[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 12 END

Title: My Jjang vs. Your Jjang

Author: caizhe serenade

Cast: Jessica Jung (SNSD), Kris Wu (EXO), Lee Dong Hae (Super Junior) and other

Genre: romance

Length: chapter

Rating: general

Summary: Kenapa kau menyukainya?/ apa aku harus punya alasan untuk menyukai seseorang?/ jadi kau akan tetap menyukainya?/ sepertinya begitu/kapan kau akan berhenti?/ sampai aku lelah mengejarnya, mungkin.

Jessica Jung dan Kris Wu adalah ketua geng di sekolah. Mereka dijodohkan, tapi Jessica menyukai Dong Hae, sahabatnya. Dan tak seorang pun boleh tahu mereka menikah!

Akhirnya, hari kelulusan datang juga. Jessica bisa melihat wajah puas teman-temannya yang ikut lulus bersama dengannya. Dia mengedarkan pandangannya mencari Dong Hae, acaranya sudah hampir mulai dan pemuda itu belum terlihat juga. Tak lama kemudian, suara kepala sekolah mengumumkan kalau acara kelulusan akan dimulai. Seluruh siswa menduduki kursi mereka, Jessica kembali mengedarkan pandangannya tapi Dong Hae tak kunjung muncul.

Jessica menunggu dengan sabar sambil sesekali melirik jam tangannya. Acara sudah berlangsung setengah jalan saat Jessica merasakan angin berhembus disebelahnya. Dia menoleh dan mendapati Dong Hae tersenyum lebar padanya. “Dari mana saja kau?” tanya Jessica ketus.

“A little problem. Tapi aku sudah membereskannya!”

Jessica menatapnya heran. “Apa maksudmu?” tapi dia tidak bisa bertanya lebih jauh karena Dong Hae mengabaikannya.

Acara kelulusan itu berlangsung mulus hingga akhir saat kepala sekolah mengucapkan terima kasih pada seluruh murid dalam pidatonya. Dengan kompak seluruh murid meninggalkan aula. Dong Hae menarik Jessica ikut bersamanya.

“Ayo keluar! Mau sampai kapan kau menatap panggung?” Dong Hae tersenyum jail.

Jessica mendengus. “Ini hari terakhir aku disini. Jadi setiap momen penting untukku.”

“Aish, kau ini. Kalau aku membelikanmu es krim, aku yakin semua kalimatmu tadi tidak berarti apapun!”

“Yaa, kenapa kalian semua berkumpul disini?” bentak Jessica saat seorang gadis menghalangi jalannya.

Gadis itu menatap Jessica takut. “Katanya ada pria tampan menunggu didepan sekolah kita.” Kini dia menjawab sambil tersipu.

Jessica dan Dong Hae bertukar pandangan. Setelah berhasil menembus kerumunan orang, akhirnya Jessica bisa melihat orang yang dimaksud. Pria itu sedang memunggunginya. Dia cukup tinggi, dengan seragam sekolah, dan sebuah earphone menempel ditelinganya. Yang tak kalah mencolok adalah mobil BMW X6 silver yang terparkir rapi didepannya. Tidak salah lagi pasti dia, Jessica mendekati pria itu dan menepuk bahunya.

“Jessica!” seru pria itu yang tidak lain adalah Kris.

“Kenapa kau ada disini?” tanya Jessica tanpa basa-basi.

“Ingin menjemputmu. Memang salah?”

“Aku tahu, Kris! Hanya saja bagaimana kalau masalah kita…”

“Ssstt!” Kris menghentikan ucapan Jessica. “kau tenang saja. Sekarang ayo masuk!” Kris mendorong Jessica masuk ke mobilnya.

“Jamkkanman!” suara Dong Hae menghentikan langkah mereka berdua dan membuatnya menoleh. “Ternyata kau masih ada disini? Bukankah sudah kubilang kau harus pergi?”

Jadi Dong Hae terlambat karena bertemu Kris? Pikir Jessica. “Wait, wait! Maksudmu masalah kecil itu Kris?” Jessica menatap Dong Hae

“Well, dia yang memulainya, Sica.”

“Yaa, jaga ucapanmu!” desis Kris tajam.

“Oke, both of you, stop it! Aku tidak peduli dengan pertengkaran kalian tadi,” Jessica melipat tangannya. “Kris, untuk apa kau kesini? Memangnya kau tidak ikut kelulusan?”

“Sudah selesai sejak tadi.” Jawab Kris santai.

Kini Jessica menatap Dong Hae. “Mianhae, Dong Hae. Aku harus pergi.”

“Aratso, hati-hati ya!” Dong Hae menatapnya sambil memaksakan senyumannya. “Dan kau,” dia menatap Kris. “kalau kau sampai melukainya, kuhajar kau!” Kris hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman

^0^

Kris mengemudikan mobilnya dengan perlahan. Dia ingin mengajak Jessica makan siang bersamanya. Keheningan memenuhi mobilnya yang dengan santai melewati jalanan Seoul yang cukup ramai. Mengajak Jessica makan siang hanyalah sebuah alasan, sebenarnya Kris ingin sekali melihat gadis itu, bahkan sebelum acara kelulusan di sekolahnya mulai.

“Kris,” suara Jessica membuat Kris menoleh. “sebenarnya kita mau kemana?”

“Bukankah sudah kubilang kita akan makan siang?”

“Tapi ini jauh sekali!”

Kris menghembuskan napas. “Umm, sebenarnya ada yang ingin kukatakan.”

“Mwo? Katakan saja!”

“Ini masalah pernikahan kita.” Mengucapkan kata ‘pernikahan kita’ terasa nyaman dimulut Kris.

Kini Jessica berbalik menatapnya. Mau tidak mau Kris harus melanjutkan. “You know, kontrak kita akan habis lusa. Mereka sudah mencoba menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif. Jadi mereka menghubungiku dan menyuruhku menyampaikan ini padamu. Everything is ready and…”

“Aratso, aratso! Kau tidak perlu melanjutkannya. Kalau begitu aku akan menelepon petugas pengangkut barang untuk memindahkan barang-barangku dan aku akan mencari apartemen baru.” Entah hanya perasaan Kris tapi dia yakin mendengar nada kecewa dari kata-kata Jessica. “Gomawo, karena telah memberitahuku.”

“You’re welcome.” Jawab Kris tanpa menoleh.

“Juga karena telah membiarkanku tinggal dirumahmu dan merawatku selama ini.” tangan Jessica bergerak menyentuh tangan Kris dan menggenggamnya. “Kau juga sudah sering membantuku, maaf ya kalau sudah merepotkan!” Jessica tertawa hambar.

Kris menghentikan mobilnya karena lampu lalulintas sedang merah. Dia menatap Jessica yang seperti sedang menahan tangisnya. “Hei, hei, sudahlah. Jangan terlalu banyak berterima kasih. Aku senang kau tinggal bersamaku. Paling tidak setiap hari aku punya alasan untuk bangun tidur dan melihatmu. Aku juga tidak berpikir kau merepotkan.”

Lampu kembali hijau dan Kris menjalankan mobilnya lagi. “Kau tahu, aku senang saat kau membutuhkanku. Rasanya hanya aku saja yang boleh menolongmu dan aku tidak akan membiarkan orang lain melakukannya. Kedengarannya childish, bukan?”

Jessica tertawa mendengar ucapan Kris. “Kau ini! kau pasti suka sekali dengan superhero.”

“Well, kau memang benar. Bahkan dulu aku bercita-cita jadi Hulk. Menurutku itu keren karena setiap marah aku akan bertambah besar dan menghajar anak-anak yang suka mengejekku.”

“Aku tidak bisa membayangkan kau jadi seorang Hulk. Mungkin aku akan takut berada didekatmu.” Kata Jessica disusul tawa renyahnya.

Kris tersenyum lembut. “Akhirnya kau tertawa. Kau sudah seperti orang ingin menangis tadi. Kau bukan Jessica-ku kalau cepat menangis.”

Wajah Jessica seketika memerah. “Aku memang bukan milikmu Kris.”

“Tapi kau tidak keberatan, kan? Bagaimana kalau aku menculikmu dan memaksamu menikah denganku sekarang juga?”

“Aku yakin Krystal dan orang tuaku akan sibuk mencari kita!” Jessica kembali tertawa.

Kris ikut tertawa bersamanya. Paling tidak Jessica tidak mengatakan kalau dia tidak ingin menikah dengan Kris. Sedikit lagi langkah Kris untuk mendapatkan hati gadis ini.

^0^

Malam itu Jessica mulai merapikan barang-barangnya ke dalam box. Besok truk pengangkut barang akan datang dan dia akan tinggal di apartemen barunya. Setelah mengecek kalau barangnya tidak ada yang tertinggal, Jessica keluar kamarnya, mengambil sebotol smoothies dan menonton tv.

Tak lama kemudian terdengar pintu kamar Kris terbuka. Jessica mengangkat wajahnya dan melihat Kris sedang tersenyum padanya sambil menuruni tangga. Kris memilih duduk tepat di sebelahnya sambil memakan snack kesukaannya.

“Kau benar-benar akan pergi?” tanya Kris tiba-tiba.

Jessica mengangguk. “Besok barang-barangku siap diangkut.”

“Kau tahu kau bisa tinggal disini denganku.”

“Gomawo, Kris. Tapi kontrak kita akan habis. Tidakkah kau merasa akan aneh kalau aku tinggal dirumahmu?”

“Bukan rumahku. Rumah kita! Ayahku memberikannya untuk kita.” Kris menghembuskan napasnya. “Bagaimana kalau aku tidak ingin kau pergi?”

Jessica tertawa pelan lalu ikut menghembuskan napasnya. Rasanya dia telah melakukan pekerjaan berat sampai tubuhnya teraasa lelah sekali. “Kau tahu, Kris? Rasanya hari ini aku lelaaahhh sekali.” Dia sengaja tidak mnjawab pertanyaan Kris. Ini aneh, tapi hari ini Jessica merasa ingin sekali melihat wajah pemuda ini.

Kris terkekeh. Detik berikutnya Kris menarik kepala Jessica agar bersandar di bahunya. Kejadian tiba-tiba ini membuat Jessica kehilangan kata-katanya. “Kadang bahuku sangat dibutuhkan pada saat seperti ini.” Kris tersenyum dan mencium kepala Jessica lembut. Saat itu Jessica merasa semua beban ditubuhnya mencair.

Dia merasa damai, perlahan Jessica menutup matanya. “You know what? Kadang aku berpikir semua ini hanya mimpi,” Bisiknya pelan. “bersandar padamu, mengobrol bersama, bahkan karena kau aku jadi bekerja keras.” Jessica mendesah, dia bisa merasakan Kris tersenyum padanya. “Tapi aku sadar ini kenyataan, and everything will be over soon.”

Kris mengusap kepala Jessica lembut. “Kau benar, bahkan sebelum kita mulai menyadarinya.” Tiba-tiba Kris menoleh padanya. “Kalau kau berharap ini mimpi, sebenarnya apa yang kau harapkan?”

“Apa maksudmu?”

“Tentang pernikahan ini! sebenarnya apa yang kau harapkan?” tanya Kris gemas.

Jessica berpikir sejenak. Yang dia harapkan tentang pernikahannya ya? “Ah, aku tahu. Aku ingin pernikahan yang normal. Yang tidak harus bersembunyi begini. Menikah dengan orang biasa yang kucintai dan tidak perlu kulawan dengan geng-ku.” Jessica berbalik menatap Kris dan langsung membeku ditempat saat mendapati Kris sedang menatapnya lurus. Buru-buru dia mengoreksi ucapannya. “ya tapi sekarang bukan waktunya bermimpi. Lagi pula ini semua sudah terjadi, kan?”

Kris masih saja terdiam menatapnya, membuat Jessica salah tingkah. Tiba-tiba Kris bicara. “Jadi begitu. Lalu apa aku harus berhenti?”

“Berhenti? Dari apa?”

“Dari gengku. Berhenti menjadi Jjang.”

“Waeyo? Tidak biasanya kau begini.”

“Karena kurasa aku jatuh cinta padamu.”

Detik itu juga Jessica merasa telinganya bermasalah. Apa Kris sedang bercanda? Jessica menatap Kris lekat-lekat. Anio, pemuda ini tidak bercanda. Aigoo, eotteohge?

^0^

Keesokan paginya, Kris melihat truk pengangkut barang sampai didepan rumahnya. Sepertinya Jessica juga tahu karena dia segera keluar dari kamarnya dan bicara dengan petugas itu. Gadis itu kembali beberapa menit kemudian dengan petugas pengangkut dibelakangnya. Mereka mulai membawa box-box barang Jessica dan memasukkannya ke dalam truk.

“Jessica,” Kris menahan lengan Jessica saat gadis itu berjalan melewatinya. “apa kau harus pergi?” tidak biasanya seorang Kris Wu memohon pada wanita, tapi dia yakin akan melakukan apapun agar Jessica tetap disisinya.

“Kris, kita sudah membahas ini kemarin.” Ucap jessica lebih kepada dirinya sendiri.

“Tapi kau tidak bisa mempertimbangkannya? Semua yang kukatakan kemarin? Aku mengatakannya dengan serius, termasuk saat kubilang aku jatuh cinta padamu.”

Gadis itu mendesah dan berbalik menatap Kris. “Aku tahu kau serius, Kris! Hanya saja, aku…aku tidak yakin dengan semua ini.”

“Kalau begitu bagaimana perasaanmu padaku?” Kris rasa dirinya sudah sangat frustasi karena dia menanyakan ini. “Apa kau ingin meninggalkanku?”

Jessica terlihat ragu sejenak. “Nan…nan molla. Sesuatu dalam diriku mengatakan hal lain, tapi aku tidak mengerti!”

“Begitu, ya? Baiklah, aku akan buat kau mengerti. Kau hanya ragu, jadi aku akan buktikan padamu kalau perkataanku kemarin itu serius, super serius!” Kris tertawa dalam hati mendengar ucapannya sendiri. “Jessica Jung, nan neol salanghae!”

Kris bisa melihat perubahan ekspresi pada wajah Jessica. Terkejut, takut, terharu, dan… bahagia? Gadis itu sepertinya belum siap dengan ini semua karena dia hanya berdiri mematung menatap Kris. Lalu seakan sadar apa yang barus saja terjadi dia mulai membuka mulutnya. Tapi Kris memotongnya dengan berkata cepat.

“Kau tidak perlu menjawabnya sekarang juga. Katamu kau sedang bingung. Maka aku akan membuatmu sadar dan mengerti perasaanmu padaku!”

Saat itu semua barang Jessica sudah selesai diangkut dan siap pergi. Jessica melangkah ke pintu setelah tersenyum pada Kris. Dalam hati Kris berbunga-bunga karena sudah mengatakan perasaannya. Tapi kemudian gadis itu berbalik. “Kris,” dia mengangkat wajahnya menatap Jessica. “Gomawo, untuk hari ini, dan semuanya!” gadis itu melangkah keluar ketika suara Kris menghentikannya.

“Umm, Jessica?”

“Ne, Kris?” gadis itu berbalik menatapnya

“Kalau… kalau kau sudah tau perasaanmu padaku… m-maukah kau memberitahuku?”

Kini Jessica tersenyum simpul. “Waeyo?”

“Agar aku bisa langsung menculikmu.”

“Aratso! Bye, Kris.” Setelah itu Jessica melangkah keluar.

^0^

Dua bulan kemudian

Jessica pulang ke apartemennya dengan kesal. Dia dimarahi dosennya LAGI, karena terlambat masuk kelas. Gadis itu membuka pintu lemarinya, mengeluarkan pakaian baru dan mulai mengganti bajunya. Dia melirik layar ponselnya beberapa saat. Benda kecil itu masih bergeming sama seperti beberapa jam yang lalu. Jessica memutuskan apakah dia akan meneleponnya duluan atau mengiriminya pesan atau menunggunya menghubungi lebih dulu.

Dia menghembuskan napas kesal. Sejak dia meninggalkan rumah Kris, gadis itu mulai berpikir, mempelajari perasaannya sendiri. Hasilnya? Dia sadar kalau selama ini dia menyukai, ah tidak, dia butuh Kris. Dan hal itu semakin terlihat jelas ketika tanpa sadar dia memanggil Kris dan menanyakan yoghurtnya yang habis. Lamunan Jessica dikagetkan dengan suara ponselnya. Dengan cepat dia melirik layarnya lalu tersenyum lebar.

“Yeoboseo?”

Terdengar tawa kecil diujung sana. “Yaa, Jessica. Kau dimana?”

“Aku dirumah. Waeyo?” tanya Jessica tanpa menghapus senyuman di wajahnya.

“Hanya bertanya. Sudah makan?”

“Kris, ini sudah lewat jam makan. Tentu saja aku sudah makan. Kau?”

“Belum,” sahut Kris. “aku masih dijalan. Aku mau cari makan dengan Tao dan Luhan.”

Dia belum makan, catat Jessica dalam hati. “Kau menelepon hanya untuk menanyakan itu?”

Jeda beberapa detik. “Well, aku hanya mencoba perhatian padamu. Kau tidak pernah meneleponku, aku jadi khawatir.” Terdengar desahan berat Kris. “Sebenarnya bukan itu, kurasa aku rindu padamu. Rasanya aneh berada dirumah besar itu sendirian. Ah, kami sudah menemukan tempat makan, sudah dulu ya. Yaa, Jessica!”

“Mm?”

“Saranghaeyo.”

Detik berikutnya Jessica bisa merasakan darahnya membeku. Dia kaget setengah mati dan karena efek itu membuatnya terdiam beberapa saat. “Kris.” Ups, apakah dia baru saja memanggil Kris? Astaga, separah itu kah dia sampai rasanya dia ingin terus mendengar suara Kris.

“Wae? Gwaenchanayo?” tanya Kris dengan khawatir.

Jessica buru-buru mengangguk. Sadar kalau Kris tidak melihatnya dia menjawab. “Mm… I love you, too.” Gumamnya pelan, tapi cukup untuk bisa Kris dengar.

“K-kau bilang apa tadi?” Kris tiba-tiba tergagap.

Jessica tertawa. “Nothing…”

“Kau ingat kan janji kita? Itu tandanya aku harus menculikmu sekarang. Tunggu aku, ya!” sahut Kris ceria.

“Yaa Kris, kau tidak perlu kesini…Kris?…Yeoboseo? Oh God!” Jessica terkikik geli. Pemuda ini pasti gila.

^0^

Kris tersenyum sangat lebar sambil sesekali menggumamkan sebuah lagu. Kedua temannya menatapnya heran. Saat di tanya Kris hanya menggeleng pelan sambil terus tersenyum. Dia menurunkan Tao dan Luhan disebuah kedai dan mengatakan pada mereka kalau ada sesuatu yang mendadak harus dia kerjakan. Setelah itu dia langsung tancap gas ke apartemen Jessica.

Kris sampai dengan cepat. dia membunyikan bel pintu. Terdengar suara langkah mendekat. Detik berikutnya Jessica sudah berdiri didepannya dengan ekpresi terkejut. Tanpa pikir panjang, Kris menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya dan memeluknya erat.

“Kris, you okay?” Kris hanya mengangguk pelan.

Samar-samar Kris bisa mencium wangi sabun mandi yang baru digunakan Jessica. Dia membiarkan dirinya terbuai wangi itu untuk beberapa saat. “Bogo sip-eo…” ucap Kris setelah menghembuskan napas beberapa saat.

Jessica tertawa. “Me too.” Setelah itu Kris mengeratkan pelukannya.

“I miss you so bad and making me crazy over it!”

“Kau ingin masuk atau kau ingin berdiri disini selama beberapa jam kedepan?”

Kris tergelak. “Aku memilih masuk sebelum semua sel di kakiku mendadak lumpuh.”

Apartemen Jessica sangat rapi dengan dominasi warna putih. Berbeda dengan kamar Jessica di rumahnya, apartemen ini terlihat lebih hangat. Jessica membawa Kris ke sofa ruang tamunya sementara gadis itu pergi ke dapur membuat kopi. Jessica kembali dengan lasagna, kimchi, pizza, dan semangkuk nasi ditangannya.

“Maaf aku hanya punya makanan sisa kemarin. Aku tidak sempat memasak mengingat seberapa laparnya kau.”

Kris hanya mengangkat bahunya dan mulai menyuap makanannya satu-persatu ke mulutnya. Kris merasakan tatapan lembut gadis itu ke arahnya. Dia mengangkat wajahnya dan mendapati Jessica sedang tersenyum. Kris ikut tersenyum, tapi sadar mulutnya penuh makanan dia buru-buru menutupnya lagi. semua makanan yang berada dihadapannya sekarang habis tak tersisa. Kris bahkan tidak sadar kalau dia sangat lapar hanya untuk menemui Jessica.

“Kau sudah kenyang?” Jessica menatapnya jail.

Kris mencolek hidung Jessica dengan ujung jarinya. “Aku tidak pernah merasa sebaik ini.” lalu dia tertawa.

Jessica mengambil piring bekas Kris, hendak membawanya ke bak cuci tapi Kris menahannya. “Biar aku saja. Aku sudah jadi tamu tak diundang, jadi biarkan aku mengucapkan terima kasihku.” Dia mengambil piring kotor itu dari tangan Jessica dan segera mencucinya.

“Jadi apa yang membuatmu kesini?” Jessica menyalakan tv dan duduk di sofa.

“Aku hanya ingin melihatmu.” Sahut Kris dari dapur. Dia kembali beberapa saat kemudian. Mengambil tempat disebelah Jessica. “Aku tahu aku sudah mengatakan ini tapi aku sangat merindukanmu.”

Mereka menghabiskan waktu berjam-jam dalam diam, sesekali terlibat dalam percakapan santai, lalu terdiam lagi. tanpa terasa jam sudah menunjukan waktu tengah malam, tapi tidak satu pun dari mereka berdua ingin beranjak dari tempatnya.

“Aku ingin menunjukkanmu ke suatu tempat.” Kata Kris memecah keheningan.

Jessica menoleh. “Kemana?”

“Kau akan tahu nanti!”

^0^

Mobil Kris meluncur mulus, membawa Jessica ke pinggiran kota. Dalam hati Jessica masih bertanya-tanya kemana pemuda ini akan membawanya. Tak berapa lama kemudian, Kris menghentikan mobilnya di kaki bukit. Dia menyuruh Jessica turun dan menuntunnya untuk mendaki bersamanya.

“Masih jauhkah?” tanya Jessica untuk yang kesekian kalinya. Kini napas gadis itu sudah terengah-engah.

Kris berbalik dan tersenyum menatapnya. “Are you tired?”

“Not really. Tapi kakiku mulai terasa sakit.”

“Hanya sedikit lagi, haruskah kita berhenti sebentar?” kini wajah pemuda itu terlihat khawatir.

Jessica menggeleng. “Aku masih kuat.”

Setelah berjalan sebentar, Kris menghentikan langkahnya sebelum akhirnya berkata kalau mereka sudah sampai. Jessica memandang melewati bahu Kris. Semua rasa lelah yang baru saja dirasakannya mendadak hilang. Sebuah pemandangan kota dengan lampu-lapunya terlihat sangat indah dari atas bukit ini. Mata Jessica melebar sangking takjubnya. Tanpa sadar dia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.

“Bagaimana pendapatmu?” suara kris terdengar lembut dibelangnya.

“Aku… aku tidak… tahu harus bilang apa.” Jawab Jessica tergagap.

“Easy, katakan dengan perlahan.”

“Ini… super awesome!” Jessica membalikkan tubuhnya dan sedikit tersentak karena wajah Kris hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. “Th-thank you… ka-karena telah membawaku kesini.”

“Sama-sama. Kau tahu, kadang hal yang biasanya kita anggap membosankan, bisa berubah jadi hal yang mengagumkan. Seperti ini!” Kris menunjuk pemandangan kota dibawahnya. “Ah, sebelum aku lupa.” Teriaknya tiba-tiba. “kau tahu kenapa aku membawamu kesini?”

“Wae?”

Kris terlihat merogoh kantongnya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru, pemuda itu membukanya perlahan. Detik berikutnya mata Jessica terbelalak kaget. Sebuah cincin berlian dengan model seperti sulur pohon anggur yang melingkar berada di kotak itu.

“Aku tidak tahu apa kau menyukainya,” ucap Kris. “tapi aku ingin kau tahu perasaanku padamu. Aku hanya ingin kau tahu, my life without you sudah seperti garis lurus. Datar dan membuatku bosan. Aku sudah mencoba untuk melupakanmu sejak kau meninggalkan rumahku dua bulan lalu. Dan hasilnya… sangat buruk.”

Kris tertawa datar lalu dia melanjutkan. “Dua bulan ini, aku membuat Tao dan Luhan jadi sasaran kemarahanku. Aku tidak tahu kenapa, tapi saat aku sadar itu semua karena KAU. Awalnya aku bingung, kenapa semua ini harus tentang kau? Jadi aku berpikir, sepertinya my feeling for you grow stronger than before. Pernah sekali aku masuk ke kamarmu, tapi itu justru membuatku tidak tenang. Semua hal kecil yang kau lakukan semakin teringat olehku, and it’s making me crazy! Intinya aku sangat merindukanmu. Tapi aku ingin kau terus berada disampingku, aku membuatuhkanmu, jadi… would you marry me?”

Jessica masih belum sadar dengan semua pengakuan Kris, jadi dia hanya menjawab. “Kenapa, Kris?”

“You know, aku juga kurang tahu pasti. Awalnya aku memang tidak menyukaimu. Aku berpikir our parents must be crazy. Tapi setelah menghabiskan waktu denganmu aku mulai merasa aku menyukaimu. Aku tidak tahu persis kapan tepatnya perasaan itu muncul. Well, kau tidak akan tahu bagaiman cinta bekerja. Sebelum kau sadar dia sudah merasukimu. Lalu kau tersadar dank au sudah terjerat didalamnya, tidak bisa keluar. Tapi cinta itu manis, sampai-sampai kau bisa mabuk karenanya.”

“Tapi pernikahan kita… sudah berakhir.” Jessica menatap pemuda itu tidak percaya.

“I know. Makanya aku melamarmu lagi untuk menikah denganku. Not the fake one but the real one.” Kris menghembuskan napasnya. “So, what’s your answer?”

Jessica menutup matanya sejenak dan membukanya lagi. dia tersenyum sebelum mengatakan “Yes.” Senyum Kris mengembang dan dia menarik Jessica kedalam pelukannya. Saat itu Jessica merasa inilah hal yang harus dia lakukan. Kris mengeratkan pelukannya. “Thanks” bisiknya pelan.

“You’re welcome, Kris.” Tanpa sadar air mata Jessica mengalir. Kris melepaskan pelukannya dan menatapnya heran.

“Why’re you crying? You’re the happiest woman ever!” Jessica hanya menggit bibirnya. “Oh, come on!” Kris mengangkat wajah Jessica dan mulai menciumnya. Itu ciuman terlembut dan terhangat yang pernah Jessica rasakan sampai dia bahkan ingin waktu berhenti sekarang juga.

Kris melepas ciumannya beberapa menit kemudian untuk membiarkan Jessica mengatur napas. Jessica menatap Kris lembut, dia tidak menyangka kalau Kris sangat berarti baginya. “Thank you ‘cause always there for me.” Ucap Jessica pelan sebelum Kris kembali memeluknya.

_The End_

Oke guys! Makasih dah stay tune ama FF-ku ini. Sori banget kalau banyak typo/ceritanya kurang menarik, namanya juga manusia. Thanks buat yang dah bela-belain review, semoga kalian suka.

Oh right, sebelum lupa, aku cuma mau bilang aku punya project untuk FF baruku. Masih tentang marriage life, sih! Kalo kalian mau kasih saran tentang konsep,alur, atau favorit castnya (klo bisa couple, tapi jgn Yuri/Yaoi) untuk dimasukkan ke FF, langsung comment aja.

Sekali lagi GOMAWO *bow*

4 thoughts on “[FREELANCE] My Jjang vs. Your Jjang Part 12 END

  1. tatta

    Akhirnyaaaa ^^
    Kris&jessica bersatu&bahagia dan donghae menghilang(?) entah kemana (sebenernya pengen mereka sampai wedding party,tapi gak apalah)
    FF selanjutnya kalo bisa Kris lagi!!!Leeteuk,kyuhyun,donghae,tao,sehun ato lay juga gak papa🙂 (hehe kebanyakan ya?terserah author-nim deh)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s