[Rustico] I’m half-dead

Rustico

 

***

 

Aku membuka mataku secara perlahan. Rasanya kelopak mataku serasa diberi lem, sangat sulit untuk memaksanya terbuka. Cahaya-cahaya di sekitarku masih berpendar redup. Aku rasa, aku membutuhkan waktu beberapa menit untuk membiarkan kedua mataku menangkap dengan sempurna hal di depanku.

Samar-samar aku bisa menghirup wangi lembut mawar bercampur apel. Perpaduannya menimbulkan semacam sugesti untuk tetap terlelap, nyaman dan damai. Tidakkk!!!! Tapi aku harus membuka mataku.

Yang pertama tertangkap mataku dengan baik adalah langit-langit tinggi bercat putih. Dan ketika aku mengamati ruangan ini warna putih mewarnai setiap jengkal dinding. Hal ini terlihat sangat kontras dengan perabotan kayu tanpa pelitur yang menjadi pelengkapnya. Tempat ini sangat asing untukku….

Perlahan aku mencoba untuk bangkit dari tempat tidur. Pepohonan hijau di luar sana menyita perhatianku, aku tidak pernah tahu jika di Korea Selatan ada tempat yang dipenuhi oleh pohon b erbentuk unik, seperti payung. Sebenarnya aku ada dimana?

Aku kembali terlonjak kaget ketika menyadari bahwa di bawah jendela ada beberapa pot kecil yang ditanami tanaman yang aku tahu dengan baik bahwa itu adalah tanaman karnivora. Hei, orang nyentrik macam apa yang menaruh Dionaea Muscipula sebagai pajangan di dalam kamar? Huh, kenapa dia tidak menanam Raflesia Arnoldi sekalian?

Tiba-tiba rasa pening itu kembali menyerang kepalaku. Kilasan kejadian yang baru aku alami berputar seperti gulungan rol film. Tidak mungkin…… ini tidak mungkin terjadi!

Bayangan tubuhku yang terjatuh dari atas tebing memenuhi kepalaku. Tiba-tiba saja aku seolah bisa mencium bau amis darah. Tubuhku melemas ketika bayangan tentang peristiwa itu semakin tercetak dengan jelas. Tubuhku jatuh dari ketinggian dan terhempas ke dasar jurang yang dipenuhi bebatuan runcing. Dengan mengingatnya saja itu sudah menimbulkan rasa ngilu di sekujur tubuhku.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi kepadaku?

Aku mengamati tubuhku, hasilnya sama. Tubuhku masih tetap mulus, tidak ada luka atau bekas luka apapun. Lalu apa aku sudah mati?

Tapi tempat ini sangat jauh dari surga atau neraka dalam bayanganku selama ini. Tempat ini terlalu indah jika disebut sebagai neraka dan terlalu menyeramkan untuk dianggap sebagai surga.

“Kau sudah bangun?” refleks aku menoleh ke arah belakang ketika sebuah suara menegurku, setidaknya nadanya tidak ramah dan juga tidak ketus.

Mataku memicing ketika mendapati sosok asing yang berdiri di ambang pintu. Pria yang kelihatannya sedikit lebih muda dariku itu tersenyum. Ah bukan, lebih tepatnya dia sedikit menyeringai ke arahku. Dia berkulit putih pucat. Sangat pucat sehingga membuat kulitnya terlihat rapuh. Aku bahkan sempat berpikiran bahwa kulitnya akan rusak ketika disentuh.

Pria itu menatapku dengan mata bulatnya yang berbinar. Tapi seringaiannya benar-benar membuatku bergidik.

“Siapa kau?” tanyaku dengan intonasi pelan, nyaris tidak terdengar.

Dia maju selangkah, kemudian mengibaskan lengan jasnya sekilas. “Menurutmu siapa aku?”

“Kau! Aissshhh.” Aku mengacak rambutku frustasi, astaga bocah ini.

“Salah satu Hyungku yang membawamu kemari.” Jawabnya masih dengan nada ‘biasa’.

“Hyungmu?”

Pria itu mengangguk singkat, matanya masih saja mengamatiku dengan seksama. “Aku juga heran kenapa dia sampai membawa half-dead sepertimu kemari.” Lanjutnya.

Aku mengangguk, tapi tiga kata terakhirnya seperti membuatku disiram oleh seember air dingin. Aku menatapnya meminta penjelasan, berharap dia segera meralat kalimat menakutkannya itu. Walau aku tidak tahu pasti half-dead itu apa, tapi menurut buku dan film fiksi yang aku baca dan lihat bahwa half-dead itu adalah keadaan diantara hidup dan mati.

“Half-dead?” bisikku mencoba meyakinkan apa yang aku dengar.

“Ya, itu benar.” Lagi-lagi dia menganggukkan kepalanya dengan lucu. Tunggu, kemungkinan lagi bahwa sekarang aku tengah berbicara dengan…….

“Kyu! Apa yang kau lakukan disitu?” aku dengan cepat memandang ke arah pintu ketika suara jernih itu terdengar. Suara ini, aku seperti mengenalnya. “Jangan mengganggunya! Bermainlah dengan Eunhyuk saja!”

Aku terlonjak sekaligus merasa senang ketika melihat pria yang memasuki ruangan ini. Dia adalah Yesung, salah satu hoobae-ku di kampus. Tapi kenapa Yesung berada disini dan sejak kapan dia memiliki sepasang sayap hitam di punggungnya? Aku mundur sampai tubuhku menyentuh dinding, dan Yesung tersenyum canggung ke arahku.

Memang selama ini aku cukup mengenalnya, tapi sungguh aku tidak pernah tahu latar belakangnya.

“Aku tahu kau pasti terkejut Hyung, aku akan menjelaskannya kepadamu nanti.” Yesung mencoba tersenyum, mungkin dia berusaha menenangkanku.

Tapi aku tidak bisa merasa tenang sebelum aku mengetahui semuanya dengan jelas. Arggghhhhh….. aku benar-benar bisa gila! Aku memandangnya takut-takut, apa Yesung iblis? Grim Reaper? Yang aneh, kenapa aku justru merasakan damai di tempat ini?

“Selamat datang di Rustico Hyung!” lanjutnya dengan sebuah senyuman lain yang membuat mata sipitnya semakin sipit.

Rustico?”

 

***

 

“Jadi apa maksud dari semua ini Kim Yesung?” cecarku padanya.

Yesung meraih sebuah kursi kayu dan duduk di hadapanku. Sementara bocah tengik yang ternyata bernama Kyuhyun tadi langsung menghilang dalam sekali kedip mataku. Sekali kedip!

Yesung terlihat menghela nafas, “Leeteuk Hyung, dengarkan aku baik-baik. Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu secara perlahan. Tentang apa itu Rustico dan siapa kami sebenarnya.”

“Tunggu, lalu bagaimana bisa kau membawaku kemari? Seingatku aku terjatuh ke dalam jurang.” Tanyaku bingung. Aku lalu menatap Yesung dengan penuh harap, berharap dia akan menghilangkan kebingungan yang aku rasakan ini. Anehnya, aku ingat bahwa aku jatuh, tapi aku sama sekali tidak ingat kenapa aku bisa sampai terjatuh.

“Saat aku sedang keluar aku menemukan tubuhmu di dasar jurang. Saat itu aku segera mencarimu, mencari rohmu yang terombang-ambing. Setiap half-dead akan berkelana kemanapun angin membawa mereka. Untung saja aku menemukanmu dan segera membawamu ke Rustico ini.” Jelasnya panjang lebar, dan aku masih tidak dapat memahaminya.

“Lalu dimana tubuhku?’

Yesung mengangkat bahunya, “Aku tidak tahu, Axl sepertiku tidak bisa menyentuh tubuh seseorang yang tengah mengalami fase half-dead.” Dia berkata dengan mimik menyesal.

“Kau? Axl? Apa itu?”

Axl adalah makhluk separuh malaikat dan separuh iblis.” Jawabnya dengan wajah tenang.

“APA? Kau separuh malaikat dan separuh iblis?” aku tidak bisa mengerem kata-kata spontan yang keluar dari mulutku. Yesung tersenyum, memaklumi kekagetanku.

“Benar Hyung. Aku adalah seorang Axl.”

“Tapi kau kuliah di kampus dan kau manusia! Kau tidak punya sayap ketika aku mengenalmu selama dua tahun belakangan ini.” Aku masih mencoba meyakinkan diriku bahwa aku pasti sedang bermimpi.

“Manusia biasa akan melihat wujud Axl juga sebagai manusia. Wujud asli kami hanya bisa dilihat oleh makhluk abadi dan juga roh, termasuk half-dead sepertimu Hyung. Jadi ketika di kampus, kau akan melihatku seperti manusia biasa, tanpa tahu bahwa aku termasuk immortal.”

“Oke, aku mulai paham. Jadi kenapa kau membawaku kemari? Kenapa kau tidak mengantarkan aku kembali ke tubuhku saja?”

Yesung menggaruk kepalanya yang kutahu tidak gatal, “Half-dead tidak bisa dikembalikan begitu saja. Tidak ada yang tahu kapan pastinya kau bisa kembali ke tubuhmu. Untuk itulah kenapa ada manusia yang koma sampai bertahun-tahun. Aku sudah bilang, bahwa para half-dead akan berubah menjadi pengembara. Aku memutuskan membawamu kemari karena terlalu berbahaya jika kau berkeliaran di luar sana. Oxe bisa memakanmu.”

Aku mendesah frustasi, “Apa lagi Oxe itu?”

“Pemakan arwah.” Jawabnya singkat. “Mereka sangat menyukai half-dead, karena half-dead bisa diibaratkan daging segar untuk mereka.”

“Oke hentikan tentang Oxe.” Aku tidak mau membicarakan tentang makhluk yang bisa memakanku, “Jadi tempat apa ini?”

“Ini adalah Rustico, kau tenang saja. Tempat ini aman, makhluk abadi lain sangat sulit menembusnya. Kami, para makhluk abadi yang ‘menyimpang’ tinggal bersama disini. Istirahatlah dulu Hyung. Kita lanjutkan besok. Aku tidak mau membuatmu semakin bingung.” Yesung menepuk bahuku ringan. “Kita masih punya banyak waktu untuk berbicara.”

Tidak ada pilihan lain, aku mengangguk kepada Yesung. Lagipula rasanya kepalaku seolah sudah mau meledak setelah dicekoki cerita ini olehnya. Yesung beranjak dari duduknya dan dia melompat dari jendela. Membiarkan aku menganga seperti orang bodoh ketika sayap hitamnya mengembang dan dia terbang.

Aku kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku mencoba memejamkan mataku sambil berdoa agar ketika aku membuka mata ternyata aku sedang tertidur di kelas sejarah. Walau harus mendapatkan hukuman karena tertidur di kelas Mr.Lee itu tidak masalah, aku akan menerimanya dengan senang hati. Lalu ketika keluar dari kelas dan melewati ruang musik aku bisa melihat Yesung yang manusia bermain piano dan menyanyikan lagu dengan suara merdunya.

Ya, aku harap bisa seperti itu….

 

***

 

Tampaknya doaku tidak terkabul. Aku membuka mataku dan aku masih berada di ruangan yang sama. Hmmm… wangi apa ini? Aku mencium bau harum pancake vanilla. Refleks aku mengikuti asal bau menggoda  itu.

Ketika membuka  kamar, terpampang lorong panjang di depanku. Ada banyak pintu kayu tanpa pelitur ada disini. Aku melangkahkan kakiku dengan hati-hati, bagaimanapun juga tempat ini adalah planet asing bagiku. Aku sampai di sebuah tangga, aroma itu semakin kuat tercium. Asalnya dari lantai bawah.

Pada akhirnya wangi itu menuntunku sampai di sebuah ruang makan yang besar. Ada meja panjang dan banyak kursi. Mataku langsung saja tertuju kepada rangkaian mawar hitam yang menjadi centerpiece di meja makan. Aku bahkan tidak pernah melihat mawar hitam di dunia manusia, kecuali gambar editan photoshop.

Aku bagai menemukan harta karun ketika melihat sepiring pancake vanilla yang tergeletak di ujung meja. Aku baru menyadari kalau aku tidak makan dari kemarin. Setelah meyakinkan diri bahwa pancake itu tidak ada pemiliknya aku memberanikan diri duduk di kursi. Baru saja tanganku ingin menyentuhnya…..

“Tunggu!” aku menoleh ketika sebuah suara asing lain menegurku.

Seorang pria tampan dengan senyuman bocahnya tersenyum sambil menahanku.

“Siapa kau?”

“Aku Donghae, Lee Donghae. Kau pasti Leeteuk Hyung kan? Yesung Hyung sudah memberi tahu siapa dirimu kepada kami.” Jawabnya dengan nada kekanak-kanakan yang kentara. Aku mengamatinya dengan lekat dan berjengit ketika menyadari bahwa matanya berwarna biru tua.

“Kau….”

“Sama seperti Yesung Hyung yang bukan manusia, aku adalah Bijou.” Jelasnya seolah mengerti kebingunganku. Aishhh.. mereka benar-benar memaksa otakku untuk bekerja keras dalam rangka menghafal nama-nama makhluk ini.

“Apa itu Bijou?”

“Salah satu jenis makhluk abadi yang menguasai elemen-elemen yang ada di bumi. Warna mata kami yang menentukan kekuatan kami. Karena mataku berwarna biru maka aku adalah bisa mengendalikan elemen air.” Ocehnya bersemangat. Aku hanya bisa mengangguk, tidak tahu harus berkata apa lagi. “Itulah penjelasan singkatnya.”

“Apa makanan ini punyamu? Maaf aku tertarik dengan aromanya.” Sesalku.

“Sebenarnya aku sih tidak apa-apa jika harus berbagi, tapi uhmmm….kau kan half-dead. Aku rasa kau tidak membutuhkan makanan.” Jelas Donghae hati-hati. “Maksudku kau memang tertarik dengan baunya, tapi coba rasakan lagi. Apa kau merasa lapar?”

Memikirkan perkataan Donghae membuatku tersadar, memang benar aku tidak makan apapun sejak kemarin tapi aku tidak merasa lapar sedikitpun. Mungkin Donghae benar, aku hanya tertarik kepada bau makanan ini saja.

“Lalu aku harus makan apa?” akupun merasa bahwa pertanyaanku ini cukup konyol.

Donghae tertawa pelan, “Tapi half-dead tidak perlu memakan apapun Hyung.”

Kalau tidak perlu makan juga, jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? Dan disaat ini aku teringat kepada Yesung.

“Oh ya, kemana Yesung?”

Donghae kini mengambil alih piring pancake itu, dia mulai memotongnya dan memasukkan ke mulut. Sial! Apa dia sedang mencoba untuk meledekku? Tapi melihat wajah polosnya aku rasa itu tidak mungkin.

“Dia pergi kuliah.”

“Ah, seharusnya hari ini aku juga kuliah. Bagaimana ini?” aku membenamkan wajahku meja. Masih berharap ini adalah mimpiku saja.

“Bersabarlah, kau tinggal disini saja sampai keputusan akan takdirmu.” Responnya dengan mulut dipenuhi makanan.

“Maksudmu?”

Ekspresi wajah Donghae sedikit berubah, “Takdir kau melanjutkan hidupmu atau mengakhirinya.”

Oke, aku tidak mau mendengar ini lebih jauh. Bagaimana bisa aku pergi begitu saja? Ini tidak boleh terjadi.

“Oh ya Donghae, kemarin Yesung bercerita tentang dirinya yang seorang Axl. Apa maksudnya dengan separuh iblis dan separuh malaikat?” tanyaku penasaran, Donghae tampaknya tidak keberatan untuk menceritakannya jadi aku bertanya kepadanya.

“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, apa kau tahu bahwa Yesung Hyung punya kakak?”

Aku sejenak tertegun, dia punya kakak?

“Oke, aku anggap itu sebagai tidak.” Lanjut Donghae. “Ayah mereka iblis dan ibu mereka adalah malaikat. Iblis dan malaikat sejatinya tidak mungkin bersatu, untuk itulah Axl yang terlahir dianggap sebagai kutukan. Mereka mewarisi sifat malaikat dan iblis sekaligus.”

“Lalu kemana orangtua mereka?”

“Aku tidak banyak tahu Hyung, sepengetahuanku Ayah mereka adalah pangeran iblis, jadi kemungkinan besar dia sudah naik tahta.”

“Apa?” tiba-tiba saja aku merasa sesak. “Naik tahta…”

“Tentu saja naik tahta menjadi Raja Iblis.” Sambar Donghae cepat, “Untuk itulah, Ayah mereka membangun Rustico untuk melindungi keberadaan mereka.”

“Kenapa begitu? Yesung bahkan bisa pergi kampus.”

Ini aneh…..

“Aku sudah bilang bahwa para Axl dianggap sebagai kutukan. Baik malaikat maupun iblis memburu mereka.” Lanjut Donghae,  dia sedikit tertawa. Mungkin dia sedang menertawaiku kebodohanku. “Dan para Axl akan tersamar aromanya jika mereka berbaur dengan manusia, jadi mereka bisa bebas melakukan apapun di dunia manusia.”

“Lalu apa kau juga pergi ke dunia manusia?”

Donghae tersenyum, “Tidak terlalu sering. Akan aneh kalau ada yang melihat pria berwajah Asia dengan mata biru berjalan-jalan di sekitar mereka.”

“Kemana kakak Yesung? Aku belum melihatnya.” Aku celingak-celinguk, tapi kemudian aku meras tertarik dengan lukisan malaikat yang tergantung di atas perapian, itu benar-benar cantik.

Donghae menghela nafas, “Dia cukup sibuk di dunia manusia sana. Tapi mungkin sebentar lagi dia akan pulang.”

Donghae lalu memasukkan potongan terakhir makanannya. Sejenak larut dalam dunianya sendiri sementara aku mengamati lampu kristal yang tergantung di atasku.

“Apa kau suka tinggal disini Hyung?” tanya Donghae tiba-tiba.

Aku memandang mata birunya itu, entah bagaimana aku bisa menemukan kedamaian melalui tatapan itu.

“Entahlah. Aku tidak tahu.” Jawabku dengan sedikit terbata.

Suara ketukan sepatu membuat kami menghentikan pembicaraan itu. Mengingatkanku kepada film-film thriller ketika dimana si psikopat mulai mendekati mangsanya. Nafasku seolah tertahan…..

“Itu dia, kakak Yesung Hyung sudah datang.” Donghae bangkit dari duduknya dan berdiri di samping meja makan.

Tidak lama kemudian sosok bersayap hitam itu muncul dengan pesona yang sulit dideskripsikan. Pandangan tajam dan wajah yang tampan sekaligus cantik.

Aku mengerutkan kedua alisku. Wajah pria ini……

“Kim Heechul….” Desisku tak percaya.

Dan Kim Heechul menyeringai ke arahku tepat di saat aku menyebut namanya.

 

-To Be Continued- 

Aku bawa FF baru yang masih fresh dari oven, maaf ya kalau tiap chapter pendek-pendek ….

Regards,

 

 

Radice

17 thoughts on “[Rustico] I’m half-dead

  1. rini11888

    Sejujurnya q msh agak bingung hub kyu,yesung,donghae ama heechul tu apa.mungkin krn ini chapter awal kali y,smg next chapt q dpt pencerahan kwkwkwkw.4 the last…..FIGHTING ^^

    Balas
  2. kyufiie

    kiraiin td cast utama nya kyuhyun, eh ternayata leeteuk. tp ga ppa deh, tp kyu nya byk dmunculin donk, ak penasaran sama jenis(?) apa si kyu. updatenya jan kelamaan.

    Balas
  3. entik

    Keren, tapi masi bingung. Aku ketawa wktu teukie opp bilang ” aku makan apa” ( hehehe ) lucu bgt smbi ngebayangin wajah dia bilang gitu.

    Aaaaa heechul d bilang cantik. Tiiiidakkkkk.
    Ayo sist semangan lanjutin.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s