[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 8

Title: My Jjang vs. Your Jjang

Author: caizhe serenade

Cast: Jessica Jung (SNSD), Kris Wu (EXO), Lee Dong Hae (Super Junior) and other

Genre: romance

Length: chapter

Rating: general

Summary: Kenapa kau menyukainya?/ apa aku harus punya alasan untuk menyukai seseorang?/ jadi kau akan tetap menyukainya?/ sepertinya begitu/kapan kau akan berhenti?/ sampai aku lelah mengejarnya, mungkin.

Jessica Jung dan Kris Wu adalah ketua geng di sekolah. Mereka dijodohkan, tapi Jessica menyukai Dong Hae, sahabatnya. Dan tak seorang pun boleh tahu mereka menikah!

“Dong Hae, kau lihat Kang In?” Jessica berlari-lari kecil disepanjang koridor sekolah.

Dong Hae menghentikan langkahnya lalu menggeleng pelan. “Memangnya kenapa?”

Jessica terlihat gelisah sambil memainkan ujung rambutnya. “Ah tidak. Sudah dulu ya.” Jessica membalikkan badannya lalu berjalan pelan. Jessica berhenti lalu kembali ke Dong Hae. “Kau benar-benar tidak melihatnya?”

Dong Hae menggeleng, heran. Pemuda itu tersenyum dan mengacak-acak rambut Jessica. “Kenapa kau tidak cari di kelasnya saja, Sica?”

“Benar sekali.” Kata Jessica sambil menjentikkan jarinya lalu berlari ke kelas Kang In.

Dong Hae melihat gadis itu memasuki kelas Kang In lalu keluar lagi dengan wajah suntuk. Dong hae menatapnya sambil mengernyitkan dahi. Tidak biasanya Jessica mencari Kang In sampai heboh seperti ini. “Tidak ada?” Dong Hae tersenyum melihat gadis itu menggeleng lesu.

“Memangnya penting sekali?”

Jessica mengangkat wajahnya. “Iya, tapi tidak juga sih.”

Bel masuk kelas berbunyi. Dong Hae serta yang lain memasuki kelas mereka. Mr. Kim datang tidak lama kemudian. Biasanya Jessica selalu memperhatikan saat pelajaran bahasa Inggris, tapi sekarang dia hanya menunduk menatap bukunya dan membaca secarik kertas.

Waktu cepat berlalu, tak terasa sudah waktunya pulang sekolah. Jessica masih termenung memandangi kertas itu. Tidak bertemu Kang In membuat gadis itu kesal setengah mati. Kenapa dia tidak ada saat Jessica mencarinya? Jessica mengemasi barang-barangnya dan berjalan menuju parkiran. Motornya terparkir disana, menunggu dengan setia.

“Sica!”

Jessica menoleh lalu melambai pada Dong Hae yang sedang berlari ke arahnya. “Wae?”

“Kau ini kenapa? Sejak tadi kau tidak fokus.”

“Anio, gwaenchana.”

Dong Hae memutar matanya. “Jangan harap aku percaya. Kau mencari Kang In? katanya dia sudah pulang.”

Jessica mendecakkan lidahnya. “Aku tahu. Sudah dulu ya!” Jessica menaiki motornya.

“Sebenarnya ada apa denganmu?”

“Kenapa kau ingin tahu sekali?”

“Karena aku khawatir padamu, apa lagi?”

Tanpa sadar Jessica menahan napasnya saat Dong Hae mengatakan hal itu. Dia cukup senang walau Dong Hae hanya khawatir. Wajahnya memanas, pipinya pasti merekah merah sekarang.

“Kenapa kau senyum-senyum seperti itu? It’s creepy!”

“Oh come on, aku hanya tersenyum.” Kata Jessica tanpa menghapus senyum di wajahnya.

Dong Hae mendecakkan lidah. Saat mereka meninggalkan kelas tadi, Jessica tak sengaja menjatuhkan sebuah kertas. Dong Hae yang sejak tadi memperhatikan Jessica melihat gadis itu menjatuhkannya. Dong Hae memungut kertas itu dan membaca isinya, lalu dia mengerutkan kening. Kang In adalah temannya dan dia tahu kalau anak itu tidak dekat dengan Jessica. Jadi mengapa Kang In ingin bertemu Jessica secara pribadi.

Bukan hanya itu saja. Beberapa hari yang lalu pemuda itu mendatangi rumah Jessica. Masih berusaha mencari bukti untuk kebohongan Jessica. Saat Dong Hae sampai, dia melihat seorang pemuda asing memasuki rumah itu. Dong Hae tidak melihat wajahnya dengan jelas, tapi dia merasa mengenal orang itu. Mungkin umurnya hampir sama dengan Dong Hae, dengan rambut pirang. Pemuda itu juga ada disana saat Dong Hae datang kedua kalinya. Dan saat dia bertemu Jessica di supermarket.

“Sica, sampai kapan kau akan berbohong padaku?” Dong Hae menghembuskan napasnya, kedinginan.

“Tolong jangan mulai lagi.”

“Aku melihatnya. Pemuda itu, mungkin orang yang sama yang mengantarmu ke taman.”

Tanpa sadar Jessica menahan napasnya. Mungkinkah Dong Hae sudah mengetahui kalau itu Kris? Tidak, jangan sekarang! Belum saatnya. Jangan katakan Dong Hae mengetahuinya.

“Walaupun aku belum melihat wajahnya,” kata Dong Hae lagi. “tapi aku yakin ini ada hubungannya denganmu. Aku yakin itu bukan saudaramu, lagi pula saudaramu berada jauh dari Seoul, SIca!”

Jessica mendesah dan menghidupkan motornya dengan tidak sabar. Tangan besar Dong Hae menahan lengannya. “Kau ingin menemui Kang In?”

Jessica mengangguk.

“Kau tidak dekat dengannya, tapi dia ingin menemuimu secara pribadi.”

Jessica mengangguk lagi.

“Kau tidak merasa aneh?”

Sekarang Jessica melipat tangannya di dada. “Dengar, apa salahnya kalau dia ingin mengobrol denganku? Apa itu mengganggumu? Dan dari mana kau tahu Kang In ingin menemuiku sendirian?”

Dong Hae merogoh kantung celananya dan mengeluarkan kertas yang dijatuhkan Jessica tadi. Jessica tampak terkejut melihat kertas itu. “Aku merasa ada yang aneh, Sica! Dengan kertas dan tulisan ini.”

“Sudahlah, kau terlalu banyak berpikir. Simpan saja energimu.” Kata Jessica menjalankan motornya, meninggalkan Dong Hae dengan perasaan khawatirnya di parkiran.

_*_

Kris pikir dia pasti sudah gila karena menerima ajakan ayahnya ke pesta temannya. Setelah sembuh dari flu yang menyerangnya, ayahnya menelepon ingin mengajaknya ke pesta ulang tahun kawannya. Ayahnya terus membujuknya sampai akhirnya Kris menyerah dan berjanji akan ikut. Sekarang dia bisa saja mati kebosanan disini. Pesta ini diadakan di Mugyo-ro, cukup jauh dari rumahnya yang berada di distrik Jong-no atau orang lebih mengenal tempat wisata yang ada disana yaitu Insadong. Aku bahkan belum mengatakan tentang ini pada Jessica. Pikir Kris kesal.

Kris menyandarkan punggungnya di dekat jendela. Pikirannya melayang pada gadis itu, Jessica. Entah mengapa sejak tadi pagi saat disekolah bahkan sampai saat ini, pikirannya gelisah. Dan saat Kris mengingat Jessica, kegelisahannya bertambah, ini membuatnya semakin khawatir. Kris mendecakkan lidah saat seseorang menawarkan wine padanya. Tao tersenyum lebar padanya.

“Kau ikut juga?” Kris mengambil red wine yang disodorkan Tao.

Tao ikut menyandarkan tubuhnya. “Ayahku memaksa. Kalau aku tidak ikut dia akan memotong uang jajanku.”

“Aku tidak tahu kalau ternyata seorang bu-jjang takut kalau uang jajannya dipotong.”

Kris sengaja menekankan kata bu-jjang dan uang jajan.

Tao menatapnya kesal. “Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya.”

“Aku bahkan tidak peduli.”

“Benar, kan! Tapi aku peduli. Aku tidak akan bisa pergi ke bar yang kusuka.”

Kris meninju lengan Tao pelan. “Yang ada dipikiranmu hanya bar saja. Mau jadi apa kau?”

“Ayolah! Kalau uang jajanku dipotong, kau akan kesepian. Percaya padaku.”

Kris hanya mendengus lalu meminum wine ditangannya. Sudah setengah jam lebih dia disini, tersiksa seperti di neraka, tapi tanpa api panasnya karena disini dingin dengan AC plus angin dari luar. Tao menariknya ke boot makanan lalu dengan santai mencomot semua makanan disana.

“Mau?” Tao menawarkan piring penuhnya pada Kris.

“Kau saja, aku tidak lapar.”

“Kau harus mencobanya, enak sekali.”

Kris mengabaikannya dan mengalihkan perhatiannya pada segerombolan pemusik. Kris melirik jam tangan Rolex hitamnya lalu menghembuskan napas. Sekarang tepat satu jam dia disini. Ayahnya? Entahlah, Kris tidak memperhatikan lagi, ayahnya sudah masuk ke kerumunan orang-orang aneh itu. Tiba-tiba Tao menyikutnya.

“Mereka memperhatikanmu.” Katanya sambil menunjuk sekelompok gadis dengan garpunya, yang Kris yakin usianya sedikit lebih tua dari Kris. “Mungkin mereka akan jadi fans barumu.”

Kris mengalihakan pandangannya pada para gadis, sontak mereka membuang muka lalu terkikik pelan. Kris tersenyum mengejek. “Abaikan saja mereka.” Kris sedang malas, ditambah dengan rasa gelisahnya.

Malam itu, Kris memang terlihat lebih tampan dari biasanya. Dengan setelan jas hitam dan kemeja putih tanpa dasi      Kris sengaja meninggalkan dasinya di mobil, membuatnya tercekik lalu membuka dua kancing paling atas kemejanya       yang baru saja dibeli ayahnya dan mobil BMW X6 silver metalik miliknya akan membuat siapa saja menoleh padanya. Ditambah lagi dengan wajah Kris yang memang tampan dengan tubuh yang tegap, membuat jas itu terlihat sexy dikenakan olehnya.

Tao terkekeh. “Kau selalu saja begitu. Kalau kau tidak secuek dan sedingin ini, kau pasti sudah punya pacar. Tidak, tidak. Bahkan para gadis akan mengantri didepanmu.” Kris tidak mendengarkan ocehan sahabatnya sampai Tao kembali menyikutnya. “Mereka melihatmu lagi.”

Kris menoleh, memberikan senyuman termanisnya dan mengedipkan sebelah matanya. Beberapa dari gadis itu menjerit pelan, beberapa menahan napas mereka, dan sisanya terlihat mau pingsan. Kris hanya tersenyum jail, tidak satu pun dari orang-orang disini yang menarik perhatiannya. Smartphone-nya tiba-tiba bergetar. Kris merogoh sakunya dan mengeluarkan benda kecil itu. Telepon dari Luhan. “Yeoboseo?”

 “Yaa, Kris. Kau tidak akan percaya ini!”

“Wae?”

“Aku sedang mengantar saudaraku ke Insadong, dan coba tebak, aku melihat seseorang yang mirip Jessica.” Luhan terkekeh.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi dia dikelilingi banyak laki-laki.” Suara Luhan terdengar antusias. “Sepertinya sekarang mereka akan berkelahi.”

Tanpa sadar Kris menahan napasnya. “Dimana kau sekarang?”

“Aku? Coba kulihat… dekat taman, Insadong.”

Taman Insadong? Bukankah itu tempat Jessica bertemu temannya? Jangan-jangan itu benar Jessica. Sekarang pikiran Kris berantakan. Otaknya kalang-kabut memikirkan hal apa yang bisa terjadi pada gadis itu. Pada gadisnya. “Tunggu aku disana dan jangan bergerak sedikit pun.”

Kris berlari menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Dia mengabaikan teriakkan Tao dibelakangnya. Tidak ada waktu lagi, Jessica bisa saja terluka. Walaupun Jessica menguasai banyak ilmu bela diri, tetap saja secara fisik dia perempuan.

Dengan cepat Kris mengeluarkan mobilnya dari tempat itu. Mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan. Beruntung jalan cukup lenggang malam itu. Pikiran Kris kacau. Dalam hati Kris berdoa, Tuhan, tolong aku, tolong jaga dia. Tuhan, aku menyayanginya.

_*_

Jessica sampai di taman itu tepat waktu. Dia sengaja memilih duduk di kursi taman untuk menunggu Kang In. Angin berhembus kuat akhir-akhir ini, beruntung Jessica membawa jaket yang tebal bersamanya. Lima menit berlalu dan Kang In belum menampakkan batang hidungnya. Lalu seseorang menepuk bahunya.

“Kau yang bernama Jessica?” tanya pemuda yang menepuk bahunya. Jessica mengangguk. “Kau bisa ikut kami. Kang In menunggu disana.” Pemuda itu menunjuk ke dalam taman.

“Kenapa tidak disini saja?” tanya Jessica curiga.

“Tidak apa-apa, disana lebih nyaman.”

Jessica mengangguk tapi memasang sikap waspada. Mereka masuk ke taman, hampir mendekati air mancur ketika Jessica berhenti melangkah. Instingnya mengatakan sesuatu tidak beres. “Cukup! Kita bicara disini saja.” Kata Jessica tenang tapi tegas.

“Sebentar lagi kita sampai. Bersabarlah sedikit.” Jawab pemuda yang satu lagi.

Jessica melipat tangannya di dada. “Aku tidak mau.” Jessica memutar badannya meninggalkan taman itu ketika lengannya ditahan oleh mereka. Detik berikutnya Jessica sudah membanting kedua pemuda itu dengan sekali sentak. “Lemah… aku paling benci orang seperti kalian.”

“Bitch, say what?”

Salah satu dari mereka melayangkan tinjunya ke arah Jessica yang berhasil Jessica hindari dengan mudah. Lalu mereka berdua mulai menyerang Jessica bersamaan. Pukulan pertama terhindar, kedua terhindar, ketiga terhindar, sampai akhirnya seorang dari mereka memanggil yang lain. Ah, jadi ini yang sejak tadi membuat Jessica merasa aneh. Dia tidak akan bertemu Kang In, ini perangkap untuknya.

Jessica menatap sekelilingnya. Gelap. Tempat yang bagus untuk berkelahi tanpa terlihat. Sekitar sepuluh orang berada dibelakang Jessica. Didekat mereka, seseorang bersandar pada pohon menikmati adegan ini sambil menghisap sebatang rokok. Jessica kenal wajah itu tapi dia tidak ingat namanya. Jessica yakin orang itu adalah jjang geng ini, yang pernah dikalahkan Jessica.

Pemuda itu tertawa keras. “Ice Princess…” kini dia bertepuk tangan. “masih sama seperti dulu. Cantik, menggemaskan, dan berbahaya.” Orang itu mendekatinya. “kau masih ingat padaku, kan? Jangan bilang kau lupa. Aish, sayang sekali kita harus bertemu seperti ini. Tapi tak apa, aku masih ingin membalasmu soal yang waktu itu.”

Jessica mendengus. “Mau apa kau? Belum puas kuhajar? Ah, tentu saja, kau bahkan tidak bisa menyentuhku waktu itu. Kau memang orang yang pantang menyerah.” Cibir Jessica tajam.

“Hal yang kubenci darimu, mulutmu. Selalu saja mengeluarkan kata-kata kasar.” Dia tertawa lagi. “sekarang aku ingin kau bisa merasakan apa yang kurasakan waktu itu.”

Pemuda itu mundur perlahan. Lalu tanpa komando semua anak buahnya mengelilingi Jessica. Siap menyerang. Jessica memasang kuda-kudanya, sambil mengawasi gerakan mereka. Pemuda didepannya hendak menendang Jessica, dia mendorong orang itu sampai tersungkur ke tanah. Seorang lagi datang, Jessica membantingnya, mengunci tubuhnya, lalu meninju hidungnya. Darah segar mengalir perlahan dari hidung orang itu. Kali ini beberapa orang maju melawannya. Jessica berhasil menghindar dan melancarkan beberapa tendangan pada mereka.

Jessica baru berhasil menjatuhkan lima orang dari mereka. Saat itu dia teringat rumor tentang dirinya yang mengatakan kalau dia berhasil mengalahkan sepuluh orang sendirian. Saat mendengarnya dari Dong Hae, Jessica tertawa sendiri. “Kalau lawannya yeoja mungkin bisa, tapi kalau namja? Terima kasih tapi tidak terima kasih. Aku yakin mengalahkan mereka akan lebih sulit.”

Sekarang Jessica tahu membenarkan perkataannya. Melawan pria lebih sulit dari yang dibayangkan. Jessica sibuk melawan beberapa pria didepannya sampai tidak menyadari seseorang berniat menendangnya dari belakang. Jessica berbalik dan terkejut melihat tendangan itu diarahkan padanya. Jessica jatuh tersungkur. Tendangan itu tepat di rahangnya, sekarang darah menetes dari sudut bibirnya.

Jessica meringis kesakitan. Secepat kilat dia menyeka darah dari bibirnya. Dia yakin tenaganya terkuras habis sekarang, dia bahkan tidak sanggup berdiri. Mereka menjambak rambut Jessica dan memaksanya berdiri dengan sekali sentak. Jessica menjerit. Sekarang mereka mengunci lengannya, Jessica tidak bisa berkutik. Pria itu mendekatinya dan menyentuh pipi Jessica, otomatis Jessica berjengit dan menepis tangan itu. “Mau apa kau, brengsek?” seru Jessica kesal.

Pria itu semakin mendekatinya. “Mau apa? Aku mau bersenang-senang denganmu.”

“Kau orang lemah…tidak berguna…kau hanya… sampah!” Jessica berusaha melepaskan tangannya walau dia tahu itu sia-sia.

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jessica. Jessica menjerit keras. Pria itu mendengus. “Selalu saja begini. Akan lebih baik kalau aku membekap mulutmu.” Sekarang pria dibelakang Jessica membekap mulutnya. Jessica masih meronta dan berteriak walaupun mulutnya sudah dibekap.

Pria itu tersenyum licik. Dia mulai membuka kancing seragam Jessica satu per satu. Jessica kembali menjerit. Pria itu menamparnya lagi. Ketakutan hebat kini melanda Jessica, matanya terbelalak liar menatap pria didepannya. Pria itu mendengus tanpa memedulikan Jessica yang masih berusaha menjerit. Kalau seragamnya dilepas maka semuanya berakhir. Pria itu mendekatkan wajahnya, detik berikutnya pria itu sudah mencium Jessica. Dia memberontak, rasanya menjijikan, Jessica ingin sekali melawan, memukul pria ini sampai jatuh didepannya.

Lalu tiba-tiba Jessica mendengar suara keras, tangannya sudah terlepas. Jessica mundur mendekati air mancur. Pikiran dan pandangannya gelap karena syok. Jessica diliputi ketakutan hingga tidak menyadari apa yang terjadi disekelilingnya. Tangannya bergetar hebat, kakinya lemas, tapi Jessica masih berusaha untuk membetulkan pakaiannya. Jessica terisak di luar kendali, tak pernah terbayang dia akan takut sehebat ini.

_*_

Saat Kris sampai dia melihat Luhan melambai padanya dari dekat pohon. Luhan menunjuk sesuatu didalam taman. Kris hendak memasuki tempat itu ketika tangan Tao mencegahnya. Kris melongo menatap Tao sudah berada disampingnya. Dia bahkan tidak sadar Tao mengikutinya. “Biar kami ikut denganmu.” Kata Tao yang langsung disetujui Kris dengan anggukan.

Mereka menuju tempat yang dimaksud Luhan. Saat mereka sampai, Kris hampir tidak percaya dengan matanya. Seragam Jessica sudah terlepas dari tubuhnya, menyisakan pakaian dalam saja, dan lebih parah lagi seorang pria mencium gadis itu. Mencium gadisnya.

Kris bisa merasakan darahnya mendidih. Tanpa pikir panjang Kris mendekati pria itu, menariknya dengan sekali sentak, lalu memukul wajahnya. Pria itu tersungkur di tanah. Seolah belum puas, Kris menendangnya dan kembali memukuli wajahnya. Kris menahan leher pria itu dengan lengannya yang kuat. Kris benar-benar kalap, dia tidak bisa berpikir jernih lagi. Yang Kris rasakan hanya kemarahan yang meledak-ledak didalam dirinya. Kemarahan itu begitu besar sampai Kris bisa saja membunuh orang yang menyentuh Jessica.

Kris mencekik leher pria itu sampai dia merintih minta dilepaskan. Tepat saat itu Tao menahan Kris, berusaha melepaskan tangannya dari pria yang sekarang hampir mati ini. “Kris, lepaskan dia!” Kris mengabaikannya dan menatap pria itu tajam.

“Kalau kau berani menyentuhnya…”napas Kris memburu. Suaranya rendah, tajam, dan dingin, bahkan Kris sendiri terkejut dengan suaranya. “kalau kau berani menyentuhnya lagi…” lanjutnya dengan nada dingin yang sama. “Aku bersumpah, aku akan membunuhmu!”

“Kris, lepaskan dia. Dia hampir mati!” Tao masih berusaha melepaskannya. “Kendalikan dirimu, kawan!”

Luhan menghampirinya. “Sepertinya kau harus melihat keadaan Jessica.” Mendengar nama Jessica otomatis kesadaran Kris kembali. Saat melihat gadis itu, Kris terhenyak, jantungnya serasa berhenti, gadis itu meringkuk didekat air mancur dengan tubuh yang bergetar hebat sambil terisak. Pakaiannya sudah tidak berbentuk dan wajahnya dipenuhi luka. Tao dan Luhan sudah membawa pria itu dan gengnya menjauh.

Kris harus menahan dirinya untuk tidak menarik gadis itu dalam pelukannya. Sebagian otak Kris sadar kalau Jessica pasti sangat ketakutan jadi Kris tidak boleh menambah ketakutan gadis itu. Maka Kris berlulut didepan gadis itu sambil mengulurkan tangannya hendak menyentuh pipi Jessica. Tapi gadis itu malah mundur menjauhi Kris. “Jessica, ini aku.” Gadis itu menatapnya dengan tatapan liar. Jessica belum mengenalinya, mungkin dia mengira Kris adalah salah satu dari geng tadi yang akan menyakitinya. “It’s okay, ini aku Kris.” Suara Kris serak karena menahan emosi pada pria tadi. “kau aman sekarang, aku janji padamu.”

Jessica mengerjapkan matanya. Sekali, dua kali, tatapan liarnya mulai mencair. Tapi dia masih meringkuk, masih tidak bersuara, masih gemetar. Jessica masih tidak mau mendekati Kris. “Kau akan baik-baik saja.” Bisik Kris pelan. Perlahan kesadaran mulai terlihat pada mata Jessica. Kris duduk tepat disamping Jessica, merangkulnya. Tubuh Jessica kaku seperti batu, Kris tetap mendekatinya. Detik berikutnya tangis Jessica pecah. Kris meminjamkan bahunya pada gadis itu, membiarkannya menumpahkan semua ketakutannya. Kris mengelus bahu Jessica perlahan.

Kalau saja dia tidak mendapat telepon dari Luhan. Kalau saja dia datang terlambat. Jessica pasti sudah…pasti sudah… Kris bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada gadis itu. Kris memeluk Jessica erat lalu mencium kepala gadis itu. Kalau gadis ini terluka, Kris bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukannya pada dirinya sendiri nanti. Ini kedua kalinya Kris melihat Jessica menangis dan dia tidak akan membuatnya jadi ketiga kalinya.

Kris masih memeluk gadis itu sambil mengelus-elus kepalanya. “Tenanglah, aku disini. Mereka tidak akan mengganggumu lagi.” Kris bergumam lirih. “Aku janji.”

2 thoughts on “[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s