[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 7

Title: My Jjang vs. Your Jjang

Author: caizhe serenade

Cast: Jessica Jung (SNSD), Kris Wu (EXO), Lee Dong Hae (Super Junior) and other

Genre: romance

Length: chapter

Rating: general

Summary: Kenapa kau menyukainya?/ apa aku harus punya alasan untuk menyukai seseorang?/ jadi kau akan tetap menyukainya?/ sepertinya begitu/kapan kau akan berhenti?/ sampai aku lelah mengejarnya, mungkin.

Jessica Jung dan Kris Wu adalah ketua geng di sekolah. Mereka dijodohkan, tapi Jessica menyukai Dong Hae, sahabatnya. Dan tak seorang pun boleh tahu mereka menikah!

“Saat aku mengantarmu setelah kita olahraga, kau sedang ada tamu?” tanya Dong Hae saat mereka makan siang bersama dikantin sekolah.

Sudah seminggu sejak kejadian itu berlalu. Dong Hae juga tidak pernah menanyakan hal itu lagi. Sekarang mengapa dia harus menanyakannya? Terpaksa Jessica harus berbohong.

“Well, waktu itu beberapa keluargaku memang berkunjung.” Jessica mengalihkan perhatiannya agar tidak menatap Dong Hae

“Mereka naik motor?”

“Y…ya…mereka naik motor.” Jawab Jessica gugup.

Dong Hae mendesah. “Sica, kau tahu aku mengenalmu sejak lama. Jadi katakan yang sebenarnya!”

“Mereka memang saudaraku. Memangnya salah kalau saudaraku berkunjung dengan naik motor?”

Jessica tidak tahan lagi. kalau dia tetap disana Dong Hae akan mengetahui kebohongannya. Jessica menghabiskan suapan terakhir makanannya dan pergi meninggalkan Dong Hae. Dia bisa merasakan tatapan Dong Hae dipunggungnya.

Dong Hae menggelengkan kepalanya. “Keluargamu ada di Indonesia dan Perancis. Yang ada di Korea hanya di Busan. Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya saja, Sica?” pemuda itu melanjutkan makan siangnya.

Jessica tidak menuju kelasnya tapi dia berjalan ke atap sekolah. Angin musim gugur yang dingin menerpa wajahnya saat dia membuka pintu. Jessica sedikit menggigil karena dia tidak membawa jaketnya. Setidaknya angin ini bisa membuatnya tenang. Membuatnya bisa melupakan rahasianya sejenak. Membuatnya mengingat kenangannya bersama Dong Hae. Suara pintu yang terbuka membuat Jessica menolehkan kepalanya.

“Sudah kuduga kau pasti disini!” Dong Hae tersenyum lebar. “ini tempat yang paling kau suka di sekolah.”

Ternyata dia masih ingat. Dong Hae masih ingat perkataan Jessica saat mereka masih jadi junior. Hal ini membuat Jessica senang sekaligus sedih. Senang karena Dong Hae masih mengingatnya, sedih karena Dong Hae tidak akan dia miliki.

“Dulu kau selalu menatap ke bawah. Memperhatikan anak-anak yang bermain  bola.” Dong Hae mulai mengingat kenangan mereka.

Kalau aku menatapmu, kau pasti akan mengetahui perasaanku.

“Kita juga sering menatap langit bersama disini.”

Kau menatap langit, tapi aku menatapmu.

“Hari ini langitnya juga bagus.” Dong Hae menengadahkan kepalanya.

Entah mengapa kalau kau ada langitnya selalu bagus.

“Kadang aku mendengarmu bersenandung sendirian disini.”

Karena dengan bersenandung aku bisa merasakan kau ada disini.

“Kadang kita juga hanya berdiam diri sampai bel terdengar.”

Kau tidak tahu kalau hatiku berdegup lebih kencang saat itu.

“Kadang aku ingin ada disini selamanya. Disini nyaman sekali.”

Kalau begitu aku akan selalu ada disampingmu.

“Kalau kau diberi satu permohonan, apa yang kau minta?”

Aku akan meminta senyumanmu. “Entahlah, mungkin sarung tangan baru.” Jessica menatap ke bawah. “bagaimana denganmu? Apa yang kau minta?”

“Aku akan minta kebahagiaan untuk orang-orang didekatku.” Dong Hae menatap Jessica. “itu termasuk kau, Sica.”

Jessica menoleh pada Dong Hae. “Terserah kau saja. Karena kau datang aku jadi tidak bisa menikmati angin.” Jessica berjalan melewati Dong Hae dengan santai. Tapi Dong Hae memegang tangannya.

“Sica, sampai kapan kau akan begini? Sampai kapan kau akan berbohong padaku?”

Jessica menghentikan langkahnya. “Berapa kali sudah kukatakan padamu. Aku tidak berbohong!”

“Aku tidak akan mempercayainya.”

“Ya sudah, kalau kau masih tidak percaya, silahkan cari tahu sendiri I’m lying or not.”

Kini Dong Hae menatapnya tajam. “If I find out that you’re lying, what will you do?”

“It’s up to you. Kau bahkan belum memulainya, kenapa kau percaya diri sekali?”

Dong Hae tersenyum simpul. “Aku memang selalu percaya diri, kau lupa?”

_*_

Sore itu Kris pulang dari sekolah dengan lesu. Sejak tadi disekolah kepalanya pusing karena Tao dan Luhan menanyakan Jessica terus. Kris memang sudah mengatakan pada mereka untuk menyimpan rahasia kalau dia adalah ‘saudara’ Jessica, tapi tetap saja kedua temannya itu selalu menanyakan Jessica.

Kris baru sadar kalau sejak tadi dia tidak melihat Jessica dimana pun. Apa dia belum pulang? Pikir Kris. Sejak kejadian teman Kris berkunjung, hubungan Kris dan Jessica memang jadi lebih dekat. Dia mencari ke seluruh isi rumah dan menemukan Jessica sedang melamun di halaman belakang. Kris menghampiri gadis itu dan duduk disebelahnya. Sepertinya Jessica masih belum menyadari kehadiran Kris.

Kris menutup mata Jessica dengan kedua tangannya. “Guess who?”

Jessica tertawa kecil. “Hmm, ini pasti pria menyebalkan yang menggangguku.” Jessica pura-pura berpikir. “yang menghabiskan yoghurt terakhirku.”

Kris melepaskan tangannya. “Aku tidak menghabiskan yoghurt milikmu.”

Mereka saling bertatapan lalu tertawa bersamaan. Kris menghentikan tawanya lebih dulu. “How was your day?”

Jessica mendesah. “Not good. Sepertinya Dong Hae mengetahui kebohonganku, aku memang tidak pintar berbohong. Aku menantangnya untuk mencari tahu sendiri apa aku berbohong atau tidak.” Jessica menopang dagunya. “dan dia menerima tantanganku.”

“Kau tinggal bilang kalau aku saudaramu. Siapa tahu dia percaya.” Kata Kris sambil memiringkan kepalanya.

Jessica mendengus. “Kuharap bisa semudah itu, tapi tidak. Kalau Dong Hae sudah begitu dia pasti akan mencari tahu sampai ke dasarnya.” Jessica menggeleng. “anio, anio. Cara itu tidak bisa.”

Kini Jessica menekuk lututnya dan menaruh dagu diatas lututnya. Angin berhembus cukup kencang hari itu. Kris membuka jaketnya dan memberikannya pada Jessica. Kris tahu apa yang Jessica rasakan, dia pun juga begitu. Angin berhembus lagi dan menerpa wajah Kris, dia mengabaikannya, dia sibuk. Kris menatap Jessica yang masih menekuk wajahnya. Dia mengangkat tangannya untuk memeluk Jessica, tapi tiba-tiba Jessica bersuara.

“Mianhae, karena membuatmu ikut terseret juga. “ Kris menurunkan tangannya. “tinggal sebulan lagi, kuharap kau bisa bersabar juga. Masalah ini akan berakhir saat kita lulus nanti.”

Sebulan lagi? ah ya! Kris baru ingat. Kontrak mereka selesai bulan depan, sehari setelah kelulusan. Terlalu lama didekat gadis itu membuat Kris lupa kalau mereka hanya kawin kontrak. Kris mendecakkan lidah dan membuat Jessica menoleh heran padanya. Ini konyol! Bukankah dulu dia juga tidak setuju dengan perkawinan ini? tapi kenapa sekarang dialah yang tidak ingin perkawinan ini berakhir?

Jessica masih menatapnya. “Are you okay?” Jessica mengubah posisi duduknya sehingga menghadap Kris.

Kris mengangguk. “I’m fine, hanya saja ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.”

“Kau ingin menceritakannya padaku?”

“Tidak apa-apa.”

“Aku akan mendengarkan.”

“Tidak perlu.”

“Wae?”

“Belum saatnya.”

Jessica mendengus kesal. Kris hanya tersenyum melihatnya seperti itu, salah satu hal yang disukainya dari Jessica. Hanya memandangi Jessica membuat Kris senang. Ada bagian dari gadis itu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Ya, begini lebih baik. Kris akan membiarkan Jessica menebak perasaannya daripada Kris mengatakannya langsung. Karena selama ini Jessica hanya memberi sedikit respon, jadi dia akan berusaha mendapatkan hati gadis itu.

Kris menatap Jessica balik. “Kau tahu, semakin sulit hati wanita ditaklukan, semakin tertantang pula pria yang ingin menaklukannya.”

“Maksudmu kau sedang berusaha menaklukan hati seseorang?”

“Kurang lebih begitu.” Kris mengangguk pelan.

“Apa dia memberi respon baik?”

Kris pura-pura berpikir, “Sepertinya begitu.”

“Jadi kau masih berusaha?”

Kris mengangguk mantap. “Ya, aku akan membuatnya melihatku!” Kris tersenyum lebar.

Mereka berdua terdiam. Kris melirik Jessica, dia hanya tersenyum singkat, malas berpikir lebih jauh. Langit sore berubah semakin gelap, Kris melirik jam tangannya, jam enam tepat. Hampir waktu makan malam dan sejak kemarin pembantu mereka sakit, jadi Kris dan Jessica bergantian membuat makan malam. Hari ini giliran Kris.

“Kau mau makan apa?” tanya Kris sambil memandang lurus.

“Entah, aku bingung. Kau belum beli bahan-bahannya kan?”

“Belum sih, mau ikut?”

Kris dan Jessica pergi ke supermarket dekat rumah mereka. Beberapa orang melewati mereka bersama pasangannya. Ini memang malam minggu, tapi Kris tidak menyangka jalanan akan dipenuhi pasangan kekasih. Kris melirik Jessica, sepertinya gadis itu biasa saja dengan situasi ini. Untungnya tak berapa lama mereka sampai.

Kris berjalan ke arah rak sayuran. Memilih sawi untuk nanti sedangkan Jessica sedang asyik dengan jeruk Sunkist-nya. Kris tersenyum melihat tingkah gadis itu.

“Kau mau buat drama Sunkist atau apa?”

Jessica melopat kaget karena Kris tiba-tiba berada dibelakangnya. “Aigoo, kau ini! jangan muncul tiba-tiba begitu.” Jessica masih sibuk memilih. “aku ingin jeruk ini tapi aku tidak bawa uangku. Ah, aku pinjam uangmu dulu nanti kuganti!”

Kris mengambil jeruk itu dan menaruhnya di keranjang belanjaannya. “Tidak perlu, aku akan bayar ini sekalian.” Kris melewati rak sayuran itu tapi Jessica menariknya. “Mwo?”

“Ssstt!” Jessica menunjuk seorang pemuda yang tak jauh dari mereka. “Dong Hae!”

_*_

Jessica memperhatikan Kris yang berjalan menjauhinya. Sekarang gilirannya untuk menarik perhatian Dong Hae. Jessica sengaja berjalan ke tempat yang bisa dilihat Dong Hae dan pura-pura tidak melihatnya. Semoga ini berhasil! Kata Jessica dalam hati. Sepertinya Dong Hae melihatnya, Jessica bisa melihat pemuda itu menghampirinya dari sudut matanya.

“Sica?”

Jessica menoleh, pura-pura terkejut. “Ah, kau rupanya. Sendirian?”

Dong Hae mengangguk. “Kau? Tidak biasanya kau ke supermarket.”

“Aku dengan…bibiku.” Jessica baru ingat kalau Dong Hae tahu dia tidak suka berbelanja sendirian.

“Mau kuantar ke tempat bibimu?” tawar Dong Hae.

Jessica menggeleng pelan. “Tidak perlu. Kau masih harus belanja, kan?” dibelakang punggung Dong Hae, Jessica bisa melihat Kris berjalan santai sambil memberi kode untuk menghampirinya. Tanpa sadar Jessica mengangguk.

Dong Hae menatapnya heran. “Waeyo?”

“Mwo?”

“Kau mengangguk tanpa sebab.”

“Ah, bibiku tadi memanggilku!”

Dong Hae melihat ke belakang, mencari bibi yang dimaksud Jessica. “Dimana?”

“Sudahlah aku harus pergi. Lanjutkan saja belanjamu, bye!”

Beruntung Kris sudah masuk antrian kasir, jadi Dong Hae tidak melihatnya. Jessica menghembuskan napas lega. Kris melambai ke arahnya. Dengan setengah berlari Jessica menghampiri pemuda itu. Antrian berjalan lagi, Jessica berjalan memutar dan menunggu di ujung antrian.

“Bagaimana?” tanya Kris dengan dua kantung plastic besar ditangannya.

Jessica mengambil salah satu kantung itu. “Hampir ketahuan. Lebih baik kita cepat pergi dari sini.”

Mereka berdua keluar dari supermarket itu. Berjalan cepat menembus kerumunan orang yang berjalan pelan di depan mereka. Malam itu cukup dingin sehingga Jessica harus merapatkan jaketnya.

Tak lama kemudian mereka sampai di rumah. Perut Jessica berbunyi karena menahan lapar sejak tadi. Tapi dia merasa senang mala mini. Pengalaman baru baginya, menghindar dari sahabatnya sendiri. Padahal Jessica ingin Dong Hae tahu semua tentang dirinya, tapi kali ini pengecualian. Dengan sabar Jessica menunggu masakan Kris selesai. Tadinya Jessica berniat membantu, tapi Kris menolaknya.

“Here we go!” Kris menaruh makanan lezat itu didepan Jessica. “Bisa kau ambilkan air dan gelasnya?” kata Kris sambil sibuk menata meja.

“Sure.” Jessica bangkit dari kursinya dan mengambil air beserta gelasnya. “Ada yang lain?” Jessica menatap Kris, pemuda itu menggeleng. Mereka makan dengan tenang. Jessica tersenyum kecil. “Enak.”

Kris mengangkat wajahnya. “Tentu saja.” Katanya bangga. “Kalau sudah selesai bantu aku membereskannya.”

Jessica mengangguk. “Ah ya, bagaimana tanggapan teman-temanmu tentangku?”

Kris tertawa renyah. Baru kali ini Jessica mendengar Kris tertawa, biasanya dia hanya tersenyum. Oh tidak, sekarang Jessica menyukai suara tawa pemuda ini. Kalau begini terus, Jessica benar-benar akan jatuh cinta padanya.

“Mereka selalu menanyakanmu. Dan lagi, mereka ingin main kesini.”

Jessica memutar matanya. “Setidaknya mereka tidak membahas hubungan kita.”

Selesai makan Jessica membantu Kris lalu kembali ke kamarnya. Besok hari minggu tapi Jessica masih harus mengerjakan pr dari guru matematikanya. Jessica mengambil buku itu dari tasnya dan membukanya. Sebuah kertas kecil terjatuh dari dalam buku itu. Jessica memungutnya dan membaca pesannya.

Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu. Datanglah ke taman dekat Insadong jam 7 malam. Datanglah sendiri.

                                                                                                                                                                             Kang In

Kang In? tumben sekali salah satu anggota gengnya bertanya pada Jessica secara pribadi. Kebanyakan dari mereka lebih suka bertanya saat di markas. Well, apa boleh buat, Kang In adalah temannya di dojo, jadi Jessica tidak ingin mengecewakan temannya.

Jessica keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Kris. “Kris? Kau didalam?”

Kris menjawabnya, suaranya terdengar serak, Kris membuka pintunya. “Ada apa?”

“Kau baik-baik saja? Kenapa suaramu serak?” Jessica mendorong Kris kembali ke kamarnya.

“Kurasa aku sedikit flu, hari ini cukup dingin.”

Jessica membaringkan Kris ke tempat tidurnya. “Aratso, sekarang kau harus istirahat. Aku akan membuatkan teh hangat untukmu.” Jessica berbalik menuju pintu kemudian dia berhenti sejenak dan menatap Kris. “besok malam aku harus pergi. Seorang teman ingin bicara denganku.”

“Kau tidak perlu membuat teh.Kau ingin kemana besok?”

“Ke taman dekat Insadong. Aku juga tidak tahu kenapa, tiba-tiba dia ingin bicara denganku sendirian disana. Tidak biasanya mereka ingin bertemu denganku secara pribadi. Well, mungkin ini masalah yang serius jadi dia tidak ingin orang lain tahu.” Jessica menghembuskan napasnya lalu tersenyum lembut. “itu saja, semoga cepat sembuh.” Setelah itu Jessica keluar dari kamar Kris dan kembali ke kamarnya.

Saat membuka pintu, terdengar lagu My Love dari iphone Jessica. Sebuah telepon dari adiknya. Jessica mengangkatnya sambil tersenyum lebar.

“Yeoboseo, Krystal?”

“Halo unnie, gimana kabarnya?” sapa adiknya dalam bahasa Indonesia.

Jessica segera mengubah bahasanya. “Baik-baik saja, ada apa menelepon?”

“Nggak. Aku cuma nanya doang. Gimana Kris oppa? Unnie gak berantem sama dia, kan?”

“Well, kamu bisa menebaknya sendiri. Tapi untuk saat ini tidak.” Jessica berjalan ke tempat tidur dan duduk disisinya.

“Bagus deh kalau gitu.” Terdengar tawa kecil dari seberang sana. “sebenernya Kris oppa baik, karena kalian lama gak ketemu aja jadinya awkward.”

Jessica memutar matanya. “Sepertinya begitu.”

“Kalo gitu, kenapa gak coba have feeling aja?”

Jessica terdiam, terkejut dengan kata-kata adiknya. “Kamu gila?” itu kalimat yang terpikir olehnya. “ini kawin kontrak, akan selesai sebentar lagi. Lagipula kamu tahu kalau aku suka Dong Hae.”

“Terus unnie udah ngomong sama Dong Hae? Apa dia tahu perasaan unnie?”

Jessica menggeleng, sadar kalau adiknya tidak melihatnya Jessica buru-buru menjawab. “Belum, sepertinya dia akan punya pacar sebentar lagi. Dia sedang dekat dengan seseorang. “ Jessica menceritakan kejadiannya bersama Dong Hae termasuk saat Kris datang dan menemaninya, sampai tentang masalahnya saat ini.

“Tuh, kan. Udah aku bilang kalo Kris oppa itu baik, unnie aja yang gak percaya. Dari pada unnie ngejar hal yang gak pasti, mendingan syukuri yang ada didekat unnie.”

Jessica terdiam, adiknya benar. Daripada mengejar hal yang tidak pasti, dia harus mensyukuri hal yang telah dia punya. Tapi tidak mungkin Jessica membuang usahanya untuk Dong Hae selama ini. Otaknya menyuruhnya mengejar Dong Hae, tapi hatinya menyuruhnya berhenti.

“Kris tidak mungkin menyukaiku, Krystal. Lagipula kontraknya tinggal sebulan lagi.”

Krystal mendesis kesal. “Unnie tau dari mana kalo oppa gak suka unnie? Emang unnie udah tanya sendiri?”

“Terserah unnie, sih. Itu saranku aja daripada akhirnya eonni jadi capek sendiri? Udah deh, eh iya dapet salam dari mama sama papa. Bye!”

Adiknya menutup telepon. Kata-kata adiknya masih saja terngiang di kepalanya. Hal itu membuat Jessica berpikir dua kali. Haruskah dia menyukai Dong Hae? Atau haruskah dia mulai mencoba menyukai Kris?

3 thoughts on “[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s