Precious (part 2)

precious

1.      Title                    : Precious (chapter 2)
2.      Author               : RR5

3.      Genre                : Romance, Action

4.      Cast                :

Im Yoona as Yonna

Lee Jinki as Onew (Yonna’s twin brother)

Jung Eunji as Eunji

Yong Junhyung as Junhyung

Yang Yoseob as Yeseob

Park Chanyeol as Chanyeol (Onew’s friend)

5.      Length               : Continue

6.      Summary             : You’re THE SPECIAL ONE no matter what happens

================================================================

“Yoona kau kemana saja?” Haneul histeris

“Saat aku berangkat tadi, ada anak TK yang sedang membuat origami. Kemudian aku melihatnya dan beberapa anak memintaku membantunya. Setelah itu aku ingat harus ke sekolah.”

“Dan?” tuntut Chanyeol

“Dan aku,… aku lupa harus lewat mana. Jadi aku duduk saja disini”

“Astaga! Kenapa kau tidak menelepon kami?” Chanyeol berkata dengan tak sabar

Aku terdiam menatap mereka semua

“Telepon! Benar! Tadi aku terpikir untuk melakukan sesuatu. Tapi aku tak tahu apa?”

Giliran mereka menatapku heran.

“Sudahlah, lebih baik kita kembali sekarang. Sebentar lagi bel masuk berbunyi” Haneul melihat jam tangannya.

Kemudian aku dan Haneul berjalan duluan. Meninggalkan Onew dan Chanyeol di belakang.

“Onew. Ada sesuatu yang salah pada Yoona, aku yakin”

*******

“Yoona, kepala sekolah memanggilmu ke ruangannya” Yuka salah satu temanku menyampaikan pesan padaku.

“Sekarang? Tidak bisakah nanti saja. Aku harus menyerahkan hadiah ini kepada Kang songsaenim” kataku sambil mengangkat sebuah aquarium bulat.

“Sekarang, Yoona. Katanya ada urusan penting, kau diminta datang secepatnya”

Aku mempout kan bibirku. Kesal.

“Lebih baik kau bawa saja hadiah itu, setelah dari ruang kepala sekolah baru kau berikan” Haneul menyarankan

“Oh ya , benar juga. Baiklah, sampai jumpa nanti!”

Aku menuju ruang kepala sekolah sambil bertanya-tanya, kesalahan apalagi yang kuperbuat hingga aku dipanggil kepala sekolah. Apakah masalah nilai-nilaiku? Atau masalah aku terlambat ke sekolah? Aku takut sekali, sepertinya Han songsaenim tidak akan memberikanku kesempatan kali ini.

Dengan ragu-ragu kuketuk pintu ruangan kepala sekolah

“Masuk”

Terdengar seseorang mengizinkanku masuk, sepertinya itu suara Han songsaenim.

Saat aku masuk, aku terkejut sekali. Di hadapan Han songsaenim, Kim songsaenim dan duduk sesosok yang sudah sangat kukenal. Pamanku! Aku panic sekali, kesalahan apa yang kuperbuat sampai paman dipanggil ke sekolah, dan kenapa ada banyak guru disini?! Aku merasa seperti aku akan diadili saja.

“Duduk, Yoona”

Kim songsaenim, wali kelasku menyuruhku duduk. Jantungku mendadak berdegup kencang, keringat dingin membanjiri diriku.

“Baiklah, Yoona. Tanpa berlama-lama lagi, kami semua disini untuk membicarakan tentang dirimu” Han songsaenim membuka pembicaraan

Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam, aku tak berani menatap wajah Paman.

“Kami sedang mempertimbangkan, apakah kau layak untuk meneruskan sekolah atau tidak” Han songsaenim melanjutkan.

Aku terperanjat! Begitu pula Pamanku, yang tampak sangat terkejut.

“Apa maksudnya ini?!” Paman buka suara

Han songsaenim melirik kearah Kim songsaenim

“Berdasarkan laporan yang saya terima dari guru-guru yang mengajar Yoona, mereka mengatakan bahwa kemampuan yoona dalam mengikuti pelajaran sangat kurang”

“Sebenarnya, Han songsaenim. Kalau Anda memperhatikan,tidak semua guru berkata seperti itu” Kim songsaenim membelaku

“Dengan pengecualian, Kang songsaenim mengatakan bahwa Yoona sangat berbakat di bidang seni” Han songsaenim menambahkan dengan nada sinis

Dari tatapan matanya, aku melihat Kim songsaenim tampak sangat marah.

“Saya tahu kalau nilai-nilai Yoona tidak begitu baik, tapi setidaknya dia bisa….”

“Dan,…..” Han songsaenim nenotong perkataan paman

“Berdasarkan perilaku Yoona yang kurang, umm…. Wajar. Sangat pelupa!”

“Kurang wajar?! Anda mengatakan itu kurang wajar?!” paman naik darah, aku sangat takut, rasanya aku ingin menangis.

“Aggashi, apakah wajar jika seseorang lupa jalan menuju sekolah dan kelas mana yang harus diikuti?” Kim songsaenim menambahkan dengan nada suara yang berbahaya

Paman tidak menjawab, dia hanya melihatku dengan wajah prihatin. Aku tak dapat lagi menahan air mataku.

“Yoona, diketahui telah tiga kali memasuki kelas yang tidak seharusnya dimasuki, dan kemarin dia terlambat ke sekolah dengan alasan lupa jalan ke sekolah. Apakah itu cukup wajar?”

Paman menatap Kim songsaenim kemudian menatapku yang sedang menangis.

“Maafkan saya, tapi tidakkah Anda berpikir bahwa Yoona seharusnya, umm,,,,, membutuhkan perlakuan khusus” lanjut Kim songsaenim

“ASTAGA! INI KETERLALUAN! JADI ANDA BERPIKIR BAHWA YOONA TIDAK NORMAL?!!” suara Paman yang menggelegar membuat tangisku semakin menjadi-jadi.

“Han songsaenim, Anda keterlaluan. Mungkin kemampuan akademik Yoona memang kurang, tapi saya rasa dia sama normalnya dengan anak-anak lainnya. Saya sangat kecewa dengan pernyataan Anda, Han songsaenim. Saya harap Anda bisa lebih bijaksana dalam bertutur kata!”

“Aku, aku tahu kalau aku bodoh. Mungkin mereka benar, aku tidak pantas untuk bersekolah disini, aku, aku,…….” Aku tak mampu menyelesaikan kalimatku, hatiku sedih sekali mendengar perkataan Han songsaenim,

“Aku tahu aku tak bisa diharapkan, tak bisa dibanggakan. Aku minta maaf Paman, aku hanya bisa membuatmu malu.” Air mataku menetes bagaikan hujan yang turun membasahi bumi.

“Hei, hei, jangan bicara seperti itu. Paman sama sekali tidak merasa malu, sebaliknya paman merasa sangat bangga.”

Air mataku semakin deras mengucur.

“Bohong”

“Tidak, paman tidak bohong. Dengar, mungkin Yoona memang tidak berbakat dalam pelajaran, tapi Yoona memiliki suara yang sangaaaaat indah. Setiap Yoona bernyanyi, paman seperti mendengar suara malaikat.”

“Jangan pernah merasa rendah diri Yoona, bagi paman Yoona sangat berharga, sangat istimewa. Setiap orang berbakat dalam bidangnya masing-masing.” Kemudian Paman memelukku.

Tiba-tiba Kim songsaenim memecah kesedihan kami.

“Yoona, ini apa? Untuk siapa?” tanyanya

Aku melepaskan pelukanku, dan menghapus air mataku.

“Oh, itu hadiah untuk Kang songsaenim. Beberapa waktu yang lalu Kang songsaenim bercerita padaku, saat ulang tahunnya Ibuku pernah memberikannya hadiah berupa aquarium yang berisi dua buah ikan koi yang sangat cantik, tapi aquarium itu pecah pada hari kecelakaan orangtuaku”

“Jadi, kau memberikan ini sebagai hadiah ulang tahunnya?” tanya Kim songsaenim sambil menunjuk aquarium itu.

“Tidak, ulang tahunnya sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Aku memberikannya, karena hari ini adalah hari kematian orangtuaku. Mungkin,….”

Aku menghentikan kalimatku, karena aku melihat Kim songsaenim meneteskan air mata. Aku bingung, kenapa dia menangis?

“Indah sekali, Yoona. Sangat indah, kau menyentuh hatiku. Ya, kau dan Ibumu, memang gadis paling istimewa yang pernah kutemui” dia berkata sambil menyeka air matanya.

*******

Setelah kupikir-pikir, perkataan Han songsaenim memang benar. Aku berusaha untuk mengingat semua yang telah terjadi, dan aku pikir semua yang kulakukan memang kurang wajar. Lupa jalan, salah kelas, dan banyak kejadian-kejadian aneh lainnya. Aku merasa ada sesuatu yang salah dalam diriku, apakah mereka benar? Bagaimana jika aku benar-benar butuh perlakuan khusus? Bagaimana bila ternyata aku tidak sama seperti anak-anak lainnya? Bisakah aku menerima keadaan diriku yang sebenarnya?

Sudah seminggu setelah kejadian itu, dan orang-orang disekitarku mengatakan kalau ada perubahan dalam sikapku. Mereka bilang aku jadi lebih pendiam, mereka bilang aku sedih. Ya, mereka benar. Aku sedih, sedih sekali. Baru kali ini aku merasa sesedih ini. Onew, Haneul, dan Chanyeol berkali-kali menasihatiku untuk tidak memikirkan semua ini. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku tak bisa membohongi hatiku, aku sangat kecewa.

Tapi tampaknya semua ini belum berakhir, masih banyak kenyataan pahit yang harus ku hadapi. Dan sekarang semuanya mulai datang satu-persatu.

Aku dan Onew sedang bersiap-siap, sekolah kami akan berwisata ke Pulau Jeju selama 4 hari.

“Onew, kau tahu tas jinjing yang berwarna biru?” tanyaku saat kami sedang menyiapkan barang – barang yang akan dibawa nanti

“Yang ada gantungan merpatinya? Kalau tidak salah baru-baru ini dipakai Paman, coba saja kau tanyakan padanya?” Jawab Onew tanpa menghentikan pekerjaannya

Aku segera menuruni tangga, menuju ruang kerja paman. Pada saat biasanya paman sedang sibuk dengan pekerjaannya.

Saat sampai di depan ruang kerja paman, pintunya tertutup. Tapi aku bisa mendengar ada seseorang sedang berbicara dengan paman, biarlah aku tunggu sebentar.

“Ayah, tidakkah ini berhubungan dengan trauma masa lalunya?”

Aku mengenal suara itu, suara Yoseob.

“Mungkin saja, tapi Profesor Il-jung mengatakan ini gejala demensia”

“Demensia?! Tapi itu tidak mungkin! Dia- dia masih sangat muda!”

“Awalnya aku juga tidak percaya. Tapi, banyak factor penyebab demensia selain usia. Dan Profesor il-jung menduga, penyebab utamanya adalah trauma masa lalu yang pernah dialaminya.”

Aku sangat penasaran, siapa yang mereka bicarakan? Tampaknya sangat serius

“Dia pernah menyaksikan bagaimana orang tuanya dibunuh, sesuatu yang sangat kejam disaksikan oleh anak berusia tujuh tahun, menyebabkan jiwanya tidak stabil. Profesor sudah memperingatkanku saat pertama kali aku memeriksakan Yoona, dia bilang mungkin saja di masa depan Yoona akan kehilangan ingatan atau semacamnya”

Yoona ? Siapa yang mereka bicarakan? Apakah mereka membicarakanku? Ada berapa banyak Yoona yang mereka kenal selain aku? Aku mulai panic mendengar semua ini. Tubuhku bergetar hebat tiap kali mereka menyebut namaku.

“Apakah Yoona tahu semua ini? Bagaimana dengan Onew?”

Suara Yoseob terdengar lagi. Butuh waktu lebih dari semenit untuk paman menjawabnya.

“Onew tahu, dia sedih sekali. Tapi,,,, Yoona tidak mengetahuinya. Profesor bilang kalau Yoona sampai tahu, dia akan sangat terpukul. Dan bisa saja dia benar-benar kehilangan ingatannya.”

Air mataku menetes ketika paman mengatakannya. Tak mungkin! Ini tak mungkin! Tubuhku menggigil dan berkeringat dingin, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku melihat segalanya dalam pikiranku. Aku melihat mereka menembak orangtuaku, aku melihat darah berceceran diaman-mana. Aku melihat Onew, Haneul, Chanyeol, dan banyak orang lainnya. Pikiranku kini seperti sebuah video yang sedang diputar begitu cepatnya ahk.

“TIDAAAAAAAKKKK!”

Aku menjerit. Aku tak bisa lagi mengontrol diriku. Kemudian pintu ruang kerja terbuka, paman dan Yoseob sangat terkejut melihatku. Begitu juga Onew yang terburu-buru menuruni tangga.

“Yoona, ada apa?” Paman terdengar sangat panic

“Jangan! Jangan mendekatiku!”

“Yoona, ini aku Onew! Ada apa denganmu?” suara Onew seperti orang yang menahan tangis

“Tidak! Katakan semua yang kalian Yoseob bohong! Katakana kalian tidak sedang membicarakanku!” jeritku kepada Paman dan Yoseob

Mereka berpandangan.

“Kau mendengar semuanya? Percayalah, kau akan baik saja. Percayalah Yoona, kami akan membantumu” kata Yoseob lembut

Seharusnya kata-kata Yoseob yang lembut itu bisa menenangkanku. Tapi aku malah semakin histeris, tangisanku semakin menjadi-jadi. Aku marah pada diriku sendiri. Aku ingin menghancurkan semuanya. Aku melempar vas bunga yang ada di sampingku ke lantai, sampai hancur berkeping-keping, sesuai dengan perasanku kali ini.

“Ambil obat penenangnya” kata Paman dengan suara gemetar

Kemudian aku masih bisa melihat Yoseob berlari menuju lemari obat dan Onew yang masih berusaha untuk mendekatiku.

Beberapa menit kemudian Yoseob kembali dengan sebuah suntikan ditangannya. Entah kenapa, aku merasa terancam. Aku berusaha untuk lari, tapi Paman dan Onew lebih dulu memegangiku. Kemudian semua pandanganku mulai kabur secara perlahan.

*******

“Aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya, Profesor bilang selama dia merasa bahagia dan nyaman. Dia akan baik-baik saja, tapi……..”

“Aku tahu, dia pasti sangat terpukul.” Kata Chanyeol dengan suara muram.

“Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Haneul sambil menghapus air matanya.

Onew tidak menjawab.

“Kalian,…. Akan melihatnya sendiri”

Pintu kamar terbuka. Aku yang sedang asyik melihat keluar jendela, sedikit terusik. Aku melihat mereka bertiga, sepertinya wajah mereka tak asing bagiku. Tapi aku tak mengingatnya.

“Ehm, hai Yoona! Bagaimana kabarmu?” tanya gadis itu

Tapi aku tidak menjawab. Aku diam saja sambil memperhatikan wajah mereka satu-persatu.

“Siapa kalian? Kalian mau apa?” tanyaku dengan suara yang sangat lembut. Aku bahkan terkejut mendengar suaraku sendiri. Mereka tidak langsung menjawab, mereka saling berpandangan.

“Yoona, itu Haneul. Dan yang itu Chanyeol. Kami disini ingin bertemu denganmu” kata seorang laki-laki yang kini duduk disampingku. Aku menatap wajahnya. Sepertinya aku mengenalnya.

“Kau, mengingatku kan?” tanyanya lagi

“Aku ingat wajahmu, tapi aku tidak tahu siapa kau” jawabku

“Tidak apa, tidak usah dipikirkan. Kau percaya padaku kan? Percayalah mereka baik. Mereka tidak akan menyakitimu.”

Sekali lagi aku menatap wajah mereka. Gadis itu kini sedang menangis. Sedangkan yang laki-laki sedang berusaha menenangkan gadis itu, dia mengusap pundaknya.

Aku menganggukkan kepalaku. Kemudian mereka duduk di sampingku, dan mereka mulai berbicara. Mereka mulai bertanya tentangku, tapi aku hanya bisa memberikan jawaban singkat saja. Sebenarnya aku juga ingin berbicara banyak seperti mereka, hanya saja aku tak tahu apa yang harus kukatakan.

Setelah cukup lama, mereka pamit pulang. Sebenarnya aku tak ingin mereka pulang, aku senang mereka ada disini. Aku senang ada yang menemaniku.

“Jangan khawatir, Yoona. Kami akan datang lagi besok.” Kata seseorang yang seingatku bernama chanyeol

********

Tuhan, siapa mereka sebenarnya?

Mengapa mereka begitu setia menemaniku?

Mengapa mereka mau menemaniku bahkan saat aku tidak ingat siapa mereka?

Mengapa seseorang yang bernama Onew sangat menyayangiku?

Mengapa seseorang yang bernama Chanyeol selalu menatapku dengan tatapan penuh cinta dan kasih sayang?

Mengapa seseorang yang bernama Haneul selalu memperlakukanku seolah-olah aku adalah boneka kesayangannya?

Siapa sebenarnya mereka?

Apakah mereka adalah malaikat-Mu yang Kau turunkan untuk menemaniku?

Hari ini hanya Chanyeol yang datang. Dia bilang laki-laki yang bernama Onew dan gadis yang bernama Haneul sedang ada urusan sekolah.

Seperti biasa dia menceritakan kegiatannya di sekolah. Dia bercarita tentang salah seorang temannya yang dihukum guru, dan hal-hal konyol yang dilakukannya. Dari yang kudengar, sepertinya sekolah tempat yang sangat menyenangkan.

Tidak seperti hidupku yang sangat sunyi ini. Bila mereka tidak ada, aku hanya bisa duduk di tempat tidurku, sambil memandang keluar jendela. Terkadang aku berpikir siapa diriku dan apa yang sedang kulakukan. Terkadang aku memikirkan hal-hal yang mengerikan dan membuatku takut.

Beberapa hari yang lalu, Chanyeol memberiku sebuah kuas berwarna perak yang sangat indah, katanya namaku terukir disana.  Yoona.  Dia memberiku kuas ini dengan alasan agar aku punya sesuatu yang bisa kukerjakan saat mereka tidak ada.

Aku menyerahkan hasil lukisanku kepadanya. Lukisan pemandangan gunung dan bunga – bunga berwarna warni.

“Untukku?”

Aku mengangguk. Dia membalik kertas gambar itu.

“Indah sekali. Kau melukis pemandangan di luar jendelamu kan? Kau pandai sekali melukisnya” dia memujiku sambil tersenyum.

*******

Aku berdiri di sebuah ruangan, sepertinya ruang tamu. Tapi aku tak sendirian. Ada seorang wanita dan pria disana, mereka duduk dilantai dengan wajah menunduk

Aku berjalan mendekati mereka, tapi tiba-tiba muncul tiga orang yang menggunakan penutup wajah. Mereka melihatku dengan tatapan dingin, mereka mendekati kedua orang yang duduk di lantai itu. Tapi ternyata mereka tidak hanya duduk, mereka diikat satu sama lain. Mereka disandera!

Kemudian ketiga orang bertopeng tadi mengeluarkan sesuatu. Sebuah pistol! Dia mengarahkan pistolnya padaku, tapi wanita itu memohon dan menangis. Tiba-tiba orang itu menembakkan pistolnya secara kearah sanderanya, tepat di kepala mereka. Jeritan terakhir wanita itu terdengar sangat mengerikan. Jeritan itu kini terngiang di kepalaku.

Aku terbangun. Oh, syukurlah aku hanya bermimpi.

Sepertinya aku berteriak tadi, sehingga penghuni rumah ini masuk ke kamarku.

“Ada apa? Ada apa?!” tanya mereka

“Tidak, aku hanya bermimpi buruk. Maafkan aku”

Kemudian mereka kembali turun tapi aku tak melanjutkan tidurku. Aku takut sekali kejadian itu akan menjadi nyata.

Aku turun untuk sarapan, semua orang yang seharusnya kukenal sudah  berkumpul di meja makan. Saat melewati ruang tamu, mataku terpaku padaa sebuah potret keluarga besar. Aku sangat terkejut melihatnya. Aku segera berlari menuju ruang makan.

“Siapa? Siapa orang di foto itu? Dimana dia berada?”

“Foto? Foto yang mana?”.

“Foto besar di ruang tamu! Aku melihat dua orang diantara mereka dimimpiku! Mereka akan mati! Dimana mereka?!”

Tapi mereka tidak ada yang meresponku. Hingga aku menarik salah satu dari mereka, memaksanya mengikutiku.

“Kau lihat? Dua orang yang berada di sebelah kiri?! Aku bersumpah aku melihatnya di mimpiku semalam. Mereka akan dibunuh! Kita harus menyelamatkannya!”

Lagi-lagi mereka tak meresponsku. Mereka hanya saling berpandangan.

“Ayolah, kenapa kalian tak menjawabku?! Dimana mereka? Kita harus memperingatkannya”

Seseorang yang dipanggil Ayah itu memegang pundakku.

“Tenanglah, mereka akan baik-baik saja. Mereka sudah aman sekarang” katanya

“Benarkah? Oh, syukurlah. Kukira aku terlambat.”

“Ya, mereka sudah aman sekarang. Ayo, kita sarapan sekarang.”

*******

“Kondisi Yoona semakin parah. Kami akan membawanya untuk pengobatan” kata Onew suatu sore.

“Benarkah? Seberapa parah?” tanya Chanyeol khawatir

“Tadi pagi dia histeris, mengatakan bahwa dia melihat seseorang dalam foto keluarga kami akan terbunuh. Kau tahu kan yang kumaksud, orangtua kami. Dia mengatakan kita harus mengamankannya sebelum terlambat.”

“Kemudian siangnya, kata paman dia kembali histeris. Dia ingat peristiwa terbunuhnya orang tua kami, dan dia bilang itu semua kesalahannya. Kau tahu, dia bahkan melukai dirinya sendiri tadi.”

“Oh, astaga! Apakah dia baik-baik saja?” Haneul terkejut

“Lukanya tak begitu parah, tapi dia harus diberi obat penenang lagi”

“Lalu, kemana kalian akan mengobatinya?” tanya Chanyeol

“Profesor il-jung merekomendasikan seorang ahli, Dr. Ignacy namanya. Professor bilang dia sangat berpengalaman menangani masalah seperti ini.”

“Sepertinya nama itu asing, dimana tepatnya dokter itu berada?” tanya Chanyeol

Onew tidak segera menjawab, dia berdiri dan merangkul ranselnya. Dia berjalan beberapa langkah, kemudian menoleh.

“Rusia, dan kami akan berangkat secepatnya” .

-TBC-

4 thoughts on “Precious (part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s