saja Kris akan menjawab, terdengar pintu rumahnya terbuka. Itu pasti Jessica! Apa yang harus Kris lakukan? Kris bangkit dari sofa hendak menghentikan Jessica tapi terlambat. Jessica sudah berada didepan mereka dengan ekspresi terkejut di wajahnya.

“Kau si Ice Princess itu kan?” Luhan menatap Jessica terkejut. “kenapa kau ada disini?”

Kali ini Kris benar-benar bangkit dari sofa dan menghampiri Jessica. “Eh, guys, kenalkan ini…sepupuku. Jessica Jung.”

“Mwo?” teriak Luhan dan Tao bersamaan.

Jessica juga menatapnya bingung tapi cepat-cepat membaca keadaan dan memperkenalkan dirinya. Setidaknya hanya Tao dan Luhan yang tahu. Kris harap mereka bisa menjaga rahasia ini. Jessica masih tersenyum dan bicara dengan mereka, tapi Kris tahu Jessica lebih gugup dari dirinya.

“Jessica sebaiknya kau ganti baju dulu. Kau habis olahraga kan?”

Jessica mengangguk gugup. “Ah, ya. Aku ganti baju dulu. Semoga kalian nyaman disini!” dia tersenyum pada Tao dan Luhan dan beranjak pergi.

_*_

Jessica menutup pintu kamarnya. Sejak tadi dia memang merasa gelisah. Hal yang membuatnya gelisah adalah Dong Hae yang bersikeras akan mengantar Jessica sampai dia melihat Jessica masuk ke rumah dengan mata kepalanya. Jessica sudah menolak Dong Hae dengan berbagai alasan, percuma saja. Menolak Dong Hae yang sedang keras kepala akan membuatnya semakin curiga, Jessica tidak mau hal itu terjadi.

Hal kedua yang membuatnya gelisah adalah kedatangan teman-teman Kris. Sekarang dia harus berpura-pura menjadi saudara Kris didepan mereka. Sejak dia masuk rumah tadi, perasaannya memang kacau. Ditambah dua motor besar yang terparkir tepat disamping mobil Kris, membuat perasaan Jessica semakin berantakan.

Jessica menghembuskan napas dengan keras. Cukup sudah masalahnya hari ini. Jessica menyanyikan lagu Season In The Sun milik Westlife, berharap bisa menenangkan pikirannya sejenak. Lalu pintu kamarnya diketuk. Suara Kris terdengar jelas dari luar, Jessica membuka pintunya.

“Gwenchanayo?” Kris melangkah masuk ke kamarnya.

Jessica mengangguk lemah. “Kenapa mereka ada disini?”

“Aku tidak tahu. Mereka sepertinya membuntutiku waktu itu. Mereka juga melihatmu.”

“Bagaimana kalau mereka tahu tentang kita?”

Kris mendudukkan dirinya di sofa, terlalu lemas untuk berdiri. “Mereka tidak akan tahu!”

“Bagaimana kau bisa begitu yakin?” Jessica berkata lirih.

“Please, percayalah padaku. Aku tidak akan membuatmu dalam situasi sulit.”

Jessica tertunduk lemas di tempat tidur, pikirannya kacau. Tiba-tiba Kris berlutut dihadapannya, Kris tersenyum lembut. Entah mengapa hanya melihat senyum Kris pikiran Jessica jadi tenang. Sesuatu seperti menyuruhnya untuk percaya pada Kris. Sekarang Jessica merasa tidak berdaya dihadapan pemuda itu.

Jessica mengangguk pelan. Walaupun pikirannya sudah cukup tenang, Jessica masih tidak mampu untuk berpikir. Dia hanya menatap Kris yang sedang mendecakkan lidahnya. Detik berikutnya Kris sudah memeluknya erat. Jessica mengerjapkan matanya, tercengang, tapi dia tidak menolaknya. Tubuhnya yang semula tegang perlahan menjadi rileks.

“Sudah lebih baik?”

Suara Kris berada tepat disebelah telinganya. Kini Jessica bisa merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Dia yakin wajahnya pasti memerah sekarang. Jessica mengangguk pelan. Dia selalu menganggap dirinya anak yang mandiri, tapi sekarang, entah mengapa, dia ingin sekali berbagi ceritanya dengan pemuda ini.

“Kris?” panggil Jessica pelan.

“Hm?”

“Kita…akan baik-baik saja, kan?”

Kris mengangguk. “Yes, we will be fine.”

“Mereka tidak akan tahu, kan?”

“Mm.” Kris mengangguk lagi.

“Bagaimana kalau nanti mereka tahu?”

“Kau tidak percaya padaku?” canda Kris.

“Bukan begitu…hanya saja…”

Kris terkekeh dan mengeratkan pelukannya. “Aratso, sekarang berhentilah khawatir and be a good girl, okay?”

Jessica mengangguk lalu berusaha melepaskan pelukan Kris, tapi Kris tidak membiarkannya. Kris membuat Jessica menatap dirinya.

“Kau tahu, sekarang pikiranku mungkin lebih kacau darimu.” Kata Kris kembali memeluk Jessica. “aku tidak tahu denganmu, tapi aku menghadapi masalah yang lebih serius disini. Aku tidak tahu kenapa, tapi melihatmu, bicara denganmu, memelukmu, bersamamu, membuatku merasa lebih baik.” Kris mendesah pelan. “rasanya energiku terisi lagi hanya dengan memelukmu. Rasanya menyenangkan sekali.”

Jessica menatap Kris heran. Tidak biasanya Kris begini. “Kris?”

“Aku boleh memelukmu, kan?” tanpa melihat Jessica tahu kalau Kris sedang tersenyum.

Jessica tertawa pelan. “Kau memang sudah memelukku Kris.”

“Well, aku hanya minta izin.”

Jessica bisa merasakan tubuh Kris tidak lagi tegang. Mereka bertahan dalam posisi mereka selama beberapa menit. Hanya saling diam, tapi mereka merasa nyaman. Kris melepas pelukannya dan kembali menatap Jessica. Mereka sama-sama tersenyum. Kris menyentuh wajah Jessica pelan lalu pergi keluar dari kamar.

Jessica keluar dari kamarnya beberapa menit kemudian. Dia telah mengganti bajunya dan menemukan Kris masih bersama teman-temannya. Salah satu teman Kris melihat dia dan melambai padanya.

“Jessica, ayo duduk dengan kami!” serunya riang.

Kris memukul kepala anak itu dengan buku yang dipegangnya. “Jangan ganggu dia, Luhan!”

“Aish, aku kan hanya mengajaknya bergabung. Apa itu salah?”

“Luhan benar,” temannya yang satu lagi ikut menjawab. “kau terlalu protektif pada saudaramu.”

“Hai Jessica, aku Tao!” orang bernama Tao itu tersenyum lebar.

Jessica ikut tersenyum dan berjalan ke dapur. Dia membuka pintu kulkas, mencari yoghurt kesukaannya. Tapi minuman itu tidak ada. “Kris, kau lihat yoghurt yang biasa kuminum?” tanya Jessica dari dapur.

“Bukankah kau bilang minuman itu habis kemarin?” seru Kris dari ruang tamu. “kau mau punyaku?”

Jessica berjalan santai ke ruang tamu. Dia mengambil yoghurt yang disodorkan Kris dan meminumnya. Baru seteguk Jessica langsung sadar. Kris pasti sudah meminumnya, lalu dia ikut meminumnya, itu berarti indirect kiss!

“Kris, kau sudah meminumnya, kan?” Jessica menatap Kris dengan mengerutkan kening.

“Tentu saja sudah.” Kris memiringkan kepalanya, tersenyum jail. “Bagaimana, kau suka dengan rasanya?” Kris sengaja menyentuh bibirnya saat mengatakan itu.

“Hmph, kau…kau…jangan bilang kau sengaja!”

“Welll, beat me.” Jawab Kris santai.

5 thoughts on “[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s