[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 9

Title: My Jjang vs. Your Jjang

Author: caizhe serenade

Cast: Jessica Jung (SNSD), Kris Wu (EXO), Lee Dong Hae (Super Junior) and other

Genre: romance

Length: chapter

Rating: general

Summary: Kenapa kau menyukainya?/ apa aku harus punya alasan untuk menyukai seseorang?/ jadi kau akan tetap menyukainya?/ sepertinya begitu/kapan kau akan berhenti?/ sampai aku lelah mengejarnya, mungkin.

Jessica Jung dan Kris Wu adalah ketua geng di sekolah. Mereka dijodohkan, tapi Jessica menyukai Dong Hae, sahabatnya. Dan tak seorang pun boleh tahu mereka menikah!

Dong Hae memacu motornya malam itu, berburu dengan waktu. Sesuatu mengganggunya sejak melihat surat milik Jessica. Dia tahu pasti ada yang tidak beres. Insadong tampak seperti malam-malam sebelumnya, ramai. Saat melihat taman Dong Hae menghentikan motornya lalu menatap jam tangannya. Jam tujuh lewat lima belas menit. Terlambat. Semoga Sica baik-baik saja, doanya dalam hati.

Dong Hae berjalan mendekati taman itu ketika langkahnya terhenti melihat dua buah mobil datang bersamaan dan berhenti tepat  didepan taman itu. Mobil BMW X6 silver dan Hyundai merah keluaran terbaru, berhenti mendadak sehingga suara berdecit ban terdengar jelas. Dong Hae menghentikan langkahnya, dua orang pria, mungkin seumuran dengannya, keluar dari mobil tersebut. Bulan bersinar terang malam itu memudahkan Dong Hae mengetahui siapa mereka. Tidak salah lagi, itu Kris Wu, jjang EXO High dan satunya pasti bu-jjang mereka. “Untuk apa mereka kesini?” gumam Dong Hae.

Dong Hae mengikuti mereka masuk ke taman. Ternyata didalam sudah ada seorang lagi menunggu mereka, dekat pohon, mengawasi kejadian yang berlangsung didalam taman. Dong Hae tidak melihat Jessica dimana pun. Sekarang perasaannya campur aduk, gelisah, khawatir, takut kalau gadis itu terluka. Suara orang berkelahi membuat Dong Hae menoleh dan menyembunyikan dirinya. Dia melihat ke dalam taman, Kris Wu memukuli seseorang disana. Salah satu temannya mencoba menghentikannya, tapi sepertinya dia tidak mendengar.

Walau hanya diterangi sinar bulan, Dong Hae bisa melihat kemarahan dalam diri Kris Wu. Dia berjalan mendekat agar bisa melihat lebih jelas. Dong Hae mengalihkan pandangannya ke air mancur. Seseorang duduk disana, Dong Hae bergerak mendekat hingga posisinya sejajar dengan air mancur. Sekarang dia melihat dengan sangat jelas. Dan orang yang duduk disana adalah… Dong Hae tercekat. Rasanya tidak ada udara dalam paru-parunya. Tiba-tiba Dong Hae sulit bernapas. Dia melihatnya. Gadis itu, Jessica.

Dia memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas. Tidak salah lagi, itu Jessica. Sepertinya gadis itu habis berkelahi, banyak luka di wajahnya, bahkan pakaiannya sudah tidak berbentuk lagi. Gadis itu hanya meringkuk sambil terisak. Jessica ketakutan.

“Aku bersumpah, aku akan membunuhmu!” suara itu membuat Dong Hae merinding.

“Kris, lepaskan dia. Dia hampir mati!” seseorang berteriak.

“Sepertinya kau harus melihat keadaan Jessica.” Kali ini suara yang lain.

Bagaimana mereka bisa kenal Jessica? Pikir Dong Hae heran. Matanya mengikuti kemana Kris pergi. Suara Kris tidak terdengar dengan jelas. Sekarang Kris berlutut dan mengulurkan tangannya. Jessica bergerak mundur, sepertinya takut dengan Kris. Sekarang pria itu duduk disebelah Jessica. Tangisan gadis itu pecah. Detik berikutnya membuat Dong Hae terkejut, Kris memeluk Jessica dan gadis itu membiarkannya.

Dong Hae menatap mereka heran. Sebenarnya ada apa ini? batinnya kesal. Dong Hae mengalihkan pandangannya. Kedua teman Kris membawa beberapa orang menjauhi mereka. Dong Hae mengikuti mereka, sepertinya akan menghabiskan makanan Kris yang belum selesai. Dia keluar dari tempat persembunyiannya, pura-pura lewat sambil mendekati mereka.

“Yaa, kalian sedang apa?” tanya Dong Hae sok akrab.

Kedua pria itu menoleh ke arahnya. “Bukankah kau teman Jessica? Kau si bu-jjang itu, kan?” tanya seorang dari mereka. Dong Hae mengangguk.

“Sepertinya kau dapat tangkapan besar.”

“Well, teman kami diserang oleh mereka.”

“Nugu?”

“Jessica.” Jawab salah satu dari mereka.

“Mustahil. Tapi mengingat Jessica adalah yeoja yang melawan namja jadi mungkin saja.”

Mereka tersenyum. “Kau mau ikut?”

“Jeongmal? Gomawo!” Dong Hae tertawa senang. Waktunya memberi pelajaran pada mereka yang menyakiti Jessica. Gadis itu sudah seperti adiknya, siapa pun yang menyentuhnya akan berurusan dengan Dong Hae.

_*_

Kris mengantar Jessica pulang dengan mobilnya. Gadis itu bahkan tidak punya tenaga lagi untuk berdiri. Kris menggendongnya lalu mendudukinya di kursi depan. Biasanya Jessica selalu menolak duduk di depan, terasa aneh katanya. Kris sudah menelepon ayahnya karena menghilang tanpa pamit. Diperjalanan Jessica hanya terdiam, tubuhnya masih gemetar tapi tangisannya sudah berhenti. Kris hanya bisa memegang tangan Jessica karena harus menyetir mobilnya sendiri.

Ketika sampai di rumah, Kris menyuruh Jessica duduk di ruang tamu. “Aku akan buatkan teh hangat untukmu. Tunggulah disini.” Jessica mengangguk dan Kris berjalan ke dapur.

Kris kembali dengan secangkir teh ditangannya. Da mendapati Jessica sedang tertidur sambil memeluk lututnya. Kris mendekati gadis itu, bingung ingin membangunkannya atau tidak. “Kau kelelahan.” Gumam Kris pelan. Kris meletakkan teh itu di meja, suara dentingan gelas yang beradu dengan meja kaca membangunkan Jessica.

“Ini aku, Kris.” Kata Kris ketika gadis itu bangun dan melompat dari sofa dengan mata terbelalak liar. Tidak, jangan tatapan itu lagi. Batin Kris. Gadis itu menatap Kris takut sambil memasang sikap waspada. Masih tidak mengenali Kris. “Tenanglah, ini hanya aku.” Kris berjalan mendekati Jessica.

Gadis itu mundur selangkah lalu mengerjap beberapa kali. Ketekuatan mulai mencair dari matanya. Dia tersenyum. “Hanya kau, maaf.” Jessica memaksakan senyumannya.

Kris melihat setitik air mata mengalir. “Kenapa kau menangis?”

Jessica menyentuh pipinya yang basah. “Aku menangis? Ah, iya. Aku bahkan tidak sadar.”

Kris tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia maju selangkah dan menarik Jessica ke dalam pelukannya. Gadis itu tidak lagi gemetar, Kris sedikit lega. Dia bisa merasakan ketakutan yang dirasakan Jessica. Kris mempererat pelukannya. Kali ini Jessica benar-benar menangis. “It’s okay, I’m here with you.” Kris berkata lembut.

“Aku…takut…” katanya dengan suara bergetar.

Kris mengantar Jessica ke kamarnya. Menidurkan Jessica di tempat tidur, tapi gadis itu tidak mau melepas pelukannya. Sorot mata ketakutan terlintas di wajah cantiknya saat Kris berusaha melepasnya. Kris mendesah pelan. “Jessica, aku hanya ingin ke bawah sebentar.” Jessica menggeleng keras. “Kau mau aku disini?” Jessica mengangguk. Kris menyeret bangku dan menaruhnya di sisi tempat tidur Jessica. Kris menggenggam tangan gadis itu lembut. Berharap bisa memberikan kekuatannya pada gadis itu.

_*_

Seberkas sinar terang dari jendela membangunkan Jessica. Dia mencoba membuka matanya, sia-sia saja. Jessica mencobanya sekali lagi, kali ini dengan perlahan. Baru membukanya sedikit, Jessica menutupnya lagi, cahaya itu membutakan matanya. Sekali lagi gadis itu membukanya, dia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan penglihatannya. Dimana dia? Kamarnya, kah?

Jessica meraba pipinya yang justru membuatnya meringis. Dia mencoba menggerakkan mulutnya, sama saja, sakit. Kali ini dia mencoba menggerakkan tangan kanannya. Berat, sesuatu pasti menahannya. Jessica menoleh dan melihat Kris tertidur dalam posisi duduk disampingnya sambil memegang tangannya. Kalau diingat-ingat, Jessica belum pernah melihat sleeping face pemuda ini, ternyata lucu juga. Dia ingin membangunkan Kris, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

Kris tiba-tiba terbangun saat Jessica menggerakkan tangannya. Pemuda itu tersenyum hangat. Senyum itu, entah kenapa Jessica merasa membutuhkan senyum itu. Dia mencoba bicara, suaranya tetap tidak keluar. Ada apa dengannya? Kenapa suaranya tidak keluar sama sekali? Gerutu Jessica dalam hati. Apa yang terjadi dengannya kemarin? Ah, tentu saja, dia ingat. Perkelahian itu, jebakan untuknya, dan dia hampir saja celaka kalau Kris tidak datang.

“Kau sudah bangun? Nah, minumlah dulu.” Kris menyodorkan segelas air putih yang langsung ditegaknya habis.

“Mau lagi?” Jessica menggeleng.

Jessica berusaha bicara dengan Kris. Tidak ada suara yang keluar. Kris melihatnya panic, lalu pemuda itu tersenyum.

“Kau pasti masih syok, pikiranmu sedang stres. Seseorang kadang kehilangan suaranya saat dalam kondisi ini.”

Jessica bertanya ‘Kau tidak sekolah?’ dengan gerakan mulutnya. Sepertinya Kris mengerti karena dia menggeleng pelan. “Aku akan menemanimu sampai kau sembuh.” Jessica menyentuh ujung bibirnya, perih. Kris menahan tangan Jessica untuk menyentuh wajahnya lagi. pemuda itu menggeleng.

“Kau bisa berdiri?”

Jessica mencobanya. Dengan perlahan dia menuruni tempat tidurnya. Saat kedua kakinya sudah berpijak, Jessica mengangkat tubuhnya kemudian jatuh terduduk. Tadi suaranya, sekarang kakinya lemas, setelah ini apa lagi? tiba-tiba Kris mengangkat tubuh Jessica ke dalam gendongannya. Dengan mudahnya pemuda itu membuka pintu dan membawa Jessica ke ruang makan.

“Ajumma, tolong bawakan semangkuk bubur untuk kami.” Teriak Kris setelah mendudukkan Jessica di kursi.

Di meja makan sudah ada kotak P3K yang kemarin dipakai Kris untuk mengobatinya. Kris membuka kotak itu, menuangkan alcohol ke kapas dan mulai mengobati sudut bibir Jessica. Dia mengernyit menahan sakit di bibirnya. Tak lama kemudian buburnya datang. Jessica menjulurkan tangannya untuk mengambil sendok, tapi sendok itu jatuh dari genggamannya. Kris memungutnya dan mengganti dengan yang baru.

“Say aaahh…” Kris menyuruh Jessica membuka mulutnya.

Jessica menggeleng. ‘Aku bisa sendiri.’ Katanya tanpa suara.

Kris terkekeh. “Memegang sendok saja kau tidak bisa. Bagaimana kau akan makan sendiri?”

Jessica menekuk wajahnya. Dia tahu Kris benar, tapi dia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil begini. Baiklah, kali ini dia harus mengalah daripada membuat perutnya keroncongan.

_*_

Kris menatap gadis yang sedang disuapinya sambil tersenyum. Setidaknya Kris harus terlihat kalau dia baik-baik saja didepan Jessica, walaupun dalam hatinya dia panic setengah mati. Semalaman Kris menunggu Jessica hanya untuk memastikan kalau gadis itu tidur nyenyak. Lalu paginya, Kris melihat gadis itu sudah seperti mayat hidup. Tidak ada ekspresi yang menunjukkan kalau gadis itu baru saja bangun dari tidurnya. Efek dari syok itu membuat Jessica kehilangan suaranya dan semua tenaga di tubuhnya. Kris bahkan harus membantunya untuk sekedar turun dari tempat tidur.

Kris menaruh mangkuk kosong itu diatas meja. “Masih lapar?” Jessica menggeleng. “Kau ingin minum lagi?” Jessica kembali menggeleng. Tepat saat itu bel pintu berbunyi, detik berikutnya Tao dan Luhan sudah menghambur masuk ke dalam rumah.

“Jessica…my darling! Bagaimana dirimu?” tanya Tao berlebihan. Jessica hanya mengangguk.

Kris menatap temannya tajam. “Untuk apa kalian kesini?”

Luhan yang tau-tau sudah berada disampingnya menjawab. “Melihat Jessica tentu saja, masa kami ingin melihatmu.” Kris biasanya akan memukul Luhan kalau dia bicara seperti itu, tapi sekarang perhatiannya hanya tertuju pada Jessica.

Dengan sabar Kris menunggu Jessica menghabiskan minumnya. Setelah selesai Kris menarik Jessica kedalam gendongannya dan berjalan ke kamar Jessica. “Kau harus mandi dan mengganti pakaianmu. Ajumma akan membantumu. Kalau kau butuh sesuatu bunyikan saja sesuatu agar aku bisa mendengarnya.” Jessica mengangguk dengan patuh. Kris memanggil pembantunya untuk membantu gadis itu sedangkan dia sendiri turun ke ruang tamu untuk menemui teman-temannya.

“Kenapa kau harus menggendong Jessica seperti itu?” Tao menatap Kris yang barus saja turun dengan kesal.

“Apa dia sakit?” Luhan bertanya tanpa mengalihakan pandangannya dari layar TV.

Kris menghembuskan napas berat. “Dia masih syok, sangat stres sampai semua badannya lemas. Dia bahkan kehilangan suaranya.”

“Apa?” teriak Tao dan Luhan bersamaan.

Kris hanya mengangkat bahunya. Saat itu pembantunya keluar dari kamar Jessica. Secepat kilat Kris kembali ke atas. Kris tertegun saat melihat Jessica sedang menyisir rambutnya. Gadis itu bahkan berdiri saat melihat Kris walaupun masih harus berpegangan pada sesuatu. Kris melangkah masuk. “Feel better?”

Jessica mengambil buku kecil dan menuliskan sesuatu. Jessica memperlihatkannya pada Kris setelah selesai menulis. Yang tertulis disitu adalah I’m fine. Lebih baik setelah mandi. Kris mengangguk sedih. Suara gadis itu belum kembali. “Kau mau apa hari ini? aku akan menemanimu.”

Jessica kembali menulis. Tidak usah, aku ingin di rumah saja hari ini. Kris mengangguk paham. Mereka keluar dari kamar. Kris membantu Jessica saat menuruni tangga dan hal itu membuat Tao dan Luhan tercengang. Tidak biasanya Kris bersikap baik pada wanita, biasanya dia akan mengacuhkan mereka seperti mereka tidak terlihat.

Kris membantu Jessica duduk disebelah Luhan sambil menonton TV. Dia bahkan menyediakan minum, snack, dan yoghurt kesukaan Jessica. Tao bersiul pelan. “Kau baik sekali hari ini, dude!” Kris hanya tersenyum.

Luhan menoleh padanya. “Hal yang jarang ditemukan. Seorang Kris perhatian pada wanita.”

“Kau benar,” timpal Tao. “ingat yeoja cantik yang mendekati Kris di bar? Anak ini bahkan mengabaikannya.”

Luhan terkekeh pelan. “Yang memberi surat cinta pada Kris saat kita kelas dua!” luhan menggelengkan kepalanya. “dia juga mengacuhkannya. Yang ada ditaman? Diabaikan. Lalu saat kita ke game centre, dia bahkan tidak meliriknya!” sekarang Luhan tertawa terpingkal-pingkal mengingat kejadian yang baru disebutkannya.

Tao ikut tertawa bersama Luhan seakan Kris tidak ada disana. “Kau ingat dengan yeoja yang selalu menunggu Kris di gerbang saat pulang sekolah?” Luhan mengangguk. “ingat apa kata Kris waktu itu?”

“Mulai besok jangan pernah menemuiku lagi! dasar sampah!” kata mereka bersamaan lalu kembali tertawa.

Jessica kembali menulis di bukunya lalu memperlihatkannya pada Kris. Kau mengatakan itu pada perempuan? Tajam sekali! Kris hanya menganggkat bahu lalu menjawab. “Kau tidak tahu bagaimana keras kepalanya orang itu.” Kris menghembuskan napas pelan. “Aku sudah mengabaikannya saat dia bertemu denganku. Tapi gadis itu tetap saja melakukan aksinya.”

Tapi kau tidak harus bicara sekasar itu padanya! Kris tahu Jessica benar, dia seharusnya tidak bicara seperti itu. Tapi gadis itu memang membuatnya merasa terganggu. “Mianhae, aku tidak akan berkata seperti itu padamu. Tenang saja!”

_*_

Jessica mengerutkan keningnya. Tidak akan berkata begitu padanya? Kemudian Luhan dan Tao bersiul lagi lalu terkekeh bersama. Mau tidak mau Jessica ikut tersenym melihat tingkah mereka. Jessica bangkit dari sofa dan berjalan melewati Kris.

“Mau kemana?” Kris menahan lengannya.

Jessica terdiam. Tangan Kris besar dan hangat membuatnya merasa nyaman. Tangan yang beberapa menit lalu menggendongnya. Tangan yang beberapa menit lalu menggenggam tangannya saat dia tertidur. Tangan yang kemarin memeluknya di taman. Tanpa sadar pikiran Jessica melayang. Dia cepat-cepat mengenyahkan pikiran itu, lalu menulis bukunya. Aku ingin membuat teh, kau mau?

“Kau tunggu saja disini, biar aku yang membuatnya.” Kris menyuruh Jessica untuk duduk kembali. Jessica menggeleng. “Tubuhmu masih lemah. Jangan lakukan pekerjaan berat!” Kris berlalu, tapi Jessica menahannya.

Jangan perlakukan aku seperti ibu hamil! Aku hanya kelelahan. Jessica menyilangkan tangannya di dada. Dan menyeduh teh bukan pekerjaan yang berat, Kris! Tulis Jessica besar-besar di bukunya. Kris memutar bola matanya lalu mengangguk menyerah.

“Entah mengapa aku merasa kalian seperti bukan saudara.” Jessica dan Kris menoleh pada Luhan yang baru saja bicara.

“Kalu dipikir, kau benar juga.” Kata Tao sambil memakan keripik Jessica. “mereka terlihat seperti suami-istri.”

Luhan mengangguk setuju. “Kalian mesra sekali.”

Detik itu juga wajah Kris dan Jessica bersemu merah. “Lihat kalian kompak sekali! Wajah kalian memerah.” Seru Tao lagi.

Jessica memutar badannya dan melangkah ke dapur. Kalau ini diteruskan rahasianya akan terbongkar. Pikir Jessica. Kris mengikutinya dari belakang. Dalam hati Jessica mengakuinya. Kalau dipikir-pikir akhir-akhir ini Kris lebih perhatian padanya. Hal itulah yang kadang ditakutkan Jessica, takut kalau masalah ini diketahui orang lain.

Malam itu Jessica tidak bisa tidur. Setiap kali dia menutup matanya, kejadian di taman teringat kembali. Jessica tahu badannya sudah lelah sekali, tapi dia juga takut teringat kejadian itu. Dia menutup matanya, berusaha tidak mengingatnya dengan menghitung sampai seratus dalam hati. Satu…dua…tiga… Jessica masih menghitung sampai matanya terasa berat. Enam puluh… enam puluh satu… hitungan selanjutnya dia tidak ingat karena Jessica sudah tertidur.

Saat itu Jessica bermimpi. Dalam mimpinya dia sedang duduk disebuah kursi putih, sendirian. Tiba-tiba datang sekelompok orang menyerangnya. Dia mencoba menyerang kembali tapi tangannya terikat. Jessica panic, dia berusaha bangkit dari kursi itu tapi kakinya terasa lemas. Seseorang datang dan berdiri dihadapannya sambil tertawa licik. Jessica merasa mengenal tawa itu, tapi dia tidak ingat. Orang itu menarik Jessica dengan sekali sentak. Mereka mengeluarkan pisau lipat dari sakunya dan mulai merobek pakaian Jessica dengan pisau itu.  Dia ingin berteriak, tapi suaranya tidak mau keluar.

Detik berikutnya, Jessica mendengar suara benda jatuh. “Brukk!!” saat dia sadar, suara itu berasal dari dirinya. Jessica melihat sekeliling, dia masih di kamarnya. Bajunya basah dengan keringat, tanpa sadar pipinya juga basah. Dia menangis. Tak lama kemudian Kris menerobos masuk ke kamarnya. Melihat pemuda itu, Jessica merasa bisa bernapas kembali.

“Kau…kenapa?” Kris berjalan mendekatinya. “Kenapa kau menangis?”

Jessica ingin mengatakan ‘aku tidak tahu’ tapi tidak ada suara yang keluar. Bahkan bibirnya serasa terkunci rapat. Dia hanya menggeleng. Jessica menarik sudut bibirnya, memaksakan sebuah senyuman. Hal yang sia-sia karena detik berikutnya Jessica sudah berada dalam pelukan Kris. Kali ini aroma coklat dari tubuh Kris tercium jelas oleh hidung Jessica.

“Did you have a nightmare?” tanya Kris lagi.

Jessica mengangguk lemas.

Kris menghembuskan napas perlahan. “Kau mau tidur denganku?”

Jessica menarik dirinya dan menatap Kris waspada. Pemuda itu berkata lagi dengan cepat.

“Bukan yang seperti itu maksudku. Kau tenang saja. Maksudku, kau di tempat tidur dan aku akan tidur di sofa.”

Jessica masih menatap Kris, membuat pemuda itu jadi salah tingkah.

“T-tidur di kamarku maksudnya…supaya aku tidak lelah bolak-balik kalau kau bermimpi lagi.”

Jessica terkekeh tanpa suara lalu mengangguk. Seharian ini dia membiarkan pertahanannya lepas dihadapan pemuda ini. Dan ini sudah kesekian kalinya dalam satu hari Jessica membuat dirinya bergantung pada Kris. Dalam kondisi normal, saat ini mungkin Jessica akan berteriak pada Kris dan mengatakan kalau pemuda itu sudah gila karena mengajaknya tidur di kamarnya. Tapi kali ini berbeda. Ada rasa takut bercampur senang dalam dirinya saat ini.

Kris mengangkat Jessica ke dalam gendongannya dengan sekali sentak. Jessica hanya bisa diam dan pasrah saat Kris membawanya dan menaruhnya di tempat tidur lalu menyelimutinya. Kris menarik selimut yang beberapa menit lalu baru dia gunakan untuk menutupi tubuh Jessica. Kris menepuk kepala Jessica pelan.

“Tidurlah. Jangan takut. Aku ada disini.”

6 thoughts on “[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s