The Cheonsa Coven (2/11)

TCC3

.

Author’s Side

Donghae dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa membuka pintu kamarnya dengan kasar kemudian membantingnya. Dia sudah tidak peduli dengan kemungkinan bahwa daun pintu itu retak atau bahkan patah karena dia sudah hampir terlambat untuk masuk kuliah. Donghae tidak mau jika dia dihukum oleh Mr.Yoon, dosen yang terkenal super killer di kampusnya.

Hukuman sebenarnya bukan menjadi ketakutan utamanya. Baginya tidak masalah jika dia harus dihukum untuk mengelilingi lapangan sepakbola 20 kali putaran. Itu bukan masalah besar baginya, karena vampire tidak pernah merasa capek. Tapi masalahnya hukuman Mr.Yoon adalah membersihkan seluruh toilet kampus. Bagi Donghae hukuman itu benar-benar tidak elit terutama untuk seorang vampire seperti dirinya.

Donghae satu kelas dengan Eunhyuk di kampus. Mereka memang sahabat yang tidak pernah bisa dipisahkan.

Donghae menyapa Kangin ketika berpapasan di tangga. Kangin tampak membawa sebuah pot bonsai ke lantai atas. Belakangan ini Kangin memang sedikit terobsesi terhadap tanaman bonsai sejak kunjungannya ke Jepang beberapa waktu lalu. Dan sejak saat itu pula banyak sekali tanaman bonsai yang memenuhi rumah mereka.

Ketika melewati ruang keluarga Donghae hanya bisa menghela nafas ketika melihat Kyuhyun sudah duduk manis untuk bermain game. Dia tampak begitu serius, mata cokelatnya tampak berbinar-binar.

“Ya! Apa kau tidak pergi ke kampus?” tanya Donghae, Kyuhyun masih saja diam dan berkonsentrasi kepada game-nya. “Ya!” teriak Donghae lagi.

Kyuhyun berdecak kesal ketika melihat kata-kata yang seolah merupakan kata-kata kutukan baginya tercetak jelas di layar “YOU LOSE”.

“Kau membuatku kalah ikan-kembung-amis-yang-akan-segera-diasinkan!” desisnya. Donghae yang tersadar kalau dia sebenarnya sedang terburu-buru hanya melambaikan tangan tidak peduli ke arah Kyuhyun.

Bye dongsaengku sayang.” Lebih baik Donghae cepat pergi sebelum Kyuhyun mengamuk kepadanya.

“Kau menyebalkan ikan-kembung-amis-yang-akan-segera-diasinkan!” teriak Kyuhyun kencang.

“Hankyung Hyung, dimana Eunhyuk?” tanya Donghae mulai panik ketika dia bertemu dengan Hankyung yang sedang asyik dengan sebuah buku resep.

“Oh dia ada di depan bersama Siwon tadi. Kelihatannya dia juga sedang menunggumu!” jawab Hankyung.

“Terimakasih Hyung!”

Donghae segera menuju ke halaman depan. Eunhyuk tampak tengah bersandar di Maserrati hitam miliknya sambil memainkan ponselnya. Di depannya Siwon tampak berceloteh, lebih tepatnya berceramah mengingat Siwon yang paling alim di antara mereka.

“Kau lama sekali.” Ucap Eunhyuk ketika ekor matanya menangkap sosok Donghae.

Donghae hanya menyengir lebar menanggapinya. “Maaf. Bisakah kau membuat kita sampai di kampus tepat waktu?”

“Jangan meremehkanku Fishy Boy.” Eunhyuk menyeringai, “Naiklah!” dia kemudian memasang kacamata Rayban hitamnya.

Tanpa menunggu diperintah dua kali Donghae segera naik ke mobil Eunhyuk, Donghae memang jarang membawa mobilnya sendiri, sejujurnya Donghae memang tidak terlalu pandai dalam menyetir. Jika terjadi kecelakaan akan mencurigakan jika Donghae sama sekali tidak terluka sedangkan mobilnya mengalami kerusakan yang parah.

Eunhyuk pun mulai memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dengan kap mobil yang sengaja dibiarkan terbuka mereka berdua lebih terlihat seperti orang-orang yang tengah syuting film atau music video.

Mereka sebisa mungkin memang hidup selayaknya manusia pada umumnya. Salah satunya adalah dengan cara menempuh pendidikan. Hampir semua dari mereka berstatus sebagai mahasiswa, kecuali Leeteuk, Heechul, Hankyung, Kangin, dan Shindong. Walaupun Yesung sebenarnya adalah yang berusia tertua keempat, tapi wajahnya yang kekanak-kanakan membuatnya lebih memilih untuk kuliah. Wajah Yesung memang lebih mirip pemuda berusia 20 tahunan daripada pria 26 tahun, saat dimana dia bertransformasi. Bahkan di kampus dia lebih memilih untuk setingkat dengan Ryeowook, Kibum, dan Kyuhyun.

Jangan mengira bahwa mereka tidak tersiksa hidup berdampingan dengan manusia. Mereka dengan sekuat mungkin berusaha menahan dahaganya. Para manusia sama sekali tidak mengira bahwa mereka hidup berdekatan dan berdampingan dengan predator paling berbahaya di muka bumi ini. Bukanlah hal yang mudah berjalan-jalan dengan tenang seolah-olah tidak ada apa-apa tepat di depan makanan utamamu. Karena itu mereka selalu membatasi diri dalam bergaul dengan manusia, mereka hanya bergaul dengan klan mereka saja, atau makhluk-makhluk sejenis.

 

***

Eunhyuk dan Donghae turun dari mobil dengan santai. Mereka berdua berjalan dengan langkah yang ringan menuju ke kelas mereka. Eunhyuk dan juga Donghae sedikit mengernyit bingung ketika melihat mobil Yesung dan Kibum terpakir rapi di parkiran kampus.

“Hae, kenapa ada mobil Yesung Hyung dan Kibum? Bukannya tadi Kyuhyun ada di rumah? Kalau Ryeowook sih sudah pasti nebeng Yesung Hyung.” Eunhyuk mengusap-usap dagunya seolah sedang berpikir keras.

Donghae juga menatap heran, kemudian tersenyum, “Pasti Kyuhyun bolos, bocah itu benar-benar. Mentang-mentang otaknya jenius jadi dia sering bolos demi games.

“Sudahlah, Mr. Yoon pasti sudah menuju ke kelas kita. Lebih baik kita segera masuk sebelum tuan botak itu menyuruh kita membersihkan toilet manusia.” Eunhyuk kemudian menarik tangan Donghae.

Selama hampir tiga jam mereka merasa benar-benar bosan berada di ruang kuliah. Sejak puluhan tahun mereka menerima teori ekonomi yang sama terus menerus. Bahkan sebenarnya Eunhyuk dan Donghae sudah menghafalnya di luar kepala. Tetapi karena ingin tampak semirip mungkin dengan manusia, kadang jika sedang ujian mereka sengaja tidak menjawab dengan benar semua pertanyaan.

Mereka memandang tanpa berkedip dosen botak mereka yang sedang mencorat-coret whiteboard sambil menjelaskan dengan suaranya yang mirip lagu pengantar tidur. Mungkin jika Eunhyuk dan Donghae bisa tidur mereka berdua pasti sudah tertidur pulas dan membuat pulau di atas buku masing-masing.

Ketika jam pelajaran berakhir, Eunhyuk dan Donghae segera melangkahkan kakinya menuju ke kafetaria kampus. Tempat favorite mereka untuk menghabiskan waktu mereka. Bagaimanapun juga mereka mempunyai banyak waktu luang karena mereka tidak perlu tidur.

Di kursi dan meja yang terletak di pojok kafetaria Yesung, Ryeowook, dan Kibum sudah bersantai. Di depan mereka terhidang berbagai jenis makanan dan minuman manusia, walau tidak ada satupun yang akan memakannya.

“Hei, kalian sudah selesai?” tanya Ryeowook sambil memainkan sebuah cupcake bertabur almond.

“Ya, begitulah. Aku rasa Mr. Yoon adalah dosen yang paling membosankan di kampus kita.” Gerutu Eunhyuk.

“Benar sekali. Cara pengajarannya monoton.” Kibum mengiyakan gerutuan Eunhyuk.

“Dia bahkan lebih membosankan daripada guru di sekolahku pada masa Joseon. Membuatku ngeri saja.” Sahut Yesung.

Donghae mengaduk-aduk ice cream yang sudah mulai mencair di depannya, “Seharusnya dia hidup di masa lampau saja. Ngomong-ngomong apa Kyuhyun membolos hari ini?”

Kibum dan Ryeowook mengangguk.

“Dia membolos dengan alasan bahwa dia ingin melanjutkan video game terbarunya.” Jawab Yesung.

“Video game baru lagi?” Eunhyuk menautkan kedua alisnya.

“Hadiah dari Leeteuk Hyung.” Bisik Ryeowook seolah-olah takut ada yang mendengar perkataannya.

Magnae kita memang sangat manja.” Gumam Donghae sambil memainkan ponselnya.

Hyung, bagaimana jika lima vampire yang kalian bunuh beberapa hari yang lalu ternyata mempunyai anggota klan lain dan menyerang kita?” tanya Ryeowook dengan wajah polos.

“Itu tidak akan terjadi Ryeowook. Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh.” Tegur Eunhyuk.

Ryeowook mendengus kesal, “Aku kan hanya bertanya.”

“Jika adapun kita tidak perlu khawatir, kita punya Yesung Hyung, Kangin Hyung, Shindong Hyung, Sungmin Hyung, dan Kyuhyun yang akan selalu berada di barisan depan.” oceh Donghae tanpa berhenti. “Eunhyuk juga bisa melindungi kita dari serangan supranatural.”

“Sudahlah Hyung, kau urusi saja makanan kita. Kau sudah mengisi stok darah favorite Heechul Hyung kan?” tanya Kibum, dia membenarkan kacamata bening berframe hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya.

“Tentu saja sudah, kalau aku tidak segera mengisinya bisa-bisa dia mengamuk lagi.” Jawab Ryeowook.

Tiba-tiba Donghae terdiam, dia sedang berkonsentrasi. Vampire berwajah childish yang merupakan seorang pelacak handal itu tampak sedang waspada. Penciumannya yang paling tajam mencium bau yang mencurigakan, sebuah bau asing yang tidak dikenalinya.

“Apa kalian menciumnya?” tanya Donghae sambil menajamkan seluruh inderanya.

“Ya, walaupun samar-samar.” Jawab Eunhyuk.

“Aku rasa apapun dan siapapun makhluk itu dia berada di area kampus ini. Ayo kita keluar dari kafetaria dan mencarinya. Kita tidak tahu apa yang dia lakukan disini.” Ajak Yesung, dia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar diikuti oleh dongsaeng-dongsaengnya yang lain.

***

Eunhyuk’s Side

Setelah keluar dari kafetaria kami berjalan memutar menuju ke taman belakang kampus. Dengan mengandalkan insting kuat yang dimiliki oleh Donghae kami bisa melacak keberadaan makhluk misterius ini dengan mudah. Jelas dia bukan manusia dan juga bukan vampire. Manusia mempunyai sebuah wangi lembut yang selalu bisa membuat kami merasa haus, sedang vampire mempunyai aroma pinus yang kuat.

Makhluk ini mempunyai wangi mawar yang samar.

Kami mendapati makhluk itu tengah berdiri di bawah pohon yang rindang. Dia membawa tas dan buku-buku selayaknya mahasiswa yang kuliah di kampus ini. Dia memiliki wajah cantik serupa Heechul Hyung. Makhluk itu tampak terkaget ketika mendapati kami berlima berjalan ke arahnya.

“Siapa kalian?” tanyanya dengan nada panik.

Kibum tersenyum dan maju selangkah, “Justru kamilah yang harus bertanya siapa kau, dan apa yang sedang kau lakukan di kampus kami?”

“Aku baru pindah kemari.” Jawabnya takut-takut. “Kalian vampire?”

“Kau tidak berniat memangsa manusia disini kan?” sembur Ryeowook tiba-tiba.

“Ya, kami adalah vampire. Kami mempunyai tempat tinggal permanen di dekat sini. Bisa dibilang bahwa daerah ini masih masuk ke dalam kekuasaan kami.” Jelas Yesung Hyung tanpa jeda.

“Aku tidak berniat memakan manusia. Bukannya kalian yang selalu melakukannya?”

“Eittss…. kami bukan vampire rendahan yang memangsa manusia secara sembarangan.” Donghae menggeleng tidak terima.

“Jadi makhluk apa dirimu?” tanyaku tidak sabar.

“Aku gumiho.” Jawabnya setengah berbisik.

“APAAAA?” pekik kami serempak.

 

“Kau siluman rubah?”

“Bukannya gumiho itu wanita?”

“Mana ekormu?”

“Apa kau makan hati manusia?”

“Apa kau selama ini disegel di lukisan?”

“Berapa ratus tahun kau disegel?”

Dia tampak kebingungan menjawab rentetan pertanyaan yang dilontarkan Donghae dan Ryeowook tanpa jeda barusan. Ah, dua makhluk korban drama itu memang selalu berlebihan.

“Aku tidak disegel di lukisan seperti yang digambarkan oleh sebuah drama. Aku baru saja kembali dari pengelanaan panjangku di berbagai tempat di dunia.”

“Wajahmu terlihat muda, tapi kau pasti sudah cukup tua. Tapi karena kau terlihat cukup muda kau bisa memanggil kami Hyung. Siapa namamu hai gumiho pria?” tanya Yesung Hyung dengan kalimat aneh.

“Taemin, Lee Taemin.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Kau benar-benar tidak makan hati manusia kan?” tanyaku lagi mencoba untuk memastikan.

“Tentu saja Hyung. Aku tidak doyan.”

“Baguslah!” aku dan Kibum mengangguk puas, itu berarti dia bukan ancaman bagi eksistensi kami.

“Baiklah Taemin, kalau boleh tahu apa kau juga kuliah disini?” tanya Donghae sambil melipat kedua tangannya di dada.

Taemin menggeleng.

“Lalu?” Ryeowook memasang wajah tertariknya. “Katanya kau baru pindah kemari? Bagaimana sih?”

“Aku sedang lari dari pemburu siluman.” Dia tampak ketakutan. “Orang-orang itu tidak mau mendengar penjelasanku dan terus menerus mengejarku. Padahal aku hanyalah seorang siluman biasa yang tidak mempunyai kekuatan berlebih. Jika dibandingkan dengan siluman-siluman yang berusia ribuan tahun tentu saja aku bukanlah apa-apa. Aku tadi bilang aku baru pindah karena aku gugup bertemu kalian.”

“Pemburu siluman? Mereka  ada disini? Itu berarti mereka juga bisa mengejar kita.” Kataku panik. Para manusia yang mengikrarkan diri mereka sebagai pemburu siluman itu memang menyebalkan. Mereka seringkali ikut campur masalah pribadi kami.

Pemburu siluman hanya nama mereka saja, mereka juga memburu vampire, drakula, werewolf, penyihir, dan berbagai makhluk abadi lainnya. Para pemburu siluman biasanya membentuk kelompok-kelompok kecil yang berisikan tidak lebih dari lima orang.

“Ya, mereka terus saja mengejarku. Mereka mengejarku sejak aku memasuki negara ini.”

“Mereka bahkan mengejarmu sampai ke Seoul. Mereka pasti bukan pemburu biasa.” Kibum menarik kesimpulan.

“Kita harus waspada karena bukan tidak mungkin bahwa mereka juga mengincar jenis kita.” Ucap Yesung Hyung dingin. Pria berwajah kekanak-kanakan itu lalu berbalik sambil tersenyum tipis. “Mau perang huh.” Gumamnya sambil tersenyum sinis.

***

Osaka, Japan

Author’s Side

Seorang wanita muda terlihat panik. Dia berlari dengan nafas memburu di sebuah jalanan sepi yang berada di daerah Nishiohashi. Sesekali wanita itu menoleh kebelakang, memastikan bahwa sosok yang mengejarnya tidak nampak lagi. Keringat dingin semakin deras membasahi tubuhnya, tangan dan hampir seluruh tubuhnya bergetar ketakutan.

Dengan langkah yang semakin terseok dia nampak tengah berharap untuk mendapatkan bantuan. Tetapi dia sedang bernasib sial karena tidak ada seorangpun di tempat itu. Wanita itu jatuh terduduk di bawah sebuah pohon sakura besar. Langit malam membuat bulu kuduknya semakin berdiri. Wanita itu menyandarkan dirinya sejenak di pohon.

Dia menggigil ketakutan disaat pohon sakura yang dijadikannya tempat melepas lelah bergoyang hebat. Daun-daunnya berguguran. Wanita itu mengusap-usap matanya tidak percaya ketika bunga-bunga sakura terlihat bermekaran dengan begitu indah, padahal seingatnya sekarang bukanlah sedang musim semi. Kelopak-kelopak berwarna merah muda lembut itu mekar dengan indahnya.

“Mengagumi keindahannya huh?” sapa seorang pria tinggi berwajah cantik. Mata merah cerahnya terlihat berbinar senang.

“Bunga sakura memang selalu indah.” Timpal seorang pria berwajah tampan nampun terlihat sedikit kekanak-kanakan, dia tengah duduk bersantai di dahan sebuah pohon. Pria itulah yang tadi mengejarnya.

“Berhentilah bermain-main dengan makanan kita.” Tegur seorang pria berwajah dingin dan bergaris wajah seperti malaikat malam.

Wanita itu membeku, menatap ketiga pria tampan yang mempunyai garis wajah sempurna. Kulit putih pucat, mata merah cerah, dan senyuman yang memancarkan aura magis yang begitu kental. Mungkin sekarang wanita itu tidak akan keberatan jika ketiga pria itu mencabut nyawanya. Mereka bertiga lebih terlihat sebagai malaikat kematian yang memabukkan.

Dengan gerakan cepat si pria cantik menarik tubuh wanita itu. Dia mengangkat tubuh wanita itu dan mulai menghisap energinya. Kalian salah jika berpikir bahwa mereka bertiga adalah vampire. Tidak sampai satu menit kemudian wanita itu sudah mulai merasa tercekik. Dia semakin kesulitan untuk sekedar menjangkau oksigen untuk pasokan paru-parunya.

Si pria cantik menghempaskan dengan kasar tubuh yang sudah tidak bernyawa itu. Kemudian angin berhembus kencang menyelimuti tubuh wanita itu. Setelahnya, tubuh itu menghilang begitu saja seperti pasir yang tertiup angin. Pria cantik membersihkan kemeja berwarna soft blue yang dikenakannya dan tersenyum puas.

“Apa kau sudah kenyang Han?” tanya pria berwajah dingin dengan nada hati-hati.

Han –pria itu-, tersenyum manis, “Tenang saja, aku sudah kenyang.”

“Dasar rakus, seminggu ini kau sudah menyantap lima manusia, sedangkan kami berdua masing-masing baru dua. Nafsu makanmu memang benar-benar besar.” Omel pria berwajah kekanak-kanakan. “Sudah sepatutnya Ryu khawatir.” Gumamnya lagi sambil melirik pria berwajah dingin.

“Oh ayolah Ryu, Jun, walaupun manusia tidak terlalu enak tapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Kita perlu mengisinya untuk menambah tenaga kita. Kita perlu banyak kekuatan untuk melanjutkan misi kita.” Jawab Han berusaha untuk membela dirinya.

“Sudahlah, jangan membahasnya lagi. Kita harus cepat bergerak. Kemana tujuan kita setelah ini?” tanya Ryu.

Well, kita harus ke South Korea. Benda-benda yang kita cari ada disana.” Jawab Jun.

“Ke Korea lalu kembali lagi ke Jepang. Kelihatannya menarik sekali.” Bisik Han dengan mata berbinar-binar. “Bolak-balik seperti setrikaan saja.”

“Ayolah, ini demi sesuatu yang sudah tertunda selama ratusan tahun. Pikirkan apa yang akan kita dapat nantinya.” Jun menjawab sambil memainkan jemarinya. Dia lalu tersenyum manis.

“Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.” Gumam Ryu pelan. “Pepatah itu ada benarnya juga.”

***

Kyuhyun membolak-balik majalah yang dipegangnya dengan wajah bosan. Makhluk abadi sepertinya memang seringkali terjebak dalam kebosanan. Dia punya banyak waktu sementara tidak banyak hal yang harus dia kerjakan. Kyuhyun kemudian mencoba untuk meraih PSP-nya yang tergeletak di meja, tapi tidak sampai sepuluh menit dia sudah merasa bosan.

Biasanya ketika bosan dia akan mengerjai Hyungdeulnya tapi kali ini dia juga merasa sangat malas untuk melakukannya. Kyuhyun kemudian bangkit dari duduknya dan melesat ke lantai atas. Disana Heechul sedang asyik mengelus-elus bulu Heebum, buntalan bulu kesayangannya. Ada juga Hankyung yang asyik membaca buku resep masakan China. Tidak lupa Kangin dan Shindong yang sedang bermain catur, memang disinilah tempat favorite para ‘sesepuh’ itu.

“Kenapa kau berdiri di situ Cho Kyuhyun?” Sapa Leeteuk lembut. Kyuhyun menoleh ke arah Leeteuk dan tersenyum. Hyung tertuanya itu tampak modis dengn blue jeans dan kemeja berwarna putih dengan aksen biru. Leeteuk tengah membawa sebuah buku yang juga kelihatan tua.

“Tidak ada apa-apa Hyung, aku hanya sedang merasa bosan saja.”

“Kemarilah, ayo kita berbincang, sudah lama kan kita tidak berbincang-bincang bersama. Mungkin kau ingin bercerita sesuatu.” Leeteuk menarik tangan Kyuhyun untuk mengikuti langkahnya. Kyuhyun kemudian duduk dengan manis di samping Heechul yang meliriknya sekilas.

“Heechul Hyung, geser sedikit dan jauhkan buntalan bulu kesayanganmu itu dariku.”

“Ya jelek, enak saja. Setidaknya buntalan buluku ini lebih lucu dan imut darimu.” Heechul mendengus kesal, tapi dia tetap menggeser duduknya.

“Ya magnae! Aku heran denganmu, jika dalam pertarungan kau sangat kejam dan tidak kenal belas kasihan, tapi kenapa jika kau bersama dengan kami kadar kemanjaanmu sangat tinggi?” kata Kangin heran, dia dan Shindong menghentikan permainan mereka. Shindong terkikik geli di depan Kangin.

“Itu wajar, karena aku adalah dongsaeng yang membutuhkan banyak kasih sayang. Dan kalian adalah Hyung-ku jadi kalian adalah milikku.” Tegas Kyuhyun penuh penekanan.

“Lebih baik kau segera cari pasangan saja sana.” Ucap Shindong sambil tertawa, “Biar ada yang merawatmu.”

Hyung! Bagaimana bisa aku melangkahi kalian? Kalian saja bujangan abadi selama beratus-ratus tahun.”

“Apa kau sedang mengejek kami?” desis Heechul kesal.

“Tidak, oh ya Heechul Hyung. Bukannya dulu kau kabur dari perjodohan? Bagaimana ceritanya? Kau tidak pernah menceritakannya padaku. Berbagilah cerita denganku, jangan terlalu pelit.” Pinta Kyuhyun dengan nada yang dibuat-buat.

“Cih, baiklah aku akan bercerita kepadamu jelek. Jadi dengarkan aku baik-baik.” Heechul kemudian mengusap-usap dagunya seolah sedang berpikir. “Padahal gadis itu sangat cantik, dia adalah seorang bangsawan juga. Ayahnya seorang menteri.”

“Kau tidak menyesal?” tanya Shindong tertarik. Memang tidak ada yang tahu cerita itu selain Leeteuk dan Hankyung.

Heechul menggeleng dengan tegas, “Dulu aku bukanlah tipe orang yang bisa diatur-atur. Aku ingin berjalan di jalanku sendiri tanpa campuran tangan siapapun. Mungkin kedengaran sedikit idealis, tapi itulah diriku. Tidak ada yang bisa merubah pendirianku.”

“Kau memang keras kepala dari dulu ternyata.” Gumam Kyuhyun yang membuat yang lain terkikik geli.

“Hari itu bulan sabit bertengger dengan indah di langit, saat ketika aku memutuskan untuk melawan takdirku yang sudah manusia-manusia itu tentukan. Jujur, aku merasa sedikit bersalah terhadap gadis itu. Tapi bagaimana lagi? Aku tidak bisa menghabiskan sisa hidupku dengan orang yang tidak aku cintai.” Heechul tampak menerawang, sesekali dia tersenyum lembut, sesuatu yang jarang sekali dia tunjukkan.

“Aku terus saja berlari, keluar masuk hutan dan perkampungan penduduk. Yang ada di pikiranku adalah berlari sejauh mungkin dari rumahku. Apes, aku bertemu segerombolan perampok jelek dan mereka melukaiku. Mereka bahkan membuat wajahku yang tampan ini berlumuran darah dan dipenuhi luka pedang. Di saat itulah sang malaikat datang, percayalah waktu itu aku menganggap Leeteuk Hyung sebagai malaikat kematian yang akan menjemputku.”

“Malaikat kematian?” Kangin mengerutkan keningnya, sedang Leeteuk tertawa kecil.

“Ya, malaikat kematian yang aku harapkan mengakhiri semua rasa sakit yang aku rasakan. Dengan senyuman malaikatnya dan mata merah gelapnya. Di ambang kesadaranku aku sudah sangat siap jika dia membunuhku. Tapi dia tidak melakukannya, Leeteuk Hyung justru menyelamatkanku.”  Heechul tertawa lebar, “Ternyata dia adalah vampire. Ketika aku membuka mata, aku sadar bahwa diriku telah berubah.”

“Saat itu –“ Leeteuk seolah menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya, “Saat itu aku berada di ambang kebingungan, antara meminum darah Heechul atau mengubahnya menjadi sama sepertiku. Tapi aku seolah mendapatkan bisikan untuk mengubahnya. Puluhan tahun hidup sebagai nomadden sendirian sangat tidak enak.” Imbuh Leeteuk.

“Oh ya, di tahun-tahun itu kau masih pemburu manusia kan Hyung?” tanya Kyuhyun.

“Ne, aku masih meminum darah dari manusia langsung.” Leeteuk mengiyakan pertanyaan Kyuhyun.

“Aku juga dulu menganggap Heechul sebagai malaikat kematian ketika dia menolongku dan membawa diriku kepada Leeteuk Hyung.” Hankyung menambahkan. “Dia terlihat sangat mempesona sekaligus menakutkan dalam waktu yang bersamaan.”

“Tapi Leeteuk Hyung memang seperti malaikat kematian.” Kyuhyun pura-pura bergidik.

Tiba-tiba pandangan Hankyung berubah kosong. Dia mencengkeram erat buku yang dipegangnya. Tubuhnya tampak menegang, tidak ada yang bersuara di ruangan itu. Beberapa menit kemudian badannya menjadi lebih rileks, pandangan matanya juga sudah kembali seperti semula.

“Ada apa Hankyung?” tanya Leeteuk.

Dongsaengdeul membawa tamu dari kampusnya.” Kata Hankyung pelan.

“Tamu?” Kangin dan Shindong saling melirik.

“Huh, siapa memangnya yang mereka bawa kesini?” ujar Heechul.

Vampire?” tebak Kyuhyun.

Hankyung menggeleng, “Bukan Kyu, dia berbeda dari kita walau dia juga makhluk abadi. Tapi aku belum tahu makhluk apa dia. Lima menit lagi mereka akan sampai.”

***

Mobil-mobil sport mewah itu berhenti di depan kediaman klan Cheonsa. Yesung, Eunhyuk, Donghae, Ryeowook, Kibum, serta Taemin segera memasuki rumah. Leeteuk dan yang lainnya sudah menunggu di dalam. Heechul dan beberapa yang ada di dalam menatap Taemin dengan pandangan menyelidik.

“Siapa dia?” tegur Heechul.

“Gu-mi-ho.” Jawab Donghae dengan mata takjub yang kentara.

“Kenapa kalian membawa siluman kemari Hyung?” protes Kyuhyun.

“Dia dikejar oleh pemburu siluman Kyu, mereka mungkin tidak hanya mengejar siluman. Kau pasti tahu kan kalau mereka juga biasa mengincar vampire atau makhluk abadi lain?” jawab Eunhyuk diiringi anggukan Kibum dan Ryeowook.

“Lalu kenapa kalian malah membawanya kemari? Bisa saja pemburu siluman itu mengejarnya kemari.” Ujar Kangin sambil melipat kedua tangan di dada.

“Dengarkan aku, memang benar pemburu siluman itu bisa saja kemari, tapi bukankah ini bagus, kita bisa melawan mereka.” Yesung menyeringai.

“Jangan meremehkan mereka, mereka bukan manusia biasa. Mereka manusia-manusia terpilih yang bisa mengancam eksistensi kita.” Heechul memelototi Yesung yang melengos.

“Lalu kenapa mereka bisa mengejarmu Taemin?” tanya Leeteuk dengan nada lembut.

“Aku juga tidak tahu, aku baru saja kembali dari seberang dan saat aku memasuki batas negara sebelah timur mereka tiba-tiba saja sudah mengejarku dan mencoba menangkapku. Mereka ada 2 orang.” Jawabnya.

“Mungkin sebelumnya kau memburu manusia atau apa begitu?” Hankyung mencoba bertanya, tapi lagi-lagi Taemin menggeleng.

“Tidak. Sebelum mereka menangkapku, aku segera berlari. Dan aku yakin mereka akan terus mengejarku, aku hanyalah siluman muda yang tidak tahu kesalahanku. Maafkan aku yang mungkin bisa membawa masalah untuk kalian, tapi bisakah kalian membantuku? Aku masih ingin melakukan banyak hal lain. Aku mohon, lindungilah aku. Aku sendirian, dan mereka berdua. Mereka tidak akan bisa menghadapi klan yang besar seperti klan kalian. Aku nyaris putus asa sebelum bertemu kalian tadi.” Oceh Taemin panjang lebar.

Leeteuk tampak berpikir, “Baiklah Taemin, kami akan membantumu untuk berlindung dari para pemburu siluman itu. Bagaimanapun kau berkata jujur, benarkan Heechul?”

Heechul menyeringai tipis kemudian mengangguk.

“Jadi sementara kau bisa tinggal disini sampai keadaan aman.” Leeteuk memutuskan, tidak ada yang protes satupun diantara mereka.

“Terimakasih Cheonsa.” Taemin terlihat tersenyum lega.

“Manusia-manusia yang suka ikut campur itu memang sekali-kali harus diberi pelajaran.” Ucap Heechul sadis, “Aku akan mematahkan setiap ruas tulang mereka jika mereka menyentuh kalian.”

“Sabarlah Hyung.” Siwon tersenyum alim, “Tidak baik jika kita –“

“Aku akan melakukan hal yang sama denganmu Heecul Hyung!” Sungmin dengan cepat memotong perkataan Siwon yang jika dibiarkan akan menjadi ajang ceramah gratis yang berkepanjangan.

“Baiklah, Yesung, Kyuhyun, dan kau Kangin. Kalian berjaga-jagalah di sepanjang jalan akses kemari. Biar yang lain disini. Kalau ada apa-apa cepatlah beritahu kami.” Leeteuk memerintah. Yesung, Kangin, dan Kyuhyun segera berangkat untuk berjaga-jaga di luar kediaman. Mereka bertiga memang paling semangat dengan yang namanya pertarungan.

***

“Kenapa sih harus ada pemburu siluman?” Kyuhyun terus menggerutu sepanjang jalan. Yesung dan Kangin masih saja tersenyum simpul mendengar gerutuan Kyuhyun. “Jika mereka tidak ada, maka tidak ada tambahan pengganggu eksistensi.”

“Tapi mereka juga adalah penyeimbang Kyu. Para makhluk abadi pada umumnya menggunakan manusia sebagai bahan makanan utama, sedangkan mereka, para pemburu siluman memburu kita.” Jawab Yesung.

“Tetap saja keberadaan mereka itu mengganggu Hyung.”

“Kau ini. Sudahlah, kita harus berkeliling. Pastikan bahwa mereka tidak menyentuh anggota klan kita sedikitpun.” Kata Kangin.

“Lagian kenapa kita harus menolong gumiho itu? Dia siluman dan bukan dari jenis kita.” Kata Kyuhyun lagi, tampaknya selain kejam dan manja dia juga banyak protes.

“Seperti yang selalu dikatakan oleh Leeteuk Hyung bahwa kita harus saling membantu, lagipula dia kelihatannya adalah gumiho yang baik. Bukan seperti yang ada di legenda.” Jelas Kangin.

“Iya, kelihatannya dia bukan tipe-tipe pemakan hati manusia. Dia mungkin seperti nona Shin Minah yang berperan sebagai gumiho di drama itu, dia hanya makan daging sapi.” Jawab Yesung sedikit melenceng.

“Yesung Hyung sama saja dengan Donghae dan Ryeowook, sama-sama korban drama televisi.” Cibir Kyuhyun.

“Ya! Panggil Donghae dan juga Ryeowook, HYUNG! Mereka lebih tua darimu Kyu!” tegur Kangin.

“Lagipula Yesung Hyung, bukannya dimana-mana siluman itu memperoleh kekuatan dari menghisap energi manusia? Jadi pasti si gumiho pria itu juga melakukannya.” Kata Kyuhyun dengan yakin dan tanpa mengindahkan teguran Kangin.

“Kau mungkin benar, biarlah, selama dia tidak berburu di sekitar sini.” Jawab Yesung acuh.

Mereka bertiga terus saja bercakap-cakap sambil melakukan pengawasan dan pengamanan di sekitar kediaman klan mereka. Dengan cekatan mereka berlari bahkan melompat di pohon dengan gerakan bagai kilat. Di langit, bulan mulai bertengger dengan anggun dan angkuh, menambah keindahan suasana malam itu, diantara nyanyian burung hantu yang bersahut-sahutan.

“Kalian mencium baunya?” tanya Yesung sambil menajamkan matanya.

“Ya, benar. Arah jam 9.” Sahut Kangin.

Mereka bertiga berdiri di tengah tanah yang sedikit lapang tanpa ditumbuhi pepohonan. Mereka menunggu dengan pandangan tajam menusuk. Benar saja, beberapa saat kemudian dua pemburu siluman itu telah muncul. Mereka berdua tampan dengan pandangan yang tajam juga.

“Apa yang kalian lakukan di wilayah klan kami?” tanya Yesung.

“Kami mencari seorang gumiho dan sebenarnya tidak ada urusannya dengan kalian. Maaf jika kami mengganggu kalian.” Jawab salah seorang pria bertubuh tinggi dengan nada yang sedikit ramah.

“Untuk apa kalian mencarinya? Pasti kalian akan memusnahkannya?” tanya dan tebak Kyuhyun.

“Sebenarnya kami tidak akan memusnahkannya. Kami hanya ingin mengamankannya!” jawab seorang pria lain. “Minho, bagaimana ini?”

“Tenang saja Jonghyun. Tuan-tuan vampire ini akan mengerti jika kita menjelaskannya.”  Pria bernama Minho itu kembali menatap Yesung, Kangin, dan Kyuhyun. “Bisakah kalian mendengarkan kami dahulu? Kami datang dengan damai. Kami benar-benar tidak bermaksud untuk memusnahkan siapapun.”

“Maksudmu?” tanya Kangin penasaran. “Kalian pemburu siluman tidak pernah bisa dipercaya.”

“Kami memang pemburu siluman, tapi kami melakukan ini semua untuk menyelamatkan manusia. Ada yang lebih penting daripada sekedar memusnahkan gumiho itu.” jawab Jonghyun.

“Bisakah kami bertemu dengan pemimpin klan kalian? Ada yang harus dibicarakan, aku harap dia dan juga kalian bisa membantu kami.” Imbuh Minho. “Kami sebenarnya ingin berbicara kepada gumiho itu langsung, tapi dia terus saja berlari.”

“Kenapa juga kami harus membantu kalian?” kata Kyuhyun sedikit sewot. “Tentu saja dia berlari, dia pasti mengira bahwa kalian akan menangkapnya dan memusnahkannya.”

“Baiklah, kalian berdua bisa mengikuti kami.” Yesung mengambil keputusan diikuti desisan protes dari Kyuhyun. Sedangkan Kangin hanya pasrah dan mengikuti langkah Yesung.

***

“Apa? Jadi ada yang mengincar mutiara rubah milik Taemin?” tanya Leeteuk ketika Minho dan Jonghyun menjelaskan alasan mereka mengejar Taemin. Semua anggota klan Cheonsa dan Taemin mendengarkan dengan seksama percakapan mereka.

“Itu benar. Mutiara rubah itu diperlukan untuk membangkitkan kekuatan jahat yang luar biasa.” Jawab Jonghyun.

“Jika itu terjadi, tidak hanya dunia manusia, tapi dunia Immortal kalian juga akan terancam. Para makhluk yang ingin membangkitkannya sudah memulai pergerakannya. Kami sendiri tidak tahu makhluk seperti apa dia.” Sambung Minho. “Yang jelas mereka jauh lebih berbahaya dari jenis kalian.”

“Kami ingin mengamankan gumiho itu agar mutiara rubah tidak bisa direbut. Mereka pasti akan membunuhnya untuk mendapatkan mutiara rubah itu. Tapi syukurlah ada kalian, kalian bisa kan membantu? Mungkin dengan lebih banyak bantuan kita bisa mencegahnya.” Tanya Jonghyun dengan mata penuh harap.

Leeteuk tampak berpikir kemudian menunjukkan senyuman menawannya, “Baiklah, kami akan membantu sebisa kami. Mungkin nanti Hankyung, salah satu dongsaengku yang bisa melihat masa depan bisa memprediksi kapan makhluk-makhluk itu datang.”

“Itu sangat baik, mengingat betapa berbahayanya mereka.” Jonghyun mengangguk setuju. “Aku tahu bahwa kalian memang makhluk yang beradab Cheonsa, sangat berbeda dari makhluk sejenis kalian. Aku senang karena kalian mau membantu.”

“Karena ini permainan nyawa.” Gumaman Minho masih bisa didengar dengan jelas.

.

-TO BE CONTINUED

Dan yeah, chapter 2 yang tidak kalah absurd dari Heechul ini selesai juga. *lap keringat

Regards….

Radice

33 thoughts on “The Cheonsa Coven (2/11)

  1. lili

    Lagi2 sukses bikin penasaran dengan ff ini……….
    Ditunggu kelanjutannya……..
    Aku paling suka bacaan yang berbau seperti ini(namanya apa ya???) Sama yang mistery lho…sorry kalau curhat

    Balas
  2. entik

    Keren makin seru aja, sebenr nya 3 mkhluk abadi itu jenis apa lagi? Teuki bijak bgt, kyu manja, rewel, dan jahat.
    Inspirasi fiksi nya keren bgt deh.
    Ehm dan aku kira pemburu siluman itu bakal jadi tantangan yang menegang kan tidk tau nya bukan merrka.

    Balas
  3. kyulovely

    oh jadi gitu sejarah Heechul sama Hankyung diciptakan jadi makhluk immortal…
    waaa jadi penasaran sama yang lain… pengen tau yang eunhyuk, donghae, kyuhyun, sungmin……

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s