[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 10

Title: My Jjang vs. Your Jjang

Author: caizhe serenade

Cast: Jessica Jung (SNSD), Kris Wu (EXO), Lee Dong Hae (Super Junior) and other

Genre: romance

Length: chapter

Rating: general

Summary: Kenapa kau menyukainya?/ apa aku harus punya alasan untuk menyukai seseorang?/ jadi kau akan tetap menyukainya?/ sepertinya begitu/kapan kau akan berhenti?/ sampai aku lelah mengejarnya, mungkin.

Jessica Jung dan Kris Wu adalah ketua geng di sekolah. Mereka dijodohkan, tapi Jessica menyukai Dong Hae, sahabatnya. Dan tak seorang pun boleh tahu mereka menikah!

Tiga minggu berlalu dan keadaan Jessica sudah pulih sepenuhnya, walaupun Kris yakin Jessica masih trauma dengan kejadian itu. Mereka juga kembali sekolah dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tentu saja, sebentar lagi mereka lulus dan harus menghadapi ujian akhir yang baru selesai kemarin. Jessica tentu saja harus mengejar ketinggalannya selama dia tidak masuk sekolah. Hari Sabtu sekolah mereka libur dan Kris memilih untuk bersantai dirumah.

Kris menyesap minumannya sambil membaca novel dengan tenang. Sementara Jessica seperti biasa minum habis yoghurt kesukaannya. Hari yang sangat tenang hingga membuat keduanya tidak menyadari apa yang akan menimpa mereka.

DING DONG! Bel rumah mereka berbunyi. Keduanya menghentikan kegiatannya masing-masing dan saling menatap. “Biar aku yang membukanya.” Kata Kris sambil beranjak dari sofa. Dia bahkan tidak melihat intercom untuk melihat siapa yang datang. Kris membuka pintu dan sebelum mengucapkan apapun tubuhnya sudah membeku saat melihat siapa yang datang.

“Kris, siapa yang datang?” tanya Jessica dari ruang tamu. Kris bahkan terlalu kaku untuk sekedar membuka mulutnya.

Orang itu juga terlihat terkejut saat melihat Kris. “Masuklah.” Hanya itu yang dikatakan Kris sambil membawa orang itu masuk. Jessica yang mendengar langkah Kris menoleh ke arahnya lalu memasang ekspresi terkejut yang sama.

“Dong Hae?” jessica meletakkan minumnya di meja sembarangan. “Ada apa kau kesini?” tanya gadis itu gugup.

Orang itu tersenyum, yang jelas bukan senyuman hangat. “Aku bahkan tidak tahu you live with him!”

Kris menatap Jessica. Masalahnya dia juga bingung harus berkata apa. “This is not what you think.” Kata Jessica lagi.

“Benarkah? Kalau begitu can you explain to me?”

Kris terpaku ditempat. Dia harus memutar otaknya. Tinggal sedikit lagi sebelum kelulusan, dia tidak ingin masalah ini ketahuan sekarang.

_*_

Jessica menatap Dong Hae dengan mata terbelalak. Dia bahkan tidak menyangka pemuda ini akan datang. “Ini…ini…umm…”

Dong Hae mendesah. “Aku sudah meneleponmu berkali-kali tapi ponselmu tidak aktif, makanya aku datang.”

Jessica menatap Kris, tapi pemuda itu hanya mengangkat bahunya. Sepertinya juga bingung ingin berkata apa. “Jadi bisa kau jelaskan?” tanya Dong Hae lagi. Jessica hanya terdiam, tidak sanggup menjawabnya. “Aratso. Kalau begitu aku akan bertanya padamu!”

Jessica mengangkat wajahnya. “Dong Hae, kumohon. I’m begging you! Jangan ceritakan hal ini pada siapa pun. Aku tidak mau Kris terlibat masalah.”

“Sica, kau lebih memilih dia daripada aku yang sudah lama kau kenal?” Dong Hae mendengus.

Jessica menutup matanya. Dia juga tidak ingin begini. “Kumohon, Dong Hae!”

“Jadi, kau tinggal dengannya?” tanya Dong Hae tanpa menatap wajah Jessica.

“Ne…”

“Sudah berapa lama?”

“Hampir setahun.”

“Sejak kapan kau mengenalnya?” Dong Hae terlihat enggan menyebut nama Kris.

“Dulu… dia temanku saat aku kecil.”

“Lalu kenapa kau tinggal dengannya?”

“…Mianhae…”

“Kenapa kau tidak menceritakannya padaku?”

“…”

“Kenapa, SIca?”

Saat itu Jessica merasakan angin berhembus. Ketika Jessica mengangkat wajahnya, Kris sudah berada disampingnya. “Jangan salahkan Jessica. Ini salahku.”

“Kau jangan ikut campur.” Kata Dong Hae sambil menatap Kris tajam.

“Tentu saja! Aku ikut juga didalamnya. Kau tidak bisa seenaknya memojokkan Jessica seperti ini!”

Dong Hae mundur selangkah. “Kalau begitu, jelaskan apa yang terjadi disini.” Dong Hae melipat tangannya didepan dada. Kris baru membuka mulut tapi Jessica segera menahannya. Dia tidak ingin Kris terseret masalahnya lebih jauh. Tapi pemuda itu hanya tersenyum padanya.

“Ini semua ideku. Orang tua kami ingin menjodohkan kami, tapi Jessica menolak. Mereka masih saja memaksa kami. Lalu aku memberikan usul untuk melakukan kawin kontrak…” Kris menceritakan semua kejadian selama ini pada Dong Hae. Dan membiarkan dirinya menanggung semua kesalahan. Dong Hae hanya mendengar dalam diam setiap perkataan yang diucapkan Kris, ekspresi wajahnya tidak berubah.

Jessica hanya bisa duduk terdiam sambil mendengar Kris bercerita. Sebuah perasaan aneh merasuki dirinya. Entah mengapa Jessica ingin sekali bangkit dan melindungi Kris. Dia tahu kalau dia sangat ceroboh, perbuatannya sama saja memancing Dong Hae ke masalahnya. Dia harus menguras otaknya, harus berpikir lebih keras agar Dong Hae menghentikan perbuatannya ini.

Jessica tahu Dong Hae pantas untuk marah padanya. Tapi tatapannya itu menunjukkan Kris lah yang bersalah atas semua ini. Bukan Kris yang harus disalahkan, tapi dirinya! Kontraknya tinggal sedikit lagi dan masalah ini akan selesai. Jessica tahu dia harus mengatakan itu pada Dong Hae, hanya saja lidahnya kelu. Dia menatap Dong Hae dan Kris bergantian. Tidak ada perubahan dalam wajah Dong Hae, tapi Jessica tahu persis kalau semakin lama mata Dong Hae terlihat marah. Jessica bangkit dari sofa dan menatap Dong Hae. “Dong Hae…”

Pemuda itu menoleh. “Ini bukan salah Kris.” Katanya lagi.

“Hmph, Sica, bisa diam sebentar? Dia belum menyelesaikan ceritanya.” Terdengar nada tajam dari suara Dong Hae.

Jessica menutup matanya. “Aku tahu kau marah, tapi jangan salahkan dia!”

“Kalau bukan salahnya,” Dong Hae berbalik menghadap Jessica. “lalu salah siapa?”

“Ini salahku. Sepenuhnya salahku.” Jessica menunduk. “kau boleh marah padaku, tapi jangan salahkan Kris!”

Dong Hae mendengus. “Kenapa kau terus saja memihak padanya, Sica?”

“Aku… aku… “

“Marah? Tentu saja aku marah!” Dong Hae mengepalkan tangannya. “Kau bahkan tidak tahu seberapa marahnya aku saat aku mengetahui ini. Ditambah lagi dengan kau berbohong padaku. Kenapa, Sica? Why you can’t be a good girl? Kenapa kau tidak mau jujur padaku, tidak seperti Yuri?”

Jessica mengangkat wajahnya. Yuri? Kenapa nama gadis itu harus disebut-sebut dalam masalah ini? dan kenapa Dong Hae harus membandingkannya dengan Yuri? Sehebat itukah seorang Yuri untuk Dong Hae? Amarah yang sejak tadi Jessica tahan langsung naik ke permukaan. Dia benci ini! dia benci saat Dong Hae membanding-bandingkannya. Dan dia benci saat Dong Hae tidak menyadari perasaannya.

_*_

Kris menatap dua orang didepannya dengan khawatir. Dia yakin akan terjadi pertengkaran hebat disini. Padahal Kris sudah berusaha agar Jessica tidak terlibat. Gadis ini memang keras kepala. Kris memutar bola matanya. Oh no, not again!

“Yuri? Gadis itu lagi?” tanya Jessica pada pemuda itu dengan marah. “Huh, yang benar saja! Apa bagusnya dia?”

“Sica! Ada apa denganmu? Seharusnya aku yang marah, bukan kau!” pemuda itu menatap Jessica dengan mata terbelalak.

“Ah benar, kau boleh marah sesukamu, tapi jangan samakan aku dengan gadis itu!” desis Jessica tajam.

Kris belum pernah melihat Jessica semarah ini. Sepeduli itukah Jessica pada pemuda ini? Tapi melihat Jessica membentaknya membuat Kris menyunggingkan senyumnya. Paling tidak dia tidak pernah membuat Jessica marah besar. Satu poin untuk dirinya. “Jessica, kau harus tenang.” Kata Kris sambil mencoba menyembunyikan senyumannya.

“Kau tidak perlu ikut campur Kris,” jessica menjawab tanpa memandang Kris. “ini urusanku dengannya.”

Kris menatap pemuda itu yang sekarang sedang menyilangkan tangannya didepan dada. “Bisakah kau berhenti dengan semua ocehanmu?” kata pemuda itu lagi.

“Ocehan? Aigoo, gadis itu pasti sudah mencuci otakmu.”

“Kau tidak tahu apa-apa tentang Yuri. Ada apa denganmu? Kau bukan Sica yang kukenal.”

Jessica memutar matanya. “Kau memang tidak mengenalku, Dong Hae.” Ada rasa kecewa dalam ucapan gadis itu. Pemuda itu mendesah. Kelihatannya putus asa. Kris mengulum senyumnya. Mereka berdua bertengkar seakan Kris tidak ada disana. Seharusnya Kris kesal karena diabaikan, tapi sekarang Kris malah merasa senang. Sebuah tontonan yang bagus yang sudah pasti jarang sekali terjadi. Kalau Tao ada disini, anak itu pasti sudah mulai mengumpulkan uang untuk taruhan siapa yang menang. Kris tertawa dalam hati saat membayangkannya.

“Anio, aku mengenalmu, Sica. Sangat mengenalmu. Hanya saja kau berbeda sekarang, kau…”

“Kalau kau memang mengenalku,” Jessica memotong ucapannya. “kau seharusnya sadar. Kau seharusnya tahu saat kau terus bercerita tentang Yuri padaku. Kau seharusnya tahu bagaimana perasaanku saat kau membeli cincin itu. Tapi tidak! Kau bahkan tidak menoleh padaku. Kau bahkan tidak mengetahui perasaanku…” rasa frustasi jelas tergambar pada wajah Jessica. “sudah lama kau berteman denganku, tapi kenapa? Kenapa kau bahkan tidak menyadari perasaanku? Aku sudah berusaha, berusaha untuk membuatmu menatapku. Berusaha untuk membuatmu sadar kalau aku menyukaimu!”

Kris yang sejak tadi menonton sekarang menganga. Dia tidak menyangka Jessica akan mengungkapkan semua kekesalannya dan juga…perasaannya. Kris menatap Jessica dan pemuda itu bergantian. Keduanya saling terdiam. Kris tahu seharusnya dia tidak ikut campur dalam pertengkaran ini. Tapi masalah ini juga menyangkut dirinya. Dan jika dia tidak bicara, masalah ini tidak akan selesai.

“Kau menyukaiku?” kata pemuda itu tepat saat Kris baru saja membuka mulutnya.

Jessica menundukkan kepalanya, tidak menjawab. “Aku tidak percaya ini. Sungguh hari yang aneh.” Kata pemuda itu lagi. Kris rasa sekarang saatnya dia untuk mengambil alih. Maka Kris mendekati Jessica dan mulai bicara.

“Jadi sekarang kau sudah tahu semuanya. Maukah kau menyimpan rahasia ini?” Kris menatap pemuda itu. “tentu saja bukan untukku, tapi untuk Jessica.”

Pemuda itu menutup matanya lalu membukanya lagi. “Baiklah, akan kulakukan untuk Sica!”

_*_

Hancur sudah! Sekarang Jessica tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Karena terlalu marah akhirnya dia menumpahkan semua perasaannya, termasuk mengatakan kalau dia menyukai Dong Hae. Paling tidak pemuda itu sudah pergi sepuluh menit yang lalu, tapi tetap saja pikiran Jessica masih kusut.

“Gwaenchanayo?” tanya Kris yang tiba-tiba sedang berlutut dihadapannya. Jessica mengangguk, memaksakan sebuah senyum padanya.

“Disaat seperti ini kau masih saja berbohong. Kau tidak boleh force your smile, you know?” Kris menjulurkan tangannya, menyentuh pipi Jessica dengan lembut. “Aku tahu you are NOT fine. Kau boleh menangis right here, right know. Karena aku akan selalu ada disini.”

Rasa hangat mengalir dalam tubuh Jessica. Setiap kata yang Kris ucapkan membuatnya merasa nyaman. Perlahan-lahan pandangan Jessica mulai kabur. Air mata mulai memenuhi matanya. Jessica menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Saat itu Jessica merasa tubuhnya ditarik, detik berikutnya dia sadar sedang berada dalam pelukan Kris.

Jessica menguburkan wajahnya pada dada Kris. Membiarkan dirinya menangis sejadi-jadinya. Huh, apa-apan ini? sekarang aku jadi gadis lemah! Sejak kapan aku jadi anak cengeng begini? Batin Jessica. Kris hanya diam sambil mengelus kepalanya lembut. Jessica bisa merasakan pelukan Kris semakin erat pada dirinya. “Kau bisa melepaskanku sekarang. Kalau tidak bajumu akan basah!” ucap Jessica lirih.

Kris menggeleng. “Anio.”

“Apa-apaan kau ini? oh, kau pasti akan menertawakanku setelah ini, kan?”

“No, aku tidak akan melepaskanmu. Sampai kau tenang lagi, aku akan tetap disini.”

“Ugh… babo-ya! Babo, Kris!” umpat Jessica dengan wajah memerah.

Kris terkekeh pelan. “Aku tahu, terima kasih kembali.”

Setelah beberapa lama, Jessica merasa lebih baik. Dengan perlahan, Jessica melepaskan pelukannya dan menatap Kris. Saat Jessica mengangkat wajahnya, Kris sedang tersenyum. Dan jarak wajah mereka berdua yang sangat dekat membuat Jessica bisa merasakan nafas Kris pada wajahnya. Wangi mint. Kata Jessica dalam hati. Saat sadar kalau Kris masih menatapnya, wajah Jessica bersemu merah.

Kris menatapnya khawatir. “Kau demam? Wajahmu merah.” Kris segera menyibakkan poni yang menutupi dahi Jessica dan menempelkan dahinya sendiri ke dahi Jessica.

Jessica menggeleng dengan kuat. Mungkin terlalu kuat sampai membuat kepalanya sendiri pusing. Kalau wajah Kris sedekat ini, mungkin Jessica benar-benar akan demam. Nafas Kris menggelitik pipi Jessica, membuatnya menutup mata. Ya benar, kalau begini terus Jessica benar-benar akan demam.

_*_

Malam itu Kris mengantar Jessica ke kamarnya. Menurut Kris, dirinya harus tidur lebih awal karena hari yang melelahkan ini. Setelah kejadian dengan Dong Hae tadi pagi, Kris dan Jessica hanya mengobrol tanpa arah. Well, Kris memang memeluknya dan dia juga sempat menangis, tapi kejadian itu tidak dihitung.

Jessica membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menutup mata. Tetap saja dia tidak bisa tidur. Pikirannya melayang ke kejadian pagi tadi. Ini aneh, saat Jessica melihat Dong Hae, hatinya tidak lagi berdebar-debar. Jessica berpikir lagi, sepertinya sudah agak lama efek dari Dong Hae menghilang. Sejak kapan? Tanya Jessica dalam hati. Mungkinkah saat perkelahian melawan Kris? Entahlah, dia juga tidak yakin. Tapi hatinya memang tidak berdegup kencang lagi saat ada Dong Hae. Tiba-tiba wajah Kris terlintas dipikirannya.

Akhir-akhir ini hatinya memang berdegup tidak karuan saat dia bersama Kris. Tapi apa artinya ini? apa mungkin dia menyukai Kris? Jessica menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Pikiran dari mana itu? Tidak mungkin dia menyukai Kris. MUSTAHIL! Astaga, pikirannya pasti sangat kacau sampai dia memikirkan hal-hal aneh ini. Jalan terbaik adalah tidur. Jessica memaksa matanya untuk tertutup. Paling tidak cara ini berhasil untuk tidak memikirkan Kris.

_*_

Dua hari setelah kejadian dengan Dong Hae berlalu. Pagi itu Kris bangun lebih pagi dari biasanya. Sejak dua hari lalu, ah tidak, mungkin sudah agak lama, Kris mulai memikirkan perasaannya pada Jessica. Dan dua hari ini dia berpikir ekstra keras untuk itu. Hasilnya? Kris merasa dia pasti sudah gila karena rasanya dia menyukai Jessica.

Kris mengacak-acak rambutnya kesal. Kenapa perasaan ini harus muncul? Tepat beberapa hari sebelum kontraknya dengan Jessica habis. Kris duduk tegak disisi tempat tidurnya. Dia harus memikirkan sebuah cara. Akan jadi hal bodoh kalau hanya dia yang menyukai gadis itu. Benar, dia harus bertindak, paling tidak dia harus mengetahui perasaan Jessica padanya. Tapi kalau Jessica tidak merasakan hal yang sama berarti Kris harus berusaha agar Jessica menatapnya, HARUS! Karena sepertinya perasaan Kris pada gadis itu grow more stonger day by day.

Kris bangkit dari tempat tidur dan bersiap untuk berangkat sekolah. Setelah selesai dengan kegiatan paginya, dia keluar kamar dan mendapati Jessica sedang termenung menatap serealnya. Mau tidak mau Kris tersenyum melihat pemandangan itu. Pikirannya melayang membayangkan dirinya berdiri dibelakang gadis itu, mengendap-endap, lalu dengan sekali sentak memeluk gadis itu dari belakang dan mulai menciuminya.

Lamunan Kris terhenti karena dirinya hampir saja terpeleset di tangga yang sedang dipijaknya. Aish! Pagi-pagi begini dia sudah melamun yang tidak-tidak hanya karena melihat Jessica. Kris rasa dia sudah benar-benar gila!

“Yaa, Kris! Mornin’!” sapa Jessica ceria.

Kris tersenyum, mencoba menepis lamunan aneh yang mulai memenuhi pikirannya. “Mornin’ Jessica. Kau bagun lebih awal?” gadis itu mengangguk. Kris mengambil kursi tepat disebelah Jessica. “Ah, hold still,” Kris menjulurkan tangannya, mengelap bekas susu disudut bibir Jessica dengan ibu jarinya dan menjilat jarinya sendiri. “ada susu disudut bibirmu.” Kata Kris santai.

Jessica menatapnya heran, lalu pipinya mulai bersemu merah. Ah, sepertinya rencana Kris berhasil. “Kau… apa-apaan kau ini? kau mabuk ya? Ada apa denganmu?” respon Jessica yang bertolak belakang dari yang Kris harapkan tentu saja membuat Kris kaget. Sekarang gadis itu bergumam tidak jelas sambil sesekali mendesah. Kris terkekeh pelan melihat Jessica melakukan hal itu dan membuat gadis itu makin memarahinya.

_*_

Saat kris keluar rumah, mobil Tao dengan setia sudah menunggunya. Kris memang menelepon anak ini untuk menjemputnya karena dia sedang malas membawa motor ke sekolah. Saat Kris masuk ke mobil itu, bau parfum yang disemprot secara berlebihan menusuk hidungnya. Kris mengibas-ngibaskan tangannya didepan hidung.

“Kali ini bukan dupa, huh?” sindir Kris pada Tao yang asik menyanyikan lagu dangdut kesukaannya.

“Ini parfum impor, baru kubeli di Milan.” jawab Tao bangga.

Kris mendecakkan lidahnya. “Tapi tidak perlu berlebihan juga.” Kini lagu dangdutnya berganti menjadi lagu Terajana. Kris terpaksa harus menutup telinganya karena Tao mulai bernyanyi.

“Terajanaaaa…… terajanaaaa…. Ini lagunya…. Lagu indiaaa….” Tao bernyanyi dengan semangat.

“Bisa kau hentikan itu?”

“Hentikan apa?” Tao menatap Kris yang sedang menekuk wajahnya dengan heran. “Dengar, aku tahu kau tidak suka dangdut, aku akan mematikan musiknya. Jadi jangan menekuk wajahmu seperti itu!”

“Siapa yang menekuk wajah?” Kris mendengus.

Tao menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas sedang merah. “Ada apa denganmu, honey?” Kris tidak menjawab. “Kau mau menceritakannya padaku?”

Kris menatap Tao ragu, tapi kemudaian dia mengangguk. “Begini, misalnya ada seorang pemuda yang menyukai seorang gadis. Ini hanya MISALNYA! Pemuda itu hanya bisa menatap gadis itu dari jauh. Dia tidak ingin hanya dia yang menyukainya gadis itu. Dia ingin gadis itu juga menyukainya. Pemuda itu ingin memastikannya tapi tidak tahu bagaimana caranya. Apa yang harus dia lakukan?”

Mobil Tao kembali bergerak perlahan. “Bagaimana kalau kau mendekati gadis itu dulu? Jadi kau tidak perlu melihatnya dari jauh.”

“Sudah kubilang itu bukan aku. Ini hanya MISALNYA!”

“Baik, baik. Pemuda itu harus mendekati gadis itu agar dia bisa mengenalnya. Mana ada orang yang bisa saling mengenal kalau mereka berjauhan! Biarkan gadis itu mengenal si pemuda dengan baik, begitu juga sebaliknya. Perlahan-lahan sadarkan dia, buat dia menatap pemuda itu. Kalau sudah begitu, lakukan finishing touch-nya. Katakan pada gadis itu kalau si pemuda menyukainya.” Tao memfokuskan pandangannya ke jalan raya.

Kris mengetuk-ngetukkan jarinya tidak sabar. “Tapi waktunya tinggal sedikit!”

“Kalau begitu si pemuda harus bergerak cepat. Dia harus memikirkan cara agar si gadis bisa melihatnya. Paling tidak si pemuda harus terus berada didekat gadis itu, benarkan?” Kris mengangguk, mengerti maksud Tao. “Kau ini… mudah sekali ditebak.” Ledek tao lagi.

“Sudah kubilang ini bukan tentangku!”

Tapi dalam hati Kris tahu Tao benar. Dia harus bertindak cepat. Dia tidak ingin kehilangan Jessica. Kris harus mencoba mengerti gadis itu, mengerti perasaannya. Benar, kalau dia tidak cepat, bisa-bisa pemuda bernama Dong Hae itu datang lagi dan mengambil Jessica dari hadapannya. Dan Kris yakin dia tidak mau hal itu terjadi. Bahkan mungkin dia akan melakukan apa pun agar Jessica kembali ke sisinya.

4 thoughts on “[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 10

  1. Nhae yorieE

    Akhirnya mereka ketauan jga ama donghae..dan jesica jga ngungkapin perasaannya ama donghae..?!tpi smoga aja kris bisa bergerak cpat tuk bsa dapetin htinya jesica.?! D tnggu next partnya…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s