The Story Only I Didn’t Know

2013-12-08

Title : The Story Only I Didn’t Know
Author : RR5
Genre : Family
Length : One Shot
Cast :
Park Bo Young
Lee Jin Ki a.k.a Onew SHINee
Park Sang-Il ( Bo Young Appa )

ff ini terinspirasi dari MV IU dengan judul yang sama
maaf kalo sekarang udah jadi jarang posting
happy reading leave a comment

untuk baca FF yang lain dari saya bisa buka di

RR5113.wordpress.com

====================================================

-Author POV-

Gadis itu hanya memalingkan wajahnya dari seseorang yang ada dihadapannya, seperti tidak ingin lagi melihatnya berada disana. Dia hanya duduk diam disana, melihat dan memperhatikan tindakan apa yang akan dilakukan gadis itu tanpa melakukan apapun.
Dia menarik nafasnya perlahan, merubah posisi duduknya sedikit lalu kembali terfokus menatap gadis dihadapannya.
Gadis itu mengenakan baju putih, wajahnya pucat ralat sangat pucat dengan rambut yang berantakkan. Tatapannya jauh kedepan, seolah menerawang apa saja yang terjadi diluar sana. Dua tahun sudah dia berasa dalam situasi seperti ini, terisolasi dalam ruangan putih polos. Dengan satu tempat tidur, piano dan sofa yang membuat suasana seolah terlihat mati. Tidak ada hal lain yang dia bisa lakukan selain tidur, dan menangis setiap dia kembali pada memorinya yang lama. Setiap dia bosan berada di tempat tidurnya, dia akan turun dan membaringkan kembali tubuhnya di lantai. Hanya keheningan yang dapat didengar dari ruangan itu setiap harinya.
Orang-orang pasti akan mengira jika dia adalah mayat hidup atau orang tidak waras jika saja dia keluar dari ruangannya. Dia tidak pernah lagi mengeluarkan suaranya, dia menangis dalam diam, bahkan saat dokter menyuntiknya atau melakukan hal yang terkadang menyakitinya, dia akan tetap diam tidak bersuara bahkan bergerak sekalipun.
Tidak berbeda jauh dengan gadis itu, dia yang selalu duduk mengamati gadis itu disana juga sama. Dia tidak pernah mengatakan satu patah katapun saat dihadapan gadis malang itu, bahkan saat dokter menyakiti gadis itu, dia akan tetap diam tidak melakukan apa pun.

*****

Perlahan dia mulai melangkah mendekati gadis yang dihadapannya.
“Sampai kapan kau akan terus seperti ini ?” dia mengusap lembut rambut gadis itu.
“Kau tidak seharusnya berada dalam situasi seperti ini terus menerus. Dua tahun bukan waktu yang cepat Boyoung sampai kapan kau akan seperti ini terus Boyoung, sampai kapan” air matanya tidak dapat ditahan lagi. Dia menatap nanar gadis dihadapannya yang sedang tertidur pulas setelah disuntikan obat oleh dokter beberapa saat lalu.
Dia memang tidak pernah beranjak dari posisi duduknya saat dia tau gadis itu tidak sedang tertidur. Dia hanya akan mendekatinya jika dia tau gadis itu sudah tertidur pulas, dia tidak mau menyakiti gadis itu lagi.
“Aku merindukanmu Boyoung sangat merindukanmu. Aku ingin kau kembali seperti dulu, kau yang selalu bisa membuatku tertawa dan hanya kau yang bisa membuatku bertahan hidup, menyingkirkan semua masa laluku yang tidak pantas untuk diketahui. Bukan malah seperti sekarang” dia memegang selimut tipis yang membalut tubuh gadis yang dipanggilnya Boyoung itu.
“Kau memang telah kehilangan semuanya, tapi kau masih mempunyai aku. Aku akan selalu menjadi milikmu”
Kenangannya kembali berputar, ketika dia dan gadis itu mengalami masa – masa yang sangat menyenangkan dan tiba –t iba hilang begitu saja karena satu alasan yang sangat menyakitkan.

=Flashback=

Usia mereka hanya beda 1 tahun dan Boyoung satu tahun lebih muda dari Jinki. Mereka sudah berteman sejak kecil. Appa dan eomma Jinki sudah meninggal karena suatu kecelakaan pesawat, saat itu Jinki hanya menatap nanar ayah dan ibunya yang sudah hangus terbakar. Tapi tiba-tiba Boyoung datang dan memberikan satu kotak susu padanya.
“Aku selalu minum itu saat aku baru saja kehilangan sesuatu” ucapnya.
Jinki menatapnya lalu menatap kotak susu itu.
“Setiap ada kehidupan, pasti ada kematian. Kita tidak pernah tau kapan kita akan meninggalkan dunia ini” boyoung berhenti sejenak.
“Dan aku meminum banyak saat aku baru saja kehilangan ibuku, perasaanku menjadi lebih baik saat aku meminumnya. Kau boleh mencobanya dan jika kau suka aku masih memiliki beberapa kotak lagi dalam tas ku”
“Sedang apa kau disini ? Appa mencarimu kemana-mana. Kau kan sudah berjanji pada ayah kalau kau tidak akan pergi”
“Aku ingin dia tinggal bersama kita” Boyoung menunjuk ke arah Jinki.
“Wae ? kau mengenalnya ?” Tanya appa Boyoung
“Ne, dia si kotak susu. Lee Jinki” Boyoung tersenyum lebar kearah Jinki yang sedang bingung dengan apa yang Boyoung bicarakan.
“Kau mau tinggal bersama kami ?” Tanya appa Boyoung pada Jinki.
Jinki tidak menjawab dan hanya menatap appa Boyoung semakin bingung.
“Appa tidak perlu menanyaknnya, dia pasti mau. Aku Park Boyoung” Boyoung memperkenalkan diri.
“Hmm aku….”
“Tidak perlu memperkenalkan diri, aku sudah tau namamu bukan !?” ledek Boyoung.
“Dari mana….”
“Kau memakai name tag. Kelihatannya orang tuamu takut kau menghilang”
“Hey tidak boleh begitu” appa Boyoung mencubitnya pelan.
“Karena anakku yang memintanya, maka aku akan mengabulkannya. Jadi sekarang kau mau tinggal bersama kami atau tidak? Kami akan sangat senang jika kau mau tinggal bersama kami menemani Boyoung bermain dan sekolah”
“Appa, sudah kubilang kau tidak perlu menanyakannya”

*****

“Aku ingin kau menikah denganku nanti, lihatlah. Tuxedo itu terlihat sangat pas denganmu dan gaunku juga sewarna dengan itu.kita pasti akan menjadi pasangan yang sangat serasi dan bahagia seperti mereka ah lebih dari mereka” celoteh gadis itu menggandengnya sambil menunjuk kearah pengantin didepan sana sambil tersenyum sangat lebar.
“Jinki oppa, aku tau aku sangat cantik. Kau tidak perlu terus melihatku seperti itu”
“Boyoung-ah kau ini cerewet sekali, pengantin di depan sana sedang mengucapkan sumpahnya, sebaiknya kau diam” dia menutupi mulut gadis itu dengan tangannya.
Gadis itu hanya menatapnya sebal tapi menuruti perintahnya.
“Gadis pintar, kelak saat kau jadi pengantinku kau tidak boleh terlalu banyak bicara. Arra ?” dia mengacak pelan rambut gadis itu.
“Dan saat kau jadi suamiku, kau harus lebih memilihku dibandingkan dengan ayam ayam jelekmu itu” gadis itu menjulurkan lidahnya.
“Tapi aku tidak akan mau menikah dengan gadis sepertimu. Kau cerewet dan pabo. Sangat berbeda dengan yang aku inginkan” ejek Jinki.
“Yak aku ini tidak pabo!!!” omel Boyoung.
“Ssssttt” protes dua orang namja dibelakang mereka.
“Diam. Saatnya berdoa” ucap salah satu namja itu yang langsung membuat Boyoung dan Jinki diam tak melanjutkan pembicaraan, mereka hanya saling melotot saling menyalahkan lalu tersenyum.

*****

Matahari sudah mulai tenggelam, biasanya Boyoung, Jinki dan appanya menikmati waktu seperti ini dengan meminum teh bersama atau mendiskusikan sesuatu.Tapi tidak untuk saat ini.
Boyoung menatap nanar apa yang ada didepannya.
“Haruskah dia pergi ? haruskah dia meninggalkanku sekarang ?” Boyoung menitikan air matanya. Jinki yang melihatnya hanya memeluk erat gadis itu.
“Setiap ada kehidupan, pasti ada kematian. Kita tidak pernah tau kapan kita akan meninggalkan dunia ini”
“Appa….” Ucap Boyoung lirih dalam pelukan jinki.
=Flashback end=

“Bisakah kau membuka matamu sekarang dan tersenyum padaku ?”
“Aku merindukanmu Boyoung” Jinki menyentuh pelan rambut Boyoung, menatap wajah Boyoung yang tampak semakin pucat.
Tidak ada reaksi apapun dari Boyoung.
“Jika kau membutuhkanku, turunlah dari tempat tidurmu. aku ada disana dan selalu akan ada disana” Jinki menunjuk satu-satunya sofa yang terletak di ujung kamar itu, lalu perlahan melangkahkan kakinya menuju sofa yang tadi ia tunjuk.

Jinki kembali mengamati Boyoung.
Tapi matanya ter-alihkan oleh sesuatu yang selama ini terus mengusiknya. Piano, Ya Jinki ingin sekali memainkannya untuk Boyoung tapi dia terus mengurungkan niatnya itu karena Jinki tau itu bisa membuat Boyoung kembali mengingat ayahnya.
Tapi kali ini Jinki benar-benar ingin memainkannya.
“Untuk yang pertama dan terakhir” batinnya.
Dia pun perlahan berjalan ke-arah piano yang terletak didekat jendela kamar itu.menelusuri piano itu, lalu duduk. Dia menarik nafasnya dalam dan perlahan mulai menekan tuts tuts piano satu persatu membuat suatu alunan suara yang indah.
Matanya terpejam mengikuti alunan irama yang ia mainkan dan perlahan pikirannya mulai tenggelam.
*Jeongmal neon da ijoeotdeora
Bangapge nal boneun neoui eolgul boni
Geujeya eoryeompushi apaodeora
Sae sal chaoreuji mothan sangcheoga
Nunmureun heureujil anteora
Ibyeorira haneun ge daedanchido mothaeseo
Ireoke bojalgeo seobseoseo

Joheun ibyeoriran geo, gyeolguk sesangen eomneun iriraneun geol
Aratdamyeon geuttae charari da ureoldul geol
Geuttae imi naraneun geon negen kkeuchieot daneun geon
Naman mollaesseotdeon iyagi

Sarangeun anieotdeora
Nae gyeote meomuldeon shiganieosseul ppun
Ijeya eoryeompushi al geotman gata
Wae neon mianhaesseo yaman haenneunji
Naega neomu deultteosseonna bwa
Tteonaneun sunganmajeo gidaereul haesseotdani
Eolmana ooseuwotdeon geoni

Joheun ibyeoriran geo, gyeolguk sesangen eomneun iriraneun geol
Aratdamyeon geuttae charari da ureoldul geol
Geuttae imi naraneun geon negen kkeuchieot daneun geon
Naman mollaesseotdeon iyagi*

“Akh” desis Jinki memegangi dadanya yang membuatnya berhenti memainkan piano itu.
“Tidak. Aku harus bertahan. Siapa yang akan menjaganya nanti jika aku meninggalkannya !? tuhan kumohon” doa Jinki dalam hatinya.
Jinki mempunyai penyakit kanker paru-paru sejak dia kecil, dia tidak pernah memberitahu Boyoung tapi appa boyoung mengetahuinya.
Akhir – akhir ini penyakitnya semakin parah karena dia terus menjaga Boyoung.Tapi itu semua tidak pernah membuat Jinki terbebani karena Boyounglah yang membuatnya terus bertahan hidup. Dia tidak ingin membuat Boyoung semakin terpuruk.
Satu hal yang Jinki sesali, dia tidak pernah bisa melakukan apapun saat dokter memberi Boyoung obat dan bahkan memaksanya sampai menyakitinya. Dia tidak pernah dapat melakukan apapun, karena Boyoung selalu memberontak dan berteriak jika ia akan diberi obat.
Jinki terus memegangi dadanya yang terasa semakin sesak, nafasnya mulai terasa berat. Air matanya perlahan menetes menahan sakit yang ia rasakan.
“Boyoung-ah” panggil Jinki lirih menoleh ke arah Boyoung.
Mata Boyoung masih terpejam, seolah tidak mendengar apapun seperti biasanya.Jinki pun kembali menghampirinya.
“Saranghae” ucapnya lirih lalu mengecup bibir Boyoung

*****

-Boyoung POV-

Setelah dua tahun terakhir aku tidak pernah dan tidak ingin mendengar suara ini. Tapi hari ini aku kembali mendengarnya. Suara yang selalu mengingatkan ku
Aku mulai membuka mataku, mengamatinya.
“Apa yang dia lakukan ? Kenapa dia tiba-tiba memainkannya ? dan lagu ini…” batinku.
Aku mendengarkan lagu yang dia mainkan.
“Jinki oppa, apa yang… ? kenapa dia memainkan lagu ini ?” tanyaku dalam hati.
“Wae ? Kenapa dia berhenti ? Dia harusnya menyelesaikan bagian akhir dari nada lagu itu”
Walaupun dia masih memunggungiku tapi aku tau, dia seperti sedang menahan sakit.Tangannya seperti sedang memengangi dadanya.Kenapa dia ?
Tiba-tiba dia menoleh kearahku, akupun segera menutup mataku, berpura-pura tidak mengetahui apapun.
“Boyoung-ah” panggilnya lirih.
“Suaranya terasa begitu berat tidak seperti sebelumnya. Apa dia sakit ? Jinki oppa kau kenapa ?” batinku bertanya-tanya tapi tetap pada posisiku.
“Saranghae” ucapnya.
Aku hampir saja membuka mataku karena pernyatannya tadi, tapi aku mengurungkan niatku.
CUP~ Jinki oppa mengecupku
“Apaa.. Dia mencintaiku ? Benarkah ? Kenapa ? Sejak kapan ? Kenapa dia tidak pernah menyatakannya dari dulu ?” berbagai macam pertanyaan muncul dalam pikiranku.
Aku merasakan tangan hangatnya menggenggam tanganku erat.
“Kau harus bangkit, kembalilah seperti dulu. Dan…” Jinki oppa menghentikan ucapannya.
“Aku takut Boyoung-ah. Aku takut aku tidak bisa disini lagi. Aku takut tidak bisa menjagamu lagi, menemanimu”
Tanganku mulai terasa basah.Dia menangis.
“Apa yang kau bicarakan oppa ? apa maksud dari kata-katamu itu dan kenapa kau berbicara seperti itu”

*****

Sepertinya pagi ini matahari enggan untuk memunculkan sinarnya. Suasana menjadi tampak semakin dingin.
“Aku tidak dapat merasakannya” batinku.
Aku menolehkan kepalaku untuk melihatnya. Dan seperti biasa, dia masih duduk nyaman disofanya tapi aku tidak dapat merasakan kehadirannya.
Untuk pertama kalinya, aku turun dari tempat tidurku dan perlahan melangkahkan kakiku untuk menghampirinya.
Matanya terpejam, tangannya menggenggam rapat.
“Oppa” panggilku
Jinki oppa tidak merespon.
“Oppa. Jinki oppa” panggilku sekali lagi.
Tapi lagi-lagi dia tidak merespon apapun.
Aku mengamati Jinki oppa. Wajahnya pucat pasi. Aku tidak dapat merasakan nafasnya. Wae ? kenapa dia ? apa yang terjadi padanya ?
“Dia sudah pergi” ucap salah satu dokter yang tiba-tiba muncul di belakang Jinki oppa sambil memegang lengannya.
Tiba tiba aku seperti merasakan sesuatu yang aneh. Ingatanku seperti berputar ke masa yang aku tidak pernah merasakannya.
“Appa” ucapku seperti melihat sosok appaku yang di depanku. Dia berjalan sangat cepat menjauh dariku.
“Appa mau kemana ? appa !!” panggilku terus berusaha mengikuti langkah appaku.
Sosoknya mulai hilang dari pandanganku. Kemana dia ? aku melihat ke sekelilingku. Tapi tetap tidak menemukan sosok appaku.
“Boyoung-ah. Park Boyoung” panggil seseorang yang suaranya tidak asing lagi bagiku. Ya, itu suara Jinki oppa memegang lenganku.
Akupun menoleh ke sumber suara itu. Tidak ada siapa-siapa.
-Author POV-

Boyoung membuka matanya, seolah baru saja kembali dari masa – masa yang memang dia tidak pernah dia alami dalam hidupnya.
Tanpa iya sadari, tubuhnya sudah berada dilantai diluar ruangannya. Ucapan dari dokter tadi kembali menyadarkannya pada kenyataan pedih yang harus dia alami. Dia kembali kehilangan orang yang selama ini terus berada disampingnya.
Dia tidak bisa lagi menahan tangisannya.
“Saranghae” kata-kata itu kembali berputar dalam pikiran Boyoung dan tangannya masih setia menjamah bibirnya sendiri mengingat rasa manis kecupan yang pertama dan yang terakhir Jinki berikan padanya

*****

“Apa tidak pernah mempunyai sebuah mimpi ? atau kau merasakan ketidaknyamanan ?”
“Hmm sepertinya hari ini tubuhku sedikit aneh, aku merasa ini bukanlah tubuhku. Dokter, apa anda merasa ada yang aneh pada cuaca hari ini ?”
“Apa maksudmu ? ada apa dengan cuacanya ?”

3 thoughts on “The Story Only I Didn’t Know

  1. tatta

    Bingung sama kalimat yang terakhir,itu maksudnya apa?
    Apa kalimatnya ada kaitannya dengan MVnya IU?belom pernah nonton mvnya soalnya,hehe🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s