[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 11

Title: My Jjang vs. Your Jjang

Author: caizhe serenade

Cast: Jessica Jung (SNSD), Kris Wu (EXO), Lee Dong Hae (Super Junior) and other

Genre: romance

Length: chapter

Rating: general

Summary: Kenapa kau menyukainya?/ apa aku harus punya alasan untuk menyukai seseorang?/ jadi kau akan tetap menyukainya?/ sepertinya begitu/kapan kau akan berhenti?/ sampai aku lelah mengejarnya, mungkin.

Jessica Jung dan Kris Wu adalah ketua geng di sekolah. Mereka dijodohkan, tapi Jessica menyukai Dong Hae, sahabatnya. Dan tak seorang pun boleh tahu mereka menikah!

Di sekolah, Jessica berusaha mati-matian untuk menjauh dari Dong Hae. Selama beberapa hari mereka tidak bertegur sapa. Sepertinya Dong Hae menjaga ucapannya, karena tak ada tanda masalah pernikahannya diketahui orang lain. Tapi saat ini Jessica harus pasrah karena Dong Hae sedang berada didepannya, ingin bicara dengannya. “Kenapa kau menghindariku terus, Sica?” tanya Dong Hae sambil menatapnya tajam.

Jessica balik menatap Dong Hae dari kursinya. “Aku tidak menghindarimu.” Ucapnya berbohong.

“Ya, jelas sekali kau menghindariku. Aku tahu kau…”

“Bisa tidak,” Jessica memotong ucapan Dong Hae. “kalau kau langsung ke intinya?”

Dong Hae mendecak. “Aratso. Bagaimana kalau kukatakan aku ingin kau meninggalkan pria itu?”

Tanpa sadar Jessica menahan napasnya. “Pria siapa?” tanyanya pura-pura bodoh.

“Kau tahu jelas siapa yang kumaksud, Sica!”

“Itu pertanyaan bodoh, Dong Hae. Aku tidak akan melakukannya.” Aish, kenapa dirinya jadi percaya diri sekali?

Dong Hae mendesah tidak sabar. “Are you really going to marry that person? Hanya karena janji yang orang tua kalian buat? Apa kau akan membiarkan orang lain decide your fate blindly?” nada marah jelas terdengar dari suara Dong Hae.

“Kenapa kau bilang begitu?” Jessica menatap Dong Hae tajam.

“Aku hanya akan mengatakannya sekali! If you just sit, dan membiarkan orang lain mengatur hidupmu, kau hanya akan membawa sengsara untuk hidupmu. Ini bukan acara tv, Sica!” Kini Dong Hae membentaknya.

“Ini bukan sekedar kawin kontrak, Dong Hae!” Jessica tahu seharusnya dia mengatur emosinya, tapi yang baru saja dia ucapkan terasa benar.

“Hanya karena dia memperlakukanmu sedikit berbeda dari biasanya, kau jadi berpihak padanya? Dia hanya memanfaatkanmu, Sica!” api kemarahan jelas terlihat dalam diri Dong Hae. “Aku tahu pria macam apa dia karena aku juga seorang pria. Dia tidak pantas untukmu!” desis Dong Hae.

Jessica bangkit dari kursinya dan berkacak pinggang. “Kalau dia tidak pantas untukku, lalu siapa yang MENURUTMU pantas untukku?” Dong Hae terdiam. Sepertinya dia tidak bisa menjawab pertanyaan Jessica. “kau tidak bisa menjawabnya? Kalau begitu kuminta tutup mulutmu. Lagipula kontrak pernikahan ini akan selesai beberapa hari after graduation, so you don’t have to worry!”

Jessica merasa dadanya sesak setelah mengatakan hal itu. Tapi dia tetap mengangkat kepalanya, berpura-pura tenang, dan pergi meninggalkan Dong Hae sendirian. Jessica membelokkan langkahnya menuju kamar mandi. Sesampainya disana, gadis itu membasuh mukanya dengan air berkali-kali. Dia bahkan tidak percaya kalau dia berani mengatakan semua hal tadi. Seakan-akan dia mengatakan kalau sekarang dia menyukai Kris dan hanya pemuda itu yang pantas untuknya. Ini hanya kawin kontrak, Jessica! Sadarkanlah dirimu!’ Tiba-tiba Jessica mendengar suara dari hatinya. ‘Kau jangan putus asa, Jessica! Aku tahu jauh dalam hatimu, kau mengakui kalau kau menyukai Kris. Kau tidak boleh membohongi perasaanmu sendiri!’ gadis itu mengangguk. Dia tahu suara hatinya benar, dia tidak boleh membohongi dirinya sendiri. Saat sedang asik berpikir suara lain hatinya terdengar. ‘Ini cuma kawin kontrak! Kau harus sadar! Kris mana mungkin menyukaimu, kau percaya diri sekali!’ astaga, sekarang hatinya sendiri memiliki pendapat yang berbeda. Bagaimana ini?

_*_

Kris mendrible bola basketnya dan berlari menuju ring untuk melakukan tembakan. Dan masuk! Dia ber-high five dengan Luhan. Setidaknya dengan main basket, pikirannya teralihkan dari gadis itu, Jessica. Sejak pelajaran tadi yang Kris lakukan hanya melamun tanpa benar-benar memperhatikan pelajaran. Tao bahkan harus memanggilnya tiga kali karena Kris tidak merespon saat diajak makan siang. Beruntung kelas selesai lebih awal hari ini, jadi dia bisa main basket dengan yang lain. Tao menyatukan tangannya membentuk huruf T, meminta istirahat. Kris mengangguk dan melakukan hal yang sama.

Dia berjalan ke pinggir lapangan untuk membuka kemejanya dan baru sadar saat mendengar jeritan para gadis. Rupanya sejak tadi banyak gadis di sekolah mereka menonton Kris dan teman-temannya bermain basket. Kris terkekeh pelan saat para gadis mendesah kecewa saat dia membuka kemejanya. Well, Kris memakai kaus oblong tipis dibalik kemejanya, mungkin itu yang membuat mereka kecewa, tidak bisa melihat tubuhnya langsung. Kris terdenyum jail. Dia membuka minumnya, menyiramkannya ke kepala, dan mengibaskan rambutnya. Itu hal paling keren menurut Kris yang biasa dia lakukan. Jeritan yang Kris rasa bisa memecahkan jendela terdengar lagi. Kurang puas, Kris pun mengibaskan leher kausnya dan pura-pura hendak membuka baju. Suara para gadis yang menahan napas jelas terdengar di telinga Kris.

“Hentikan itu,” Kris menoleh dan mendapati Luhan menepuk bahunya. “kau bisa buat mereka semua pingsan!” canda Luhan

Kris ikut tersenyum dan mengurungkan niatnya untuk pura-pura membuka baju. Desahan para gadis terdengar lagi. Dia menatap mereka lagi dan mengedipkan sebelah matanya, lalu jeritan yang lebih nyaring dari sebelumnya terdengar. Kris memperhatikan gadis-gadis itu satu persatu. Tanpa sadar dia membandingkan mereka semua dengan Jessica. Kris menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Karena gadis itu sekarang Kris bertindak seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta. Dalam hati Kris mengomel pada dirinya sendiri. Dasar bodoh! Kelakuanmu seperti pecundang saja! Dia cukup lelah setelah bermain basket, jadi Kris meneguk sisa air minumnya.

“Yaa, Jessica ada dirumah tidak?” pertanyaan Luhan membuat air yang sedang diminum Kris salah jalur dan dia tersedak. Setelah itu Kris tebatuk-batuk hebat dan membuat Luhan harus menepuk-nepuk punggungnya.

“Uhuk…uhuk… kenapa kau… uhuk… bertanya… uhuk… seperti itu?” jawab Kris disela-sela batuknya.

Luhan menatapnya heran. “Kau ini kenapa? Buru-buru sekali minumnya.” Luhan terus menepuk punggung Kris. Setelah dirasanya sudah baikan dia menghentikannya. “Aku hanya bertanya, kalau dia ada aku bisa main ke rumahmu.” Ucap Luhan santai.

“Untuk apa ke rumahku?” tanya Kris kaget.

“Untuk melihat Jessica tentu saja, masa aku ingin melihatmu. Sori dori mori stroberi!”

Tak lama kemudian Tao ikut bergabung dengan mereka. “Kau tidak bisa menemuinya. Jessica sangat sibuk. Dia tidak punya waktu untukmu.” Jawab Kris sedikit ketus.

“Santai saja, dude!” Tao tiba-tiba ikut mengobrol. “kau ini seakan-akan mengatakan kalau Jessica itu milikmu.”

“A-aku ti-tidak bilang begitu.” Ucap Kris gugup.

Kedua temannya tertawa bersamaan. “Sekarang wajahmu merah kayak cabe!” seru Tao sambil tertawa.

Kris menatap mereka berdua tajam. “What the hell is wrong with you two? Kalian kayak anak SD saja deh!” sungut Kris lalu kembali ke lapangan. Terima kasih untuk kedua temannya, sekarang dia mulai memikirkan Jessica lagi. HUH!

_*_

Sudah hampir satu jam Jessica duduk di café ini. Dia merasa cukup bosan. Well, biasanya Dong Hae selalu menemaninya, sekarang dia harus rela duduk sendirian dengan segelas orange float dan pizza didepannya yang baru dimakan setengah. Dia memilih tempat duduk favoritnya, tepat disamping jendela besar. Entah mengapa tempat itu terasa paling nyaman menurutnya. Jessica menatap buku dihadapannya dengan wajah serius. Ujian kelulusan memang sedang dijalaninya, sehingga dia harus belajar lebih giat kali ini.

Tiba-tiba pertengkarannya dengan Dong Hae kembali terlintas. Saat Dong Hae meninggalkan rumahnya waktu itu, dia terlihat marah sekali, tapi dia tetap bisa menjaga rahasia. Dan tadi Jessica bertengkar lagi dengan pemuda itu, tapi apakah kali ini dia tetap menjaga janjinya? Jessica mulai meragukannya, setelah semua kata yang dia ucapkan tadi, mustahil Dong Hae masih mau keep her secret.

Jessica mendesah keras. “Aigoo Jessica Jung! Besok kau ada ujian, jangan pikirkan hal lain!” makinya pada diri sendiri.

Walau sudah mengatakan hal itu, pikirannya tetap saja melayang-layang. Dan parahnya lagi sekarang dia memikirkan Kris. Jessica menggigit bibirnya. Tadi Kris mengiriminya pesan kalau dia sedang main basket. Aish, sekarang Jessica jadi lebih tidak fokus. Bayangan Kris yang memakai seragam olah raganya, ah tidak, Jessica yakin Kris masih memakai kemejanya. Kris yang mendrible bola, memasukkannya ke ring, melakukan high five dengan timnya, Kris yang mengguyur wajahnya dengan air. Apa yang dilakukannya sekarang ya? Istirahat, kah? Pikir Jessica.

Seakan baru sadar telah membayangkan Kris dengan semua fantasinya, Jessica segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Anio, anio! Dia tidak boleh membayangkan Kris lebih jauh, kalau terus begini dia akan semakin menyukai Kris. Jessica mengambil ponselnya, membuka inbox dan mencari pesan dari Kris. Setelah dapat dia mulai membacanya, lagi. Pesan itu sudah dikirim beberapa jam yang lalu, dan sekarang entah sudah ke berapa kalinya dia membaca pesan itu.

Jessica tersenyum menatap ponselnya. Dia bahkan tidak sadar kalau rasa sukanya bisa merubahnya jadi seperti ini. Tiba-tiba ponsel yang dipegangnya berdering. Sontak jessica membelalakan matanya karena terkejut. Hampir saja benda itu jatuh dari tangannya. Hanya satu nama yang tertera dilayarnya, Kris. Dan itu cukup untuk membuat senyum Jessica mengembang.

“Yeoboseo, Kris?” suara Jessica terdengar terlalu semangat. Bahkan untuk telinganya sendiri.

“Ne, ini aku. Dangsin eodi?”

Jessica menopang dagunya. “Di café, what’s up?”

“Dangsin mwohaneungeoya?” entah hanya perasaannya, tapi Jessica bisa merasakan Kris sedang tersenyum.

Aigoo, dia kan sedang belajar! Dan yang dilakukannya sekarang malah berfantasi tentang orang ini. Jessica buru-buru mengembalikan perhatiannya pada buku didepannya. “Aku? Aku sedang belajar.” Jawabnya pelan.

“Jeongmal?” Kris terkekeh pelan. “aku tidak percaya.”

“Waeyo? Kenapa kau tidak percaya padaku?” kini Jessica menggigit bibirnya.

“Karena kau tidak terlihat seperti sedang belajar. Kau hanya tersenyum,mengetuk-ngetukkan jarimu, lalu menyengir.” Kris terdengar seperti sedang menahan tawanya.

Benarkah? Memang dirinya menyengir? Jessica menatap jarinya, dan sepertinya Kris benar. Dia bahkan tidak sadar kalau sudah mengetukkan jarinya. “Ah, sekarang kau menggigit bibirmu.” Kata Kris lagi.

“Kenapa kau bisa tahu? Sebenarnya kau ada dimana?”

Tepat saat itu, seseorang mengetuk kaca disebelahnya. Lalu orang itu tersenyum lebar dan melambai padanya. “Sekarang kau tahu where I am!”

_*_

Kris mengendarai motornya dengan santai melewati toko dan café di Insadong. Perutnya lapar karena habis main basket, jadi dia berniat mencari sesuatu yang bisa dimakan. Saat itu sebuah café berjendela besar menarik perhatiannya. Mungkin bukan café-nya, tapi seseorang yang duduk disamping jendela itu. Kris menghentikan motornya disisi jalan dan mengamati orang itu.

“Aku baru saja membayangkanmu dan sekarang kau berada tepat didepanku.” tanpa sadar Kris menyuarakan pikirannya.

Kris masih mengamatinya. Dia sedang membaca buku, tapi sejak tadi hanya halaman itu saja yang dibacanya. Dia mengetukkan jarinya ke meja, lalu sesekali menyesap orange float didepannya. Sinar matahari mengenainya tapi sepertinya dia tidak peduli. Lalu dia menggigit bibirnya, perlahan-lahan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Kris mengambil ponselnya, tak mau ketinggalan momen sempurna itu, dia memotretnya.

Lalu detik berikutnya Kris melihatnya menggelengkan kepalanya. Sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan? Tanya Kris dalam hati. Kris melihat dia mengambil ponselnya dan mulai mengutak-atik benda itu. Detik berikutnya dia mulai tersenyum lagi. Kris ingin menyapanya, tapi dia harus memikirkan cara yang lebih baik selain menyapa langsung. Tiba-tiba perkataan Tao terlintas, dia harus mendekatinya. Maka Kris membuka kontak ponselnya, mencari nomornya, dan mulai meneleponnya. Dia terlihat kaget dan hampir menjatuhkan ponselnya, mau tidak mau Kris terkekeh.

“Yeoboseo, Kris?” suaranya yang ceria menyambutnya.

“Ne, ini aku. Dangsin eodi?” pertanyaan bodoh karena sekarang dia ada didepannya.

“Di café, what’s up?” sekarang dia bertopang dagu.

Kris tersenyum melihat pemandangan didepannya. “Dangsin mwohaneungeoya?”

Dia tersentak dan kembali menatap bukunya. “Aku? Aku sedang belajar.”

Belajar? Bukannya dia sedang melihat ponselnya? “Jeongmal? Aku tidak percaya!”

“Waeyo? Kenapa kau tidak percaya padaku?”

Wajahnya tidak terlihat jelas karena dia sedang menunduk, jadi Kris turn dari motornya dan mulai mendekati jendela. “Karena kau tidak terlihat seperti sedang belajar. Kau hanya tersenyum,mengetuk-ngetukkan jarimu, lalu menyengir. Ah, sekarang kau menggigit birimu!” ucap Kris setelah bisa melihat lebih jelas.

“Kenapa kau bisa tahu? Sebenarnya kau ada dimana?”

Rupanya sejak tadi dia tidak sadar. Kris maju selangkah dan mengetuk jendelanya dan melambaikan tangannya. Orang itu menoleh terkejut. “Sekarang kau tahu where I am!” Kris tersenyum. “ngomong-ngomong kau boleh menurunkan ponselmu.”

Kris masuk ke café itu dan lonceng dipintunya berdenting. Pelayan mengucapkan selamat datang padanya dan hendak menunjukkan tempat duduk tapi Kris menolak. Dia bilang dia sudah punya janji dengan temannya. Kris menghampiri meja disamping jendela. Lalu orang itu mengangkat wajahnya, menatapnya. Jessica tersenyum padanya.

Kris duduk didepan Jessica. “Sudah berapa lama kau ada disana?” tanya Jessica langsung.

Kris menghembuskan napasnya. “Bisa aku pesan makanan dulu? Aku lapar sekali.” Tanpa menunggu jawaban Jessica, dia memanggil pelayang dan memesan menu yang sama dengan Jessica tapi dengan ukuran yang lebih besar. Pelayan itu mengangguk dan meninggalkannya.

Kris melihat jam tangannya. “Sepertinya suda tiga puluh menit.” Lama sekali, dia bahkan tidak sadar.

Jessica menatapnya heran. “Kau ada disana sejak tiga puluh menit yang lalu? Kenapa aku tidak sadar?”

“Well, mungkin kau terlalu sibuk menyengir, mengetukkan jarimu….”

“Oke, oke, enough. Jangan diteruskan.” Jessica memotongnya. “Kukira kau langsung pulang.”

Saat tiu pesanan Kris datang. Setelah pelayannya pergi, Kris melanjutkan. “Aku lapar, lalu saat aku mencari tempat makan aku melihatmu.” Kris tersenyum hangat. “By the way, kenapa kau tadi senyum-senyum sendiri?”

Wajah Jessica terlihat memerah dan dia mengalihkan wajahnya. “B-Bukan urusanmu!”

_*_

“Akhirnya selesai juga!” Jessica meregangkan tubuhnya. Badannya kaku setelah sibuk memikirkan jawaban ujian. Ini hari terakhir ujian kelulusannya. Sekarang Jessica hanya perlu menunggu hasilnya.

“Sica…” tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya. Tanpa melihat pun Jessica tahu siapa pemilik suara itu.

Jessica pura-pura sibuk merapikan alat tulisnya. “Ada apa, Dong Hae?”

Dong Hae menarik kursi didepan Jessica dan mendudukinya. “Kau tahu, sebentar lagi kelulusan.”

“Bisa langsung ke intinya?” Jessica paling benci kalau Dong Hae bicara berbelit-belit.

“Kau benar-benar tidak akan menikahnya, kan?”

Jessica mendesah. “Dong Hae, please…”

“Aku tahu, Sica. Hanya saja, sebentar lagi kelulusan. Kau tidak akan merubah keputusanmu, kan?”

Jessica terdiam. Dia tahu keputusannya tidak berubah. Kalau kontrak kawinnya sudah selesai, maka hubungannya dengan Kris juga akan berakhir. Tapi hatinya tidak bisa menerima hal itu. Hatinya tidak ingin semua ini berakhir.

“Sica?” suara Dong Hae membuyarkan lamunan Jessica.

“Dong Hae,” perlahan Jessica mengangkat wajahnya. “bisa kita hentikan pembicaraan ini?” ucapnya lirih.

Dong Hae menatapnya bingung, tapi dia mengangguk. “Mianhae.” Kini Jessica yang menatapnya bingung. “soal yang waktu itu. Aku tahu seharusnya aku tidak bicara terlalu kasar padamu. Sorry!”

“It’s okay, I’ve already forgive you.” Jawabnya pelan.

“Kau tahu aku hanya ingin kau bahagia.”

“Aratsoyo, Dong Hae!” Jessica bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu.

“Um, Sica?” Jessica berbalik menatap Dong Hae. “Soal yang waktu itu…” kini dia terlihat gelisah. “you know, saat kau bilang kau menyukaiku… aku…”

Jessica tersenyum dan berjalan mendekati Dong Hae. “Yaa, kau tidak perlu menjawabnya. Itu hanya masa lalu, kupikir sekarang aku menyukai orang lain.” Jessica meringis.

“Jeongmal? Nugu?”

“Kau tidak perlu tahu. Dengar, ini keputusanku dan kurasa aku tidak akan menyesalinya. Jadi please, jangan ikut campur untuk yang ini.”

Seakan sadar apa yang dimaksud Jessica, Dong Hae menghela napas panjang. “Dia lagi? aigoo, dari sekian banyak pemuda didunia ini, kenapa harus dia?” Dong Hae mengangkat kedua tangannya, menyerah. “you’re crazy! Tapi aku tidak peduli dengannya, kau sudah seperti adikku, dan aku tidak ingin kau sedih. Terserah kau saja!” kata Dong Hae lalu tersenyum malas.

_*_

Jessica memarkirkan motornya disebelah mobil Kris. Rumahnya sepi. Apa Kris belum pulang? Tapi ini kan sudah sore! Gerutu Jessica dalam hati. Dia melepaskan helm dari kepalanya dan masuk ke rumah dengan enggan. Saat berjalan ke ruang tamu, Jessica melihatnya. Sedang tertidur pulas disofa. Dengan perlahan Jessica mendekatinya. “Kris?” tak ada jawaban. “Kris, aku pulang. Ayo bangun, jangan tidur disini, kau bisa sakit!” Jessica menggoncangkan tubuh Kris.

“Mmm…” tidak berhasil. Kris hanya merubah posisi tidurnya.

Jessica berlutut didepan pemuda itu, sejajar dengan wajahnya. Dia terlihat tenang sekali dalam tidurnya. Tanpa sadar Jessica tersenyum. Mungkin ini salah satu sebab dia menyukai Kris. Wajahnya saat tidur seperti anak kecil, imut. Pandangannya beralih ke rambut pirang Kris. Rambutnya terlihat lembut, penasaran Jessica pun mengulurkan tangannya, menyentuh rambut Kris. Ternyata memang lembut.

“Umm…” Jessica tersentak kaget dan menarik tangannya. Hampir saja dia membangunkan Kris. Pandangan Jessica mulai turun, ke mata, hidung, dan sampai di bibir Kris. Tiba-tiba bayangan saat Kris menciumnya terlintas. Wajah Jessica merah seketika, tapi dia tidak bisa mengalihkan wajahnya dari bibir itu. Tanpa sadar Jessica mengangkat tubuhnya, mendekati wajah Kris, lalu dengan cepat mencium bibir pemuda itu.

“Jessica? Kau sudah pulang?” lagi-lagi dia tersentak kaget. Oh great! Berkat ciumannya sekarang Kris bangun. Jessica mengutuki dirinya dalam hati karena melakukan tindakan bodoh tadi.

“K-kau s-sudah bangun?” tanya Jessica gugup. Semoga Kris tidak menyadari tindakan bodohnya tadi. “K-kau tidak boleh tidur disini, kau bisa sakit!”

Kris tertawa kecil. “Well, seseorang menciumku dan membuatku terbangun.” Kris menatap Jessica jail. “tapi, itu tidak bisa dikatakan ciuman.”

“A-apa y-yang kau bicarakan? Sudah cepat bangun!” Jessica mengalihkan pandangannya, mencoba menutupi wajahnya yang sudah semerah tomat.

“Aku tidak mau bangun kalau kau tidak menciumku!” sekarang Kris merengek seperti anak kecil.

“Don’t wanna!” kata Jessica sambil tetap memalingkan wajahnya.

“Jeongmal? Kalau begitu aku saja.” Dengan sekali hentakan Kris bangun dari tidurnya. Dia menatap Jessica dengan pandangan…pandangan… astaga bahkan Jessica sendiri sulit mengartikannya. Anio, jangan sekarang. Jangan lagi! Sebelum Jessica berpikir lebih jauh, bibir Kris sudah mendarat dibibirnya.

Biasanya Jessica akan langsung menolak, tapi kali ini otak dan tubuhnya sedang konslet. Jessica membiarkan Kris melumat habis bibirnya, dan anehnya sekarang dia membalas ciuman itu. Bibir Kris terasa manis, seakan membuatnya terhipnotis. Sadar apa yang baru saja dilakukannya, Jessica menarik tubuhnya menjauhi Kris. Menatap pemuda itu tajam, tapi Kris hanya tersenyum geli dan malah mencium keningnya.

“Kau suka?” kini Kris menatapnya jail.

Wajah Jessica kembali memerah. “What the hell are you doing, you JERK!”

3 thoughts on “[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 11

  1. Nhae yorieE

    Mkin seruuu aja..
    Akhirnya jesica udah mlai ska ama kris,,dan pas kris ksih kisseu ke sica bhkan dia nggak nolak..sweet bngetss?!? Lanjut thor

    Balas
  2. tatta

    Kris jail juga,pake tebar pesona segala pas abis main basket,padahal pas diem aja udah mempesona🙂
    Hubungan mereka makin dekat,tapi bentar lagi kelulusan😦,semoga mereka nikah beneran ^^

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s